
Idris, Rania serta Amara sudah bersiap duduk di dalam mobil bagian penumpang. Terdengar gelak tawa mereka dari luar yang sedang bercanda. Sementara Tama berdiri tak jauh dari mobil tengah menunggu Nara yang masih berdandan. Pria itu mengetikkan sesuatu di layar ponsel sambil sesekali menoleh ke arah pintu.
Satu menit, dua menit, Nara tak kunjung keluar. Tama berniat mengeceknya ke dalam dan memastikan agar sang istri segera bersiap.
Tepat ketika di ambang pintu, dia justru menangkap sosok istrinya tengah duduk di sofa ruang tamu sembari memegang sebelah kepala.
"Loh Na, kamu kenapa? kok malah duduk"
Nara mendongak mempertemukan netranya. "Enggak apa-apa, tadi turun tangga jadinya capek banyak-banyak"
Sebelah alis Tama terangkat. Ia merasa heran sebab tidak biasanya Nara merasa kelelahan ketika menuruni anak tangga. Wanita seenerjik istrinya yang selalu ceria dan semangat, kini malah terlihat lesu dan seperti tak ada tenaga.
"Serius nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa mas, penginnya tuh duduk dan tiduran aja. Kayak males kemana-mana"
"Tapi kamu nggak sakit kan?"
Tersenyum lalu menggelengkan kepala merespon pertanyaan sang suami.
"Bisa berangkat sekarang?" tanya Tama dengan sorot serius.
"Bisa" Nara bangkit lalu menerima uluran tangan Tama. Mereka berjalan keluar rumah sembari bergandengan tangan.
Saat langkahnya telah sampai di samping mobil, Tama membuka dan menutup pintu untuk Nara. Dia berjalan memutar melewati depan mobil selagi Nara memasang seatbelt.
"Mommy kok lama-lama si?" tanya Amara dengan nada khas anak kecil.
"Iya sayang maaf, tadi mommy bingung mau pakai baju yang mana. Maaf ya bun, Yah, sudah menunggu"
"Tidak apa-apa Nara" Sahut Rania bersamaan dengan Tama yang masuk dan duduk di kursi kemudi.
"Sudah siap?" katanya menoleh ke belakang.
"Sudah daddy"
"Okay, lets go kita berangkat"
Tama mulai menyalakan mobilnya, perlahan ia melajukannya. Sebelum benar-benar keluar dari pintu gerbang, dia membunyikan klakson pada satpam barunya yang sudah bekerja hampir dua bulan.
Selama dalam perjalanan, mereka terlibat perbincangan. Amara yang begitu pandai bercerita, tiba-tiba memuji sang mommy yang terlihat cantik saat ini. Merekapun saling memuji penampilan satu sama lain.
"Mommy cantik hari ini, rambutnya di gulung-gulung, bajunya juga cantik, pas di badan mommy" Puji Amara tulus.
"Iya ya, kok mommy beda banget hari ini" kata Rania ikut menimpali. Tama langsung melirik dengan ekor matanya.
"Amara sama oma juga cantik" balas Nara tersenyum.
"Tapi mommy lebih cantik soalnya kan mommy tinggi-tinggi badannya"
Nara menahan senyum seraya menoleh ke belakang.
"Si Amui kok mujinya dalam banget, ada kemungkinan minta sesuatu nggak si dad?"
Ucapan Nara memantik bibir Tama melengkung ke atas, membuatnya tak langsung menjawab pertanyaannya.
"Kira-kira minta apa ya?"
"Minta adek bayi, boleh?" Amara tak berkedip.
"Kata opa sama oma kalau mau dedek minta ke daddy sama mommy. Emang daddy sama mommy punya dedek bayi? kok Amui nggak pernah lihat?"
"Dedeknya masih di dalam perut mommy sayang" jawab Tama dengan tatapan lurus ke depan. "Masih lama-lama keluarnya?"
"Kenapa lama-lama?"
"Kan mommy harus hamil dulu"
Anak itu bergeming sambil mencerna baik-baik ucapan daddynya. Hingga tak terasa, tahu-tahu mobil sudah sampai di tujuan.
"Kita sudah sampai" terdengar lampu sign berbunyi.
"Ini dimana dad?"
"Di mall sayang"
__ADS_1
Amara mengedarkan pandangan selagi Tama memarkirkan mobilnya. Ia sempat takjub dengan gedung yang sama mewahnya seperti gedung mall di korea.
"Mallnya bagus mom, kayak yang di Incheon"
"Amui tahu nggak ini punya siapa?" tanya Idris sambil terus memusatkan perhatian ke arah Plaza.
"Punya siapa opa?"
"Punya daddy sayang"
"Turun yuk" potong Tama sembari melepas seatbelt. Gerakan melepas sabuk pengaman juga di lakukan oleh Nara, Idris serta Rania.
"Bunda tahan ya jangan turun dulu, aku siapkan kursi roda"
Rania mengangguk menanggapi ucapan sang putra.
Kecuali Rania, mereka sudah turun dari mobil dan di sambut oleh Daffa, Ramdan beserta seluruh jajaran direksi yang sudah di tunjuk Tama untuk membantu mengelola bisnisnya.
