
..."Apa yang kita lakukan, baik maupun buruk, tak serta merta akan lolos dari sebuah akibat. Pikirkan matang-matang sebelum berbuat"...
...🌷🌷🌷...
"Baiklah, saya akan menemui kepala rumah sakit ini"
"Maaf bu, sepertinya Tidak bisa, ibu kepala sangat sibuk hari ini"
"Aku akan tetap menemuinya suster, kalau bisa, aku akan membuat dia di pecat dari sini"
"Calon menantunya pemilik rumah sakit ini bu, tidak mungkin beliau di pecat"
"Calon menantu?"
Oh, jadi calon istri mas Tama pemilik rumah sakit ini"
Hening, pandangan Nara kosong menatap jauh dengan tatapan nanar.
"Bu" panggil suster heran, Pandangan Nara yang tadi menyorot kosong, kini ia alihkan pada suster yang memanggilnya.
"Setelah kami melapas infus, tolong ibu segera keluar dari sini, karena jika tidak, kami berdua yang akan di pecat"
"Ckkk,, kepala rumah sakit tidak punya hati, sekarang juga aku akan menemui wanita iblis itu"
Kedua suster saling pandang, mereka tak percaya dengan ucapan Nara yang mengatakan Rania sebagai wanita iblis.
"Berani kalian melepas infus anak saya, akan saya penjarakan kalian berdua" ancamnya
kemudian berbalik tanpa memperdulikan raut tegang dari kedua suster.
"Sayang, Ara istirahat dulu ya, mommy ada urusan sebentar"
Wanita itu mengecup kening Amara sedikit lebih lama.
"Mommy tinggal dulu, Ara boleh merem sambil nunggu mommy kembali"
Amara hanya mengangguk merespon ucapan sang mommy.
Sepertinya, kesabaran Nara memang sudah tidak bisa di tolerir, hanya kebencianlah yang tersisa untuk wanita yang melahirkan suaminya.
Dengan dada bergemuruh, Ia memberanikan diri berjalan ke arah lift. Langkahnya lebar hendak menuju ke sebuah ruangan di lantai paling atas rumah sakit. Ruangan khusus untuk jajaran direksi kepengurusan rumah sakit Pelita IMC.
Begitu sepasang netranya menangkap sebuah tulisan di papan yang menempel pada sisi tembok depan ruangan Rania, Ia membelokkan kaki dan langsung menerobos pintu berwarna orange tanpa mengetuknya.
Braakk,,
Sorot matanya tajam, wajahnya memerah menyiratkan sebuah amarah yang kian menyeruak.
Rania yang tengah fokus menunduk menatap dokumen di atas meja, seketika mendongak mempertemukan netranya, selang tiga detik dia berdiri.
Mereka saling beradu pandang dengan kondisi batin yang sama-sama menyimpan kebencian. Kemudian wanita yang tengah duduk di kursi kebesarannya menerbitkan senyum miring.
"Waow Naraya, ternyata sikapmu sangat tidak sopan ya? apa kamu kehilangan akal sehatmu karena frustasi dengan kondisi putrimu"
"Dia cucumu, kenapa kamu tega berbuat seperti itu padanya?"
"Cucu?" Rania menanggapinya sinis, lengkap dengan bibir yang tersungging seakan mengejek. "Bagaimana bisa dia cucuku jika putraku sendiri mengatakan tidak pernah memiliki anak dari rahim wanita manapun?"
"Cukup!" Pekik Nara berusaha menahan geram.
Rania tahu jika Tama pernah mengatakan pada Nara bahwa dia tak mengakui Amara sebagai anak kandungnya sendiri. Aldikalah yang sudah menceritakan pertemuan pertama mereka padanya sekitar satu minggu yang lalu.
"Jika kamu tidak ingin mengakui dia sebagai cucumu, setidaknya berikan rasa perikemanusiaanmu padanya Rania!"
"Aku tidak peduli dengan semua perkataanmu, sekarang aku minta, keluar dari ruangan saya dan segeralah bawa pergi anakmu dari rumah sakitku"
__ADS_1
Diam tak berkutik, hingga berlangsung selama sekian detik.
