Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
70


__ADS_3

"Loh, s-sayang, kok bangun?"


"Nggak ada daddy jadinya kebangun, terus lihat daddy sama mommy disini"


"Bobo lagi yuk" Ajak Nara sedikit gugup.


"Tadi daddy sama mommy ngapain, kok bibirnya di tempel-tempelin?"


Tama dan Nara sama-sama menelan saliva lalu saling mempertemukan pandangan.


"E-enggak nak" kata Tama terbata, tangannya mengusap tengkuknya berkali-kali. "Tadi daddy cium mommy"


"Mas" sambar Nara cepat, lengkap dengan delikan mata yang menyorot tajam.


Tama tersenyum santai.


"Daddy kan sayang mommy, jadi cium mommy banyak-banyak" lanjut Tama. Tanpa sadar Nara berdehem pelan karena terkejut, sementara Tama meliriknya dengan mengulum senyum.


"Ara juga mau di cium kayak mommy"


Tama langsung mengecup pucuk kepala Amara.


"Kok di kepala? Ara mau di cium bibir kayak mommy"


"Enggak bisa sayang, anak kecil ciumnya di pipi aja atau di kening" Sela Nara dengan perasaan grogi.


"Kenapa?" Mata Amara mengerjap sambil menatap mommynya.


"Karena ciumnya buat orang dewasa kalau di bibir"


"Berati kalau Ara udah dewasa boleh dong cium bibir" Anak itu mendongak menunggu sang mommy menjawabnya.


"Oh no, no" Potong Tama cepat-cepat. "Ara dewasanya masih lama-lama, sekarang jadi anak kecil dulu" Ia menggendong tubuh mungil Amara lalu membawanya ke arah tempat tidur, sementara Nara menahan senyum seraya melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Lebih baik Ara bobo lagi, daddy temani"


Ketika Tama sudah membaringkan tubuh Amara, Dia mengatakan sesuatu yang membuat Nara menggelengkan kepala.


"You know Ara, daddy not ready for this one, daddy want you be child forever"

__ADS_1


Ada rasa geli sebenarnya di hati Nara melihat reaksi sang suami saat mendengar ucapan Amara. Bagaimanapun juga memiliki anak perempuan memang sangat mengkhawatirkan. Apalagi di jaman sekarang kasus predator anak semakin marak di kalangan masyarakat. Kekhawatiran yang di rasakanpun seakan jauh lebih besar.


***


"Dia ngerti kan sayang dengan apa yang tadi mas katakan?" Tanya Tama ketika keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.


Beberapa menit yang lalu, pria itu berhasil menidurkan putrinya kembali ketika sang istri sedang berada di kamar mandi. Kini dia pun sudah membersihkan diri dan menyusul Nara yang sudah berbaring di atas ranjang.


Ada Amara yang tidur di tengah-tengah mereka, sedangkan Tama berbaring dengan menelungkupkan badan.


"Makannya lain kali harus cermat, jadi nggak harus pusing buat menjelaskan ke Ara"


"Kamu tahu kan aku tidak bisa mengendalikan diri untuk nggak menciummu"


"Iishh gombal ya?"


Bukannya merespon, Tama justru tersenyum sebelum kemudian memberi gigitan kecil di lengan Nara yang melingkar di atas tubuh Amara.


***


Seperti yang sudah Tama katakan, mereka akan melangsungkan ijab kobul ulang dua hari yang akan datang. Dan malam ini, adalah malam yang di tunggu-tunggu oleh Tama serta Nara. Setelah tujuh tahun berpisah, dan kembali tinggal bersama, Tama sama sekali tak menyentuh Nara.


Tidak ada persiapan apapun termasuk dokumen pernikahan. Karena secara negara, mereka masih sah sebagai suami istri. Begitupun secara agama. Namun Nara masih sedikit ragu jika Tama memang belum pernah mengucap kata talak selama perpisahanya. Untuk menghapus keraguannya itu, Nara meminta Tama agar kembali megucap ijab qobul di depan papanya. Hanya mengundang penghulu, wali dan saksi serta kerabat dekat.


"Seneng deh lihat calon manten" seloroh Khansa. Mereka saat ini sedang berada di kantor, tengah berkumpul di ruangan Nara yang menempati bekas kantor Tama.


