Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
78


__ADS_3

Nara tak bisa menahan detak jantungnya yang semakin menggila. Panasnya deru nafas Tama yang menyapu batang leher, justru membuat Nara kian erat melingkarkan lengan pada pria yang terbaring lemas di atas tubuhnya. Hingga lenguhan panjang dan kecupan cukup lama, menjadi penanda bahwa aktivitas mereka dalam penyatuan tubuh baru saja selesai.


Tama yang ambruk menindih Nara dengan nafas terengah, tersenyum lembut ketika Nara memiringkan wajah dan mempertemukan netranya. Nara membalas senyumanya sambil mengusap butiran crystal di kening Tama dengan ibu jari.


Tak ada sepatah katapun, tak ada pergerakan untuk mengubah posisi. Mereka hanya diam saling menatap dan berbalas senyum. Tangan Tama turut mengusap kening Nara.


Cukup lama berada dalam posisi yang sama, Tama akhirnya bergerak, tubuhnya yang semula menindih tubuh Nara penuh rapat, kini bertumpu pada kedua sikunya mengungkung Nara.


Pria itu memberikan ciuman cukup lama di dahi Nara setelahnya melakukan pergerakan besar merubah posisi.


Menyadari kalau Tama tengah menatapnya penuh lekat, Nara yang kini sudah berada di atas tubuh Tama, mengecup bibirnya kilat.


Usai menciumnya, Nara menangkap ada perubahan dari sorot mata Tama yang membuatnya mengerucutkan bibir.


"Kenapa bibirnya di maju-majuin?" lirih Tama sambil mengapit bibir Nara dengan dua jarinya.


"Kenapa diam aja pas aku cium?"


Tama tersenyum mendengar respon Nara kemudian merengkuh tubuhnya dan membenamkan wajah sang istri di dadanya. Pria itu mengecup pucuk kepala Nara hangat dan lembut.


"Makasih" katanya mengusap belakang kepala sang istri lalu turun ke punggungnya yang hanya tertutup selimut sebagian.


Nara mengangguk. "Jangan pasang wajah cemberut lagi ya"


Mendengar kalimat Nara, Tama langsung merangkum wajahnya.


"Cemberut gimana?" tanyanya dengan satu alis terangkat.


"Mas lupa, gimana ekspresi wajah mas seharian ini? sampai-sampai Amara ragu mau deketin daddynya"


"Pantas saja seharian ini mas nggak lihat Ara"


"Karena mas menakutkan, jadi Ara takut banyak-banyak dengan wajah masamnya daddy. Dia bilang hari ini daddy pelit senyum, irit ngomong, ekpresinya seram kayak mau ngajak berantem"


Tama tergelak begitu Nara menyelesaikan kalimatnya.


"Serius mas, dia bilang ke akunya bisik-bisik" lanjut Nara ketika pria itu masih tertawa. "Kata Ara jutek banget hari ini daddynya"


"Anak itu benar-benar menggemaskan" respon Tama di sela-sela tawanya. "Makasih sekali lagi, sudah didik Amara dan berhasil membentuk karakter kakak dengan baik"


"Kakak?" sahut Nara bingung.


"Semoga sebentar lagi ada adek bayi di dalam perut mommynya, yang mirip seseorang kalau lagi diam-diam"


Butuh hingga beberapa menit untuk Nara memahami ucapan Tama. Reflek tangan Nara mencubit pinggangnya lembut, begitu tahu seseorang yang di maksud sang suami. Nara memang memilih diam dari pada mengeluarkan umpatan jika sedang marah .


"Maksud mas Aku kan?" tanya Nara tangannya masih terus mencubit, sementara Tama berusaha menghindari cubitan dari istrinya.

__ADS_1


Sampai kemudian pria itu berhasil menahan tangan Nara, lalu merubah posisi dengan menindih kembali tubuh Nara.


"Sudah cukup" ujarnya lalu mengecup bibir Nara kilat. "Lebih baik, kita bikin adek lagi buat Ara sebelum dia tiba-tiba bangun, dan mengacaukan segalanya"


****


Nara tersenyum menatap dua wajah yang tidur saling berhadapan. Tangan kekar Tama memeluk tubuh mungil Amara dalam tidurnya.


Tadi pagi setelah mereka membersihkan diri, Nara langsung keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.


Melihat kondisi rambut Tama yang masih basah, Nara bergegas mengambil handuk kecil lalu duduk di tepian ranjang untuk mengeringkah rambutnya.


"Padahal sudah di bilangin kalau rambutnya basah, jangan di bawa tidur" gumam Nara sambil mengeringkan rambut Tama pelan.


