
..."*T**eruslah berdoa karena tidak ada do'a yang tidak di kabulkan. Tetaplah berdoa meskipun kondisi hidup tidak sedang baik-baik saja*"...
...🌷🌷🌷...
Memeluk Nara dalam angan rasanya sudah menjadi hobi Tama, kegiatan menyenangkan itulah yang berkali-kali mampu membuat hatinya menggelora. Satu-satunya wanita yang menjadikan dirinya memegang teguh kesetiaan bahkan ketika perpisahannya selama tujuh tahun.
Larut dalam lamunan, pria itu tak mengindahi ketukan pintu yang Rania ciptakan. Bahkan dia tak menyadari ketika sang bunda mendekatinya dari arah belakang. Sampai ketika ada tangan yang menyentuh pundaknya, barulah dia berjengit lalu menoleh ke belakang.
"Bunda?" Tama mengurai tangannya yang ia lipat di depan dada.
"Kita sarapan nak"
"I-iya bun"
Bersama-sama mereka melangkah keluar kamar menuju meja makan. Sudah ada Idris di kursi makan tempat biasa seorang Kepala keluarga duduk memimpin aktifitas makan.
"Selamat pagi yah"
"Pagi Tam"
Menarik kursi, Tama duduk, selang beberapa detik ia menerima sodoran piring berisi nasi dari sang bunda.
"Makasih bun" Ucapnya tanpa ekspresi.
"Sudah siap Tam?"
"Sudah yah"
"Setelah sarapan, pak Laksa akan mengantarmu ke bandara"
"Iya yah"
Pak Laksa adalah sopir pribadi Idris yang sudah bekerja hampir tiga tahun menggantikan pak Agus.
"Loh apa maksud ayah?" Rania merasa terkejut campur bingung dengan kalimat suaminya. "Siang ini Tama menikah kan? ayah nggak lupa kan?"
"Tidak akan ada pernikahan bun"
"Ayah jangan bercanda ya?"
Tama hanya diam seraya menyimak baik-baik perdebatan orang tuanya. Bukannya tak mampu mengambil sikap, tapi sang ayahlah yang sudah mewanti-wanti agar Tama tak ikut campur dengan rencananya.
"Kita sudah sepakat, dan keluarga Shella juga sudah siap, apa maksud ayah tidak akan ada pernikahan?"
"Kesepakatan apa yang bunda buat tanpa melibatkan ayah dan juga Tama? bunda tahu sejak awal jika Tama tidak pernah menyetujui rencana bunda, kenapa bunda memaksa dan merencanakan secara diam-diam?"
"Tapi yah, untuk apa ayah kemari kalau bukan untuk menjadi saksi pernikahan Tama?"
"Ayah kemari untuk meminta Tama menyusul istri dan anaknya ke Singapura"
Mendengar perkataan Idris, mata Rania menajam, sorotnya berkilat merah penuh amarah.
"Ayah bilang apa? atau apa ayah mau mempermalukan bunda di depan keluarga Shella?"
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, Idris malah melempar pandangan ke wajah Tama yang kini tengah menyuapkan suapan terakhir.
"Setelah ini langsung saja berangkat, ayah akan urus bundamu"
"Tidak bisa" Pekik Rania cepat sembari membanting kasar sendok makan ke piringnya. "Berani kamu menuruti ucapan ayahmu, kamu bukan lagi anak bun_"
"Bunda" potong Idris lalu berdiri menahan geram tentunya. "Biarkan Tama menentukan hidupnya, sebelum bunda menyesal dan benar-benar kehilangan sosok Tama di rumah kita"
"Apa maksud ayah?"
__ADS_1
"Jangan membuat Tama yang nantinya akan semakin membenci bunda dan memilih keluar dari rumah kita!"
Menelan ludah, Rania benar-benar tak habis pikir dengan sikap sang suami yang baru saja membentaknya. Wanita itu juga tak mengerti atas semua omongan suaminya.
"Atau, bunda juga ingin ayah pergi meninggalkan bunda? asal bunda tahu" Ucapnya tajam, setajam sorot matanya yang memancarkan kemarahan. "Ayah sudah tidak bisa lagi membiarkan bunda berbuat semau bunda"
"Memangnya apa yang bunda perbuat? bunda hanya ingin menikahkan Tama dengan wanita pilihan bunda, wanita yang memiliki derajat yang sama, yang setara dengan keluarga kita"
Sepertinya, Tama memang sudah muak dengan semua omongan bundanya sendiri. Terlihat sekali dengan sikapnya yang acuh dan terkesan tak peduli.
