
Setelah melalui perjalanan udara, kini mereka sudah sampai di tujuan. Mereka akan menaiki taxi untuk pulang ke rumah orang tua Tama.
Selain rasa senang karena ia bisa kembali ke negara asal dengan membawa serta Amara dalam kondisi sehat, tapi juga ada rasa was-was di hati Nara karena sebentar lagi taxi akan sampai di rumah Rania dan Idris.
Sambutan menyakitkan ketika Tama membawanya dulu, tiba-tiba terlintas di benaknya. Dia sangat takut jika kebencian Rania terhadap dirinya di saksikan langsung oleh sang putri.
"Mommy" Panggil Amara sedikit mendongak.
"Iya Nak?"
"Mommy kenapa diam? mommy marah sama daddy ya? atau, apa mommy sedih?"
Mendengar pertanyaan Amara, Nara tak langsung menjawab. Ia justru mempertemukan netranya dengan Netra Tama yang juga sedang menatapnya.
Seperti yang Nara duga. Amara sangat paham jika dirinya diam seperti ini, pasti menyangka ada sesuatu yang membuatnya marah ataupun sedih.
"Kenapa Ara tanya seperti itu?" Tanya Nara sambil mengusap lembut punggungnya.
"Mommy sama daddy diam-diam dari tadi"
"Kalau mommy sedih, atau marah sama daddy, Ara marah sama mommy enggak?" Tanya Nara.
"Enggak" jawab Amara cepat, membuat Nara sedikit heran. "Daddy pasti nakal, jadinya mommy sedih, terus marah deh sama daddy. Iya kan?" Anak itu balik bertanya. "Mommy nggak akan marah kalau Ara sama daddy nggak nakal, kalau mommy marah berarti Ara sama daddy udah nakal"
"Mommy nggak marah sama daddy?"
Nara melirik Tama yang tengah menampakan gurat bingung di wajahnya. Sepertinya pria itu kurang paham dengan percakapan anak dan istrinya.
"Tapi kalau omma marah-marahin mommy, Ara marah enggak?"
"Tergantung" sahut Amara. Sementara Nara dan Tama langsung mengernyitkan kening.
"Kalau mommy nakal, terus omma marah, Ara nggak marah sama omma, kan mommy udah nakal. Tapi kalau mommy nggak nakal, tapi omma marah, nanti Ara ngomong ke omma supaya marahnya di lembutin"
Usai percakapan itu, tahu-tahu taxi sudah berada di depan rumah keluarga Nalendra. Tama bergegas turun untuk membuka pintu gerbang setelah membayar ongkos taxi. Sudah sejak sebulan lalu Idris memberhentikan Satpam, tukang kebun, dan dua ART sebab sudah tak mampu membayar mereka. Hanya tersisa satu ART yaitu bik Jum yang masih bekerja untuknya.
Itu sebabnya Tama harus membukanya sendiri sebab sudah tak ada lagi yang membukakan gerbang untuknya.
"Ayo sayang"
Berbanding terbalik dengan langkah Amara yang riang dan ceria, langkah Nara justru seperti ragu-ragu.
Tak mau ambil pusing dan mengabaikannya, sebisa mungkin dia bersikap normal agar rasa takut segera menyingkir.
"Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumsalam" Itu suara Idris. Dia menjawab dengan suara lantang.
"Opa!" teriak Amara kemudian menghambur ke pelukan Idris.
"Amui sayangnya opa?"
"I Miss you opa"
__ADS_1
"I miss you too baby" balas Idris sembari mengecup pipi Ara lalu membawanya ke dalam gendongan. "Apa kabar mui-mui?"
"Ara sehat opa"
"Bagus dong"
Nara dan Tama tersenyum melihat tingkah Ara dan opanya yang sedang melepas rasa rindu.
Selang sekitar sepuluh detik, pandangan Idris beralih menatap Tama dan Nara bergantian.
"Kalian apa kabar?"
"Sehat yah" balas Tama lalu mengecup punggung tangan Idris. Narapun melakukan hal yang sama.
"Ayo masuk, bunda ada di dalam lagi lihat tv"
Seiring langkah kakinya yang mulai sampai di ruang tengah, jantung Nara tiba-tiba berdetak kencang ketika melihat sosok Rania tengan duduk memunggunginya dengan tatapan tertuju ke layar televisi.
