
Malam harinya usai makan malam, Tama sudah tidak sabar untuk mempertanyakan perihal Angkasa group yang justru Naralah pemiliknya. Bahkan ketika makan malam, dirinya sama sekali tak fokus dalam menyendokkan nasi untuk di suapkan ke mulutnya.
Fokusnya terus tertuju pada sang istri yang memang tak menunjukkan gelegat aneh di wajahnya. Wanita itu benar-benar pandai menyembunyikan hal besar mengenai kepemilikan saham beserta perusahaan angkasa group.
"Amui bobo di tengah aja ya?" Kata Nara pada Amara. Dia merasa bersalah sebab beberapa hari ini sudah membuat putrinya merasa terabaikan. Apalagi ketika Amara ingin dimanja oleh Tama, dengan cepat Nara menyergahnya. Dan malam ini, dia ingin menunjukkan rasa sayangnya pada putri kecilnya.
"Kenapa?"
"Kan kalau Amui di tengah, nanti bisa dapat pelukan dari mommy sama daddy. Amui juga bisa peluk daddy atau mommy gantian, iya kan?"
Belum sempat Amui menjawab, percakapan mereka di sela oleh kehadiran Tama yang tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Malam ini Amui tidur di kamar opa ya" Kata Tama yang entah kenapa, Nara justru menangkap nada datar dalam bicaranya.
"Kenapa mas?" tanya Nara bingung. Posisi tangan Nara yang tadinya hendak menyibakkan selimut mendadak berhenti.
"Opa sama oma pengin bobo sama Amui"
"Oh" Nara mengatupkan bibir masih dengan gelayutan rasa penasaran. Biasanya, jika Rania dan Idris ingin tidur dengan Amara, mereka akan ngomong saat di meja makan. Tapi tadi, tidak ada omongan apapun tentang keinginan opa omanya yang ingin tidur dengan sang cucu. Selain itu, Nara juga menangkap gestur serius di raut wajah Tama.
"Amui ke kamar opa sekarang ya, daddy mau bicara sama mommy"
Perkataan Tama pada Amara barusan, membuat Nara kian bertanya-tanya.
"Daddy mommy mau bicara orang tua ya?"
"Iya sayang, Amui bobo di kamar opa dulu, tadi daddy sudah ngomong ke opa, dan sekarang opa sama oma lagi nunggu Amui di kamarnya"
"Memangnya ada apa si mas?" Tanya Nara sedikit tak sabar sekaligus berdebar.
"Amui sekarang ke kamar opa" pinta Tama.
Amuipun menganggukkan kepalanya yang mungil lalu keluar dari kamar. Sementara Nara melihat raut tegas di wajah Tama. Dia semakin yakin kalau sepertinya memang ada hal yang mungkin sangat serius.
"Nggak apa-apa ya Nak, daddy mau bicara soalnya" kata Nara ketika Amara sampai di ambang pintu dan bersiap menutupnya.
"Iya"
Tama memastikan jika pintunya sudah tertutup rapat dan Amara sudah beranjak menuju kamar Rania.
"Mau bicara apa, sampai mengusir anak sendiri?" tanya Nara dengan sorot serius.
"Amara sudah pergi ke kamar bunda kan?"
"Sepertinya sudah, apa pembicaraan kita serius?"
"Sangat" sahut Tama wajahnya masih belum bisa terbaca oleh Nara.
Nara menahan napas sesaat, lalu menghembuskannya dengan berat hati sebelum kemudian beranjak dari kasur dan menarik kursi yang ada di depan meja rias. Ia mempersilakan sang suami duduk sementara Nara duduk di tepian ranjang.
"Mas mau bicara apa?" tanya Nara setelah menunggu beberapa saat. Pria itu tak kunjung bersuara, yang ia lakukan hanya duduk diam sambil menatap istrinya penuh lekat.
Sedangkan Nara menelan saliva melihat sang suami yang duduk di depannya dengan tangan bersedakap. Sorot matanya tajam tertuju padanya.