"Bunda adalah seorang wanita yang seharusnya menyayangi putra-putrinya, seorang wanita yang bersedia mengorbankan nyawa demi anak-anaknya. Bunda, kamu benar-benar tidak pantas di panggil dengan sebutan itu nyonya Rania. Sikap keji dan kejammu terhadap cucumu sendiri sudah mencoreng bunda-bunda baik di luar sana. Camkan satu hal nyonya Rania" ucap Nara sarkas, sudah tak ada lagi rasa hormat terhadap ibu mertuanya. "Sampai kapanpun, Amara adalah cucumu, dia adalah keturunan keluarga Nalendra"
"Tidak usah banyak basa-basi, keluar sekarang juga dari ruangan saya!" pekiknya dengan intonasi tinggi serta mata berkilat merah.
"Tunggulah saat waktunya tiba nyonya Rania, kamu akan menuai hasil dari perbuatanmu, aku bahkan bersedia jika harus mematahkan kakimu hingga kamu tak sanggup lagi berjalan dengan kakimu sendiri"
"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu? Ck kamu keliru, kamu tidak akan pernah bisa melawanku"
"Oh ya? kita lihat saja siapa yang akan keluar jadi pemenang, Rania Nalendra"
Naraya berbalik usai mengatakan itu lalu berjalan keluar. Tangannya bergerak kasar membanting pintu dengan sangat kencang. Raut wajahnya cukup terkejut ketika netranya mendapati sosok yang dia cintai.
"A-Amara" lirihnya tergagap, Ia meneguk ludahnya sendiri dengan setengah mati.
Mereka tidak sadar kalau sedari tadi ternyata ada sosok Anita dan Amara tengah menyaksikan perdebatan mereka.
Sesaat setelah kepergian Nara, Anita memasuki ruangan Amara berniat menjenguknya. Amara yang ingin berjalan-jalan dan melihat-lihat lantai paling atas rumah sakit, justru harus melihat pertengkaran mommy dan ommanya.
Mendengar semua omongan gila dari mulut Rania, Anita yang sedang mengandung empat bulan menjadi labil dan ingin sekali menampar pipi wanita jahat itu. Namun sebisa mungkin ia tahan demi menjaga nama baik keluarga dan suaminya.
Sementara Amara, anak itu sama sekali tak paham dengan arah pembicaraan antara Rania dan Naraya. Dengan nada tinggi, gadis kecil itu hanya tahu jika mommynya sedang bertengkar dengan ommanya.
Namun, ada satu hal yang membuat Amara tiba-tiba menyunggingkan senyum senang ketika mendengar Nara mengatakan jika dirinya adalah cucu dari Rania. Wanita berwibawa, cantik dan hebat luar biasa, sedikit banyak Amara merasa bangga memiliki nenek seperti Rania. Sayangnya dia benar-benar tak tahu jika ommanya sangat membenci dirinya.
Anak kecil yang polos, tak tahu jika wanita itu sangat jahat dan kejam.
"A-Anita?" Nara menatapnya bingung.
"Tadi Amara memintaku mendorong kursi roda dan melihat-lihat lantai atas, maaf jika aku membawa Amara ke tempat yang salah"
Sebenarnya, ada gelegak amarah yang Anita tahan di dalam hatinya, Amarah yang jelas di tujukan untuk Rania.
"Kamu bawa Amara ke bangsalnya"
"Tidak" tolak Anita. "Kamu turun saja dulu, nanti aku menyusul, aku ada urusan sebentar"
"Urusan apa?"
"Dengan salah satu direksi rumah sakit ini"
"Urusan apa Ta?" tanya Nara mengulang pertanyaan.
"Aku mewakili bang Emir dan mas Aksa untuk mengundurkan diri dari sini" dustanya terpaksa.
Anita sudah tahu dari suster jika Amara terusir dari sini.
Naraya mengernyitkan dahi mendengar kalimat sahabatnya.
"Mengundurkan diri?"
"Turunlah Na, nanti aku ceritakan"
****
Sepeninggal Nara dan Amara, Anita memasuki ruangan Rania tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Rasanya, ia ingin sekali meluapkan amarahnya yang sudah meletup-letup sejak beberapa menit lalu.
"Apa anda nyonya Rania? kepala rumah sakit di sini?"
Rania mengernyit sambil mengingat-ingat wajah wanita di hadapannya.
"Apa anda istri dokter Emir?"
Alih-alih menjawab, Anita justru mengulurkan tangan kemudian memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Tepat sekali" sahut Anita dengan sadis, alisnya terangkat satu seolah meremehkan. "Saya Anita istri dokter Emir, putri sulung pasangan Galang Adiwijaya dan Sofia Adiwijaya, pemilik Adiwijaya Compani, menantu dari Anjar Dhaniswara CEO Bom and Food, sekaligus kakak ipar dari dokter Aksara Galileo, pewaris tunggal Dandelion Group"
Perkenalan Anita, membuat Rania tercengang, wanita itu membelalakan mata lebar-lebar, kemudian mengurai tangan yang saling berjabat.
