
Sebelum menjalani proses transplantasi sumsum tulang, Amara sudah menjalani serangkaian tes dan prosedur untuk mengevaluasi kesehatan secara umum sehingga transplantasi bisa dilakukan. Mengingat kondisi Amara yang lemah, evaluasi itu memakan waktu hingga dua minggu.
Dan waktu dua minggu inilah seolah berjalan begitu lambat bagiku, apalagi jika mengingat bagaimana Amara menjalani kemoterapi yang terasa begitu menyiksa. Melihat buah hatiku kesakitan, seakan aku ikut merasakan apa yang Ara rasakan. Sakit Itu seperti listrik yang langsung tersalurkan ke setiap aliran darah dan membuat sel tubuhku seketika beku.
Rasa nyeri itu kian menjadi ketika melihat rambut Ara yang semakin hari kian menipis karena rontok akibat kemoterapi.
Untung saja beberapa waktu lalu papa, sahabat-sahabatku, orang tua Sasa dan Anita, serta mas Aldika datang berkunjung. Bahkan kakek Rudito dan nenek Nimas pun tak mau kalah mengunjugi kami hanya untuk menyemangatiku dan juga Amara. Mereka datang silih berganti membesuk Ara untuk memberikan kami dukungan serta do'a yang membuat rasa sesakku sedikit berkurang.
Tak ada hal yang paling menakutkan kecuali hari esok bagiku. Karena Amara akan berjuang untuk hidup lebih lama dengan sel punca dari mas Tama
Sel induk yang berasal dari sumsum tulang belakang daddynya sendirilah yang sudah tim medis putuskan dan di ambil berdasarkan situasi Amara dan mas Tama.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya mas Tama. Saat ini, aku tengah tidur di atas pangkuannya. Aku benar-benar tak bisa memejamkan mata padahal ini sudah pukul sebelas malam.
"Aku tidak bisa tidur" jawabku dengan tatapan kosong. "Aku memikirkan Amara apakah dia akan sembuh?"
"Kenapa jadi pesimis seperti ini, hmm?"
"Aku nggak tahu, aku takut operasi itu akan gagal"
Mas Tama memintaku bangkit dari rebahku lalu menuntunku menuju ranjang.
"Tidurlah! sudah malam, aku temani"
Aku merebahkan diri di samping mas Tama, kemudian dia menarikku hingga tubuhku merapat padanya.
"Jangan buat dirimu lelah, kita harus terlihat kuat di depan Ara besok, sekarang pejamkan matamu!"
Satu tangan mas Tama ku jadikan bantal sementara tangannya yang lain menepuk-nepuk pelan lenganku bagian atas.
Ini kedua kalinya kami tidur dalam satu ranjang,
Tidak ada yang kami lakukan di atas tempat tidur, kecuali hanya berpelukan dan sesekali berciuman.
"Na" panggil mas Tama setelah kita sama-sama tidak bersuara.
"Hmm"
"Apa aku salah jika membicarakan kelanjutan hubungan kita?"
"Apa yang ingin mas bicarakan?"
"Ada sesuatu yang harus kita perjelas bukan? kira-kira apa kamu keberatan kita bahas ini sekarang?"
"Tidak" Sahutku singkat.
Mas Tama sempat menarik napas sejenak sebelum kemudian kembali berkata.
"Kita masih suami istri, gimana menurutmu?"
"Aku_"
"Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku Na" potongnya cepat. "Maukan kamu rujuk denganku?"
Ku angkat sedikit kepalaku mencari netra mas Tama, berusaha menyelami matanya untuk memastikan kesungguhan dari ucapannya.
"Bunda?"
"Kenapa masih memikirkan bunda? ada Amara di tengah-tengah kita, apa kamu tega dengan Anakmu sendiri? bukankah Amara menginginkan daddy mommynya tinggal bersama?"
Mas Tama kembali merengkuhku untuk mendaratkan kepalaku di lengannya. "Aku masih sayang sama kamu, kita perjelas sekarang supaya besok saat menemani anak kita, kondisi hubungan kita sudah lebih baik" Kata mas Tama, aku tak tahu seperti apa ekspresinya saat mengatakan itu.
"Kamu masih sayang sama aku kan Na?"
Hening, butuh waktu lama untuk aku merespon pertanyaan mas Tama.
"Na, maukan kita sama-sama lagi? kita mulai dari awal bersama Amara?"
