
Amara terlihat riang ketika di ajak pergi makan malam di luar malam ini. Padahal beberapa menit yang lalu, dia sempat cemberut karena di pamiti oleh mommynya yang akan pergi ke Surabaya besok pagi selama dua hari.
Ini pertama kalinya Nara akan mengaudit Angkasa group cabang Surabaya. Menjadi salah satu pemilik bekas perusahaan mertuanya, Khansa dan Anita menyerahkan semua urusan kantor pada Nara sebab dua wanita itu sibuk di perusahaannya masing-masing.
Sementara keluarga Tama sama sekali belum tahu jika Naralah pemimpin tertinggi di Angkasa Group sekarang. Di bantu oleh Aldika dalam menyelesaiakan masalah perusahaan, yang memang sudah di minta untuk merahasiakan hal ini.
"Besok berangkat jam berapa?"
"Mungkin jam delapan atau sembilan"
Tama diam sejenak, memikirkan sesuatu mungkin. "Terus Ara?" tanyanya kemudian.
"Bisa di titipin ke ayah atau bunda kalau mas mau ke lapangan" Tama kembali diam sambil menatap Nara.
"Besok mas antar ke bandara"
"Sasa dan Anita janji mau mengantarku, besok mereka jemput ke sini"
"Kenapa ngerepotin orang lain kalau suamimu nganggur di rumah"
Nara melirik Tama dengan ekor matanya.
"Kenapa? keberatan?" tanya Tama memicing.
"Bukan" sanggah Nara cepat ketika melihat bagaimana ekspresi wajah sang suami.
"Mas antar, atau tidak pergi sama sekali"
'Atau tidak pergi sama sekali. Artinya mas Tama nggak ngijinin aku pergi, iya kan?' Nara membatin seraya mengatupkan bibir rapat-rapat.
Menghela napas pasrah. Nara sadar jika dia tak mungkin mendebat pilihan yang Tama tawarkan. Hingga kemudian percakapan mereka di sela oleh suara ketukan pintu.
Tama dan Nara kompak mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
"Masuk" Kata Tama sedikit meninggikan suara.
"Daddy, mommy Ara sudah siap"
"Tapi mommy sepertinya belum siap nak"
"Ya udah mommy siap-siap sekarang" pinta Amara sambil melangkah masuk.
"Okey sayangku"
Sembari menunggu Nara siap, Tama dan Amara memilih keluar dari kamar.
Sementara di dalam kamar, Idris dan Rania tengah membicarakan tentang sertifikat rumah orang tua Nara. Rania berniat menjual rumah itu dan uang hasil penjualan akan di berikan pada Tama untuk penambahan modal dalam mendirikan usahanya.
"Rumah itu kita jual saja yah, dengan begitu kita tidak perlu repot-repot menyembunyikan sertifikat itu di dalam rumah kita"
"Ayah nggak setuju bun, rumah itu bukan milik kita"
"Apa maksud ayah?" bunda membelinya dari mereka, bunda juga memberikan rumah untuk Nara dan papahnya waktu itu"
"Tapi bunda membelinya dengan cara memaksa"
"Tapi tetap saja rumah itu sudah bunda beli"
"Ayah belum bisa bun, ayah masih merasa bersalah pada Nara" kata Idris lalu meraih tangan Rania. "Bagaimana reaksi Tama kalau dia tahu tentang ini, kita menjual rumah itu dan uangnya kita serahkan pada Tama, dia pasti akan marah besar bun"
"Ya jangan sampai dia tahu yah"
"Ayah akan pikirkan ya bun?"
"Memangnya, ayah menyimpan sertifikat itu di mana si?"
"Di atas lemari, ayah masih menyimpan lengkap dengan flashdisk berisi video Nara"
"Belum di hapus video itu yah?"