"Calon manten kadaluarsa"


"Calon manten karatan" balas Khasa sambil terkikik. "Deg-degan enggak?"


Nara langsung memegang dada dengan menumpukkan kedua tangannya.


"Enggak" Ia menggelengkan kepala.


"Ngapain si nikah lagi kalau masih sah?"


"Dari pada aku ragu, mau ngelakuin itu setelah bertahun-tahun berpisah"


"Jadi kalian bisa nahan selama hampir tiga bulan tinggal bersama?"

__ADS_1


Nara mengangguk.


"Gimana caranya? aku loh Na, benar-benar nggak bisa nahan diri buat nggak melakukannya saat sedang satu ranjang dengan mas Aksa"


"Ya di tahan-tahanin lah"


"Tetap nggak bisa kalau aku"


Nara menggeleng sambil melipat kertas coretan yang sudah tak terpakai. "Untungnya aku nggak gitu ya" Kata Nara dengan tatapan menyoroti netra lawan bicaranya. "Mas Tama suka ngajak ngobrol untuk mengalihkan pemikiran itu sampai kami benar-benar lelah dan akhirnya tertidur"


Khansa menatap Nara dengan sorot takjub. "Buahnya sabar emang luar biasa ya, setelah bertahun-tahun kamu di uji dengan berbagai ujian yang aku sendiri entah sanggup atau tidak menghadapinya, beberapa jam lagi, kamu akan menuai hasilnya. Hanya butuh effort sedikit saja untuk menahklukan hati nyonya mantan CEO jelmaan es kutub" Ujar Khansa yang membuat Nara menyunggingkan senyum lebar karena paham dengan maksudnya.


Nara berfikir jika perkataan sang teman memang benar, dan banyak terbukti pada orang-orang di sekitarnya termasuk dirinya sendiri dan papanya yang saat ini sedang menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini.


Sabar itu memang berat, tapi buahnya benar-benar manis. Rasa manis yang mampu membuatnya mabuk dan bahkan lupa diri sehingga mereka hanyut dan lalai untuk kembali bersyukur. Setelah menuai manisnya sabar, kebanyakan orang akan larut dan tenggelam sehingga tidak menyadari kemungkinan akan ada cobaan yang levelnya tentu lebih tinggi dari sebelumnya.


Seperti yang kemudian Nara rasakan saat ini. Semua rasa manis yang sempat ia nikmati beberapa jam lalu sebelum pernikahan ulang dengan sang suami, mendadak berganti rasa hambar dan bahkan pahit ketika malam tiba, Tama justru menghentikan aktivitasnya dalam menjelajahi tubuhnya.


"Maaf Na, mas harus kirim email pada investor malam ini juga, mas sudah kadung janji pada mereka" Kata Tama sembari bangkit, lalu mengenakan kembali pakaiannya.


Sementara Nara menutupi tubuhnya dengan selimut, menariknya hingga batas dada. Ia merasa heran dengan sikap sang suami yang mendadak berhenti di tengah-tengah cumbuannya. Namun ia mencoba berfikir positif bahwa Tama memang benar-benar ada urusan yang harus selesai malam ini juga.


"Mas ke ruang kerja, kalau kamu ngantuk, kamu bisa tidur dulu"


"Mau di buatkan kopi?" tanya Nara bergeming sambil terus memperhatikan Tama yang sedang memakai kaos.


"Nggak usah, mas hanya perlu mengirim email tentang visi misi dari usaha yang sedang mas jalankan, setelah itu langsung kembali ke sini"


Nara mengangguk meski dalam hatinya di penuhi tanda tanya. Ia terus mengarahkan fokusnya pada pria yang berjalan ke arah pintu kamar.


"Hanya lupa mengirim email, kenapa mas Tama sampai mengurungkan niatnya menyentuhku yang jelas sudah sangat ingin dia lakukan"


"Ada apa dengannya? kenapa dia menolakku ketika aku menyerahkannya?"


Nara membatin, mengusap wajahnya gusar lalu bangkit. Ia memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai.


😘😘😘😘


Maaf nggak bisa bales komen ya,

__ADS_1


Pokoknya doa terbaik buat kalian yang udah baca cerita saya..


__ADS_2