Mereka tersenyum ramah menyambut keluarga Nalendra. Tepat di bulan ke delapan, Plaza itu resmi akan di buka.
Plaza yang terdiri dari empat lantai dan satu ruang bawah tanah khusus untuk parkir mobil pengunjung, memiliki lebih dari tiga ratus store dan jasa seperti salon. Ada juga stand foodcourt dari manca negara dan wahana permainan timezone.
"Wow mommy bagus banget" Kata Amara takjub.
Nara yang menggandeng tangan Amara hanya tersenyum meresponnya. Sebenarnya selain merasa senang, Nara juga tengah merasakan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang membuat tubuhnya merasakan ketidaknyamannan. Bahkan jika memungkinkan, ia ingin pulang saat ini juga. Apalagi jika membayangkan betapa empuknya kasur miliknya, ingin sekali wanita itu merebahkan dirinya di sana.
Menit berganti jam, sambutan dan berbagai acarapun sudah di lalui termasuk memotong pita tanda plaza ini telah resmi di buka dan sudah bisa beroperasi mulai hari ini.
"Masih lama-lama nggak mas?" tanya Nara berbisik.
"Kenapa?"
"Pengin pulang"
"Sebentar lagi sayang"
"Sekarang bisa nggak?"
Dahi Tama mengerut mendengar rengekan sang istri.
"Ayo antarin aku pulang nanti mas bisa balik lagi kesini"
"Nggak apa-apa, cuma pengin_"
Nara menggantung ucapannya. Merasa konyol jika harus mengutarakan keinginannya.
"Pengin apa?" selidik Tama fokus menatap Nara.
"Pengin bobo" bisiknya lalu tersenyum tersipu malu.
Kerutan di dahi Tama semakin tampak. Benar-benar keheranan dengan tingkah sang istri.
"Pulang yuk" pinta Nara kesekian kalinya sambil menggoyangkan lengan suaminya. "Ayo" Ucapnya lagi dengan ekspresi bak anak kecil.
"Ngomong ke bunda dulu ya"
Nara mengangguk mantap.
"Bun kita pulang sekarang" kata Tama pada Rania yang duduk di sampingnya.
"Loh kenapa? anakmu itu loh lagi seneng lihat pertunjukan sulap"
"Nara minta pulang bun" Sekilas Rania melirik Nara yang memang terlihat kelelahan. Detik berikutnya mengangguk setuju lalu mengajak Amara yang justru belum mau pulang meski Rania sudah membujuknya.
"Kalau mommy sama daddy pulang dulu, boleh?"
"Terus Amui sama siapa oma?"
"Sama opa sama oma dong" jawab Rania dengan seulas senyum.
"Iya oma"
Setelah Amara menyetujuinya, Rania kembali menoleh ke arah Tama.
"Kamu sama Nara pulang dulu, Amui belum mau pulang"
__ADS_1
"Ya sudah bun kami pulang dulu, nanti aku bilang sama papa dan Daffa buat antarin kalian"
"Iya, kalian hati-hati ya"
"Iya bun"
"Kita pulang dulu sayang" Sambung Tama menatap Nara.
"Amui sama ayah bunda gimana?"
"Dia belum mau pulang, nanti biar di antar Daffa"
"Ya sudah ayo" seru Nara bahagia.
Mereka sama-sama bangkit dari duduknya lalu menghampiri Daffa.
"Abang pulang dulu Daff, ini kamu handle sama pak Riski, terus nanti antar Amui sama opa omanya pulang"
"Kok pulang si bang?"
"Mbakmu merengek minta pulang"
"Ya sudah abang sama mbak Nara hati-hati"
"Ya"
Melangkah keluar, Tama mendengar gerutuan Nara yang kian aneh baginya.
"Udah nggak sabar pengin rebahan sambil di pijat lama-lama kakinya sama mas"
"Pijat?"
"Hmm"
***
Setibanya di rumah, Nara langsung merebahkan dirinya di atas ranjang. Sementara Tama meraih remot AC lalu menyalakannya.
Wanita itu langsung meminta Tama untuk memijat kakinya sampai dia tertidur.
"Kalau aku belum tidur, mas jangan berhenti mijitnya ya" Kata Nara sambil menunggu Tama mengganti kemeja dengan kaos santai.
"Yes mom"
"Mijitnya juga yang lembut"
"Yes mom"
"Yes yes apaan, cepetan ganti bajunya"
"Iya mommy"
Tama mulai memijat kaki Nara, dia begitu patuh mengikuti arahan dari sang istri.
"Agak kencang dikit mas, nggak kerasa"
"Ini udah kenceng Na"
"Telapak kakinya juga sayang, di tekan-tekan yang agak keras"
"Gini"
"Hmm. Ke betis juga, tapi jangan terlalu kencang"
"Seperti ini?" tanya Tama.
"Di lembutin dikit"
"Segini?"
"Iya gitu aja sayang udah pas, enak"
Tama menggeleng penuh tanya.
Sampai Nara benar-benar pulas, Tama baru berhenti memijatnya, kemudian ikut merebahkan diri di samping Nara.
__ADS_1
Merasa sangat lelah setelah hampir satu jam memijat, tak butuh waktu lama Pria itu ikut tertidur sambil memeluk istrinya dari samping.
Mereka tidur tepat di jam tiga sore.