"Ayah belum sempat, bunda tahu kan belakangan ini keluarga kita berulang kali mendapat masalah"
__ADS_1
"Ya sudah yah, ambil sekarang kita hapus saja video itu"
"Bunda benar, tapi ayah minta bunda bersikap manis pada Nara ya, jangan terlalu dingin dan jangan mendiamkannya"
"Haiiss butuh proses yah, bunda juga pengin akrab dengan Nara, tapi ego bunda selalu muncul ketika berhadapan dengannya, apalagi saat menatap wajahnya"
"Pelan-pelan di usahakan agar kalian lebih dekat lagi"
"Iya bunda berusaha terus kok" sinisnya ketus.
"Makasih ya, ayah berharap bunda benar-benar berubah, dan mau menganggap Nara seperti anak bunda sendiri. Dia itu wanita baik bunda, kita harus bersyukur punya menantu seperti Naraya"
"Iya iya, udah buruan ayah ambil flashdisknya kita hapus sekarang juga"
Idris tersenyum, kemudian berdiri. "Sebentar ayah ambil dulu" pungkasnya seraya berjalan menuju lemari.
Tangan Idris terulur mengambil berkas yang ia simpan di atas lemari. Saat dokumen itu sudah berada di tangannya, tiba-tiba Amara membuka pintu kamar tanpa mengetuk membuatnya tersentak karena kaget. Hampir saja dokumen itu terlepas dari tangan Idris, tapi dengan cepat ia mempertahankannya agar tetap berada di tangannya. Namun tanpa Idris dan Rania sadari, flashdisk itu keluar dari dalam kantong kemudian terjatuh ke lantai tepat di samping lemari.
"A-Amui" kata Idris tergagap, ia menyembunyikan berkas itu di balik badan. Ia merasa terkejut dengan kedatangan sang cucu, padahal daddynya sudah pernah mengingatkan untuk mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke kamar orang lain.
"Oppa, omma, kata daddy kita mau makan malam di luar, opa sama oma udah siap kan?"
"S-sudah sayang, bentar lagi opa sama oma keluar okey"
Amara yang sudah masuk ke dalam kamarnya, mengajak opa oma untuk keluar bersama.
"Ayo keluar sama-sama, opa oma"
"Ayo" Sahut Rania tersenyum, sementara Idris kembali meletakan berkas itu ke atas lemari, dengan perasaan gugup serta hati berdebar.
Setelahnya, mereka sama-sama keluar menghampiri Tama dan Nara yang sedang asik bercanda di teras rumah.
****
Pukul 19:10 WIB, keluarga Nalendra keluar untuk makan malam. Tama membawa anak dan istrinya serta orang tuanya ke sebuah caffee shop yang rupanya menyajikan aneka kue dan makanan berat semacam Nasi ayam.
Amara terlihat senang, apalagi ada banyak majalah anak yang memang sengaja di sediakan di caffee itu.
"Ada apa Ra, kok senyum-senyum?" tanya Nara ketika melihat putrinya melirik ke arah pengunjung lain di sebelah mejanya.
"Dedek bayinya lucu?"
Di sana memang ada seorang bayi laki-laki sedang bergurau dengan ibunya.
"Ara pengin punya dedek bayi mom?"
Kedua alis Nara saling bertaut "Mau dedek bayi cewek apa cowok?"
"Mau cowok kayak dedek Abimana, nanti Ara jadi kakak kayak kak Ita"
Mendengar ucapan Amara, Idris dan Rania tersenyum lalu menggelengkan kepala pelan.
Amara kembali mencuri pandang pada bayi di samping kirinya. "Dedek bayinya lucu pas lagi ketawa" celetuknya dengan sorot penuh menatap ke arah bayi.
Idris, Rania dan Nara kembali tersenyum kemudian tangan Idris bergerak mencubit ujung hidung Amara sembari berkata. "Amui juga lucu" ujarnya masih dengan seulas senyum "Udah nggak sabar pengin jadi kakak ya?"
"Iya opa, biar Ara mainnya nggak sendirian lagi"
"Ya ya bentar lagi pasti daddy sama mommy punya dedek bayi"
Amara nyengir, lalu selang sekian detik pesanan datang dan memenuhi meja mereka. Nara bergegas memanggil Tama untuk segera makan.