"Tama pergilah, jangan sampai ketinggalan pesawat"
"Baik yah" Tama mengelap mulutnya menggunakan tisu lalu berdiri. "Makasih yah"
Pria paruh baya itu mengangguk pelan. "Pergi dengan hati-hati, ayah akan mengurus yang disini, ayah akan ke tempat Shella dan meminta maaf secara langsung pada Shella serta orang tuanya"
"Sekali lagi makasih banyak yah, Tama pergi" Mengecup punggung tangan Idris, lalu Rania yang justru di tepisnya.
"Bunda tidak akan mengijinkan kamu pergi"
"Tapi Tama akan tetap pergi bun. Maaf, Tama punya keluarga, Tama harus berada di antara istri dan anak-anak Tama" Usai mengatakan itu, dia langsung berbalik setelah sebelumnya mengucapkan salam.
Sementara wajah Rania rasanya memanas begitu mendengar ucapan Tama, dadanya naik turun menahan kesal yang sepertinya berada di level teratas. Matanya terus menatap punggung sang putra yang kian menjauh.
"Tama" Teriaknya, namun tak di respon oleh putranya. Setelah itu, pandangan Rania teralih pada Idris yang termangu sambil menatap dirinya.
Mereka saling beradu pandang selama sekian detik, kemudian Rania mengalah dan memutus kontak mata lebih dulu lalu pergi meninggalkan Idris yang masih berdiri mematung.
*******
Selama di dalam pesawat, berkali-kali Tama menghembuskan napas berat ketika menyadari bukan hanya nama, tapi sosok Naraya dan Amara seolah terus terlintas dan menari lincah dalam pikirannya.
Jantungnya tak mau kalah ikut berdebam dengan kurang ajar di dalam sana. Pertemuan pertama dengan sang putri, yang entah seperti apa wajahnya ketika ia tatap secara langsung dengan jarak yang dekat.
Dengan cepat tangannya bergerak meraih ponsel di saku celananya.
Ia membuka kembali artikel yang sempat dia screen shoot mengenai kelebihan dan kekurangan mengkonsumsi pil kontrasepsi.
Harus mengonsumsi pil setiap hari pada waktu yang sama dan tidak boleh terlambat jika ingin program KB berhasil.
Sebuah isi dari artikel yang entah ke berapa kali di bacanya sejak tadi malam.
Itu artinya pil yang Nara konsumsi tidak berhasil karena dia tidak mengkonsumsinya secara teratur, begitukah?
Ah, aku benar-benar tidak paham tentang hal ini, soal kesuburan, menstruasi, dan hal lain yang berhubungan dengan kewanitaan.
Ia mendesah lalu menghirup napas frustasi.
Setelah sekian menit, sebuah pengumuman dari anggota flight attendant membuatnya tersadar jika dirinya sempat mengabaikan posisinya yang saat ini berada di dalam pesawat.
Melepaskan pandangan, tiba-tiba jantungnya berdesir kala teringat bahwa tujuannya kesini adalah untuk bertemu istri dan anaknya.
Pikiran Tama terbagi, sebagian dari otaknya mengingat masa lalu dan sebagian lagi tentang kerinduannya pada Nara yang sebentar lagi mungkin akan tuntas.
"Nara, aku tidak mau ingat tentang pengkhianatanmu, aku harus yakin pada ucapan Soni yang mengatakan video itu palsu, hatiku juga berkata kalau itu hanya rekayasa. Dan aku, pasti akan menemukan video aslinya" Tama berbisik dalam hati berusaha meyakinkan diri, sembari menunggu pesawat benar-benar mendarat sempurna.
Bermenit-menit telah berlalu hingga lebih dari tiga puluh menit.
Selesai cek out dan mengambil bagasi, Tama langsung mencari taxi untuk mengantarkannya menuju rumah sakit sesuai petunjuk ayahnya.
Jantungnya berdetak kian kencang ketika menyadari tujuannya kian dekat.
Ia berusaha menetralisir rasa yang berhambur menjadi satu di dalam hati dan pikirannya, termasuk ketidaksabarannya untuk bertemu sang buah hati. Rasanya ingin sekali pria tampan itu memeluk darah dagingnya yang selama ini tak pernah ia ketahui.