"Aku juga masih sayang sama mas, tapi aku mau kita nikah ulang, gimana?"
__ADS_1
"Kita masih sah secara agama dan negara Na, kenapa harus nikah?"
"Kita berpisah cukup lama, aku mau mas ngucapin ijab qobul ulang, biar nggak ada rasa canggung lagi di antara kita. Hanya ijab qobul" pungkasku sedikit menekan nada suaraku. "Kita nggak perlu mendaftarkan pernikahan karena dalam catatan negara kita masih sah"
"Ok, nanti setelah urusan Amara selesai, kita atur lagi rencana itu"
"Hmm"
"Deal ya, kita sepakat akan hidup sama-sama lagi?"
"Iya"
"Kalau gitu mari kita tidur" Ajak mas Tama setelah melihatku sekilas. "Kita lupakan masa lalu kita, kita pikirkan masa depan Amara sama-sama, kita didik dia sampai besar, dan beri dia kasih sayang yang banyak untuknya"
Aku harap keputusan kami untuk kembali hidup bersama tidak salah. Semoga dengan adanya Amara, hati bunda yang keras akan melunak seiring waktu. Mudah bagi putriku untuk mengambil hati omanya, karena Amara sangat sayang padanya. Anak itu, tak sedikitpun tahu tentang keburukan Rania pada mommynya. Tidak masalah jika seumur hidup Rania terus membenciku asalkan dia menyayangi Amara, itu sudah lebih dari cukup.
"Tidurlah, besok pagi kita harus tampil dengan wajah yang fresh dan bahagia, supaya Ara ikut senang dan semangat menjalani operasi"
"Hmm, Selamat tidur" ucapku sambil mengeratkan pelukan.
"Good Night, I love you Na"
"I love you too mas"
****
Pagi harinya, setelah membasuh tubuh Amara, ada dua suster yang memasuki bangsal kami. Mereka memeriksa kondisi Amara dan memberitahukan jika operasi akan dilaksanakan pada pukul sembilan. Sementara tim ahli transplantasi dan dokter onkologi sedang mempersiapkan diri di ruang operasi.
Entahlah, pikiranku benar-benar melintang kemana-mana, bahkan seperti traveling ke dunia antah brantah yang membuat otakku di penuhi berbagai prasangka.
Telapak tanganku sangat dingin, tubuhku rasanya juga lemas bak tak bertulang.
Berkali-kali mas Tama memberiku usapan lembut di bahuku serta menggenggam tanganku erat. Tapi genggaman itu tak serta merta mengurangi rasa gugup sekaligus takut yang merundung hatiku sejak semalam.
Padahal aku sendiri sudah berusaha menetralisir segala rasa yang merasuki tubuhku.
"Ara takut?"
"Enggak kan ada daddy sama mommy" sahutnya dengan seulas senyum. "Ada oppa sama oma juga kan mom?"
"Sebentar lagi datang nak, oma sama opa lagi di taxi mau kesini" Mas Tama menjawab untukku.
Ayah dan bunda memang sudah sejak dari subuh mengabari mas Tama bahwa pesawat yang akan mereka tumpangi akan take of pada pukul lima pagi dan sampai di Spore sekitar pukul tujuh.
Saat ini, mereka kembali mengabari jika sudah berada di dalam taxi dan sekitar tiga puluh menit lagi akan sampai.
"Ara senang di temani daddy sama mommy, sama opa oma juga. Sedihnya cuma sedikit"
"Ara sedih?" sambarku cepat.
"Kakek Dandan nggak nemenin Ara"
"Tadi sudah bicara lewat telfon kan, kalau kakek temani dari rumah, kakek berdoa di rumah buat Ara"
"Iya, makannya Ara sedihnya sedikit"
"Jangan sedih dong, nanti kalau Ara sembuh, daddy akan ajak Ara, mommy, opa, oma dan kakek jalan-jalan"
"Serius dad?"
"Serius dong, daddy nggak mungkin bohongin putri daddy yang cantik ini"
Aku hanya menjadi pendengar, membiarkan mas Tama dan Amara berbincang-bincang.
"Kita ke Korea bisa dad? Ara pengin tunjukin tempat-tempat yang bagus di sana ke daddy sama opa oma"
"Bisa banget sayang, yang penting Ara sembuh dulu ya"
"Iya" Ara mengerjap lalu tersenyum tipis. "Tadi malam Ara mimpi ketemu nenek"
__ADS_1
Mendengar kalimat Ara, seketika jantungku kebat-kebit tak tahu aturan. Aku langsung memfokuskan pandangan ke wajah Amara yang tirus dan tak secubby beberapa bulan lalu.
