Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
44


__ADS_3

Pelukan itu berlangsung hingga bermenit-menit. Sampai ketika seorang dokter laki-laki keluar dari ruang ICU, baru mereka mengurai pelukanya.


Tama langsung menanyakan kondisi sang putri dengan perasaan campur aduk yang semakin tak nyaman.


Namun alih-alih menjawab, sang dokter justru meminta mereka untuk ikut ke ruangannya.


Tama dan Narapun berjalan mengekor di belakang dokter smith. Dokter ahli hematologi-onkologi anak.


Saat sudah duduk di ruangan dokter, terdengar helaan nafas berat dari pria berpakaian snelli.


Raut wajah dokter Smith yang sulit di tebak, membuat Tama semakin frustasi dan takut.


Takut jika dokter mengatakan hal buruk tentang Amara. Rasanya, ia seperti tidak ingin mendengar perkataan dokter yang sudah bisa di pastikan akan membuatnya shock. Berbeda dengan Nara yang memang sudah terbiasa dengan ucapan-ucapan dokter yang bagaikan sembilu, bahkan nyerinya itu terasa sampai ke ulu hati jika mendengarnya.


Dokter mengatakan mereka akan mengobservasi pasien selama kurang lebih enam jam.


"Karena jenis kanker yang di derita Amara adalah leukemia agresif, maka jalan satu-satunya pengobatan selain kemoterapi adalah transplantasi sel induk"


"Sel itu sendiri bisa di dapat dari pendonor keluarga seperti ayah, ibu, atau saudara sedarah dan sekandung"


Jantung Tama seketika berdebam sangat kencang, seakan detakannya melebihi batas normal.


'Benar kata Nara, penyesalan ini tidak hanya menggerogotiku, tetapi juga menyiksaku '


"Yaa Allah, kenapa sesakit ini"


"Tahap pertama yang akan kami lakukan adalah pengecekan terhadap sel punca yang cocok dengan Amara" sambung dokter membuat Tama tersentak. "Jadi kami akan mengecek sum-sum tulang belakang dari ayah dan ibunya terlebih dulu"


"Dokter, saya sudah pernah melakukan pemeriksaan itu dan sel punca milik saya tidak cocok untuk Amara"


Setelah mengatakan itu,


Tiba-tiba Nara merasakan tangan kokoh melingkupi tangannya di atas pangkuannya. Dia menoleh ke samping kiri di mana ada Tama yang tengah menatap dengan sorot terluka.


Genggaman yang terasa begitu kuat, Jelas sekali pria itu merasakan sakit melihat sang putri menderita.


"Semoga hasilku akan cocok Na"


Itulah harapan Nara satu-satunya, Tama datang sebagai obat untuk Amara. Obat rindu dan sakit yang selama ini ia tahan.


"Aamiin" sahut Nara lirih, dengan fokus sepenuhnya menatap Tama.


"Anak kita pasti sembuh"


"Aamiin" untuk kedua kalinya Nara mengamini ucapan sang suami.


Kini, Nara merasa tidak sendiri. Dengan adanya Tama, setidaknya beban yang selama ini ia tanggung sendirian sedikit berkurang.


"Untuk sementara, hanya itu yang bisa kami sampaikan. Beberapa saat lagi pihak kami akan memeriksa kondisi bapak dan juga kecocokan sum-sum tulang belakang"


"Boleh kami melihat anak kami dok?" tanya Tama penuh harap setelah sebelumnya menganggukan kepala merespon kalimat dokter Smith.


"Boleh, tapi tidak boleh bersamaan, harus satu-persatu"


"Baik dok"


Bangkit dari duduk, Tama dan Nara keluar dari ruangan dokter. Mereka akan kembali ke ruang ICU untuk melihat putrinya.


Namun langkah Tama terhenti ketika sepasang matanya melihat dokter Aksa dan dokter Emir sedang duduk berdampingan di tempat Nara duduk sebelumnya.


Tama dan Nara menoleh saling mempertemukan netranya. Dalam hati Tama, ada begitu banyak pertanyaan mengenai dua pria itu.


Pria di foto yang pernah Nara kirimkan melalui ponselnya.


Tak mengatakan apapun, Nara kembali mengajak Tama untuk melangkah menghampiri dua pria yang kini sudah berdiri sambil menatap dirinya dan Nara.


"Ada sesuatu yang terjadi dengan Amara Na?" Kalimat bernada pertanyaan itu keluar dari mulut Emir.


"Amara kelelahan karena perjalanan udara bang, tadi sempat kehilangan kesadaran, jadi dokter membawanya ke ruang ICU"


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Masih lemah, dokter harus mengobsevasinya selama enam jam, setelah itu akan segera mengambil tindakan"


Aksa dan Tama diam menyimak.


"Mas Tama, ini bang Emir, suami Anita, abangnya Khansa juga" Nara menunjuk Emir yang langsung mengulurkan tangan untuk berjabat.


