
Hari-hari di lalui oleh Tama dan keluarga sebagaimana mestinya. Terhitung sampai hari ini sudah tiga minggu terlewatkan dengan segudang aktifitas. Di tengah-tengah kesibukannya yang kini sedang membangun bisnis baru dengan bantuan Ramdan dan juga Daffa, dia harus bolak-balik ke kantor polisi sebab saat ini Rania telah di tahan sejak keluar dari rumah sakit satu minggu yang lalu.
Shella yang memiliki banyak uang, dia telah berdamai dengan keluarga korban yang dia tabrak. Selain memberikan dana dengan jumlah yang besar kepada mereka, Shella bahkan membantu keluarga korban menuntut Rania untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang tidak pernah Rania lakukan, hingga membuatnya menjadi tersangka karena tuduhan palsunya.
Di sela-sela kesibukannya pula, Tama tak pernah absen menelpon sang putri yang sedang berada jauh darinya.
Sedikit banyak, Amara sering sekali protes mengapa Tama tak kunjung menjenguknya, namun Nara selalu bisa membuat putrinya mengerti dengan penjelasan-penjelasan darinya yang memang sangat mudah di pahami oleh anak seusia Amara.
Tama juga meminta Nara agar terus mengatakan pada Amara bahwa dirinya sangat sayang padanya.
Saat ini, Tama sedang berada di lapas untuk menjenguk Rania, Ia membawa serta pengacara ternama yang sudah di tunjuk oleh keluarga Khansa untuk membantu proses hukum yang sedang menjerat sang bunda.
Tidak hanya hubungan Tama dengan papa mertuanya yang sudah tidak canggung lagi, hubungan Tama dengan sahabat-sahabat Nara pun kian erat.
Tama dan Aldika bahkan sudah masuk ke dalam lingkaran pria-pria bijaksana seperti Aksa, Emir dan juga Setya. Dari sinilah Tama tahu betapa baiknya sahabat dari istrinya.
"Besok sidangnya akan di mulai bu, bu Rania tidak perlu gugup, takut ataupun cemas, rileks saja" Kata pak pengacara. "Katakan sejujurnya apa yang terjadi sebenarnya pada pak hakim. Jika bu Rania tidak melakukan itu, katakan jangan ragu" tambahnya berusaha menenangkan kliennya.
"Bunda jangan takut ya?" Sela Tama dengan tangan menggenggam erat tangan Rania. "Bunda pasti akan bebas"
"Bunda nggak nyangka Shella tega memfitnah bunda, kamu percaya sama bunda kan?"
Tama mengangguk meski sebenarnya ragu, mengingat dia sangat paham dengan sifat bundanya yang terlampau egois.
Biar bagaimanapun, dia adalah wanita yang telah melahirkannya, itulah kata-kata yang selalu Nara ucapkan ketika setiap kali dirinya mengeluhkan sikap sang bunda pada Nara.
Sampai keesokan paginya, Idris dan Tama sudah berada di dalam ruang sidang. Mereka akan mendampingi Rania pada sidang perdananya dengan agenda pokok permasalahan, dan mendengarkan saksi dari Shella.
Tak hanya Tama dan Idris, Nara bahkan sudah diam-diam kembali ke tanah air malam tadi demi untuk mengikuti persidangan ibu mertuanya. Di temani Khansa yang juga turut ikut, Tama masih belum tahu jika Nara sudah berada di area pengadilan saat ini.
Tepat ketika Nara membuka pintu mobil dan keluar, Ia mendapati sosok Shella yang juga baru saja keluar dari dalam mobil.
Jika saja bisa, Shella bahkan ingin sekali membunuh wanita yang sudah menghalangi dirinya untuk mendapatkan Tama.
Cukup lama mereka beradu pandang, Nara akhirnya memutus pandangan karena sudah tidak tahan dengan tatapan Shella yang menyorot penuh kebencian.
