
"Surabaya itu mana si mom?"
Nara tengah merapikan pakaian yang ia kenakan sambil menatap wajah putri kecilnya lewat pantulan kaca. Dengan sabar gadis itu menunggu jawaban sang mommy tanpa memalingkan perhatiannya.
"Surabaya itu jauh sayang, kalau naik mobil bisa belasan jam"
"Ara bisa turun dulu, tunggu daddy mommy di bawah" Sambar Tama, pria itu sibuk mengancingkan manik di lengan kemejanya.
"Kenapa harus tunggu di luar?"
"Daddy sama mommy mau sibuk"
Anak itu bergeming seperti sedang mencerna kalimat sang daddy.
"Mau sibuk apa?" Tanya Amara menyelidik.
"Sibuknya orang dewasa sayang"
Nara hanya diam menyimak, ia sebenarnya merasa heran campur bingung pada sang suami, tapi apa boleh buat, dia tidak bisa protes jika Tama sudah memutuskan.
Dengan berat, Amara keluar dari kamar orang tuanya.
"Ada apa mas, kenapa sampai nyuruh Ara keluar?" Nara bertanya ketika sang putri sudah menghilang di balik pintu.
Alih-alih menjawab, Tama malah mengikis jarak, merapatkan tubuhnya ke tubuh Nara. Satu tangannya melingkar di pinggang Nara dan tangan lainnya mengangkat dagu membuat Nara seketika mendongak.
"Cuma dua hari kan?"
"Iya kenapa?"
"Nanti pulangnya mas jemput, kita singgah dulu di hotel sebelum pulang kerumah"
"Mau ngapain?"
Tama membisikkan sesuatu di telinga Nara. Ia tersipu mendengar bisikan suaminya.
"Kenapa harus di hotel?"
"Kamu tahu kan kalau putrimu perusuh sejati" kata Tama menimpali ucapan Nara. "Takut nanti dia ganggu kita, jadi untuk mengantisipasinya, lebih baik kita lakukan di hotel"
"Sudah nggak ingat wanita di video itu memangnya?" ledek Nara menahan senyum.
"Bodo amat deh, daripada mas tersiksa. Sekarang video itu sudah mas hapus"
"Memangnya mas masih menyimpannya?" Alis Nara menukik tajam.
"Kemarin masih, tapi tadi sudah ku hapus"
"Percaya sama aku, aku sama sekali nggak pernah mengkhianati mas, bahkan selama kita berpisah, aku menolak beberapa pria. Aku hanya memikirkan mas di setiap hari-hariku"
Mereka saling menatap dalam diam. Baru saja Tama hendak menempelkan bibirnya di bibir Nara, suara Amara menginterupsinya.
"Daddy mommy, sibuknya udahan belum?"
"Nah kan, apa mas bilang, belum apa-apa dia udah ganggu"
Nara tertawa renyah. "Gimana mau buat dedek bayi ya?"
"Daddy, mommy" Suara Amara kembali terdengar lengkap di sertai ketukan pintu. Dengan cepat Tama melangkah menuju pintu lalu membukanya.
"Sibuknya lama-lama?" tanya Amara mendongak.
"Baru lima menit sayang"
"Lima menit itu lama daddy"
"Iya, iya, sudah selesai kok"
"Di bawah ada mama Sasa dad"
"Mama Sasa?"
Ara mengangguk sembari mengerjap.
Tama memalingkan netra menatap Nara yang sibuk mempersiapkan diri.
"Mas sudah bilang mas yang antar ke bandara kan?"
"Sasa cuma mau ngantar berkas-berkas yang mau ku bawa ke Surabaya mas" Sahut Nara melangkah sambil menarik koper mini. "Ayo kita turun"______
Setibanya di lantai bawah, terlihat Sasa tengah mengobrol dengan Rania. Mereka tampak nyambung satu sama lain membicarakan sesuatu hal.
"Bunda yang semangat ya, terus berlatih supaya segera bisa jalan kembali"
"Makasih nak Sasa, sudah menyemangati bunda"
"Hanya menyemangati bun, tidak perlu berterimakasih"
__ADS_1
Rania tersenyum meresponnya.
"Sa" panggil Nara. "Maaf lama"
"Aku baru sampai kok Na"
Kedua wanita itu berpelukan sejenak. "Aku sudah siapkan sisa berkasnya"
"Makasih Sa"
"Hemm" Sahut Khansa sambil duduk kembali. "Mas Tama, pinjam Nara dua hari ya"
"Cuma dua hari kan Sa?"
