
Nara menatap sendu pada sosok yang terduduk lesu di lantai balkon kamar yang mengarah ke jalan. Punggungnya bersandar pada tembok kaca tebal, sementara kakinya terlentang dengan kedua tangan saling bertaut di atas pangkuan. Hati-hati Nara duduk bersimpuh di sampingnya.
"Mas" Panggilnya pelan agar tak mengagetkannya.
Pria itu bergeming dalam diam. Fokusnya masih terarah ke ramainya lalu lalang kendaraan yang melewati jalan depan rumah Ramdan. Sejak keluar dari rumah orang tuanya, Tama sudah mulai sedikit bicara.
Bahkan ketika tiba jam makan malam tadi, dia tak bergabung dengan Ramdan, Dafa, Nara dan juga Amara. Nasi yang Nara bawa ke kamarnya pun hanya di makan sedikit.
Menurut Nara, Tama adalah sosok pria yang kuat. Namun dia juga memiliki kelemahan. Selain ada pada Nara, kelemahannya saat ini juga ada pada Amara.
Semua kenangan buruk tentang perpisahannya dulu, dan bagaimana pahitnya menjalani hari-hari tanpa Nara kembali membawanya tenggelam dalam kesedihannya.
Rania memang sudah gelap mata melakukan segala cara agar Tama berpisah dengan wanita miskin seperti Nara.
Nara Berfikir mungkin karena kasih sayang seorang ibu yang begitu besar, sehingga Rania rela melakukan apapun yang menurutnya baik untuk Tama. Tapi pada kenyataanya, pilihan terbaik menurut Rania adalah sebuah kesalahan. Dengan kejamnya dia justru membuat hidup sang putra hancur berkeping-keping. Padahal kasih sayang yang sebenarnya, seharusnya dia tak akan pernah tega melukai hati putranya seperti saat ini.
"Istirahat yuk" Ajak Nara sambil mengusap-usap lengannya. "Ara sudah tidur dari tadi, mas nggak mau nyusul?"
Masih tak ada jawaban dari Tama. Nara mengambil inisiatif untuk memeluknya dari samping. Bersamaan dengan itu, Tama menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata.
"Mas yang selalu ingetin aku untuk mengabaikan sikap acuh bunda, dan tatapan benci bunda, iya kan?"
"Tapi semua perbuatan bunda padamu itu sangat menyakitiku" Lirihnya dengan suara berat. Nara mencermati ekspresi wajahnya yang muram. Tak ada kerlingan jahil apalagi senyum meledek yang kerap ia tunjukkan pada sang istri. "Begitu bodohnya aku yang langsung di kuasai amarah karena api cemburu ketika melihat video rekayasa itu"
"Semua ada jalannya masing-masing"
"Tapi andai aku tidak terpengaruh dengan fitnah bunda, mungkin jalannya bukan seperti ini"
"Tapi inilah takdir untuk kita. Tuhan itu maha baik, perpisahan kita adalah keputusan-Nya, dan keputusan-Nya adalah yang terbaik untuk umat-Nya" Nara mencoba menghibur Tama, setidaknya berharap bisa membantu mengurangi rasa bersalah yang tengah menghimpitnya. "Dengan kita berpisah, bunda mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Kemiskinannya, hidupnya saat di penjara, dan kelumpuhannya. Itulah teguran Tuhan untuk bunda agar bunda bisa merubah dirinya menjadi lebih baik"
"Tapi bunda belum berubah Na, Seharusnya dia jujur ketika kita memutuskan untuk menikah kembali. Harus kamu tahu bahwa rahasianya itu sudah menciptakan jarak di antara kita" Kata Tama dengan pandangan kosong. "Kamu ingat sesaat setelah kita menikah ulang kemarin? waktu kita untuk bicara tak lagi banyak, Apa yang mengusik hati kita tak bisa kita ungkapkan, kamu hanya melayani keperluanku tanpa berani bertanya, akupun hanya diam tanpa berani mengatakan apa yang mengganggu pikiranku. Aku tahu kamu sangat tersinggung ketika aku mengurungkan niatku untuk memberimu nafkah batin, mungkin kamu kesal melihat betapa pendiamnnya aku saat kita bertemu. Dan kondisi semacam itu berlangsung selama satu minggu"
"Aku juga salah kenapa tidak mencarimu dulu, aku salah sudah mempercayai semua ucapan bunda yang mengatakan kamu pergi dengan pria lain, kamu hamil dengan laki-laki lain, kamu gonta-ganti pasangan yang faktanya ternyata adalah Emir, Aksa dan Setya. Semua itu adalah pengaruh bunda yang membuatku menjadi seperti orang bodoh dan malah membencimu" Lanjut Tama tanpa jeda.
