
Aksa terus berlari menyusuri koridor rumah sakit sembari membopong tubuh mungil Amara. Langkahnya lebar menuju ruang gawat darurat dan disana, sudah ada Emir yang menunggu dengan raut cemas.
Saat perjalanan menuju kemari, Daffa memang sempat menelpon dokter Emir agar segera menyiapkan ruang IGD untuk Amara lengkap dengan peralatan medis.
Aksa langsung merebahkan tubuhnya di atas Bed begitu sampai di instalasi darurat. Para tenaga medis segera melakukan penanganan pada gadis kecil berusia enam tahun. Sekuat tenaga mereka berusaha menyelamatkan Amara dan membangunkan dirinya dari alam bawah sadar.
Sembari menunggu dokter memberikan pertolongan, Daffa yang berada di luar ruangan segera menghubungi Nara yang kini sedang bekerja.
Usai menghubungi kakak angkatnya, dia kembali fokus dengan sosok Amara yang entah seperti apa kondisinya saat ini.
Dengan dada yang bergetar hebat, Daffa terus berdoa agar tak terjadi sesuatu pada keponakan satu-satunya. Tangannya basah oleh keringat karena menahan ketakutan yang kian lebih. Sesekali pria itu menoleh ke pintu IGD yang tertutup sangat rapat. Bahkan tak ada celah sedikit saja untuk sekedar mengintip.
Selang sekitar tiga puluh menit, dua wanita berlari menghampirinya dengan wajah panik serta nafas tersendat. Tampak sekali dada kedua wanita itu bergerak naik turun, titik bening sebiji jagung pun menghiasi kening mereka.
"Bagaimana Amara Daff?" Tanya Nara di sela-sela nafasnya.
"Masih di tangani mbak, di dalam ada bang Emir, bang Aksa dan dua dokter lainnya"
Menghela napas, Nara mengeluarkan secara perlahan, berharap rasa takut akan kehilangan putrinya segera menyingkir.
Sementara Khansa, dia terus menenangkan sahabatnya dengan usapan-usapan lembut di lengannya, berusaha memberikan kekuatan yang sangat Nara butuhkan saat ini.
"Amara" Nara bergumam kecil dengan tangan kanan bergerak gelisah menepuk-nepuk pahanya.
Ara kuat, daddy pasti datang untuk Ara, please bertahanlah demi mommy nak. Mommy janji akan menyeret daddy dan membawanya dengan paksa.
Hingga beberapa menit berlalu, lampu di atas kusen pintu tiba-tiba padam, itu artinya penanganan di dalam telah selesai.
Melihat dokter keluar dari ruang IGD, Nara, Khansa serta Daffa langsung berdiri dan melangkah ke hadapan sang dokter. Dua dokter itu menampakkan wajah yang sulit di tebak.
"Bagaimana kondisi anak saya dokter?"
"Kita belum bisa memberitahukan seperti apa kondisi Amara" Katanya membuat Nara tak paham apa maksudnya. "Tunggu setelah dua puluh empat jam, setelah itu baru kita bisa menyimpulkannya bu Nara"
"Kenapa harus menunggu dua puluh empat jam untuk mengetahui kondisinya? Apa maksud dokter? Dokter hanya memberitahuku seperti apa keadaan anak saya" Nara mengatakannya dengan intonasi tinggi. Ia merasa frustasi dengan kondisi Amara saat ini.
__ADS_1
"Tenang Na"
"Bagaimana aku bisa tenang Sa, paramedis tidak memberitahuku seperti apa kondisi putriku"
"Aku tahu, tapi jika kamu tidak bisa mengendalikan dirimu, kita tidak bisa berfikir dengan jernih, kita tidak bisa melakukan apapun, jadi tenanglah, Amara akan terus dalam pemantauan dokter"
"Aku hanya bertanya hal yang tidak rumit Sasa, bagaimana bisa aku menunggu dua puluh empat jam, aku tidak bisa menunggu selama itu Sa" ujarnya di iringi dengan buliran bening yang sudah meluncur bebas. Pandangan yang tadinya menatap Khansa, kini kembali menatap dokter Jimmy dan dokter Silvi.