"Iya mas" jawab Khansa lalu beralih menatap Amara. "Pinjam mommy ya sayang, tadi mama Sasa udah minta oma Rania buat jagain Ara selama mommy pergi"
"Tapi harus cepat-cepat pulang ya"
"Iya sayang, nanti malam ajak daddy ke rumah Mita ya, kita barbeque bareng papa Aksa sama papa Setya, nanti ada mama Anya juga sama kak Ita dan dedek Abi"
"Serius ma?"
"Serius dong"
"Nanti malam kerumah mama Sasa ya dad" Amara menoleh ke arah Tama.
"Iya tapi Ara nggak usah ikut antar mommy ke bandara ya, Ara di rumah sama oma, istirahat banyak-banyak, nanti malam pergi kerumah mama Sasa"
"Iya"
"Okey mommy berangkat dulu ya, Ara jangan nakal, nurut sama opa oma, sama daddy juga" Nara mencium pipi, kening serta pucuk kepala Amara.
"Iya mom"
Setelah berpamitan dengan Amara, ia berpamitan pada Rania dan juga Idris.
"Titip Ara ya bun"
"Ya" jawabnya ketus. "Dia cucu bunda, sudah pasti akan bunda jaga, kamu jangan khawatir, dia aman kok" tambahnya masih dengan nada sinis.
"Bunda" potong Idris dengan suara lirih.
"Maaf selalu merepotkan bunda"
"Kalau kamu merasa merepotkan bunda, titipkan saja sama papamu, yang jelas, bunda nggak merasa di repotkan"
Rania melirik Tama tanpa mengatakan apapun.
"Sudah yuk sayang kita berangkat" kata Tama pada Nara.
"Berangkat ya bun" Nara meraih tangan Idris dan Rania.
"Iya, hati-hati"
"Iya bun"
****
Dua hari di lalui Tama dan Amara sebagaimana biasanya. Tama benar-benar mampu membagi waktu untuk pekerjaan, serta mengurus Amara. Namun sebagian besar waktunya ia gunakan untuk menemani putrinya. Termasuk bermain, pergi jalan-jalan, dan menemaninya les privat dengan guru muda yang membuat Tama merasa tidak nyaman bahkan terganggu dengan lirikannya.
Mengenai flashdisk yang ia letakan di atas meja samping ranjang, Tama benar-benar melupakannya. Ia di sibukan dengan banyak pekerjaan dan kegiatan mengurus Amara. Di tambah lagi malam-malam kemarin mereka tidur di kamar Amara. Tama memasuki kamarnya hanya untuk mengambil baju ganti. Itu sebabnya dia lupa dengan barang titipan dari bik Jum.
Namun benda itu masih berada di sana dengan aman.
Sementara Idris dan Rania justru kalang kabut mencarinya. Mereka yakin jika flasdisk itu belum berada di tangan Tama ataupun Nara. Mereka mengira jika mereka hanya lupa di mana menyimpannya.
"Nggak mungkin Tama kan yah?"
"Sepertinya enggak bun, jika flashdisknya sudah di tangan Tama, dia pasti sudah mengintimidasi kita bun"
"Cari sampai ketemu yah, coba di ingat-ingat lagi dimana ayah menyimpannya"
"Seingat ayah di sini bun, ayah gabungin dengan sertifikat dan ponsel Nara"
"Bunda takut yah"
"Tenang bun, kita tidak akan membiarkan Tama tahu"
Idris terus mencari benda itu hingga ke setiap sudut ruangan. Dia merasa frustasi ketika belum menemukannya setelah mencari selama satu jam lebih. Karena jam sudah menunjuk di angka sebelas malam, Rania meminta Idris untuk menghentikan pencarian dan melanjutkannya besok.
Di kamar Tama, Pria itu baru saja menidurkan Amara. Sebelum ikut merebahkan diri dan memejamkan mata, Tama meraih gelas berisi air untuk ia teguk isinya. Tepat ketika sedang meneguk air dalam gelas, ekor matanya melirik flashdisk yang masih teronggok di tempat di mana dia meletakannya dua malam yang lalu.
"Loh, Nara meninggalkan flashdisknya?" gumam Tama lirih. Ia meraih flashdisk itu sekalian meraih ponsel.
Ia langsung menghubungi Nara berniat memberitahunya.
"Assalamu'alaikum" Suara Nara terdengar sangat parau di balik telfon.
__ADS_1
"Sayang, sudah tidur?"
"Sudah mas, besok penerbagan pagi, jadi harus tidur lebih awal kan, ada apa?"
"Kamu meninggalkan flasdiskmu Na?"
"Flashdisk apa?"
