Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
63


__ADS_3

Sidang sudah berakhir sekitar satu jam yang lalu, namun Tama dan Idris masih di pengadilan untuk mengurus pembebasan Rania.


Video yang terekam di CCTV, membuktikan jika Rania tak melakukan apapun yang di tuduhkan Shella. Berkat video yang di bongkar Nara, Rania di nyatakan tidak bersalah dan terbebas dari segala tuntutan.


"Bunda harus berterimakasih sama Nara" Kata pak Idris lembut.


"Karena dia, bunda bisa pulang ke rumah"


Rania bergeming sembari menatap sang suami lekat-lekat. Mereka duduk menunggu Tama yang sedang mengurus pembebasannya.


"Dua minggu lagi Amui akan pulang, bunda ijinkan Amui tinggal dengan kita kan?"


"Kenapa pulang, memangnya dia sudah sembuh?"


"Sudah hampir dua bulan Amui menjalani perawatan pasca operasi, dokter sudah memperbolehkannya pulang. Bunda iijinkan Amui dan Nara tinggal dengan kita kan?" tanyanya ulang.


"Terserah ayah"


"Kok terserah ayah si"


"Ya terserah ayah, itu kan rumah ayah"


"Tapi pengambilan keputusan ada di tangan bunda"


"Tanyakan dulu pada Amui, dia mau nggak tinggal bareng kita"


"Bunda panggil Amui? ikut-ikutan ayah?" Idris seolah tak percaya.


"Kenapa? salah? atau nggak boleh?"


"Boleh dong bun" Sahut Idris tersenyum


"Jadi di ijinin nih mereka tinggal dengan kita?"


"Tapi tentang kejahatan bunda pada istrinya Tama, bagaimana yah?"


"Ayah akan simpan rapat-rapat, tapi bunda harus janji akan berubah menjadi istri yang baik, bunda yang baik, ibu mertua yang baik, dan omma yang baik"


"Yah" Tiba-tiba Tama datang menyela obrolan mereka. "Kita pulang sekarang" Ia melihat ke sekeliling berusaha mencari Nara dan Khansa, namun sepasang netranya tak menemukan dimana mereka.


"Nara sama Khansa sudah pulang lebih dulu" Ucap Idris seakan tahu apa yang Tama cari.


"Kok nggak nunggu yah?"


"Tadi katanya mereka ada kerjaan"


"Kenapa ayah nggak tahan dia, aku ingin tahu kenapa dia meninggalkan anaknya sendiri"


"Sebaiknya kita pulang sekarang, kasihan bunda"


Tama melirik ke arah Rania.


"Kamu bisa temui Nara nanti setelah mengantar ayah dan bunda pulang"


"Ayo" Ajak Tama lalu mendorong kursi roda. Sementara Idris berjalan di sampingnya.


Mereka melangkah menuju mobil.


***


Malam harinya, Nara berada di rumah papahnya. Saat ini, ia sedang sibuk membantu karyawan minimarketnya melayani pembeli.


Terlalu fokus dengan pekerjaannya sebagai kasir, dia bahkan tidak sadar jika yang sedang di layani adalah Tama.


"Daffa kemana?" Tanya Tama sembari mengedarkan pandangan.


"Mas Tama" sahutnya setelah mengangkat kepala. Ia melihat Tama berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Loh mas di sini?"


"Loh, memangnya kamu nggak tahu? Aku sudah sejak tadi masuk ke sini"


"Enggak"


"Kamu emang nggak ramah jadi kasir, nggak natap wajah si pembeli"


"Kan antreannya panjang-panjang mas" Sanggah Nara datar. "Lebih baik mas minggir, di belakang masih antri"


Tama menoleh ke belakang.


"Aku mau ngomong" Kata Tama setelah kembali menghadap ke wajah Nara.


"Mas masuk ke rumah dulu, aku selesaikan ini sebentar"


"Jangan lama-lama, aku belum makan malam" Tama mengatakannya seraya berlalu. Pria itu berjalan hendak memasuki rumah pak Ramdan.


Sekilas, Nara menatap punggunya sebelum kemudian kembali fokus pada pekerjaannya._______


Nara mengerutkan kening ketika melihat Tama tidur di atas sofa. Entah hanya tiduran, atau benar-benar tertidur. Yang pasti, dia seperti tak menyadari kedatangan Nara.


"Mas Tidur?"


"Enggak, cuma tiduran"


Kini ganti Tama yang mengerutkan kening, matanya memicing menatap Nara yang berjalan begitu saja melewatinya.


"Mau kemana?" tanya Tama tanpa melepas pandangan dari punggung Nara.


"Aku?" balas Nara setelah sebelumnya berbalik.


"Ya kalau bukan kamu siapa lagi? hantu?"


"Tadi mas bilang lapar kan, ya aku mau ke dapur masakin buat mas"


"Ikut" balas Tama kemudian bangkit.