Nara menghirup napas panjang ketika Tama mencium punggung tangan bundanya, lalu Amara dan terakhir dirinya yang masih di sambut setengah hati oleh Rania.
Larut dengan perasaannya yang was-was, tiba-tiba tubuh Nara berjengit ketika terdengar getaran dan bunyi ponsel dari slimbagnya.
Dia buru-buru mengambil benda itu lalu menggeser tombol terima.
"Assalamualaikum Sa?"
"Waalaikumsalam, udah sampai kan Na?"
"Sudah sampai, kenapa?"
"Sekarang saja aku ke sana"
"Besok saja Na, kamu istirahat saja dulu, besok kita meeting bertiga"
"Enggak apa-apa Sa, aku udah sering absen. Sekarang aku ke sana ya. Assalamualaikum"
Tanpa menunggu jawaban dari Sasa, Nara buru-buru mematikan panggilan.
"Mas aku ada urusan, kayaknya sampai malam, Amara aku tinggal di sini ya"
"Kamu mau kemana?"
"Aku ada urusan kerjaan bareng Sasa sama Anita"
"Aku antar ya"
"Nggak usah, mending mas temani Ara sama ayah bunda"
"Kamu nggak mau tinggal di sini?" tiba-tiba Rania menyolot.
Otomatis Nara serta Tama mengalihkan pandangannya.
"Nggak mau tinggal sama kita? mentang-mentang kamu sudah jadi orang, dan saya sudah miskin sekarang. Kamu senang kan saya seperti ini?"
__ADS_1
"Bunda" potong Tama.
"Bunda tahu kamu pasti belain istrimu"
"Nggak gitu bun" sanggahnya cepat. "Nara ada urusan, nanti juga balik ke sini lagi kok"
"Iya, dia kan sekarang sudah jadi orang kaya, pasti sibuk, tidak lama lagi pasti suami sama anaknya akan terlantar"
"Bunda" Idris yang baru saja kembali dari belakang untuk memperlihatkan kolam ikan pada Amara langsung membentak Rania.
"Yah, ada Ara, jangan keras-keras kasihan dia"
"Nanti aku kesini lagi bu, aku ada urusan sebentar, nggak enak juga sama teman-teman sering ninggalin pekerjaan" ucap Nara lembut.
"Saya ini mertua kamu Nara, harusnya kamu panggil seperti Tama memanggil saya"
"Maaf bu, eh bun"
"Sudah sana pergi" kata Rania datar tanpa menatap Nara. "Heran, baru saja sampai rumah, sudah mau pergi lagi, nggak kasihan sama suami sama anak apa?" katanya lagi sambil menekan-nekan remot televisi.
"Jangan di ambil hati ya" bisik Tama lirih.
Nara mengangguk lalu berjalan ke arah Amara.
"Maaf ya Ra, mommy harus pergi, ada kerjaan bareng mama Sasa"
"Ara udah sembuh mom, kenapa masih kerja, katanya daddy yang kerja, mommynya di rumah temani Ara"
"Sementara aja kok Nak, sampai usaha daddy jalan, nanti mommy temani Ara banyak-banyak"
"Tapi nanti mommy kesini lagi kan?"
"Iya" Jawab Nara sambil merapikan rambut Amara yang tipis dengan posisi membungkuk. "Jadi anak baik ya Ra" pesannya lalu mengecup kening Amara.
Gadis itu mengangguk lalu mengalungkan tangan kecilnya di leher Nara. "Ara sayang sama mommy"
Nara tersenyum. "Mommy juga sayang banget sama Ara" kata Nara setelah mengakhiri kecupan di wajah Amara. Putrinya tersenyum lebar.
"Ayo Ara sama daddy" ajak Tama mengulurkan tangan. Amara membalas uluran tangannya sembari melambaikan tangannya yang lain. "I love you mom"
"Mommy love you too, Ara"
Senyum lebar yang sama kembali terukir di wajah anak yang sebentar lagi genap tujuh tahun.
"Pergi dulu mas" Nara mengulurkan tangannya.
"Hati-hati ya"
"Iya"
Usai berpamitan dengan Idris dan Rania, Nara melangkah pergi.
****
__ADS_1
Mohon maaf lahir batin ya... !
😘😘😘😇😇😇