__ADS_1
Berjalan melewati koridor rumah sakit, langkahnya tenang sekaligus cemas, Ketakutan akan penolakan Amarapun seolah ikut nimbrung.
Setibanya di depan bangsal milik putrinya, ia langsung membuka pintu yang tertutup rapat. Mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tak ada Nara ataupun Amara di dalam ruangan VIP yang begitu mewah lengkap dengan ruang tv dan kamar mandi terpisah. Disana, bisa di lihat ada satu koper besar, ada jaket anak kecil yang terselampir di lengan sofa, dan tas wanita yang sudah di pastikan pemiliknya adalah Nara.
"Amara, Nara?" panggilnya panik setelah menutup kembali pintunya. Ia melangkah menuju kamar mandi.
"Tidak ada? dimana mereka?"
Tanpa pikir panjang, ia kembali keluar hendak bertanya pada suster dimana keberadaan anak serta istrinya.
Diiringi debaran jantung yang tak menentu, langkahnya lebar menuju meja informasi. Keringat dingin langsung membanjiri tubuhnya sementara nafasnya naik turun tak beraturan.
"Good afternoon suster?"
"Yes god afternoon, can I help you?"
"can you tell me where is the patient named Amara?" tanyanya kian panik.
"Yes I can, please wait" Sahutnya lalu menatap komputer. "She entered the ICU an hour ago"
"Apa?" Responnya menggunakan bahasa Indonesia, yang justru membuat si suster menyorot bingung. "Please show me, where the ICU room!"
Dengan cepat salah satu suster mengantarkannya menuju ruang ICU.
Sekitar lima menit Tama berjalan mengekor di belakang sang perawat, sepasang matanya menangkap sosok Nara tengah duduk sendiri di bangku depan ruangan itu.
Pandangannya tertunduk kosong menatap lantai ubin, wajahnya tampak kuyu dan matanya menyorot lelah.
Langkah Tama semakin dekat.
Tepat ketika berada di depan Nara, pandangan Nara yang menunduk, langsung menemukan sepasang sepatu pria yang berhadapan dengan sepasang sandal miliknya.
Mendongakkan kepala, matanya bersirobok dengan sesosok pria yang selama ini masih bertahta di hatinya.
Persekian detik kemudian, Nara bangkit lalu berdiri di hadapannya. Sepasang mata mereka lekat saling menatap, sama-sama menyelami kedalaman retina dengan sesekali menelan saliva. Manik hitam mereka sama-sama bergerak mengekor bola mata lawan pandangannya.
Saling menyorot sendu, yang sama-sama menyimpan kerinduan selama bertahun-tahun. Mereka bahkan lupa kapan terakhir bertatap muka dengan pancaran mata seperti saat ini.
Pertemuan mereka sebelumnya yang terasa hambar dengan tatapan penuh kesalahpahaman, seolah terkalahkan dengan adu pandang mereka sekarang.
Hilang keraguan, Tama langsung memeluk tubuh wanitanya erat. Sementara Nara masih belum membalas pelukannya.
"Maafkan aku Na? aku salah"
Tak mau egois sebab Nara tahu siapa dalang di balik perpisahan mereka, dia sama sekali tak menyalahkan Tama dalam hal ini, namun kilas balik tentang perkataan Tama saat pertama kali mereka jumpa setelah tujuh tahun, seakan terputar ulang dengan gerakan lambat di otaknya.
"Apa mas masih ingin mengatakan jika mas tidak memiliki anak dari rahim wanita manapun?" balas Nara dengan suara serak.
"Sekali lagi maaf Na, aku salah"
"Jika mas memang masih ragu, mas Bisa lakukan tes DNA"
"Tidak, Amara anakku, dia darah dagingku"
Mendengar jawaban Tama, Nara sudah tak bisa lagi menahan gejolak rindu di dalam hatinya.
Detik berikutnya, dengan ragu tangan Nara reflek melingkar di pinggang Tama untuk membalas pelukannya. Mereka saling berpelukan, sama-sama saling menguatkan sekaligus menuntaskan rasa rindu yang terasa sangat berat.
Ada beberapa pasang mata menatap haru sepasang suami istri yang kini tengah berpelukan.
Mereka berbisik dan mengatakan jika anak dari suami istri itu sedang berada di ruang ICU. Merekapun memaklumi aksi Tama dan Nara yang mungkin pelukan itu adalah sarat akan kekuatan yang saling mereka berikan.
Bersambung...
__ADS_1