"Mimpi apa nak?" tanyaku penuh selidik. Aku harap mimpi Amara tak lagi di ajak pergi oleh ibu.
"Ara mimpi Nenek tinggalin Ara sendirian, nenek jalan jauh, di panggil-panggil tapi engga nengok ke belakang"
"Terus?" tanyaku tak sabar.
"Terus daddy panggil Ara ngajak pulang"
"Ara mau?" tanyaku lagi kian takut.
Mas Tama menatapku penuh heran, lengkap dengan dahinya yang membentuk lipatan.
"Ara ajak daddy nyusul nenek, Ara minta daddy buat cari nenek, tapi nenek udah jalan jauh-jauh, jadinya Ara pulang sama daddy"
Setelah mendengar perkataan Ara, aku mendongak menatap mas Tama yang berdiri di samping kiriku.
Sepasang mata kami bertemu, kami sama-sama menelan saliva secara bersamaan.
"Apa artinya mas?"
"Kamu itu kenapa selalu parno kalau soal mimpi? Mimpi itu hanya bunga tidur, jangan terlalu di pikirin" mas Tama mengusap puncak kepalaku.
"Amara kita gadis yang kuat, meskipun operasi ini memiliki resiko, tapi kita harus yakin, Amara akan baik-baik saja, dia tidak akan meninggalkan kita, iya kan Ara?"
Ku alihkan wajahku ke arah Amara, tampak dia mengangguk pelan sembari tersenyum.
"Mommy jangan takut, Ara pasti sembuh kok, Ara kan udah nggak sabar pengin tinggal sama daddy, main-main sama daddy, di antar sekolah sama daddy, dan kalau di bolehin, Ara pengin ikut daddy kerja ke kantor"
"Assalamualaikum" Tiba-tiba ku dengar suara salam dari Ayah.
"Waalaikumsalam" jawab kami kompak. Aku berdiri menyambut ayah dan bunda.
"Oppa?" ucap Ara girang, kemudian langsung mengecup punggung tangan ayah dan bunda begitu sampai di samping ranjang Amara
Bunda masih menampilkan wajah masamnya di depan Ara, tapi anak sekecil Ara tahu apa, akulah yang merasakan tatapan kurang suka itu, tapi aku nggak peduli, yang penting sekarang ada mas Tama yang mendampingiku, setidaknya aku tidak sendiri.
Ayah pasti sudah menasehati bunda dan semoga tak lama lagi, bunda akan memberikan kasih sayang yang tulus pada gadis kecilku. Dengan keputusan ayah yang sudah tidak lagi mengijinkan bunda pergi bekerja, itu artinya dia dan Ara akan memiliki banyak waktu di rumah, aku berharap dengan kepolosan Ara, bunda akan luluh lalu menyayanginya sepenuh hati.
Cukup aku saja yang kamu benci bun, Amara jangan.
"Jam berapa operasinya Tama?" Pertanyaan dari ayah membuyarkan fokusku.
"Suster bilang pukul sembilan yah, nanti ada suster yang jemput kami kesini"
Ayah menganggukkan kepala merespon jawaban dari mas Tama.
"Ara bisa ya, cucu oppa kan pintar"
"Bisa opa, Ara pengin cepat-cepat sembuh dan pulang ke rumah daddy yang besar-besar. Ara pengin tinggal sama daddy sama mommy, sama opa dan omma"
"Kalau gitu, ayo kita berdoa, opa akan pimpin doanya, supaya urusan Ara di beri kelancaran oleh Allah Ta'Alla"
"Ayo opa" balas Ara girang.
"Bissmillahirrahmaanirrahim" Ayah mulai melafazkan sebuah doa, kami kompak menengadahkan tangan untuk mengamini do'anya.
"Ya hayyu ya qayyumu birahmatika astaghitsu, ashlih li sya'ni kullahu wala takilni ila nafsi tharfata 'ainin abadan.
Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri, tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmatMu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dariMu selamanya."
"Robbisyroh lii shodrii, wa yassir lii amrii, wahlul 'uqdatam mil lisaanii, yafqohu qoulii"
"Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku"
"Aamiin, yaa Rabbal'alamin"
Bersambung
__ADS_1