
"Assalamu'alaikum?"
"Waalaikumsalam, Sasa?"
Kedua wanita itu saling berpelukan.
"Gimana Amara?" tanya Khansa yang menjenguknya ke rumah sakit. "Kata mami kemarin oppanya jenguk"
"Iya Sa, tapi aku sedikit takut"
Khansa menatap Nara dengan sorot serius, sedetik kemudian pandangannya ia alihkan pada Amara sekilas, lalu kembali menatap sahabatnya. "Takut kenapa?"
"Takut kalau oppanya juga meragukan Ara"
"Kalau mereka ragu, kita lakukan tes DNA"
Mendesah pelan, fokus Nara terus tertuju pada Amara yang kini tertidur pulas. "Kenapa harus tes DNA Sa? Aku dan Ara balik ke sini untuk mendapatkan pengakuan mas Tama. Kasihan dia, anak sekecil Ara, harus terombang-ambing bahkan di usir oleh ommanya sendiri, iya kalau kondisinya sehat. Dia sakit, tapi masih di perlakukan seperti ini. Aku jadi merasa bersalah padanya"
"Kamu yang sabar ya, Kami akan selalu ada buat kamu"
Nara menekan bibirnya ke dalam sembari mengangguk, sekuat tenaga ia berusaha menahan rasa lelah atas cobaan yang sepertinya tiada henti.
"Kadang aku suka mikir Sa, Tuhan mau ngasih surprise apa ya, kok prosesnya gini amat?
"Kok ngomong gitu Na? kamu marah sama Tuhan"
Tersenyum, sebelum kemudian bersuara. "Aku nggak mungkin marah sama yang sudah menciptakanku, aku cuma heran saja, kenapa hidupku terus di uji"
"Pokoknya kamu harus kuat, kamu bisa Na, kamu sanggup melalui ini semua"
"Aku sekuat ini karena dia" Nara menunjuk Amara dengan dagunya. "Tapi jika dia pergi, apa aku masih bisa kuat seperti ini?" Nara mendesah pelan. "Aku nggak yakin" lalu mengusap titik bening yang sudah meluncur.
"Amara akan sembuh"
"Semoga ya Sa"
"Pasti"
Saling melempar pandangan, mereka sama-sama menyunggingkan senyum.
"Maaf ya, dua hari aku nggak ke kantor"
"Nggak apa-apa Na, kamu fokus saja sama Ara, ada aku dan mas Setya kok, sudah dua hari ini juga mas Aksa ke kantor"
"Mas Aksa dan bang Emir beneran resign Sa?"
"Hem"
"Kenapa harus resign, aku jadi nggak enak hati"
"Jangan merasa seperti itu, rumah sakit yang mengusir pasiennya, pantas kehilangan dokter hebat dengan jam terbang yang sudah panjang, sudah ada lima dokter yang juga resign loh Na, dan semua karena Amara. We will save Amara"
"Thankyou so much"
"It's nothing"
Setelah itu hening, mereka sama-sama terdiam.
Tiga detik berikutnya terdengar suara ponsel tanda panggilan masuk. Nara segera memusatkan pandangan pada tas di atas meja samping tempat tidur Amara, lalu meraih ponsel yang tengah berkedip.
"Pak Idris" lirih Nara yang masih bisa di dengar oleh Khansa.
"Oppanya Ara?"
Wanita berambut pirang itu menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Angkat saja siapa tahu penting!"
"Aku keluar sebentar Sa, tolong titip Ara"
"It's ok, aku mamanya juga kan, pasti aku jagain"
Nara melangkah keluar seraya menggeser ikon Accept untuk mengangkat panggilan telfon dari ayah mertuanya.
"Assalamu'alaikum Na!"
"Wa'alaikumsalam yah"
"Amara bagaimana?"
"Kondisinya baik yah"
"Syukurlah" Responnya pelan. Terdengar juga suara nafas yang berhembus lega. "Tadi ayah konsultasi pada dokter untuk membawa Amara berobat ke Singapura, dan karena kondisi Amara sedang stabil, dokter mengijinkan ayah membawa Amara ke sana"
"Tapi yah, haruskah ke Singapura?"
"Tolong nurut sama ayah, dia cucu ayah, ayah ingin dia mendapatkan perawatan terbaik"
"Tapi mas Tama yah?"
"Kamu jangan khawatir, semua sudah ayah atur. Besok dokter Aksa dan dr Emir akan mendampingimu ke Singapura"
Mendengar ucapan Idris, Alis Nara seketika menukik tajam. Ia merasa heran dengan ayah mertuanya yang menyebut nama suami para sahabatnya? tapi pikiran itu segera ia tepis, mengingat pak Idris adalah seorang pengusaha yang pasti bisa melakukan apa saja di luar pemikiran Nara.
"Nanti Tama akan menyusul kalian, dan kalau urusan ayah sudah selesai, ayah dan bunda juga akan menyusul"
"Bunda?"
