
Mendesah pelan, Tama melajukan mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi. Siang ini jalanan sedikit lenggang membuat dia bisa dengan mudah menerobos jalan raya.
Setibanya di rumah sakit, dengan langkah lebar ia berjalan melewati koridor, langkahnya terhenti ketika sepasang netranya menatap lurus tertuju pada sosok yang tengah duduk dengan kedua siku bertumpu di atas lutut sementara telapak tangan menutupi wajahnya.
"Aldika!"
Pria itu menurunkan kedua tangannya lalu mendongak.
"Tama!"
"Dimana bunda?"
"Bunda masih di ruang ICU, ayah sedang menemaninya di dalam"
"Apa yang terjadi?"
"Aku sendiri kurang faham Tam, tadi cuma dengar dari suster katanya Shella yang sudah membawanya kemari"
"Shella?"
"Hmm" sahutnya sembari mengangguk. "Bunda dan shella kecelakaan, mereka berada dalam satu mobil"
"Dimana Shella sekarang?"
"Dia ada di ruang perawatan di lantai tiga"
"Lalu kondisinya?" Tama bertanya dengan sorot serius.
"Dia baik-baik saja, hanya pelipisnya yang terbentur roda kemudi"
"Baik-baik saja?"
"Iya Tama, sepertinya Shella membanting setirnya ke kiri, itu sebabnya luka bunda lebih parah darinya"
Tiba-tiba Idris keluar menginterupsi obrolan mereka.
Tama dan Aldika kompak menoleh ke arah Idris kemudian melangkah menghampirinya.
"Yah, gimana bunda?"
"Bunda sudah sadar, dokter sedang memeriksanya sekarang"
Mendengar ucapan sang Ayah, Tama menghela napas panjang lalu membuangnya setelah menahannya sejenak.
"Duduk dulu yah" Perintah Aldika sambil menggiring Idris untuk duduk.
Melihat wajah ayahnya yang menyorot kelam, Tama kembali menghela napas panjang, lalu menyugar rambutnya Pasrah. Terbesit di pikirannya jika saat ini keluarganya benar-benar sedang di uji dengan berbagai masalah.
"Apa ini dosaku yang secara tidak langsung sudah membuat ibu mertuaku meninggal?" Ia membatin di tengah-tengah rasa frustasinya. "Gara-gara aku tak bisa mengontrol emosiku sendiri, aku dan Nara berantem di depan orang tuanya, membuat ibu terkena serangan jantung dan akhirnya meninggal dunia?"
"Apakah yang aku rasakan saat ini adalah yang Nara rasakan saat dulu?"
"Keluarga bu Rania?" Seorang dokter memanggil dan menghampiri mereka.
"Iya dokter?" Idris, Tama serta Aldika langsung berdiri begitu mendengar panggilan darinya.
"Bagaimana kondisi istri saya dok?"
"Begini pak" katanya berat, dengan raut wajah yang entah apa maksudnya. "Beruntung, luka di kepala adalah luka ringan, mungkin tangan kirinya sempat menghalangi kepala agar tak terbentur, tapi ada kerusakan saraf yang cukup parah di bagian kaki serta tangan kirinya itu"
"Lalu apa tindakan selanjutnya dok?" tanya Tama menyelidik.
"Terpaksa tangannya harus di gips, dan untuk luka di kaki, kami harus melakukan operasi secepatnya, tapi_" tambahnya yang langsung di potong oleh suara Tama.
"Tapi apa dokter?"
"Mungkin untuk sementara bu Rania tidak bisa berjalan"
"Tidak bisa berjalan dokter?"
"Iya pak"
__ADS_1
"Sampai kapan dok?"
"Kami belum bisa memastikan"
"Lakukan yang terbaik dokter" Pinta Idris memohon.
"Itu pasti"
"Boleh saya menemuinya dok?" tanya Tama.
"Boleh, tapi hanya satu orang. Dan sebentar lagi kami akan lakukan pemasangan gips serta operasi di kakinya"
"Baik dokter, terimakasih"
"Sama-sama"
Usai kepergian dokter, Tama meminta ijin pada Idris untuk menemui bundanya.
"Masuklah Tama, hibur bundamu dan beri semangat untuknya"
Dengan gerak cepat, Tama melangkah masuk.
Kedua matanya menangkap sang bunda yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Setelah hampir dua minggu hati dan pikirannya sudah lebih tenang karena Anaknya semakin membaik, kali ini rasa cemas kembali singgah karena kondisi bundanya.
Pria itu merasa iba dan miris dengan nasibnya saat ini. Dunia benar-benar di putar dan sepersekian detik membuat hidupnya langsung berada di titik paling bawah.
"Bunda?"
"Tama"
"Iya bun?"
"Semua ini gara-gara Nara, Tama"
Mengerutkan kening, ia heran dengan bundanya yang masih saja menyalahkan istrinya.
"Bunda sudah bilang kan, kalau saja kamu menikahi Shella, kejadiannya tidak akan seperti ini"
"Tetap saja yang mendorongmu melakukan itu adalah dia"
"Lebih baik bunda fokus dengan kesembuhan bunda, jangan berfikir yang macam-macam"
"Bagaimana tidak berfikir macam-macam, apa susahnya kamu menerima persyaratan Shella untuk menikahinya, dengan begitu, kita pasti bisa menyelamatkan perusahaan kita, Tama"
"Lalu kenapa bunda tidak membujuk ayah untuk menerima bantuan Nara?"
