
Menurut diagnosa medis, Amara akan bertahan hidup selama enam bulan kedepan.
Kalimat yang ku dengar sekitar dua bulan lalu, terus-menerus terngiang di telingaku, memporak-porandakkan isi kepalaku hingga saat ini.
Jika dalam waktu enam bulan aku tidak bisa menemukan pendonor sel punca untuk Amara, itu artinya usianya tersisa empat bulan.
Rahangku mengeras, tanganku mengepal kuat menahan gejolak nyeri di dada yang begitu menyesakkan.
Waktu empat bulan tidak akan cukup bagiku, aku masih ingin melihatnya tumbuh dengan sempurna, bermain-main dengan daddynya, bersekolah seperti anak-anak lain.
Aku masih ingin melihat senyumnya yang selama ini menjadi kekuatanku.
Aah Tuhan, kenapa menjadi setakut ini, kenapa tidak bisa melawan ketakutan yang merongrongku.
Ketakutanku kali ini benar-benar sudah tidak bisa di tawar.
Mendesah pelan, aku merasa waktu berjalan begitu lambat, membuat jantungku seakan bekerja ektra keras. Dengan cemas aku menunggu mas Tama yang sedang menemui dokter. Aku sangat berharap hasil lab akan cocok dengan Amara dan mas Tama bisa mendonorkan sumsum tulang untuk putrinya.
Apa sebenarnya yang mereka bicarakan? kenapa lama sekali?
Pikiranku kacau, hatiku ingin menjerit, dan kakiku ingin sekali melangkah menyusul mas Tama. Tapi Amara, dia sendirian disini dengan kondisi yang semakin melemah.
Tak terasa, mataku mulai memanas menahan buliran air mata saat aku membayangkan kepergian Amara dari hidupku untuk selamanya.
Tepat ketika buliran itu jatuh, ku dengar suara pintu terbuka.
Mas Tama, aku melihat dirinya berjalan melewati ambang pintu dengan raut datar yang membuat tulangku tiba-tiba melemas luar biasa.
"Aku tidak mau dengar jika hasil mas tidak cocok" Lirihku dengan pandangan kosong.
Alih-alih merespon, mas Tama malah memelukku sangat erat, aku tak tahu apa maksudnya. Aku semakin di buat penasaran ketika di detik berikutnya dia mengecup puncak kepalaku lalu mengusap lembut punggungku.
Kecupan pertama yang ku dapat setelah perpisahan kami. Kami yang sudah satu minggu berada di dalam ruangan yang sama, tak sekalipun melakukan kontak fisik seperti ciuman, atau hubungan suami istri pada umumnya sebab perasaan canggung masih terus menyelimuti kami.
"Amara akan sembuh"
Terdiam, aku berusaha mencerna baik-baik ucapan mas Tama barusan. Aku harap telingaku bekerja dengan normal saat ini.
Ketika aku mengurai pelukan, pandangan kami bertemu, mas Tama mengusap pipiku yang basah lalu membawaku ke ruang tv.
Aku yang kini sudah duduk menyamping di atas pangkuan mas Tama, membuat jantungku seketika bertalu-talu. Dengan posisi mas Tama yang lebih rendah dariku, membuatku menunduk dan mas Tama mendongak.
"Sekarang" Ucapnya dengan fokus menyoroti netraku. "Tidak ada lagi alasan untuk kamu mengeluarkan ini" Tambahnya mengusap pipiku ketika titik bening kembali melucur dari sudut mataku.
"Hasilnya cocok, bahkan dokter bilang sangat cocok"
Mendengar kalimat terakhir mas Tama, persekian detik mataku reflek terpejam.
Aku mengucap syukur seraya menghela napas lega, ini adalah kabar paling bahagia yang aku rasakan dalam hidupku.
Saat hendak membuka mata, tiba-tiba aku merasakan benda kenyal perlahan menyentuh bibirku.
Aku tak bisa melakukan apapun apalagi membalas ciumannya. Aku hanya bisa merasakan hangat lembutnya bibir itu bermain-main di area bibirku.
Ciuman yang selalu aku rindukan, yang selalu membuatku kehilangan akal jika mengingatnya.
Mas Tama, dengan kedua tangan yang masih bisa kurasakan menyentuh pinggangku ringan, kini salah satu tangan itu terlepas dan beralih mengusap bibirku dengan ibu jari setelah mengurai ciumannya.