"Ini" kata Tama sembari membolak-balikkan benda kecil di tangan kanannya. "flashdisk bertuliskan namamu di kertas yang tertempel di sisinya"
"Masa si, aku nggak punya flashdisk yang ku namai, flasdisk milikku jelas aku bawa mas, karena di dalam fkaskdisk ada bahan-bahan untuk meeting di sini, jadi nggak mungkin aku tinggal"
"Tapi bik Jum bilang ini milikmu?"
"Coba mas buka isinya apa, kalau ada dokumenku, berarti itu milikku, dan tolong mas simpankan dulu"
"Ya sudah mas cek sekarang"
"Hmm, aku tidur lagi ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Usai melakukan panggilan, Tama menimbang-nimbang apakah harus mengeceknya sekarang atau besok pagi. Namun, pilihannya ia akan mengecek besok, selain dia sudah mengantuk, dia juga berpikir jika flashdisk ini berisi file yang tidak begitu penting. Buktinya, Nara tidak merasa kehilangan benda itu.
Ia kembali menaruhnya di atas nakas, sebelum kemudian merebahkan diri.
****
Pagi harinya, Ia bersiap-siap akan pergi ke bandara untuk menjemput Nara. Ia bahkan sudah merencanakan menginap di hotel dan sudah meminta ijin pada ayah bunda untuk menjaga Amara sampai sore hari.
Setelah berpakaian lengkap, Ia meraih arloji lalu melingkarkan di pergelangan tangan. Sepasang netranya kembali mendapati benda kecil itu.
"Lebih baik ku cek dulu"
Duduk di sofa, Tama membuka laptop yang ia taruh di atas meja, lalu menyelipkan benda tipis itu di bagian sisi sebelah kiri laptop.
Ada empat file yang membuat Tama mengerutkan dahi.
"Mari kita buka" lirihnya dengan fokus sepenuhnya menatap layar laptop. Ia mengklik file paling atas.
Saat file itu terbuka, ia menghirup napas dalam. "Kenapa di saat aku ingin melupakannya dan berniat menyentuh Nara, video ini muncul?"
Video pertama yang Tama saksikan adalah adegan ironis yang menampakkan wajah istrinya. Tentu saja membuatnya melemah dan seketika wajahnya memanas.
Hanya berputar selama sepuluh detik, ia mengklik tombol close di bagian pojok kanan atas. Ia berniat melihat video lainnya di barisan ke dua.
Begitu terklik, sepersekian detik matanya membulat sempurna, wajahnya semakin terasa panas, dengan debaran jantung yang langsung kehilangan ritmeya, Tama menelan saliva dengan susah payah.
S-siapa wanita ini? kenapa bukan wajah Nara? padahal sangat jelas ini adalah adegan yang ku putar sebelumnya.
A-apa maksud semua ini hanya rekayasa?
Apa ini video aslinya?
Ini di apartemenku dulu"
Tama membatin dengan banyak pertanyaan. Ia mengusap wajahnya gusar kemudian menghapus titik bening yang mendadak muncul di area pelipis.
Tapi kenapa ada pada bik Jum?
Aku harus tanyakan pada bik Jum dari mana dia mendapatkan flashdisk ini.
Menutup laptop, Tama Berdiri lalu keluar dari kamar berniat menemui bik Jum membawa benda yang sebelumnya di cabut. Dengan tergesa-gesa ia setengah berlari menuruni anak tangga.
"Bik! bik Jum?"
"I-ya pak?" dia terlonjak lalu berbalik. "Ada apa pak?"
"Bibik dapat ini dari siapa bik?" Tama menunjukan benda yang di maksud di tangan kanannya.
Bik Jum meliriknya sekilas lalu kembali mempertemukan netranya.
"Saya menemukan itu di kamar Nyonya Rania pak"
"Kamar bunda?" Tama balik bertanya.
"Iya pak, kemarin malam, pas kalian makan malam, saya menemukan ini di lantai kamarnya ketika saya naruh baju bersih"
Jadi, apa semua ini perbuatan bunda? Tama melemas, ia sama sekali tak percaya jika orang tuanyalah yang selama ini sudah memfitnah sang istri.
"Ayah atau bunda?" lirihnya menebak-nebak.
Nara maafkan mas Na.
Dengan dada naik turun dan amarah yang sepertinya berada di puncak eferest, ia melenggang menuju kamar orang tuanya, tanpa mempedulikan raut wajah bik Jum yang menyorot penuh heran.
TBC...
__ADS_1
Typonya besok di revisi lagi. Ini aku up pukul 22:28. Benar-benar nulis sambil merem melik