Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
92


__ADS_3

"Apa ini yah?" tanya Nara ketika menerima amplop dari Idris sepulang dari kantor.


"Ayah nggak tahu Na, tadi di antar tukang pos"


Nara membuka amplop itu sambil melangkah menaiki tangga, lalu membaca isi dari kertas yang sedang ia pegang.


Acaranya masih dua minggu lagi, tapi mas Tama belum memberitahu ayah kalau perusahaan itu masih menjadi miliknya. Huft, lagi-lagi aku harus membicarakan ini dengan mas Tama.


Malam harinya Nara tengah memasak dengan kedua ARTnya, tiba-tiba terdengar suara salam dari Tama. Idris dan Rania yang sedang menemani Amara di ruang tv menjawab salam putranya.


Usai mengecup punggung tangan kedua orang tua dan putrinya, pria itu langsung melangkahkan kaki menuju dapur.


"Kamu masih masak-masak?" tanya Tama sesampainya di dapur. Pria itu menuangkan air ke dalam gelas.


"Cuma bantu sedikit kok" jawab Nara tanpa melihat Tama.


"Jangan terlalu lelah loh ya?"


"Nggak apa-apa kalau lelah, yang penting tetap happy, dan tidak ada yang bikin moodku buruk"


Mendengar ucapan Nara, kening Tama mengerut.


"Apa ada yang membuatmu badmood?"


"Enggak ada, cuma heran saja sama bu Esti"


"Ada apa lagi dengan dia?"


"Tidak" sahut Nara sambil melangkah menghampiri Tama di meja makan. "Dia baik sampai kasih Ara penghapus lucu"


"Kenapa dia ka_"


"Jangan bahas dia" potong Nara cepat. "Ada hal yang lebih penting yang harus kita bahas"


"Soal apa?"


"Kita ke kamar" kata Nara dengan sorot lekat menatap Tama. "Bik Jum, itu tumis kangkungnya tolong di lanjut ya"


"Iya bu"


Setelah mendengar jawaban sang ART, Nara menggamit lengan Tama kemudian membawanya ke kamar.


"Kita mau bahas apa?" tanya Tama menyelidik.


"Mas belum bicara ke ayah kan soal Angkasa?"


"Belum, kenapa?"


"Lebih baik mas ngomong secepatnya, karena dua minggu lagi aku dapat undangan penerimaan penghargaan mewakili Angkasa"


"Kamu dapat penghargaan?"


"Nggak cuma aku, Khansa juga"


"Penghargaan apa?"


"Entahlah"


Kini langkah mereka sudah sampai di depan kamar. Tama membuka pintu lalu memberikan celah agar sang istri masuk terlebih dulu.


"Acara itu di liput di berbagai chanel televisi dan secara langsung, kalau kita nggak ngomong ke ayah secepatnya, takutnya ayah terkejut terus tersinggung"


"Kenapa harus tersinggung?"


Nara mencubit pipi Tama lembut.


"Karena kita nggak melibatkan ayah, dan menyembunyikan hal besar seperti ini. Jadi dari pada ayah tahu dari media, lebih baik kita segera memberitahukan"


"Ya udah nanti setelah makan malam, mas akan ajak ayah sama bunda bicara"

__ADS_1


"Kenapa nggak dari kemarin-kemarin si?"


Nara membantu melepas kemeja milik Tama.


"Dari kemarin-kemarin gimana? mas kan baru tahu beberapa hari ini"


"Ya maksudnya setelah mas tahu waktu itu, harusnya langsung ngomong ke ayah"


"Itu bukan sesuatu yang serius Nara, tidak perlu di perbesar-besarkan"


"Aku hanya mengingatkan, karena menyimpan rahasia benar-benar nggak enak"


"Iya sayang, mas akan bicara malam ini juga, nggak nunggu besok-besok lagi"


Tama mengecup kening Nara setelah mengatakan itu.


Ketika Tama hendak melangkah untuk mandi, tiba-tiba Nara mencengkram pergelangan tangannya.


"Mau kemana?"


"Mandi, bau"


"Nggak boleh"


"Kenapa?"


"Nanti baunya mas hilang kalau mandi"


Satu alis Tama terangkat.


"Aku suka baunya mas yang kayak gini, nggak bikin mual"


Tama mengendus tubuhnya sendiri.


"Baunya nggak enak loh Na" kata Tama bingung.


"Pakai ini" Wanita itu menyerahkan kaos berwarna putih tulang ke tangan Tama.


"Serius ini mas nggak boleh mandi, badan mas lengket banget soalnya pengin bersih-bersih"


"Nggak boleh pokoknya. Berani mandi, jangan tidur denganku"


"Jorok"


"Mas ngomong apa?"


