Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
64


__ADS_3

"Dia di mana Ris?"


"Ada di depan minimarket mbak"


Nara dan Riska berjalan bersisian, sedangkan Tama berada di belakangnya melangkah dengan santai.


Tak ingin menemui wanita yang membuatnya kian muak, Tama menghentikan langkahnya tepat di depan meja kasir, lalu meminta rokok dan korek api pada karyawan papa mertuanya. Pria itu menuju gazebo di belakang mini market menikmati sebatang rokok.


Dia berfikir sang istri pasti bisa menghadapi Shella dengan bijak.


"Selamat malam?" Sapa Nara ramah.


Shella yang tengah duduk termenung, langsung mendongak mempertemukan netranya.


"Anda mencari saya"


Shella bangkit dari duduknya.


Terlihat dari sorot matanya yang berkilat, sepertinya ada amarah yang tertahan di benak Shella.


"Anda ingin bertemu dengan saya?" Ulang Nara ketika Shella hanya diam sambil menatapnya dalam-dalam.


Alih-alih menjawab, wanita itu justru melayangkan tamparan secara spontan.


"Awh,," Nara merintih sembari menyentuh pipi kirinya.


Shella, secara mendadak menampar Nara dengan sangat keras.


"Kenapa kamu kembali Nara?" teriaknya dengan dada naik turun.


"Shella? A-ada apa denganmu?"


"Kalau saja kamu tidak pernah kembali, aku dan Tama pasti sudah menikah, hubunganku dengan Rania pasti tidak setegang ini Nara" ucapnya tajam, setajam sorot matanya yang kian memerah.


"Kamu pergi sesuka hati, lalu kembali dan merebut semuanya dariku"


"Merebut?" Ujar Nara lirih. "Apa yang sudah ku rebut darimu?"


"Kamu tahu aku sudah menunggu Tama selama tujuh tahun?" desisnya menahan kebencian yang kian menjadi. "Hampir saja aku menikah dengannya, tapi karena kamu dan anakmu, pernikahanku dan Tama gagal, apa kamu tahu seperti apa rasanya gagal menikah? Sakit, sangat sakit Naraya, bahkan aku kehilangan akal sehatku gara-gara kamu"


"Dia suamiku Shella, seharusnya kamu jangan berharap lebih darinya"


"Bagaimana aku tidak berharap lebih jika pernikahan kalian tidak ada kepastian"


"Harusnya kamu berhenti berharap ketika mas Tama tidak mau menceraikanku, dari awal dia sudah menolakmu bukan?"


"Kamu memang benar-benar pengacau Nara"


Shella kembali menampar Nara, kali ini tamparan itu lebih keras dari sebelumnya, sampai-sampai ada cairan merah mengalir dari sudut bibirnya. Detik berikutnya, Shella menjambak rambut Nara dengan brutal.


"Awh, Shella hentikan Shel"


"Ini belum seberapa Nara, aku bahkan berani membunuhmu karena kamu sudah menghancurkan hidupku"


"Tolong lepaskan tanganmu dari rambutku Shella"


"Aku tidak akan melepasnya sampai aku benar-benar puas, wanita sialan!"


Karena malam semakin larut, pengunjung minimarketpun sudah tampak sepi, para karyawan yang sedang sibuk menghitung uang tak tahu menahu soal aksi Shella yang mengamuk di depan minimarket.


Bahkan teriakan Nara tak terdengar oleh mereka yang berada di dalam.


"Mas Tama" Teriak Nara lebih keras lagi.


Tama yang tengah asik memainkan asap rokok, menajamkan pendengaran begitu namanya di sebut.


"Suara Nara?"


"Mas Tama tolong mas"


"Nara" gumamnya lalu membuang puntung rokok yang sudah hampir habis. Dengan gesit dia melangkah ke halaman minimarket.


"Panggil saja terus, pria brengsek itu tidak akan datang karena pasti sedang bermanja dengan bundanya yang baru saja kamu bebaskan"


"Aw,, Mas"


"Shella" Suara Tama terdengar memekakan telinga.


Wanita itu langsung memusatkan pandangan ke wajah pria yang menyorot tajam.


"T-Tama!"


"Lepaskan istriku Shella"


Tangan Shella semakin kuat mencengkram rambut Nara. Sekuat tenaga Nara berusaha melepaskan kedua tangan Shella dari rambutnya.


Ketika langkah Tama kian dekat, Shella menghempaskan kepala Nara hingga terhuyung ke lantai, lalu jatuh dalam posisi duduk.

__ADS_1


"Hawhh,,"


"Sinting kamu Shella" Umpat Tama kemudian membantu Nara bangun.


"Bangun sayang!"


Perlahan Nara bangkit dengan menahan rasa nyeri di bagian bibir dan kepala, tubuhnya gemetar dengan perasaan was-was.


"Ya Allah sayang, kamu berdarah"


"Aku nggak apa-apa mas"


"Nggak apa-apa bagaimana? kamu terluka"


Pandangan Tama beralih menatap Shella penuh amarah. Sedetik kemudian, ia menghampirinya lalu dengan geram menamparnya.


"Apa-apaan kamu Shella"


Tersenyum miring, Shella membalas tatapan Tama sambil memegang pipi yang baru saja di tampar. "Kamu masih bertanya apa-apaan? dimana otakmu, Tama?"


"Aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu, pergi sekarang juga!"


Shella melirik Nara dengan tatapan yang kian membenci.


"Lihat saja Nara, aku akan buat perhitungan padamu"


"Jika kamu berani macam-macam, aku yang akan memberikan perhitungan padamu" Geram Tama yang mulai tak bisa mengendalikan emosinya.


"Pergi sekarang juga Mishella!"


Terdiam sejenak, wanita itu menatap Nara sebelum kemudian meninggalkan area mini market.


****


"Duduklah dulu" ucap Tama sambil menggiring Nara duduk di bangku panjang. "Tunggu sebentar di sini"


Sesaat setelah Nara mengangguk, Tama pergi meninggalkan dirinya lalu masuk ke dalam mini market hendak memberikan teguran pada para karyawan..


Nara mengusap noda merah di sudut bibir, lalu merapikan rambutnya.


Mendapat serangan mendadak dari Shella, ia tak bisa melakukan apapun sebab cengkraman tangan di rambutnya sangat kuat, membuat Nara seolah tak berdaya.


Beruntung Tama sedang berada di sini, jika tidak, mungkin Shella sudah membuatnya terluka lebih parah.


"Maaf" kata Tama tiba-tiba.


"Aku meminta maaf atas nama Shella"


"Memangnya dia siapanya mas, kenapa meminta maaf untuknya?"


Bukannya menjawab, Tama malah mengajaknya masuk.


"Kita masuk"


Tama menyentuh kedua pundak Nara lalu menuntunnya berjalan memasuki rumah.


"Mas pernah akan menikah dengannya?"


"Itu semua karena bunda"


"Kenapa semua karena bunda? dia bahkan sudah memfitnahku dengan video kotor itu"


Tama menghentikan langkahnya lalu menatap Nara.


"Kamu yakin kalau itu perbuatan bunda?"


"Yakin, tapi aku nggak punya bukti untuk menuduhnya. Lagi pula, itu masa lalu, aku tidak mau mengingatnya"


"Maaf"


"Mas sudah berkali-kali meminta maaf, jangan katakan lagi"


Saat sudah di dalam rumah, Mereka langsung menuju ke kamar Nara di lantai dua.


Tama membantu Nara membersihkan noda di bibir yang tampak membiru, lalu mengompresnya menggunakan air dingin pada bekas yang terkena tamparan.


"Pelan-pelan mas, sakit"


"Ini juga udah pelan" Tama melembutkan gerakan tangannya. "Dia pasti menamparmu sangat keras, sampai biru begini"


"Dua kali dia menamparku"


"Andai tadi aku ikut denganmu menemuinya, pasti nggak seperti ini kejadiannya"


"Memangnya mas kemana tadi?"


"Di belakang mini market"

__ADS_1


"Apa mas merokok"


"Cuma satu batang"


"Pantas saja bau rokok"


"Mau minum obat pereda nyeri?" tanya Tama setelah selesai mengompres.


"Engga dulu"


"Kalau besok masih sakit kita ke dokter ya"


Nara mengangguk sebelum kemudian berucap. "Kenapa dia di bebaskan?"


"Kayak nggak tahu aja, dia sudah berdamai dengan keluarga korban"


"Tapi kan dia sudah memberikan kesaksian palsu"


"Semua karena uang Nara"


Suasana mendadak hening, mereka sama-sama tidak bersuara selama beberapa menit.


"Ayah sibuk apa sekarang" kata Nara sambil bangkit.


"Kamu mau kemana?"


"Mau mandi"


"Duduk saja, biar aku siapkan semuanya"


Narapun kembali duduk. Ia menatap sang suami yang sedang membuka lemari untuk mengambil baju ganti.


"Ayah sibuk apa setelah perusahaannya terjual?"


"Dirumah saja, tadinya mau tinggal di Surabaya, tapi ku larang"


"Surabaya?"


"Iya rencananya mau tinggal dengan nenek"


"Mas masih punya nenek?"


"Masih" sahut Tama lalu melangkah ke kamar mandi. "Ibunya ayah"


"Kalau kakek?"


"Sudah nggak ada"


"Nenek tinggal sama siapa di sana?"


"Sama ART"


Tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi. Nara langsung mengangkat begitu tahu siapa yang menelpon.


Tampak wajah Amara yang terlihat kuyu khas bangun tidur, kepalanya terbungkus hijab sebab dia merasa malu karena rambutnya semakin menipis. Sang kakeklah yang sudah menyarankan Amara untuk mengenakan hijab.


"Assalamualaikum mommy" Suara imutnya membuat Nara tersenyum.


"Waalaikumsalam, Ara!"


"Mommy"


"Kok belum tidur?"


"Kebangun karena ingat mommy sama daddy"


"Ara kangen sama daddy?"


Ara mengangguk mantap.


"Mau ngomong sama daddy?"


"Mommy lagi sama daddy ya?"


"Na, airnya sudah siap" Tama bersuara setelah keluar dari kamar mandi.


"Tuh, daddy" ia mengarahkan camera ke wajah Tama.


"Daddy" Amara berteriak kencang begitu mendapati wajah Tama di layar ponsel.


"Ara?" Tanya tama lirih sembari menatap Nara


Nara mengangguk.


"Ara ngomong sama daddy ya, mommy mau mandi dulu"


"Oke mommy"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2