Setelah beberapa saat, Tama yang semula memunggungi Nara, kini berbalik lalu menjatuhkan tangan di atas pangkuan istrinya.


Wanita itu tersenyum lalu mengeringkan sisi kepala yang lain. Dia merasa lega mendapati aura masam yang kemarin melekat dalam diri suaminya perlahan menghilang entah kemana. Dari ekspresi wajahnya saat ini, pria itu justru seperti anak kecil yang sedang ingin di manja.


"Sudah" ujar Nara. "Lain kali, keringkan dulu rambutnya, jangan langsung tidur" Tambahnya lalu mengecup bagian pelipis Tama. "Aku mau lanjut masak"


Tangan yang tadi di atas pangkuanya, kini justru melingkar di perut Nara. Reflek tangan Nara mengusap lengannya lembut.


"Aku mau masak, kasihan nanti kalau Ara bangun, tapi sarapan belum siap"


Tama menghembuskan napas pasrah sembari bergerak memunggungi Nara lalu kembali memeluk Amara.


"Kita masih nginep di rumah kakek ya mom?" tanya Amara ketika Nara membantunya memakai baju usai mandi.


"Daddy masih sibuk bareng kakek sama om Daffa Ra, jadi untuk sementara kita bobo di sini ya"


Amara memang sudah tahu kalau daddynya sedang ada pekerjaan dengan Daffa yang membantu mendirikan Plaza. Nara sudah menceritakan pada putrinya jika Tama sedang membangun sebuah mall besar.


"Terus oma sama opa sendirian dong"


"Siapa bilang" kata Nara sambil melepas ikatan rambut Ara dan menyisir rambutnya yang lembut. "opa oma nggak sendirian kok, kan ada bik Jum yang temani"


"Tapi kan bik Jum nggak main sama opa sama oma"


"Kalau begitu, minta ke daddy supaya kita pulang ke rumah opa"


"Kok ke daddy, kenapa nggak ke mommy?"


"Sudah" kata Nara begitu rambut Amara sudah tersisir rapi dan terikat kembali.


"Kenapa harus ke daddy?" Amara kembali mengulang pertanyaannya.


"Karena kan daddy yang ambil keputusan"

__ADS_1


"Keputusan itu apa mom?"


"Keputusan itu apa ya" Sahut Nara sembari berfikir. Sementara Amara menatap sang mommy dengan sorot serius.


"Apa mom?"


"Keputusan itu adalah menjatuhkan pilihan sayang. Misalnya begini" Nara duduk di kursi rias mengahadap Amara yang berdiri di hadapannya sambil menunggu jawaban.


"Amara maunya bobo sendiri, atau bobo sama daddy mommy?"


"Bobo sama daddy mommy" jawab Anak itu mengerjap.


"Nah itulah keputusan, jadi keputusan Amara mau bobo sama daddy mommy kan"


Amara mengangguk. "Jadi kita harus milih, dan pilihan terakhirnya itu namanya keputusan ya mom?"


"Benar sayang, dan nggak hanya itu, misalnya daddy melarang Amara buat nggak makan coklat banyak-banyak, itu juga keputusan, keputusan daddy, faham?"


"Paham mom"


"Nah sekarang keluar, suruh daddy naik buat mandi, bilang mommy udah siapin air sama baju ganti"


"Iya" Sahutnya riang lalu berlari kecil meninggalkan kamar.


Selang hampir sepuluh menit, suara pintu terbuka yang disusul suara Tama.


"Ada apa?" Pria itu melihat istrinya sambil menutup kembali pintu kamarnya.


"Mandi, sudah aku siapkan air dan baju ganti" kata Nara sambil menutup koper.


"Kamu nggak ke kantor?"


"Aku ijin, soalnya mau nemenin mas"


"Nemenin mas?" tanya Tama memastikan.


Nina menatap dalam suaminya. "Kenapa? nggak mau di temenin?"


"Ya enggak" sanggahnya cepat. "Tumben banget lebih milih di rumah ketimbang kerja"


"Aku nggak boleh kerja?"


"Aku akan melarangmu bekerja kalau kamu sudah mengabaikan anak sama suamimu" kata Tama lalu melingkarkan tangan di pinggang Nara. "Selama kamu bisa membagi waktu antara mengurus pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah, kamu tetap boleh ke kantor"


"Udah cepetan mandi sana" perintah Nara lembut.


Tama mengecup salah satu pipi Nara kilat sebelum kemudian mengarahkan kakinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2