"Emir"


"Tama"

__ADS_1


"Dan ini mas Aksa, suaminya Khansa, sahabatku juga"


"Tama"


"Aksa"


"Mereka yang selalu membantuku dan Amara" Tambah Nara.


"Terimakasih sudah selalu ada mendampingi Nara dan Amara"


"Tidak perlu berterimakasih, Nara adalah bagian dari keluarga kami, dan Amara sudah seperti anak kami sendiri"


Jawaban Emir membuat Tama tertampar dengan sangat keras sekaligus semakin merasa bersalah. Bersalah karena sudah berprasangka buruk terhadap Nara, bersalah karena sudah tak mempercayai istrinya sendiri.


Terbersit di pikirannya jika dia tidak terpengaruh dengan siapapun yang mengusik hatinya, mungkin perpisahan itu tidak terjadi. Tapi entah kenapa pikiran itu segera di sangkal oleh Tama sebab Nara juga salah karena tak pernah ingin menyelesaikan masalah dan justru malah pergi meninggalkannya.


Namun seperti pesan sang ayah untuk tak lagi mengingat masa lalu itu, dan hanya fokus pada Amara yang saat ini sangat membutuhkan dukungan dari kedua orang tuanya.


"Na, kami akan kembali ke Indonesia malam ini" kata Aksa "Kita langsung ke bandara setelah dari sini"


"Iya mas nggak apa-apa, sekali lagi makasih"


"Sama-sama, kabari kami apapun tentang Amara"


"Iya, pasti"


"Salam buat Amara, kami pamit"


"Hati-hati bang, salam buat semua orang rumah"


"Okey Tama, kami pergi dulu, titip Amara sama Nana" Emir kembali menjabat tangan Tama. Tak berselang, Aksa menyusul mengulurkan tangan.


Seperginya Emir dan Aksa, Nara meminta Tama untuk menemui Amara terlebih dulu. Naraya yang selama ini tak pernah menunjukan wajah Tama pada Amara, merasa bersalah sebab sampai detik ini Amara tidak tahu seperti apa wajah daddynya.


Ketika Tama baru saja akan melangkah, Nara buru-buru meraih pergelangan tangannya.


"M-mas!"


Pandangan Tama langsung tertuju pada tangan yang di cengkram. Terasa sekali basahnya telapak tangan Nara yang melingkupi pergelangan tangannya.


"Ada apa?"


Menelan saliva lalu hening, membuat Tama mengernyitkan dahi lengkap dengan alis menukik.


Sempat ragu, akhirnya Nara mengatakannya dengan keberanian yang sedikit terkumpul.


"Amara belum pernah melihat wajah mas, jadi jika Amara bertanya, mas jangan kaget"


"Kamu bilang aku daddynya, tapi kenapa kamu nggak pernah menunjukan fotoku atau menelponku, aku masih memakai nomor ponsel yang lama"


"Maaf, aku nggak punya nomor mas, nomor perusahaan sepertinya juga berubah semua"


"Ya sudah nggak apa-apa"


Perlahan tangan Tama mendorong pintu berbahan kaca tebal, Ia langsung di arahkan untuk mengenakan seragam APD khusus menjenguk pasien.


Langkah demi langkah, di iringi jantung yang berdesir semakin gila, Tama menghampiri sisi bed dimana Amara terbaring.


Tepat di samping ranjang, bisa di lihat wajah Amara yang tampak begitu pucat dan tirus, mata yang tertutup rapat dengan bulu mata tebal melingkupinya, membuat hati Tama semakin teriris, paru-parunya terasa penuh hingga merasakan sesak yang menimbulkan rasa nyeri yang begitu hebat, sementara jantungnya seperti di remas dengan sangat kuat.


Manik hitamnya begerak menyusuri tubuh Amara dari atas hingga ke bawah, ada selang kuncup oksigen yang menutupi bagian hidung hingga mulut, ada selang infus yang tertancap di nadi tangan mungilnya, ada juga alat penjepit di jari tengahnya. Selain itu, ada alat Patient monitor yang berfungsi untuk memberikan informasi mengenai keadaan pasien. Alat itu tersambung banyak selang yang dipasangkan ke tubuh pasien, agar bisa mengetahui secara real time keadaan pasien tersebut.


Nyerinya kian menjadi begitu pandangannya terarah pada monitor pasien yang menunjukan garis dan angka lemah untuk ukuran detak jantung.


Reflek Tama membungkukkan badan, lalu mengecup kening Amara kemudian kecupan itu beralih ke kedua matanya.


"Assalamualaikum Amara?"


"Ini daddy nak"


Hening...


"Maafkan daddy, daddy baru bisa jenguk Ara"


"Kata oppa, Ara pengin tinggal sama daddy. Ara sembuh ya, kita tinggal sama-sama dirumah daddy yang besar, kita main sama-sama seperti Ara yang selalu ajak daddy main di mimpi daddy. Ara juga bilang pengin bercandaan sama daddy, pengin ngobrol banyak sama daddy"


Hatinya hancur, kalau bisa mungkin Tama bersedia menggantikan rasa sakit yang di alami putrinya.