"Anda sudah berani mengusir keponakan kami, jadi bersiaplah untuk keterpurukan anda dan rumah sakit besar ini, anda harus merasakan kehebatan Naraya, dia pasti akan membawa suaminya ke pelukan putrinya, ingat ucapanku baik-baik nyonya Rania yang terhormat"
Ucapan biasa saja, tapi merupakan sebuah ancaman baginya.
Anita lalu mengambil langkah menjauh. Mengabaikan ekspresi Rania yang menyorot nanar.
****
Setelah terjadi perdebatan yang cukup panjang antara Nara, Aksa, dan juga Emir dengan pihak rumah sakit mengenai pemindahan paksa terhadap Amara, Nara akhirnya mengalah dan membawa Amara ke rumah sakit lain yang di kepalai oleh Diana. Hari itu juga, Aksa dan Emir mengundurkan diri sebagai dokter di rumah sakit Pelita IMC.
Sementara Nara menitipkan Amara pada Khansa dan Diana, dia pergi ke rumah keluarga Nalendra untuk menyeret Tama mengunjungi putrinya.
"Bisa saya bertemu dengan mas Tama pak?"
"No-nona Nara?"
"Saya ingin bertemu dengan suami saya pak, tolong ijinkan saya masuk"
"Tuan Tama sedang tidak ada non"
Tanpa mempedulikan ucapan satpam, Nara langsung memasuki pintu gerbang, dengan langkah setengah berlari ia menuju pintu utama.
Saat hendak menapaki lantai teras, sosok pria gagah berwibawa membuka pintu. Nara menghentikan langkahnya dan pandangan pun bertemu.
Ini adalah pertemuan pertama Naraya dan pak Idris. Tak ada sepatah kata hingga beberapa menit, yang mereka lakukan hanya termangu lekat saling menatap.
"Naraya!"
"A-ayah"
Perlahan Idris melangkah maju hingga berdiri dengan jarak satu meter di depan Nara. "Kamu?"
"Yah, M-maaf saya datang di waktu yang salah"
Dengan perasaan was-was Nara berkata.
"Tolong ijinkan mas Tama menjenguk putrinya yah, saya mohon"
Sama sekali tak terkejut, sebab Idris sudah tahu tentang Amara ketika pertama kali Tama bertanya pada Rania, malam setelah bertemu dengan mantan ARTnya.
Kebingungan Idris saat itu terjawab ketika pagi harinya mendengar Aldika bermonolog di dalam ruangan kantornya, jika dia akan melakukan tes DNA terhadap Amara dan Tama. Tanpa sepengetahuan Aldika, Idris mencuri persyaratan DNA yang sudah Aldika persiapkan, kemudian dia membawanya ke rumah sakit dan mengeceknya tanpa sepengetahuan siapapun.
"Saya bersumpah yah, Amara adalah anak kandung mas Tama, sekarang Amara tidak baik-baik saja. Dia Sekarat, tapi malah bunda mengusirnya dari rumah sakit Pelita"
"Bunda mengusir Amara?"
Nara mengangguk tanpa ragu sebelum kemudian bersuara. "Kondisi Amara semakin hari semakin lemah, dia ingin bertemu daddynya di saat-saat terakhirnya yah, jadi saya mohon bujuk mas Tama agar bersedia menemuinya, tolong yah!"
Merasa sangat putus asa, reflek Nara bersimpuh di hadapan Idris memohon dengan penuh harap.
"Jangan begini nak, ayo berdirilah"
Rasa kesal dan kecewa atas sikap Nara dahulu, mendadak hilang dalam diri Idris. Yang ada sekarang hanyalah rasa simpati terhadap menantunya, dan nasib Amara yang kemungkinan besar adalah cucunya.
"Sekarang juga bawa ayah ke rumah sakit tempat Amara di rawat" Pinta Idris sembari menuntun Nara agar bangkit.
Nara menatap ayah mertuanya dengan sorot tak percaya. Ia sama sekali tak menduga dengan respon Idris.
Entah siapa yang ingin Idris percaya, yang jelas untuk saat ini, dia memilih berempati pada Nara dan gadis kecil yang tengah berjuang melawan sakit.
Bersambung
__ADS_1
Maaf kalau ceritanya bertele-tele dan banyak drama 😀😀
Semoga masih ngikut dan nggak bosen sampai akhir eps..😁