
..."Seorang istri adalah pakaian bagi suaminya, begitupun sebaliknya. Suami yang baik akan menutup keburukan istrinya dari mata publik, karena jika tidak, suami akan ikut serta menanggung malu"...
..."Baik buruknya pasangan kita, cukup kita yang tahu"...
..."Jangan beri celah untuk orang lain mengetahui keburukan pasangan"...
...🌷🌷🌷...
Perjalanan dari Surabaya menuju Jakarta memakan waktu sekitar sembilan jam. Ada jeda sesaat di rest Area sebab sang sopir merasa kelelahan. Selama istirahatpun Idris tak sekalipun berbicara pada Rania. Dia memilih berbincang dengan sopirnya dari pada dengan istrinya.
Sebab rasa kesal dan kecewa masih tertahan di dalam benaknya.
Sampai ketika tiba di rumah pada malam hari, setelah masing-masing membersihkan diri, barulah Idris mengajak Rania untuk membahas apa yang mengganjal di hati dan terus berputar-putar seakan mengganggu jaringan kerja otak di kepala Idris. Bahkan, pria itu tak sanggup jika harus menunggu besok untuk menanyakan alasan Rania melakukan kejahatan pada sang menantu.
"Ayah mau bicara apa?" Tanya Rania sambil meremat jemari di atas pangkuannya.
Saat ini, posisi mereka tengah duduk berhadapan.
Rania yang duduk di tepian ranjang, terus menunduk tak berani menatap kilat merah yang terpancar dari mata lawan bicaranya. Sementara Idris duduk di kursi rias dengan tangan terlipat di dada. Pandangannya terus tertuju pada Rania yang tengah merasa cemas.
"Bunda tahu apa yang ingin ayah tanyakan?"
"Tidak" jawabnya masih menunduk.
"Apa ada yang ingin bunda jelaskan pada ayah?"
Hening,,
Tak ada jawaban dari Rania sebab ia sibuk menelan saliva yang tiba-tiba terasa tercekat.
"Jawab bun" tanya Idris pelan. Kesabaran masih bisa ia kuasai.
"Memangnya ayah minta penjelasan tentang apa?" tanya Rania ragu-ragu, pandangannya masih menunduk menatap sepasang sandal mereka yang saling berhadapan.
"Bunda tidak sedang bicara dengan kaki ayah kan?" Sindirnya terang-terangan.
"Hargai lawan bicaramu dengan menatap lawan bicaranya" Tambah Idris menahan geram.
Mendongak sedikit, pandangan Rania jatuh pada dada bidang suaminya. Ia masih belum sanggup jika harus mempertemukan netranya.
"Lihat ayah bun, jangan bikin ayah tambah marah"
Butuh hingga lima detik untuk Rania menatap bola mata Idris.
Pandangan mereka pun bertemu, saling menatap dengan kondisi batin yang mungkin berlawanan.
"Apa selama ini kompromi ayah kurang?"
"K-kompromi apa maksud ayah?"
__ADS_1
"Apa selama ini ayah tidak mendidik bunda dengan benar? kalau iya, ayah minta maaf"
Rania semakin tidak paham dengan arah pembicaraan mereka.
"Maksud ayah apa? bunda nggak ngerti yah"
Pria itu menghirup napas, menahannya sejenak sebelum kemudian menghembuskannya perlahan.
"Jika bunda melakukan dosa, itu artinya ayah juga akan menanggung dosanya bukan?"
Rania mengangguk meski pelan.
"Lalu kenapa bunda memfitnah Nara dengan video syur yang tidak pernah Nara lakukan? kenapa bunda mengusir Nara dari rumahnya sendiri? dan kenapa bunda menyembunyikan hasil DNA Amara dari ayah dan Tama?" Apa bunda tidak kasihan pada ayah, padahal ayah tidak ikut terlibat dalam melakukan kejahatan, tapi ayah harus ikut menanggung dosanya?"
"Bunda melakukan yang terbaik untuk putra bunda?"
"Oke, baiklah" kata Idris berusaha tenang. "Apa semua yang bunda lakukan membuat Tama bahagia selama ini? apa Tama bahagia setelah bunda berhasil memisahkan mereka?"
Lagi-lagi Rania tergagap. Faktanya, tak ada kebahagiaan selama Tama berpisah dengan Nara. Selama ini, waktunya hanya ia gunakan untuk bekerja dan bekerja. Bahkan dia tidak berniat menikah kembali karena rasa cinta terhadap Nara tak pernah bisa ia singkirkan.
"Apa selama ini anak kita bahagia bun?"
Rania bergeming seraya lekat menatap gurat keseriusan di wajah sang suami.
Mendapat tatapan dalam dari sang istri, Idris mengangkat dagunya sedikit semacam kode agar Rania segera menjawab pertanyaannya.
Alih-alih menjawab, Rania justru memutus kontak mata mereka lalu menunduk sambil menghembuskan napas berat.
"Bunda hanya ingin Tama menikah dengan wanita yang terpandang yah, anak kita satu-satunya harus mendapatkan wanita yang berkelas dan berwibawa"
"Apa berkelas dan berwibawa itu cukup untuk mengurus rumah tangga? selama ini, bunda kekeh menjadi wanita karir, apa ayah senang? tidak bun, ayah lebih bangga jika seorang istri di rumah mengurus suami dan mendidik anaknya. Dan lagi" Lanjut Idris datar. "Apa wanita berkelas tega mengusir pasien yang sedang kritis, apalagi pasien itu masih di bawah umur, dan lagi, yang ia usir adalah cucunya sendiri?"