"Ara bisa buka mata sebentar? daddy pengin Ara lihat daddy"


"Daddy pengin Ara panggil daddy"

__ADS_1


Tama meraih tangan Amara, lalu menciumnya.


Sedikit demi sedikit, kesadaran Amara mulai terkumpul. Mata gadis kecil itu perlahan terbuka.


"Ara pasti lagi mimpi di cium daddy, Ara kan memang sering mimpi ketemu daddy" Gumaman Amara tidak terdengar jelas oleh telinga Tama, sebab selain sangat lirih, suaranya juga teredam oleh sebuah kuncup oksigen.


"Ara, kamu bangun nak?"


"Ara nggak mau bangun, Ara lagi mimpi sama daddy, nanti kalau Ara bangun, mimpinya jadi hilang daddynya ikut ngilang"


Merasa aneh, pria itu berusaha meyakinkan Amara bahwa ini bukanlah mimpi.


"Daddy, Ara kangen banyak-banyak" suaranya lemah.


"Daddy juga kangen Ara banyak-banyak"


"Ara pengin bobo aja biar bisa lihat daddy terus"


"Ini bukan mimpi nak, ini beneran daddy"


Sebenarnya Tama sedikit bingung. Nara bilang Amara belum pernah melihat daddynya, tapi dia langsung mengenali dirinya tanpa ragu.


"Daddynya Ara ada di sini" lanjut Tama berusaha meyakinkan sambil menurunkan kuncup oksigen di mulut Ara.


Mendengar ucapan Tama, Amara tersadar, ia melempar pandangan ke setiap sudut, benar ini memang bukan mimpi.


"Daddy, ini beneran daddy kan?" tanyanya ketika matanya menatap wajah sang ayah.


"Iya nak ini daddy, Ara enggak lagi mimpi nak, daddy di sini bersama Amara"


"Daddy"


"Iya sayang"


"Ara mau bangun mau peluk daddy"


"Ara jangan bangun, biar daddy peluk Ara" Tama membungkuk lalu memeluk tubuh mungilnya sedikit agak lama.


"Ara mau bangun, Ara udah nggak sakit lagi"


"Ara bangun mau ngapain?"


"Mau main sama daddy"


"Tapi Ara harus sembuh dulu, setelah itu kita akan selalu bersama, kita tinggal sama-sama, bobo sama-sama, main sama-sama, daddy juga akan selalu antar Ara ke sekolah" katanya setelah mengurai pelukannya.


"Ya udah nanti kalau Ara mimpi ketemu nenek, Ara bilang nggak mau ikut nenek main di taman kupu-kupu, Ara mau main sama daddy aja"


"Maaf, pasien sudah banyak bicara, sekarang saatnya istirahat" ucapan dari suster menyela obrolan mereka.


"Ara, di pasang lagi oksigennya ya, biar cepat sembuh, daddy sama mommy ada di luar, jagain dari luar, Ara bisa lihat daddy sama mommy dari kaca itu" Ketika Tama menunjuk kaca bening, ada sosok Nara yang tengah menyaksikan mereka dengan wajah haru.


"Itu mommy?" tanya Ara mengerjap.


"Iya sayang, daddy sama mommy nggak akan pergi, kami di sana sayang"


"Iya Amara mau sembuh"


"Kalau gitu, Ara istirahat di temani suster okey"


"Okey daddy"


Benar-benar menyayat hati Tama. Baru kali ini ia merasakan sakit yang luar biasa, bahkan rasa sakit itu melebihi sakit ketika Nara meninggalkannya.


Pria itu keluar setelah melepas APDnya. Ia juga sempat mengecup kening Amara sebelum meninggalkannya di ruang ICU.


Berjalan keluar dan langsung terduduk lesu. kedua sikunya bertumpu di kedua lutut sementara kedua telapak tangannya menutupi wajahnya.


Ada banyak hal yang berebut masuk kedalam pikirannya, membuat Tama semakin di hantui rasa bersalah karena tidak menemui Amara sejak pertama kali Nara memintanya.


"Maafkan aku Na?" kata Tama ketika menyadari ada sosok yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Dia yang masih menutup wajah sangat tahu jika itu Nara. Dari aroma tubuhnya yang tidak berubah, membuat Tama hafal parfum yang Nara pakai sejak dulu.


"Andai aku menemuinya dari sebulan lalu ketika kamu pertama kali datang ke kantor, pasti aku memiliki kesempatan bermain dengannya"


Memilih diam, sebab Nara tak mampu membalas ucapan Tama.


Mereka diam dengan pikirannya masing-masing.


Bersambung...


Biasanya jam segini udah baca ya.. 😀

__ADS_1


maaf sedikit lambat, lagi kurang enak badan..


jaringan di otaknya menurun, jadi ide pun ikut menurun. 😇😇😇


__ADS_2