"Kamu tahu kenapa aku tidak pernah menceraikanmu?"
Aku menelan ludahku sendiri tak berani menebak.
"Karena aku mencintaimu" Mas Tama menjawab untuk pertanyaannya sendiri. "Aku tidak tahu kenapa aku sangat mencintaimu, yang ku tahu, aku sangat bahagia bersamamu"
__ADS_1
Wajahku seakan menghangat setelah mendengar apa yang sempat mas Tama katakan. Ku harap itu tidak akan berubah menjadi merah sebab akan sangat memalukan kalau dia melihatnya.
Satu hal yang masih belum bisa ku percaya, perasaannya sama sepertiku yang tak ingin mengganti cinta dengan yang lain.
Karena tidak ingin terjebak ke dalam euforia tentang hati serta ciuman beberapa saat lalu, aku berusaha mengalihkan pembicaraan sebab aku benar-benar belum siap membicarakan tentang perasaan setelah tujuh tahun berpisah.
"Dokter bilang apa? kenapa lama?"
"Dokter bilang jika hasilnya sangat cocok, dia menjelaskan tentang tahapan-tahapan sebelum melaksanakan pencangkokan sel punca, dia juga mengatakan kebaikan dan keburukan dari operasi ini. Tapi kita tidak perlu khawatir karena pihak rumah sakit akan menghadirkan dokter ahli transplantasi terhebat. Di Pusat Hematologi dan Transplantasi Sel Punca, para dokter spesialis transplantasi telah dilatih dan pernah bekerja di beberapa pusat transplantasi terkemuka di dunia. Mereka memiliki pengalaman yang luas dalam transplantasi sumsum tulang, baik pada pasien dewasa maupun anak-anak"
Aku diam menyimak betul-betul penjelasan mas Tama.
"Apa ini cukup membuatmu lega?" tanyanya lembut.
"Masih belum seratus persen"
"Ok, sisanya serahkan padaku"
"Kapan operasi itu di laksanakan?"
"Lima hingga sepuluh hari lagi"
"Selama itu? kenapa tidak besok saja, bukankah lebih cepat akan lebih baik?"
Bukannya menjawab, mas Tama malah tersenyum yang membuat alisku seketika menukik tajam.
"Amara perlu melakukan tahap-tahap sebelum operasi Na, itu bertujuan untuk menyesuaikan sumsum tulang sel punca baru, menekan kekebalan tubuh, dan menghancurkan sel kanker. Setelah proses penyesuaian ini, dokter akan mengistirahatkan Amara beberapa hari. Maksimal lima hari, setelah itu baru bisa menjalani transplantasi"
"Itu artinya sekitar dua minggu lagi?"
"Hmm, begitulah"
"Terlalu lama"
"Entahlah, semenjak ada mas, aku merasa kepercayaan diriku berkurang, maksudku, aku tidak setegar sebelumnya"
"Itu karena kamu terbiasa melampiaskan ketegaranmu padaku sekarang" Tangan mas Tama bergerak liar di bagian punggungku seperti menyalurkan getaran-getaran aneh. "Kamu mulai menunjukkan sisi manjamu di hadapanku, tapi aku suk_"
Kalimatnya terpenggal karena aku langsung membungkam mulutnya dengan gemas. Matanya menyipit tanda kalau dia tengah tertawa di balik bungkaman tanganku.
Selang dua detik ku dengar ponsel mas Tama bergetar, aku buru-buru bangkit dari atas pangkuannya.
Sementara mas Tama menjawab panggilan telfon, aku melangkah menghampiri ranjang Amara. Kulihat dia masih tidur dengan posisi yang sama, itu berarti tak ada pergerakan apapun darinya.
Aku tahu kehadiran mas Tama disini karena ayah pasti sudah memaksanya. Aku berharap mas Tama benar-benar percaya bahwa Amara adalah putrinya. Dugaannya diperkuat dengan kecocokan hasil lab yang sama untuk sumsum tulangnya, aku yakin sekali sudah tidak ada lagi keraguan dalam hati mas Tama.
"Amara belum bangun?" tanyanya yang membuatku tersentak. Dia langsung berdiri di samping ranjang lalu membungkuk.
"Belum"
Pria ini mencium kening Amara dalam dan lama, aku rasa ciuman itu sangat tulus dari seorang ayah untuk putri semata wayangnya.