Selesai makan, Idris, Rania, serta Nara menunggu di luar selagi Tama membayar pesanan di temani Amara.
"Mommy!!" Seru Amara ketika keluar dengan Tama di ikuti pemilik gerai.
Nara menoleh lalu tersenyum.
"Ayo salim dulu, sun tangan om Erza" perintah Tama. Amara langsung melakukan perintah daddynya patuh.
Sosok berperawakan tinggi itu berlutut di depan Amara, menyambut hangat uluran tangan Amara.
__ADS_1
"Karena Ara sudah pintar, om kasih ini buat Ara"
Sepasang mata Amara mengamati gantungan kunci yang di tunjukan Erza, lalu mendongak menatap Tama dan Nara bergantian.
"Boleh dad?" tanyanya menatap Tama.
Melihat kepala Tama mengangguk, Nara pun ikut mengiyakan.
"Khamsahamnida uncle" Gantungan kunci berbentuk burger berpindah ke tangan anak kecil itu.
"Sama-sama sayang"
Usai berpamitan, mereka pergi menuju mobil dan meninggalkan area coffee shop.
Di rumah, Bik Jum yang hendak menaruh pakaian bersih di lemari Rania, sepasang mata bulatnya mendapati sebuah benda kecil bertuliskan nama Nara tergeletak di lantai. Ia berfikir jika benda itu adalah milik Nara.
"Naraya?" gumamnya lirih ketika membaca tulisan itu. "Pasti benda ini milik nona Nara, dan pasti berada di sini karena ulah Amara yang suka bolak-balik keluar masuk ke kamar nyonya Rania. Lebih baik aku serahkan langsung pada nona, siapa tahu ini penting"
Wanita itu memasukan flashdisk ke saku bajunya, lalu keluar.
Hingga lewat bermenit-menit, mendadak terdengar suara deru mobil di iringi suara klakson dari luar rumah. Bik Jum segera berjalan dari arah dapur menuju ruang utama untuk membuka pintu.
"Ini bik, buat bik Jum" Nara menyerahkan satu porsi pecel lele dan pizza mini. Bik Jum menolak di ajak makan malam bersama, dengan alasan masih banyak pekerjaan rumah yang harus di selesaikan.
Idris dan Rania langsung memasuki kamar begitu juga dengan Tama yang menggendong Amara menaiki anak tangga. Sementara Nara memasuki dapur untuk mengambil air minum jika Tama dan Amara merasa haus di tengah malam.
Tama dan Nara sudah memutuskan agar Amara tidur di kamar mereka selama Tama belum siap memberikan nafkah batin untuknya.
Saat Nara memasuki kamarnya, Tama tengah membantu Amara mengosok gigi serta mencuci kaki. Nara meletakan satu gelas dan botol berisi air mineral di atas nakas.
"Sudah gosok gigi?" tanya Nara ketika melihat Amara keluar dari kamar mandi.
"Sudah"
"Sini di lap dulu kakinya" ucap Tama dengan membawa handuk di tangannya.
"Mommy ke kamar mandi dulu ya"
Sesaat setelah memasuki kamar mandi, bik Jum muncul dari ambang pintu yang memang belum tertutup.
"Cuma mau naruh baju yang sudah saya setrika pak"
"Taruh di tempat biasa bik"
Bik Jum melangkah ke arah sofa.
Setelah meletakannya, ia kembali bersuara.
"Pak, ini milik nona Nara terjatuh di lantai" Dia menyerahkan flashdisk ke hadapan Tama.
"Apa itu bik?"
"Ini pak"
Tama menerimanya.
Flashdisk?
"Saya permisi pak"
"Iya, tolong tutup pintunya ya bik"
"Baik pak"
"Apa itu dad?" pertanyaan dari Amara membuat Tama mengalihkan perhatian padanya.
"Flashdisk mommy sayang"
Tama meletakkan benda itu di atas nakas, lalu merebahkan diri di samping putrinya. Hingga tak terasa kedua mata mereka terpejam dan alam mimpi mulai mengambil alih kesadarannya.
Tbc...
__ADS_1