"En-enggak, nggak ada"


"Kalau gitu kita turun, makan malam"


****


Usai makan malam, sesuai janjinya Tama mengajak Idris dan Rania menuju ke ruang kerja untuk membicarakan perihal Angkasa group yang saat ini ada dalam kendali Nara.


Tama menceritakan semua sesuai dengan apa yang ia dengar dari cerita Nara. Tak ada yang terlewat, semua Tama ceritakan mulai dari awal hingga saat ini.


"Jadi Meira itu adik kandung Khansa?"


"Iya yah, Meria mendapat perintah dari Nara, Anita dan juga Khansa"


"Itu berarti Aldika sudah tahu kalau Nara dan teman-teman yang membelinya"


"Awal-awal nggak tahu, tapi semakin kesini, Nara akhirnya memberitahukan ke Aldika"


"Jadi waktu itu Meira berani bayar mahal untuk Aldika karena permintaan Nara agar Aldika tetap di Angkasa?"


"Iya yah, karena Aldikalah yang tahu sepak terjang perusahaan kita"


Di sana Rani hanya terpaku mendengar cerita Tama. Penyesalan serta rasa bersalah kembali membelenggu di dalam dirinya. Apalagi jika mengingat semua kejahatannya pada Nara, otomatis rasa itu kian besar dan seolah tak bisa ia singkirkan.

__ADS_1


Menantu yang sempat ia tolak mentah-mentah, ternyata sangat berjasa bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk suami dan putranya.


Menantu yang dulu dia hina, sekarang justru mampu mengubah takdir dengan membalikkan nasibnya dengan nasib dirinya.


Lagi, Rania di sergap rasa bersalah yang semakin membelitnya, hingga ia merasakan sesak yang luar biasa di area dada, seakan udara yang ia hirup benar-benar tak ingin masuk ke dalam paru-parunya.


"Bunda kenapa bun?" tanya Idris ketika netranya sempat melirik ke wajah Rania.


Sementara Tama langsung menoleh memindai wajah sang bunda.


"Nggak apa-apa yah"


"Apa bunda kembali merasa bersalah?"


"Tidak hanya itu yah" kata Rania menunduk. "Bunda menyesal sudah jahatin Nara"


"Nara sudah memaafkan bunda" sambar Tama cepat. "Jangan di ingat-ingat lagi bun nanti malah bunda sakit. Bunda fokus saja sama kaki bunda biar cepat bisa jalan lagi"


"Sekali lagi bunda minta maaf Tama sudah merenggut kebahagiaan keluargamu selama tujuh tahun"


"Aku sudah memaafkan bunda, kita jalani hidup tanpa mengingat masa lalu"


Hening, ada jeda hingga beberapa menit.


"Ayah nggak apa-apa kan kalau Nara menyembunyikan ini sampai berbulan-bulan?"


"Nggak apa-apa Tama, ayah berusaha menempatkan diri ayah di posisi Nara"


Tama mengangguk paham.


"Kalau ayah mau, ayah bisa bantu Nara di kantor, nanti selain ngurus Plaza, aku juga akan bantu di Angkasa"


"Ayah bersedia ke kantor, tapi yang ngurus bunda siapa?"


"Nanti aku cari ART khusus buat bantu bunda"


"Gimana bun?" tanya Idris mencoba meminta saran dari istrinya.


"Nggak apa-apa ayah ke kantor, Nara kan sedang hamil, pasti kerepotan. Kalau ada ayah kan mendingan dan Nara nggak terlalu lelah"


"Ya sudah, mulai besok ayah akan ke kantor" Pungkas Idris. "Terimakasih Tama, terutama untuk Nara, dia mengembalikan keluarga ayah, perusahaan ayah, dia juga sudah membuat bunda menyadari kesalahannya"


Tama merespon dengan bahasa tubuh, mengangguk-angguk pelan.


"Kita juga dapat undangan yah"


"Undangan apa"


"Menghadiri ajang Entrepreneur Awards, Nara dan Khansa mendapat penghargaan, tapi belum tahu penghargaan dalam bidang apa, itu masih di rahasiakan"


"Masyaa Allah, istrimu benar-benar hebat Tama, ayah bersyukur memiliki menantu seperti Nara"


"Bukan lagi menantu yah" sergah Rania. "Dia anak kita"


"Bunda benar, Nara anak kita"


"Bunda janji akan memberikan kasih sayang bunda untuk Nara bukan sebagai mertua, tapi sebagai ibunya"


"Makasih bun" ucap Tama sendu.


"Tidak perlu Tama"


"Jadi siap untuk pergi ke ajang penghargaan menemani Nara minggu depan yah, bun?"


"Siap Tama" jawab Idris dan Rania nyaris bersamaan.


"Ayah juga siap ke kantor lagi" tambah Idris mantap.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2