Mendengar perkataan Idris, Rania kembali mengangkat kepala.
"Apa kira-kira yang akan Tama lakukan jika bundanya sendirilah yang tega memfitnah istri dan mengusir anaknya dari rumah sakit"
Rania masih tetap pada pendiriannya. Masih membenci Nara yang sepertinya sudah menguasai suami dan anaknya.
"Ayah akan menyembunyikan dan merahasiakan perbuatan bunda dari Tama, ayah akan memaafkan semua perbuatan bunda, dengan syarat"
Idris menjeda kalimatnya sesaat untuk menghirup napas, kemudian kembali bersuara.
"Bunda harus menerima Nara sebagai menantu kita dan Amara sebagai cucu kita, bunda juga harus bersikap baik pada mereka, bunda harus meminta maaf pada Nara, Amara dan pak Ramdan"
Tidak ada pilihan lain, jika tidak ingin kehilangan anak kandung satu-satunya, maka Rania harus menerima syarat dari suaminya.
"Satu lagi" Imbuh Idris dengan tatapan menghujam.
"Bunda harus di rumah mengurus rumah tangga, ayah sudah tidak lagi mengijinkan bunda berkarir"
__ADS_1
"Syarat macam apa itu yah?"
"Ok, jika bunda tidak bersedia, terpaksa ayah akan konferensi pers, di rumah sakit Shella yang sedang di bicarakan masyarakat karena pengusiran kepala rumah sakit terhadap pasien anak kecil penderita kanker, sekalian ayah akan memutar video yang bunda buat untuk menjatuhkan menantunya sendiri"
"Ayah tega menjadikan bunda seperti pembantu dan hanya diam saja di rumahnya sendiri?"
"Ayah tidak mengatakan itu"
"Lalu apa?"
"Bunda bisa melakukan banyak hal ketika di rumah, misalnya bermain dengan cucu, memasak untuk suami, berbelanja kebutuhan rumah tangga, merawat tanaman, atau berkreasi masakan"
"Pekerjaan macam apa itu?" gumam Rania lirih.
"Ok, Jika bunda tidak bersedia tidak masalah, itu artinya bunda memilih kehilangan anak kesayangan bunda"
Usai mengatakan itu, Idris berdiri. Saat hendak mengembalikan kursi rias pada tempatnya, Rania buru-buru mencegahnya. Tentu saja Rania tidak ingin kehilangan Tama, putra semata wayangnya.
"Ok, bunda akan penuhi syarat dari ayah, tapi bunda minta kembalikan apa yang ayah minta dari bik Jum"
"Tidak bisa bun, itu biar ayah yang simpan"
Pria itu dengan santainya mengabaikan rengekan sang istri yang terus memohon agar dokumen rahasianya segera di kembalikan.
"Tidur bun sudah malam, besok ayah ajak bunda jalan-jalan"
"Bunda tidak mau"
"Itu termasuk bagian dari syarat ayah bun, jadi bunda harus mau" Pria paruh baya itu mengatakannya sembari merebahkan diri di atas kasur.
"Memangnya ayah mau ajak bunda kemana?" tanyanya sinis campur penasaran.
"Ke rumah besan kita, pak Ramdan. Ayah ingin bersilaturrahmi dengannya, sekalian nanti bunda minta maaf padanya"
Tanpa merespon, Rania langsung merebahkan diri memunggungi sang suami dengan perasaan kesal sekaligus pasrah.
Sudah lebih dari tiga puluh menit Idris berusaha keras memejamkan matanya, namun tetap saja tidak bisa, bayangan tentang kekejaman istrinya seakan tak mau berhenti menari dalam pikirannya. Tentu saja pria itu tak habis pikir dengan semua tingkah gila istrinya. Tepat ketika Idris hendak menarik selimut hingga batas dada, ada pergerakan kecil dari Rania yang tiba-tiba terlentang.
Terlihat jelas raut damai dalam wajah Rania ketika tidur.
Mengangkat setengah badan, Idris menopang sisi kepalanya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanan menyisihkan anak rambut yang sedikit menutupi mata sang istri.
"Bunda, Kamu istri ayah, bagaimana bisa ayah membuat bunda buruk di mata orang lain apalagi di depan putramu. Meskipun bunda melakukan kesalahan fatal, ayah tetap tidak bisa marah pada bunda"
"Tapi ayah sangat berharap jika syarat yang ayah ajukan, akan membuat bunda sadar dengan kesalahan bunda, bunda bisa menjadi orang yang lebih baik. Ayah harap bunda akan menjadi istri yang lebih perhatian lagi untuk ayah, menjadi ibu yang menyayangi putranya sepenuh hati, menjadi mertua yang menghargai menantu dan menjadi nenek yang mencintai cucunya"
Usai mengatakan itu dalam gumaman kecil, Idris mengecup kening Rania lalu detik berikutnya, dia merebahkan diri menyusul sang istri mengarungi alam mimpi.
Bersambung.
__ADS_1
Padahal udah 1300 kata, tapi kok berasa dikit aku bacanya ya 😃😃😃