"Dokter, ku mohon jangan sembunyikan apapun dariku, katakan sejujurnya seperti apa kondisi putriku, kenapa dokter melarangku untuk menemuinya?"
Mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Nara, paramedis semakin tak tega untuk memberitahukan keadaan Amara sebenarnya.
Sementara Aksa dan Emir masih berada di ruang IGD. Mereka di bantu oleh dua suster untuk memindahkan Amara ke ruang ICU sebentar lagi.
"Dokter" Nara memelas dengan tatapan nanar. "Please dokter aku ingin melihat putriku"
"Begini bu Nara" pria itu menjeda kalimatnya untuk sekedar menghirup udara. "Kondisi pasien sangat lemah, begitu juga dengan detak jantungnya. Tidak ada reaksi apapun atas apa yang kami lakukan" Pungkas dokter, raut wajahnya terlihat kian sendu. "Saat ini Amara kritis"
Dug,, dug,,___ Jantung Nara seperti berhenti persekian detik, ketika kembali berdebam, justru detakan itu terasa sangat nyeri.
"Jika dalam waktu satu kali dua puluh empat jam Amara belum juga bangun. Itu akan sangat berbahaya, dia akan koma dan bahkan meninggal.
"Nara kuat Na, tetaplah tenang"
"Berdoalah agar Amara segera siuman" sambung dokter Silvi.
"Tidak, Aku belum siap jika Ara harus tiada" Nara bergumam lirih lalu menunduk. "Mas Tama, Aku harus menghubunginya sekarang, dia harus datang, aku tidak sanggup menghadapi ini sendiri" Dengan gugup sekaligus gemetar, wanita itu mencari ponsel di dalam tasnya, ia akan menelpon nomor ponsel Tama yang sempat Aldika kasih padanya ketika makan malam tiga hari lalu.
Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.
"Mas Tama, kenapa tidak bisa di hubungi"
The number you are calling is not active.
"Aarrgg..."
__ADS_1
Berulang kali Nara mencoba menghubungi nomor Tama namun hanya suara operator yang terdengar.
Kamu kemana mas?
Setelah kunjungannya ke rumah pak Ramdan pagi tadi, Tama memang tidak mengaktifkan ponselnya, sebab ia merasa sangat terganggu dengan notif pesan masuk dari Shella dan panggilan telfon dari Rania.
Mendengar deringan ponsel saja sudah membuat kepalanya seakan mau pecah, apalagi jika mengangkat dan mendengar ocehan dua wanita yang baginya sangat merepotkan. Meskipun salah satu dari wanita itu adalah bundanya sendiri, tetap saja pria itu merasa jengah.
Sampai-sampai Tama melarikan diri ke Surabaya untuk menghindari desakan sang bunda agar secepatnya menikahi Shella.
Sembari menunggu tes DNA keluar, Tama akan menghandle perusahaannya yang berada di sana, sementara di Jakarta, dia menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada Aldika.
Sreett,,
"Awhh" Salah satu jari tangannya tersayat pisau saat tengah mengupas apel.
Darah segar pun mengalir dari sana, membuat Tama mendesah sekaligus merintih kesakitan. Persekian detik kemudian, ingatannya jatuh pada Amara yang sedang bermain saat dia mengawasinya dari kejauhan.
Amara, apa ada namaku terselip di belakang namanya.
Gadis itu ternyata sangat cantik.
Dia sakit?
Tama menelan ludahnya sendiri ketika teringat ucapan Nara yang mengatakan jika Amara menderita leukimia.
Ia bahkan mengabaikan lukanya sebab larut dalam bayang-bayang Nara serta Amara.
Baiklah, jika hasil itu mengatakan bahwa Amara adalah anaku, aku akan datang untuknya, aku akan menepikan rasa kecewaku terhadap Naraya.
Tik-tik... Cairan merah menetes di atas meja.
Ya ampun, aku melupakan lukaku.
Pria itu bergerak bangkit, lalu berjalan menuju lemari tempat penyimpanan P3K.
__ADS_1
Bersambung.
Selamat puasa... 😇😇😇