"Tadi telfon dari siapa?" tanyaku selepas dia mencium Amara.
"Dari rumah sakit"
"Rumah sakit?
"Hmm"
"Rumah sakit mana? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak ada, mereka hanya memberi tahu tentang hasil DNAku dan Amara"
__ADS_1
"Mas melakukan tes DNA?"
"Maaf" kata mas Tama penuh sesal.
"Tidak apa-apa, wajar kalau mas melakukan itu, biar bagaimanapun, sempat ada fitnah tentang pengkhianatan yang tidak pernah aku lakukan"
Aku menjeda ucapanku untuk sesaat. "Lalu bagaimana hasilnya?"
"Jangan tanyakan soal hasil, jika dia bukan anakku, aku akan tetap menerimanya karena aku mencintaimu. Tapi dengan kecocokan sel puncaku dengan Amara, aku sudah yakin lebih dulu, selain itu ayah juga melakukannya dan menunjukan hasilnya padaku"
"Jadi ayah juga melakukannya?"
"Mungkin saja, karena sebelum aku kemari, ayah sempat menunjukan kertas itu"
"Tapi aku tetap ingin tahu hasilnya"
"Kamu sudah tahu untuk apa bertanya"
"Mas"
"Seratus persen dia anaku Nara" sahutnya setelah lebih dulu menyunggingkan senyum di bibirnya. Sedetik kemudian mas Tama menarik tanganku membuat tubuhku merapat tak berjarak.
"Aku mau tanya Na?" Katanya sambil menyelipkan rambut ke belakang telingaku. Sementara jantungku, aku tidak tahu bagaimana caranya menenangkannya.
"T-tanya apa?"
"Soal pil kontrasepsi, aku pikir kamu meminumnya setiap kali akan melakukan hubungan, tapi kenapa bisa hamil?"
"Aku hanya meminumnya sekali"
"Meminumnya sekali?" Kening mas Tama mengerut. "Tapi aku sering mendapati pil itu terlepas dari kemasannya"
"Aku hanya mengeluarkannya tanpa meminumnya, waktu itu aku mempertimbangkan ucapan mas yang katanya jika punya anak, akan membantu kita mendapatkan restu bunda, aku selalu membuangnya setelah memikirkan matang-matang"
"Maaf atas ucapanku dulu"
"Ucapan yang mana?" tanyaku tergagap, aku menahan napas sebab jarak wajah kami kian terkikis.
"Perkataanku yang pernah bilang jika aku tak memiliki anak dari rahim wanita manapun"
"Aku ingin menonjok mas saat itu"
"Kalau begitu ayo tonjok aku sekarang!"
Aku melirik ke arah Amara di balik punggung mas Tama yang tahu-tahu matanya sudah terbuka. Entah sejak kapan dia menyaksikan kami dalam kondisi seperti ini, yang jelas detik itu juga aku berusaha melepas tangan mas Tama yang melingkar di pinggangku namun tak bisa. Tangannya melingkar begitu erat. Sementara Amara tersenyum bahagia.
"Jika aku menonjok mas sekarang, aku pasti akan kena dispensasi darinya" kataku sedikit menekan lalu melirik Amara sekilas. "Lepaskan cepat, anakmu sudah bangun" tambahku berbisik sambil terus berusaha menjauhkan diri dari mas Tama.
"Mendengar ucapanku, persekian detik tangannya terlepas. Pria ini terlihat gusar, satu tangannya berkacak pinggang, sementara tangan lainnya menyugar rambutnya.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanyaku berusaha tenang.
"Ara senang bisa lihat daddy peluk-peluk mommy lama-lama"
Aku kikuk, wajahku pasti sudah memerah sekarang.
"Papa Aksa sama mama Sasa juga suka peluk-peluk, kata Mita tandanya sayang banyak-banyak"
"Apa putrimu suka berbicara seperti ini?" bisik mas Tama di telingaku. "Kadang aku suka bingung dan butuh waktu lama untuk mencerna kata-katanya yang suka di ulang-ulang"
Belum sempat menjawab, Amara keburu menginterupsiku. "Daddy bisik-bisik apa?"
"Oh, nggak ada sayang" jawab mas Tama gelagapan. Tangannya menoel pinggangku lembut.
__ADS_1
Bersambung...