"Bunda tidak sudi menerima bantuannya, mau di taruh mana muka bunda, yang ada nanti dia merasa terbang tinggi sudah membantu keluarga kita"
"Nara tidak seperti itu bun"
"Terus saja bela istrimu itu"
Memilih diam, Tama tak lagi menyahut ucapan Rania. Bukan karena tak bisa menyangkal, hanya saja tidak mau mendebat sang ibu yang keras kepalanya berada di level tertinggi.
"Permisi pak" Seorang suster tiba-tiba datang.
"Kami akan melakukan operasi sekarang"
"Baik suster" Tama menjawab setelah melihat suster sekilas, lalu kembali fokus pada Rania.
"Bunda semangat ya, kami akan berikan perawatan terbaik untuk bunda"
"Setelah ini, bunda berharap kamu mau menikah dengan Shella" kata Rania penuh harap.
"Nanti kita bicarakan lagi bun, yang penting bunda sehat dulu"
Meskipun perlakuan Shella sudah sangat keterlaluan padanya, tapi demi tetap hidup mewah Rania masih berharap putranya mau menikah dengan wanita pilihannya.
****
Sembari menunggu sang bunda yang sedang menjalani operasi, Tama menyempatkan diri menelpon Nara. Selain ingin memberitahukan keadaan Rania padanya, dia juga merindukan Amara yang mungkin sedang menunggu kedatangannya, sebab Tama berjanji akan segera datang dalam lima hari kedepan.
__ADS_1
"Daddy kapan kesini?" itu pertanyaan Amara dari balik telfon.
"Maaf ya nak, daddy belum bisa datang, soalnya omma lagi sakit"
"Omma sakit apa?"
"Omma kecelakaan sayang" sahut Tama lirih.
Bukannya merespon ucapan Tama, Amara malah bertanya pada Nara.
"Omma kecelakaan mom?" tanyanya dengan sorot sepenuhnya menatap Nara.
"Iya sayang, Omma lagi di operasi kakinya, sekarang daddy sama opa lagi nungguin omma di rumah sakit"
"Terus kapan daddy kesini?" kali ini pertanyaan Amara di tujukan untuk Tama.
"Daddy usahain secepatnya ya"
"Secepatnya itu kapan?"
Belum sempat Tama memberikan jawaban, Nara sudah lebih dulu bersuara.
"Daddynya belum tahu Nak" Pandangan Amara yang tadinya terarah pada layar ponsel, kini berpaling ke arah kiri mencari wajah mommynya. "Tunggu omma sembuh dulu ya" tambah Nara berusaha membuat putrinya mengerti.
"Tunggu lama-lama?"
"Kan tadi daddy bilang secepatnya, bisa satu minggu, bisa dua minggu, bisa tiga minggu"
"Tiga minggu berapa hari mom?"
"dua puluh satu hari"
"Banyak-banyak berati?"
"Enggak kok sayang, kan daddy nanti sering-sering telfon"
Mendengar percakapan antara istri dan anaknya, reflek bibir Tama menerbitkan senyum. Meskipun hanya menimak melalui panggilan jarak jauh, tapi rasanya ia sedang berada di tengah-tengah mereka. Dan Tama sangat menyukai ini.
Namun senyum itu tak bertahan lama ketika ada dua polisi menghampiri sang ayah.
"Dengan keluarga bu Rania" Pertanyaan dari salah satu polisi untuk Idris yang Tama dengar dari jarak sekitar tujuh meter.
"Iya pak" Jawab Idris sembari bangkit dari duduknya.
"Ara, sudah dulu ya nak, daddy ada perlu sebentar"
"Ada apa mas?" tanya Nara penarasan.
"Ada polisi, daddy matiin dulu ya, nanti telfon lagi"
"Iya sudah hati-hati salam buat ayah"
"Oke Na, assalamu'alaikum"
"Waakaikumsalam"
Sesaat setelah menutup panggilan, Tama segera menghampiri Idris dan dua polisi.
"Ada apa pak?" tanya Tama sedikit gugup campur heran.
"Mobil yang bu Rania kendarai, sudah menabrak anak berusia tujuh tahun, dan anak itu meninggal"
"Tidak mungkin pak, bukan bunda saya yang menabraknya, tapi Shella, dia yang menyetir mobilnya saat itu"
"Tapi kecelakaan itu di picu oleh sikap bu Rania yang sudah membuat kecelakaan itu terjadi"
"Apa maksud bapak?" tanya Idris dengan sorot tak percaya.
Mendengar pertanyaan Idris, kedua polisi itu bergantian menjelaskan hingga penjelasannya membuat Idris dan Tama menggelengkan kepala.
Tapi meski begitu, mereka belum sepenuhnya mempercayai perkataan polisi yang mendapatkan informasi hanya dari satu sisi. Meskipun benar demikian, Idris dan Tama tak bisa membenci Rania.
__ADS_1
Bersambung