__ADS_1
"Iya Nak, ayah janji akan bawa bunda juga buat nemanin Amara"
"Iya yah, kalau gitu aku tutup yah, As_"
"Nara" panggil Idris cepat.
"Iya, ada apa yah?" Keningnya mengerut.
"Maafin bunda ya, sudah jahat sama kamu dan keluargamu"
Nara meneguk ludah seakan tak percaya dengan permintaan maaf Idris.
"M-minta maaf yah?"
"Hmm, maafkan semua perbuatan jahat bunda, ayah janji akan selesaikan semuanya, ayah janji akan membuat bunda meminta maaf padamu secara langsung"
"Tidak perlu yah, aku sudah memaafkan bunda"
"Terimakasih, tapi ayah akan tetap menyuruh bunda meminta maaf padamu, ayah juga minta maaf karena selama ini percaya begitu saja tanpa curiga terhadap bunda"
"Iya yah"
"Ya sudah kamu persiapkan semuanya, besok sopir ayah akan menjemput kamu di rumah sakit dan langsung mengantarmu ke bandara"
"Baik"
"Ok, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
*****
Keesokan harinya, Nara serta Amara sudah siap pergi ke bandara, ia hanya tinggal menunggu sopir dari keluarga Nalendra menjemputnya. Sementara Idris sendiri saat ini sudah berada di bandara untuk perjalanannya ke Surabaya. Ia sengaja melakukan perjalanan udara karena akan kembali ke Jakarta menggunakan mobil Tama.
Sedangkan Tama akan terbang ke Singapura dari bandara International Juanda. Semua sudah di persiapkan oleh Idris, tak lupa ia membawa secarik kertas hasil DNA yang Rania miliki, sebab jika harus menunggu hasil yang dia lakukan, akan memakan waktu lebih lama. Sementara hasilnya akan keluar dua sampai tiga hari ke depan.
"Oppa?"
"Amara"
Mereka bertemu di bandara.
"Oppa mau ikut Ara naik pesawat?" tanyanya polos, matanya mengerjap lucu.
"Oppa mau jemput Daddy dulu sayang, Ara sama mommy duluan ya, nanti daddy, oppa sama omma nyusul"
"Serius oppa?"
"Serius dong, mana mungkin oppa bohongin cucu oppa yang cantik ini"
"Tentu"
"Yey, yey" Gadis kecil itu berseru-seru bahagia, sembari mendongak mencari wajah sang mommy. "Ara mau ketemu daddy mom"
"Iya sayang"
"Ya sudah, oppa berangkat dulu ya, Ara sama mommy tunggu daddy di sana"
"Baik oppa"
Setelah mengecup pucuk kepala Amara, dan Amara mengecup punggung tangannya, Idris berdiri kemudian memberi Nara kesempatan untuk mencium punggung tangannya.
"Ayah berangkat dulu, sebentar lagi pesawat ke Spore juga akan berangkat, kalian hati-hati"
"Iya yah"
"Kabari ayah jika sudah sampai"
"Iya"
Giliran ia berpamitan pada pak Ramdan yang ikut mengantar putri serta cucunya.
"Sekali lagi saya minta maaf pak Ramdan"
"Sudah cukup, jangan meminta maaf lagi pak, pak Idris tidak salah"
Idris mengangguk dengan perasaan canggung.
"Saya permisi" Ucapnya usai berpamitan juga dengan Emir dan Aksa.
"Hati-hati yah"
Pria itu melangkah menjauh menuju pintu boardingpas untuk pemeriksaan tiket, di temani oleh sang sopir yang juga ikut bersamanya.
Dalam perjalanan udara di sore hari, Idris terus memikirkan tentang Amara yang ternyata adalah cucu kandungnya. Akan tetapi sayangnya, dia di pertemukan dengan sang cucu dalam kondisi yang kurang baik. Namun meskipun begitu, Idris tetap optimis untuk kesembuhan Amara.
Dia berharap Tama akan menjadi pendonor sel Punca yang cocok untuk Amara.
Hingga sekitar satu jam tiga puluh menit, pesawat perlahan mendarat di bandara Juanda. Pria itu menghela napas lega begitu turun dari pesawat.
Tak menunggu lama, sopir dari perusahaan cabang Surabaya menjemputnya dan membawa ke mansion Nalendra. Tempat Tama dan Rania berada saat ini.
Malam ini, Idris akan memberitahukan sebuah fakta tentang Amara, dan akan menyuruh putranya untuk berangkat ke Singapura keesokan harinya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Tama dan Rania kompak menjawab.
"Sudah datang yah? cuci tangan langsung makan yah" Kata Rania lengkap dengan senyum simpul.
Sepanjang menikmati makan malam, Rania dengan antusiasnya membicarakan tentang pernikahan Tama dan Shella yang akan di selenggarakan besok siang. Padahal Tama dan Idris sama sekali tak merespon setiap perkataannya.
Karena hanya menikah siri, tak ada persiapan khusus dari masing-masih belah pihak.