Ruang makan dan dapur memang berada dalam satu ruangan, hanya saja tersekat oleh setengah dinding. Tama yang duduk di ruang makan, bisa dengan jelas melihat Nara yang tengah memasak.


"Makasih tadi udah bantuin bunda"


"Sama-sama, aku nggak tega lihat ayah pisah sama bunda"


"Tapi Na" Tama menegakkan posisi duduknya lalu mendaratkan kedua tangan di atas meja. Badannya sedikit condong ke depan hingga dadanya nyaris menyentuh sisi meja. "Bagaimana kamu bisa berfikir sampai ke CCTV di mobil Shella?"


"Yakin nggak yakin si mas, soalnya tadi pas di pengadilan, aku sempat bertemu Shella, saat aku keluar dari mobil, dia juga baru turun dari mobilnya. Kita sempat saling tatap mata sebentar, pas aku memutus kontak mataku, pandanganku reflek terarah pada camera di dalam mobilnya, ya udah, aku berdoa saja berharap mobil itu yang dia pakai saat kecelakaan"


Tama mengangguk-anggukkan kepala lengkap dengan bibir mengerucut.


"Terus kenapa kamu pulang, kamu ninggalin anak kamu?"


"Aku ada urusan, jadi aku ijin ke Ara buat pulang sebentar"


"Dia langsung ijinin begitu?" tanya Tama dengan satu alis terangkat.


Nara mengangguk sambil terus fokus pada masakannya. "Setelah merayunya mati-matian"


"Lalu, apa Ara sama papa di sana?"


"Iya, papa ke sana sama Daffa"


"Urusan penting apa sehingga kamu tega ninggalin dia"


"Tanda tanganku di butuhkan, nggak bisa di wakilkan jadi aku atur jadwal pulang sekalian pengin menghadiri sidang pertama bunda"


Tama langsung mengangkat satu alisnya begitu mendengar perkataan Nara.

__ADS_1


Tadinya aku pengin lihat bagaimana kondisi orang yang sudah memfitnahku mas, seperti apa wajahnya ketika di adili oleh hakim. Tadinya aku ingin mendengar keputusan hakim, berapa lama menjatuhkan hukuman untuk bundamu. Aku berharap dia akan di hukum dalam waktu yang lama, setidaknya ada yang menghukum bunda atas kesalahannya padaku.


Tapi setelah melihat cctv itu, aku tidak tega melihat bunda duduk di kursi roda, tatapan ayah yang menyorot nanar, serta sanggahan dari bunda yang meyakinkan bahwa dia memang tidak melakukan itu. Aku jadi berfikir rasanya nggak adil dan sangat keliru jika menghukum orang yang tidak bersalah.


Aku nggak mungkin kan mengatakan alasanku yang ini padamu.


"Na, mikirin apa?"


Nara tersadar dengan suara Tama.


"Iya kenapa?"


"Kamu mikir apa?" Ulang Tama sedikit menekan suaranya.


"Enggak ada mas?"


"Kamu makin berani bohong ya sekarang"


Nara melirik Tama yang tengah duduk sambil memicingkan mata.


"Aku mikir, coba tadi aku nggak lihat cctv, pasti aku nggak bisa bebasin bunda"


"Ooh,,makasih sekali lagi"


"Tidak perlu berterimakasih, memang seharusnya begitu kan, orang benar tidak seharusnya di hukum"


"Kamu tadi bilang tanda tanganmu di butuhkan, memangnya tanda tangan apa?"


Nara mematikan kompor lalu menaruh oseng pare dengan campuran udang ke atas piring. Setelahnya ia meraih piring lain berisi ayam panggang.


"Selama ini aku kan kerja, banting tulang untuk pengobatan anakmu"


Nara menata hasil masakannya di atas meja makan. Ia kembali menuju dapur untuk mengeluarkan piring dan sendok dari dalam lemari.


"Makan" Kata Nara setelah menyidukkan nasi.


Tama sama sekali tak mengatakan apapun lagi setelah itu. Dia benar-benar fokus menikmati makanannya sembari sesekali melirik Nara yang duduk sambil menopang dagu dengan satu tangan.


Ketika Nara mempertemukan pandangan, Tama mengangkat dagunya. "Kenapa?"


"Bagaimana pembangunan supermarket mas?"


"Lancar, mungkin satu bulan lagi kita opening"


"Semoga lancar ya"


"Aamiin"


Selang sepuluh menit, Tama sudah menghabiskan makanannya, tepat ketika sedang meneguk minuman dari dalam gelas, karyawan pak Ramdan tiba-tiba mengetuk pintu.


"Ada apa Ris?"


"Itu mbak, ada yang mau bertemu"


"Siapa?"


"Katanya namanya Shella"


"Shella?"


"iya mbak"


Tama dan Nara saling memandang.


"Ada apa dia menemuimu?"


Nara mengangkat bahunya detik kemudian bangkit, dan di susul oleh Tama.

__ADS_1


Mereka berjalan keluar untuk menemui Shella.


Bersambung


__ADS_2