Ia sempat melirik ke bagian dalam mobil Shella dan menangkap ada sebuah Camera CCTV di sebelah spion tengah.
"Na" panggilan Khansa membuyarkan lamunan Nara. Ia langsung menoleh ke arah sahabatnya.
__ADS_1
"Ayo"
"Iya"
Dua wanita melangkah setelah Shella berjalan lebih dulu memasuki ruang sidang. Ada perasaan campur aduk dalam hati Nara yang kemungkinan besar akan mengejutkan sang suami atas kedatangannya secara tiba-tiba.
"Kenapa senyum-senyum Sa?"
Khansa tergagap saat Nara memergokinya tengah tersenyum membayangkan sesuatu.
"E-Enggak"
"Enggak tapi kok senyum-senyum"
"Lagi bayangin wajah mas Tama saat dia tahu tiba-tiba kamu muncul di ruang persidangan"
"Hufft aku justru membayangkan wajah judesnya Rania"
"Si ratu angkuh, ngapain di bayangin"
"Terus ngapain juga kamu ngebayangin ekspresi mas Tama?"
"Ishh, mulai mesum kan?"
"Enggak lah, kan so sweet"
Sesampainya di depan pintu, Nara menghentikan langkahnya, sepasang matanya langsung tertuju pada Rania yang masih berada di kursi roda karena kondisi kakinya belum pulih.
Sedetik kemudian, pandangannya ia alihkan pada Tama dan Idris yang duduk berdampingan.
"Kok berhenti Na?"
"Aku deg-deggan Sa"
"Deg-degan karena mas Tama, atau si ratu Angkuh?"
"Si ratu angkuh" Sahutnya tanpa menatap Khansa. "Kasihan dia, sudah jatuh miskin, kecelakaan sampai kakinya tidak bisa jalan, dan sekarang dia di fitnah sampai harus tinggal di penjara"
"Mungkin itu karma kali Na, sudah jahat sama kamu dan Amara"
__ADS_1
"Aku sudah berusaha memaafkannya Sa, lagi pula sekarang Amara sembuh dan sudah mendapatkan daddynya, itu sudah membuatku bahagia dan tidak akan pernah berhenti untukku syukuri"
"Sudah ayo masuk, aku sudah tidak sabar pengin lihat wajah mas Tama"
Nara mencubit pinggang Khansa yang sedari tadi tidak berhenti menggodanya. Cubitan lembut yang justru menimbulkan efek geli dan membuatnya berjengit sembari tergelak.
Mereka kembali melanjutkan langkahnya, mendeket ke arah Tama dan Idris yang duduk memunggunginya.
"Mas Tama"
Begitu mendengar panggilan wanita yang sudah sangat dia hafal suaranya, Tama dan idris kompak menoleh ke kanan.
Dan otomatis pandangan mereka bertemu.
Tidak ada kata atau kalimat yang mampu menjabarkan perasaan di hati keduanya. Yang jelas Tama dan Nara merasakan sesuatu yang sama, perasaan cinta yang semakin hari kian lebih.
"Nara"
Rania yang sudah menempatkan dirinya di tengah-tengah ruang sidang, menoleh ke belakang tak lama setelah Tama memanggil nama Nara.
"Bagaimana bisa kamu disini"
"Ak_"
Kalimat Nara menggantung sebab ada seruan dari majelis hakim bahwa sidang akan di mulai.
Bersambung
Bukan maksud hati membuat cerita ini muter-muter kayak komedi puter ya. Biar ceritanya kompleks, aku tulis satu persatu.
Bagaimana Rania mendapatkan balasannya, seperti apa Ekspresinya ketika hidupnya semakin terpuruk. Disini nanti Rania akan merasakan kebaikan Nara secara perlahan..
Perlahan ya, sedikit demi sedikit. Setengah hati dulu 😀😀.
Janji deh nggak akan lama muter-muternya 😃😃😃
Lanjut besok ya..
Makasih masih mendukung dan memberikan komen like vote serta bunga.
__ADS_1