"Ssttt" Potong Nara dengan dagu bertumpu pada salah satu bahu Tama. "Sudah jangan menyalahkan diri mas. Sekarang waktunya mas memaafkan diri sendiri, memaafkan bunda, dan melupakan masa lalu, semua mas lakukan bukan hanya buat mas, tapi juga buat Amara, Kita kan juga harus melanjutkan hidup tanpa bayang-bayang masa lalu, biar Amara cepat punya dedek"
Ada rasa khawatir ketika Nara mengatakan itu, takut jika ucapannya salah. Namun dugaanya keliru karena tiba-tiba Tama menoleh padanya, kepalanya sedikit bergerak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
__ADS_1
"Maaf" ucapnya sambil menyandarkan kepala di bahu dan melingkarkan tangan di perut Nara.
"Berikan bunda kesempatan untuk menunjukkan kasih sayangnya padaku, selain itu, mas juga perlu menuntun bunda agar menjadi pribadi yang lebih baik" Kata Nara setelah hening beberapa saat.
"Kita ini satu keluarga, dan sesama keluarga tidak bisa menjauh meskipun kita mencoba pergi. Contohnya aku, aku mencoba pergi dari keluarga Nalendra, tapi sekarang aku justru kembali lagi ke keluarga Nalendra"
"Itu kamu lakukan karena Amara" sergah Tama seraya menjauhkan kepala dari bahu Nara serta melepas tangan yang tadi melingkar di perut Nara. "Jika Amara tidak sakit, apa kamu akan mencariku?"
"Tentu" sahut Nara seraya menyurukkan kepala di ceruk leher Tama. "Jika Amara menikah, bukankah dia butuh wali?" Kini giliran Nara yang melingkarkan tangan di perutnya.
"Tapi pasti akan nunggu Ara berusia dua puluh tahun atau bahkan lebih, iya kan?"
"Tau ah" jawab Nara mengeratkan pelukannya. Dan itu memantik senyum Tama terbit secara perlahan. "Aku nggak mau bahas masa lalu, nggak mau dengar mas menyalahkan diri mas lagi, aku juga nggak mau mas ingat perbuatan buruk bunda padaku. Kita lupakan masa lalu kita, paham!"
"Akan mas coba"
"Harus di coba dan harus bisa" timpal Nara kali ini dengan nada menegaskan.
"Jangan tinggalin mas"
"Justru aku mikir sebaliknya" kata Nara menyuarakan apa yang ada di dalam kepalanya. "Mas yang jangan ninggalin aku dan Amara"
"Tepati itu"
Tama menganggukkan kepala.
"Yang sudah terjadi pada kita dulu, enggak akan lantas berubah dengan rasa bersalah mas. Memutar mundur waktu saja kita tidak bisa, apalagi berharap mengubah masa lalu"
"Makasih" ucap Tama kali ini gurat sendunya sudah jauh berkurang, senyumnya pun sudah terulas di bibirnya.
"Makasih buat apa?"
"Sudah memaafkanku dan bunda"
Mendengar ucapan Tama, Nara mengurai pelukannya.
"Entah berapa banyak dan berapa dalam luka yang sudah mas dan bunda torehkan di hatimu, kamu dengan tulus memaafkan kami"
__ADS_1
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu Nara sudah berada di pangkuan Tama dengan posisi duduk miring. Tangan Nara mendarat di kedua bahu Tama, sementara pandangannya sedikit tertunduk karena perbedaan level mata Nara yang lebih tinggi.
"Mas cinta kamu"
"Aku tahu, mas sudah sering mengatakannya"
Tatapan Tama kini sudah terlihat lebih hidup.
"Bosen?" tanya Tama mendongak membalas tatapan Nara.
Nara menggeleng setelah mendengar pertanyaannya. "Tapi bisa nggak, ngomongnya di kasih gula dikit biar tambah manis?"
"Enggak bisa"
"Ish mas" Sungut Nara sembari mencebik, membuat senyum Tama semakin terlihat jelas.
"Kenapa?" tanya Tama ketika Nara membenamkan kepala di ceruk lehernya.
"Senyum mas manis, aku suka lihatnya"
Tak ada jawaban dari Tama, tetapi kedua tangannya mengeratkan pelukan di perut Nara.
"Kita harus bahagia, menatap masa depan dan jangan menoleh ke belakang"
"Hmm" Tama mengecup pundak Nara.
"Kapan kita pulang ke rumah ayah?"
"Beri mas waktu, mas ingin tinggal dengan papa sementara ini"
"Baiklah"
Mereka diam saling menatap sebelum kemudian berciuman.
"Tidur yuk!" Ajak Nara setelah melepas ciumannya.
"Ayo"
__ADS_1
______