
Tadi malam, Nara sempat demam akibat tamparan keras dari Shella. Tama yang menemani Nara di rumah pak Ramdan, langsung membawanya ke rumah sakit sekaligus melakukan visum.
Nara dan Tama sudah memutuskan untuk melaporkan Shella ke polisi atas tuduhan penganiayaan. Selain bukti visum, Nara juga membawa bukti rekaman CCTV yang terpasang di pojok bagian luar. Kamera cctv yang memiliki kepala mampu berotasi 360° untuk memberikan sudut pandang di sekitar lokasi cctv terpasang.
Dan hari ini, di temani oleh sang suami, Nara mendatangi kantor polisi untuk membuat laporan.
"Jadi bu Nara mendapat serangan secara mendadak?"
"Betul pak"
"Dari rekaman cctv, bu Nara sendiri tidak melakukan perlawanan?"
"Sama sekali tidak pak" jawab Nara mantap.
"Baiklah, laporan segera kami proses, dan surat panggilan akan kami kirim ke alamat bu Shella hari ini juga"
"Kalau bisa kami minta kasus ini di proses secepatnya ya pak?" Pinta Tama memohon.
"Baik pak, akan kami usahakan sidang di laksanakan sekurang-kurangnya dalam tiga hari kedepan. Mengingat bukti dari bu Nara cukup kuat, serta tak ada perlawanan, kami bisa menjatuhkan hukuman secepatnya, kami juga bisa langsung menahannya.
"Terimakasih pak"
"Sama-sama pak, bu"
Sukses membuat laporan, Nara dan Tama berpisah di kantor polisi. Tama yang baru saja mendapat investor baru, hari ini akan mengadakan pertemuan di sebuah cafe, sementara Nara dia harus menemui Khansa dan Anita untuk membahas soal usaha baru yang mereka dirikan secara join.
"Kamu sudah nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa" ucap Nara sedikit susah, sebab ada bengkak yang membuatnya merasakan nyeri ketika berbicara.
"Nanti pulang jam berapa?"
"Siangan"
"Siangnya jam berapa?"
"Belum tahu"
"Ya sudah, nanti kalau urusan selesai kamu telfon biar aku jemput"
"Kayaknya nggak perlu mas, biasanya aku di antar sama Sasa"
"Kalau sudah sampai rumah kabarin"
"Iya" Sahut Nara lalu mengecup punggung tangan Tama.
"Kamu hati-hati" Tama membuka pintu mobil untuk Nara yang akan di antar oleh taxi menuju ke tempat tujuan.
__ADS_1
"Mas juga"
****
Selang sekitar tiga jam, dua polisi datang ke rumah orang tua Shella, mereka bermaksud memberikan surat panggilan sekaligus melakukan penangkapan untuk dirinya.
Penahanan sempat berjalan alot sebab saat itu, Shella sedang tidak ada di rumah. Namun pada akhirnya, polisi berhasil membawanya setelah berdebat cukup lama.
Sampai tiga hari kemudian, sidangpun di laksanakan.
Atas tindakan kejahatan yang Shella lakukan, dan sesuai dengan peraturan hukum yang berlaku, wanita itu di jatuhkan hukuman penjara selama empat belas bulan.
Hukuman itu sempat di tolak oleh Shella karena dirinya sempat mendapatkan tamparan dari Tama, ketika sang pengacara mengajukan keberatan, para hakim memutuskan untuk memberikan hukuman selama tujuh bulan penjara.
Keputusan itu sudah tidak bisa di ganggu gugat, dan ketukan palu menandakan sidang telah di tutup. Shella langsung di bawa ke sel oleh dua orang polisi wanita. Sebelum membawanya, tangan Shella sudah lebih dulu di borgol untuk mengantisipasi takut jika ada perlawanan.
Saat hendak di bawa ke dalam sel, Shella menghentikan langkahnya tepat di depan Nara.
Ia melempar tatapan tajam pada Nara dan juga Tama.
Tak ada yang dia katakan tapi matanya yang berkilat, memancarkan kebencian dan amarah seolah menjadi tanda jika dia tidak terima dengan hukuman yang di jatuhkan padanya. Secara tersirat, tatapan itu bak sebuah ancaman bahwa dia akan membalas semua perbuatannya.
Rasa cinta di hati Shella untuk Tama, saat itu juga berubah menjadi kebencian yang mendarah daging.
Sementara Nara yang mendapat tatapan itu, dia membalasnya tak kalah tajam. Seakan menunjukkan bahwa dirinya sama sekali tidak takut dengan ancaman darinya.
Teriakan seseorang dari arah belakang, mengurungkan niat Tama dan Nara yang hendak menuju ke mobilnya. Sepasang suami istri itu menghentikan langkahnya lalu berbalik begitu mendengar namanya di sebut.