"Mas?" panggil Nara ragu-ragu, lengkap dengan alis menukik tajam.
"Kamu menyembunyikan sesuatu?"
Tak langsung menjawab pertanyaan Tama, Nara mencoba menerka-nerka apa maksud di balik ucapannya. Bola matanya terus bergerak mengikuti gerakan manik hitam milik pria yang baginya sangat tampan. Ia berusaha menyusuri retinanya berharap menemukan sesuatu atas perkataannya. Tapi ia tak menemukan apapun di sana.
"M-maksud Mas Ap_"
"Kamu tahu siapa pemilik Angkasa saat ini?"
Dan jantung Nara seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. "S-siapa?" Tanya Nara balik, tentu saja dengan raut terkejut.
Tanpa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya, tahu-tahu Tama bertanya hal seperti itu. Bagi Nara ini adalah sesuatu yang membuat jantungnya persekian detik seperti lepas dari tempatnya, apalagi membawa-bawa nama Angkasa group.
__ADS_1
"Aku tahu siapa pemiliknya sekarang?"
Nara bergeming sembari membatin.
Apa mas Tama sudah tahu? tapi dari mana dia tahu?
"Na! kenapa diam?"
Untuk ke sekian kalinya Nara menelan ludahnya sendiri dengan setengah mati.
"Kamu pemiliknya saat ini, iya kan?" kata Tama tanpa melepas pandangan dari Nara.
"D-dari mana mas tahu?"
"Itu nggak penting Nara, yang penting sekarang, kamu jelaskan kenapa kamu sembunyikan ini semua dari kami?"
Kedua tangan Nara saling meremat setelah mendengar ucapan Tama.
"Ayo sekarang jelaskan?"
"Enggak bisa di bicarakan lain kali? aku masih bingung mau menjelaskan dari mana" ujar Nara mencoba menghindar.
"Bagian mananya yang membuatmu sulit menjelaskan?"
Hening, Nara masih mengunci rapat mulutnya.
Melihat Nara tak kunjung menjawab,Tama yang semula bersandar dengan kedua tangan saling bersedakap, kini bergerak. Kedua sikunya bertumpu di atas lutut sementara kedua tangan saling bertaut.
Dengan posisinya sekarang, sorot tajam milik Tama terlihat jauh lebih menakutkan.
Napas Nara terembus pelan. "Karena aku,,,,"
Wanita itu tak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri, apalagi ketika melihat Tama mengangkat satu alisnya. Pria itu tak bersuara, tapi dari tatapannya sangat jelas bahwa dia sedang menunggu Naraya menyelesaikan kalimatnya.
Bagi Nara ini terkesan sangat mendadak, ia sama sekali belum mempersiapkan kalimat yang pas untuk menjelaskan semuanya.
"Sekarang kan mas sudah tahu kalau Angkasa masih milik ayah, jadi mas jangan banyak bertanya"
"Apa kamu berhutang pada teman-temanmu?" Jantung Nara rasanya mencelos mendengar suara Tama yang terdengar begitu dekat. Tanpa Nara sadari, sosok Tama kini sudah berdiri tepat di di depannya.
Nara mengangguk. "Aku takut mas dan ayah nggak setuju denganku, dan bukan hanya itu" Tambah Nara reflek.
"Lalu?" Tama mengerutkan kening.
"Malu juga karena harus mencicil dan hutangku banyak"
"Jadi karena itu kamu sampai menyembunyikan ini?"
Kepala Nara mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Tama.
"Turunkan tanganmu dan lihat aku!"
Nara menggeleng cepat. "Bisa nggak kita bahas lain kali saja mas"
Suara Nara teredam sebab wajahnya masih tertutup telapak tangan.