"Selesai makan malam, ayah mau bicara sama kamu Tama" Pungkas Idris setelah terjerat keheningan cukup lama, sebab rencana untuk mempersunting wanita pilihan sang bunda di tolak mentah-mentah oleh putranya
"Tolong bujuk dia yah, ini yang terbaik buat Tama, bunda hanya ingin dapat besan yang setara dengan keluarga kita, lagian Shella juga gadis yang baik, sangat cocok mendampingi Tama"
Tak ada respon mengiyakan atau menolak dari Idris. sebab mengingat perbuatannya pada Nara membuatnya murka, dan sampai saat ini amarah itu masih tertahan di benaknya.
Sedangkan Rania menyangka jika sang suami akan membujuk Tama untuk menyetujui pernikahannya. Padahal justru sebaliknya, Idris tak mendukung sama sekali dengan pernikahan ini.
Menit berlalu begitu saja, kini Tama dan Idris sudah berada di dalam kamar milik Tama. Idris membuka suara terlebih dulu untuk mengawali pembicaraan mereka.
"Kenapa kamu ke Surabaya tanpa berpamitan pada ayah?"
"Ayah tahu sendiri kan? di saat aku sedang bimbang karena Naraya dan Amara, bunda terus saja mendesakku untuk menikahi Shella. Tama pusing yah"
"Kamu tidak usah bimbang, kamu juga tidak perlu menikahi Shella"
Mengerutkan kening, Tama di buat bingung atas kalimat yang keluar dari mulut sang ayah. Ia menatap lekat-lekat wajah ayahnya yang menyorot penuh keseriusan.
"Bukannya pembicaraan ini ayah mau membujukku supaya menikahi Shella?"
"Siapa bilang" Sanggahnya cepat lengkap dengan seulas senyum. "Ayah tidak setuju dengan pernikahan siri kalian. Ingat, kamu masih suami Nara, dan sekarang, dia butuh kamu"
"Maksud ayah?" Pria itu berusaha menyelami netra sang ayah, mencari sesuatu atas apa yang di ucapkannya barusan.
"Sekarang, persiapkan dirimu untuk terbang ke Singapura besok pagi, Nara dan Amara sudah menunggumu di sana" pak Idris mengatakannya sambil menyerahkan kertas hasil DNA.
"Buka dan bacalah, kamu harus gerak cepat supaya tak ada penyesalan di kemudian hari"
Susah payah pria itu meneguk salivanya seraya membuka lipatan kertas putih. Sejujurnya, Ia benar-benar masih belum paham kemana arah pembicaraan ayahnya.
Hening,,, hanya ada suara jarum jam yang mengisi kesunyian.
Satu menit, beralih ke dua menit, tiba-tiba dia mendongak mempertemukan netranya.
"A-pa ini yah?"
"Amara adalah darah dagingmu"
Seolah tak percaya, Tama mengeratkan rahangnya kuat-kuat, ia tatap bola mata sang ayah berusaha mencari kesungguhan dari pancaran matanya.
"Ja-jadi Amara anakku yah?"
"Iya, ayah yang melakukan tes DNA itu"
"A-ayah melakukannya tanpa memberitahuku?"
"Maafkan ayah Nak"
Tama kembali menunduk menatap kertas yang masih berada di genggaman tangannya.
"99%, Amara, putriku!"
"Besok, pergilah ke Singapura, lupakan masa lalu demi putrimu, dan fokuslah pada kesembuhannya"
"Tapi aku masih sedikit kesal dengan ibunya yah"
"Kamu kesal sama Nara? istrimu sendiri yang tidak pernah meninggalkanmu?"
Alih-alih menjawab, Tama justru mendongakkan kepala.
"Dia hanya di fitnah, percaya sama ayah"
"Apa bunda yang memfitnahnya?"
"Jangan menuduh bundamu kalau tidak ada bukti, fokus saja dengan kesembuhan putrimu, Mengerti?"
Maafkan ayah nak, ayah masih belum bisa memberitahukan tentang kejahatan bunda pada istri dan anakmu, ayah takut kamu akan menyakiti bundamu dengan amarah dan sumpah serapahmu. Tapi ayah janji akan memberikan pelajaran pada bunda hingga dia menyadari kesalahannya.
"Tama pergi sekarang saja gimana yah?"
"Besok pagi saja, ayah sudah pesankan tiket, sekarang kamu istirahatlah, sementara ayah akan bereskan soal pernikahanmu dengan Shella"
Bersambung...
Yang bosan boleh left ya...!
Saya nggak dapat sepeserpun dari novel ini, jadi please jangan surutkan semangat saya yang mungkin bisa membuat saya justru akan berhenti bikin next eps...
terimakasih yang sudah menyemangati.
Saya makasih banyak-banyak.
Ini spesial buat kalian yang sudah sabar menunggu hingga ending.
Semua ada prosesnya, ada alurnya.
Thankyou, nuhun banyak-banyak 😀😀...
Selamat puasa...🌷🌷🌷
__ADS_1