Dengan langkah lebar, wanita paruh baya yang masih cantik di usianya menghampiri Tama dan Nara.
"Keterlaluan kamu Tama" Desisnya menahan marah. "Kamu tidak hanya mengacaukan hidup putriku, tapi juga sudah menghancurkannya"
"Maaf tante, aku tidak berniat menghancurkan hidup Shella, dia sendiri yang sudah membawa dirinya ke dalam penjara"
"Apa kamu lupa, jika putriku sudah menunggumu selama tujuh tahun?"
"Aku tidak pernah memintanya untuk menungguku"
Mendengar kalimat Tama, Divia mengalihkan netranya ke arah Nara.
"Semua gara-gara kamu wanita tak tahu malu" ucapnya geram.
"Jangan menudingkan jari tante di depan wajah istriku" potong Tama cepat ketika Divia mengacungkan jari telunjuk ke wajah Nara. "Dari dulu sudah aku katakan pada putri tante, jika aku masih memiliki istri dan tidak pernah berniat menikahi wanita lain, tapi_"
"Tapi dia tiba-tiba kembali dan menghancurkan hidup putriku" Kalimat Tama terpenggal oleh ucapan Divia. "Bukankah saat itu kamu bersedia menikah dengan Shella? dan pertunangan kalian nyaris di laksanakan?"
"Shella yang merencanakannya sendiri"
__ADS_1
"Dia tidak sendiri Tama, dia bersama bundamu yang tidak tahu diri itu"
"Berhenti mengatai bundaku tante, asal tante tahu, dengan tidak tahu malunya, Shella datang pada bunda dan mengemis agar dia memberikan putranya padanya. Bahkan dia merayu bunda dengan segala kemewahan yang dia tawarkan"
"Tapi bundamu menerimanya kan?"
"Iya bundaku menerimanya karena dia lelah menolaknya"
"Apa kamu juga lupa, kalau dari awal Rania sudah meminta kami untuk menikahkanmu dengan Shella?"
"Aku tidak lupa tante, Shella justru semakin berani ketika akhirnya bundaku menyerah untuk membujukku, bunda meminta Shella mundur ketika aku terus menolaknya, tapi anak tante"
Tama seperti hilang kendali dan meninggikan nada bicaranya. "Selalu mengancam akan menghancurkan bisnis orang tuaku. Sekarang" Tambah Tama merendahkan suara.
"Perusahaanku sudah hancur tante, kami sudah tidak memiliki apapun"
Tama menarik napas panjang lalu mengeluarkannya sedikit kasar.
"Lebih baik, tante dan anak tante berhenti mengusik hidup keluargaku, karena aku tidak akan tinggal diam jika kalian macam-macam dengan keluargaku"
Setelah mengatakan itu, Tama meraih tangan Nara lalu menggandengnya berjalan menuju mobil.
Tama menggenggam jemari Nara erat-erat, sudah beberapa menit mereka duduk di dalam mobil, namun Tama belum juga melajukan mobilnya, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Sayang aku minta maaf atas sikapku dulu, seharusnya aku tidak meninggalkanmu selama tujuh tahun"
Tama tidak menyahut, dia pun merasa bersalah pada Nara karena begitu bodohnya mempercayai tentang keburukan Nara yang ia dengar dari sang bunda.
Ketika menoleh ke kiri, Tama melihat Nara dengan pandangan kosong mengarah lurus ke depan, ia lalu menarik Nara ke dalam pelukannya.
"Kita akan selalu bersama sekarang" kata Tama sambil mengusap lembut punggung Nara.
Sedangkan Nara, meresapi betapa hangat dan menenangkan pelukan sang suami. Selama ini Nara yang selalu terlihat kuat dan tegar mulai menunjukkan sisi kemanjaanya sebagai seorang wanita.
"Kita hadapi sama-sama segala permasalahan yang menimpa kita" Tama mengusap rambut Nara.
Beberapa detik kemudian, ia mengurai pelukannya lalu mengecup kening Nara.
"Tidak ada yang akan memisahkan kita dan anak kita" ucapnya lagi.
Hening, Nara masih mengunci mulutnya rapat-rapat dengan sepasang mata mereka yang saling bersirobok.
Untuk saat ini, rasanya enggan untuk mengucapkan sesuatu.
Tidak lama setelah itu, Tama melajukan mobilnya meninggalkan halaman pengadilan. Di tengah-tengah menyetir, sesekali pria itu melirik istrinya, detik berikutnya ia meraih tangan Nara lalu menyatukan jemari mereka.
...nnnnnnn...
__ADS_1