"Kalau kamu lihat mas"
Sepersekian detik Nara menurunkan kedua telapak tangan yang menutupi wajahnya begitu mendengar kalimat Tama. Ia langsung menemukan tubuh sang suami yang berdiri menjulang tepat di hadapannya. Otomatis Nara mendongak agar bisa melihat wajahnya.
"Kenapa malu sama suamimu kalau kamu punya banyak hutang?"
"Mas"
"Apa?" Salah satu ujung alis Tama naik.
"Katanya mau bahas lain kali"
__ADS_1
"Memangnya mas ngomong begitu tadi?" pertanyaan Tama membuat kening Nara mengkerut.
"Mas kan cuma bilang, kalau kamu lihat mas. Tapi belum selesai mas bicara, kamu sudah menurunkan tanganmu dan melihat mas. Siapa yang salah kalau begitu?"
Nara mengerucutkan bibirnya.
"Makannya, biasakan mendengar orang menyelesaikan kalimatnya, baru kamu ambil sikap, kalau sudah begini jangan salahkan orang lain"
Nara menunduk sembari mendengkus pelan. Sepasang netranya menatap sepasang kakinya yang berhadapan dengan kaki sang suami.
"Kenapa nggak ngomong ke kami kalau kamu yang membelinya?"
"Memangnya mas tahu dari mana?"
"Mas yang tanya Naraya, jangan kamu buru-buru bertanya balik saat pertanyaan mas belum kamu jawab.
Kembali Nara menunduk, mengatupkan bibir dengan agak cemberut.
Hening selama beberapa saat. Tama terus menatap Nara yang masih menundukkan kepala. Tak bisa lagi menahan diri untuk diam, akhirnya Nara kembali bersuara.
"Sekarang kan mas sudah tahu, jadi jangan tanya-tanya lagi, lebih baik bantu aku ngomong ke ayah"
"Lihat mas kalau ngomong, kamu nggak ngomong sama kakiku"
Nara menghembuskan napas pelan lalu perlahan mengangkat kepalanya.
"Mau protes apa?" tanya Tama tanpa ekspresi.
"Nggak ada"
"Lain kali jangan sembunyikan apapun dari kami, sebisa mungkin kamu bicarakan, konsultasikan, dan diskusikan sama keluargamu. Dengan begitu, kamu nggak harus menanggung bebanmu sendiri. Apalagi sekarang kamu sedang hamil, jangan sampai kamu stres karena bebanmu yang terlalu berat"
"Iya"
"Iya apa?"
"Bukan apa-apa"
"Kita bicara hampir satu jam, dan kamu bilang bukan apa-apa?"
Entahlah, kali ini Nara merasa takjub pada sang suami yang mampu membuat dirinya tak bisa berkutik. Biasanya, dia selalu menang jika adu debat dengan siapa saja. Tapi dengan suaminya, dia seakan tak pernah bisa mematahkan setiap perkataan Tama. Dia selalu memperoleh skor nol melawan sang suami.
"Nara?" panggil Tama.
"Ya udah mas yang ngomong ke ayah"
"Kenapa bukan kamu sendiri?"
"Mas" desis Nara manja.
"Kamu yang berbuat, jadi kamu yang bertanggung jawab"
"Ya mas cuma bantu ngomong ke ayah aja"
Menggelengkan kepala, Tama berbalik lalu melangkah ke kamar mandi.
"Tidurlah nanti mas pijitin" kata Tama di tengah-tengah langkahnya.
"Tapi mas bantu ngomong ke ayah ya"
"Hmm" jawaban yang singkat dan cukup jelas.
Saat hendak menutup pintu kamar mandi, Tama kembali berkata. "Tapi kamu hutang penjelasan ke mas, nanti kamu ceritakan kenapa bisa memiliki rencana seperti itu dan bagaimana kamu membelinya dari ayah"
Bersambung
Karena sudah tak ada lagi konflik? Semoga dialog mereka di akhir cerita nggak berasa hambar ya, dan tetap ada feelnya. Saya sudah pusing nyusun kata demi kata 😀😀
__ADS_1