Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
72


__ADS_3

Happy reading...


...🌷🌷🌷...


Tiga hari kemudian, saat sore hari, ketika Nara baru saja pulang dari kantor, Terlihat Amara dan daddynya sedang asik bermain di ruang tengah. Tak ada Idris dan Rania sebab di jam-jam seperti ini, mereka sedang pergi jalan-jalan keliling taman komplek dekat rumah.


Begitu menyadari kehadiran Nara, Amara langsung bangkit dan memeluk pinggangnya erat.


"Sudah mandi ya Ra?" Tanyanya setelah mengecup kedua pipi Amara.


Penampilan Amara tampak segar, dengan rambut tipisnya yang tersisir rapi.


"Sudah"


"Mandi sama bik Jum atau sama daddy?"


"Mandi sendiri, di temani daddy"


"Mandi sendiri?" tanya Nara terheran. "Bisa?"


"Bisa, Ara mandinya kayak pas mommy mandiin Ara"


Nara tersenyum dengan satu tangan mengusap puncak kepala putrinya.


Selain bercerita tentang tutorial mandi, Ara juga bercerita tentang kegiatannya di rumah. Nara sempat terkejut ketika Ara menceritakan dengan berbisik tentang guru lesnya yang terus melirik Tama. Ia tak menyangka jika Amara suka mengobservasi guru privatnya yang sengaja Nara undang ke rumah.


"Terus daddynya gimana?, tahu nggak kalau gurunya lirik-lirik daddy?"


"Nggak tahu mom, daddy kan lihat laptop terus"


"Oh" sahut Nara dengan senyum terpaksa. Ia semakin berfikir negatif terhadap Tama yang sudah berulang kali mengurungkan niatnya dalam hal memberikan nafkah batin. Terhitung sudah tiga kali dia menghentikan aktivitasnya dalam menjelajahi tubuhnya, sampai-sampai Nara merasa kesal dengan sikap Tama.


"Oh iya, gara-gara Ara terus mengoceh, mommy sampai lupa belum sun tangan daddy"


Setelah mengatakan itu, Nara menghampiri Tama yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Pria itu segera menyingkirkan ponsel ketika Nara mengulurkan tangan untuk mencium punggung tangannya.


"Aku siapin air hangat buat mandi" Kata Tama setelah mengecup kening Nara lalu bangkit dari duduknya.


Padahal, Nara belum merespon ucapannya, tapi sosoknya tahu-tahu sudah melangkah menaiki tangga.


Tak ada lagi gombalan dari Tama atau kalimat canda yang kerap di lontarkan hanya untuk merayu atau membuatnya tersenyum. Jangankan bercanda, menatap mata Narapun tak bisa ia lakukan lewat dari lima detik.


"Ara disini dulu ya, mommy mau bersih-bersih dulu"


"Iya" sahut Ara mendongak lengkap dengan senyum lucu.


Di dalam kamar, sosok Tama tak terlihat. Sepertinya pria itu masih di kamar mandi menyiapkan air hangat untuk Nara, sebab terdengar suara kran air yang mengucur.


Nara sendiri memilih menyiapkan baju ganti lalu berdiri di depan meja rias membersihkan make up selagi menunggu sang suami keluar.


Tepat ketika ia mengoleskan kapas di wajahnya, Tama muncul dari arah kamar mandi. Sepasang mata mereka sempat bertemu pandang melalui cermin.


Benar-benar tak ada lagi kerlingan jahil dari pria berusia tiga puluh lima tahun itu. Dia justru terkesan menarik diri yang membuat Nara merasa ada yang salah dengan hubungan mereka.


Memutus kontak mata, Nara kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan make up.

__ADS_1


Nara bahkan membatin akan menyelesaikan permasalahan di antara mereka malam ini dan meminta penjelasan tentang sikapnya yang berubah drastis. Namun tak pernah ia duga, saat larut dalam lamunan, tiba-tiba Tama memeluknya dari arah belakang. Tampak dia tengah menyembunyikan wajahnya dengan menempelkan kening di bahu Nara.


"Maaf" lirihnya dengan suara teredam.


Kata yang selalu di ucapkan setelah mereka gagal melakukan hubungan suami istri dan sekalipun tak di respon oleh Nara sebab dia merasa kesal. Ia hanya memalingkan wajah ketika Tama mengucapkan itu. Karena Nara sendiri bingung harus bereaksi seperti apa. Kekecewaan yang dia rasakan entah kenapa sulit untuk di redam, ada ego menguasai terutama ketika teringat saat Tama mendadak berhenti menyentuhnya. Rasanya wanita itu ingin sekali berteriak kalau dia benci dengan kondisi seperti ini. Kondisi dimana dirinya di diamkan oleh dua orang sekaligus dalam satu rumah. Namun, jauh di dalam lubuk hati seolah ada sesuatu yang melarangnya untuk bersikap egois, apalagi ada Amara yang harus dia jaga perasaannya.


"Kenapa?" Tanya Nara sambil meletakan kapas di atas meja rias, lalu mengusap lengan sang suami yang melingkari perutnya.


Mendengar pertanyaan Nara, Tama mengangkat wajahnya, dan mata mereka kembali saling bertemu melalui cermin.


Membalik badan, Nara segera menangkup wajah Tama yang terlihat kuyu.


"Kalau aku ada salah, aku minta maaf" Pungkas Nara dengan kedua ibu jari bergerak lembut mengusap pipinya.


Sejenak Tama seperti tertegun menatap Nara. Pria itu seperti tak percaya dengan apa yang Nara katakan. Nara pun menyadarinya sebab dia juga membalas dengan bersikap acuh padanya.


Hening, mata mereka lekat saling menatap. Setelah hampir satu minggu lamanya, akhirnya mereka bisa melakukan kontak mata seperti ini "Apa aku melakukan kesalahan yang membuat mas tidak bisa memberiku nafkan batin?"


Pertanyaa Nara membuat Tama semakin di selimuti rasa bersalah.


"Jika ada" lanjut Nara bersamaan dengan gerakan kaki yang sedikit berjinjit lalu melingkarkan tangan di leher Tama. "Katakan padaku, kita selesaikan sama-sama"


"Maaf sudah membuatmu kecewa" gumam Tama karena terpaan rasa salah yang kian besar. Sementara Nara tanpa sadar menggigit bibir bawah bagian dalam.


"Mas tahu aku tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini karena memikirkan sikap mas yang dingin tak tersentuh?"


Tampak jelas ada gerakan naik turunnya jakun di leher Tama.


"Aku bingung" imbuh Nara. Ia menjeda kalimatnya sesaat lalu kembali berkata. "Bunda sudah mendiamkanku, di tambah lagi mas juga ikut diam-diam" Nara mengatakannya dengan sangat hati-hati. Mencoba mengungkapkan sedikit apa yang terpendam di hatinya.


"Tapi kenapa?"


Mengurai pelukan, kini giliran Tama menangkup wajah Nara dengan kedua tangannya.


"Jika mas jujur, apa kamu akan marah?"


Jantung Nara seketika mencelos mendengar Tama mengatakan itu. Yang ada dalam pikirannya adalah wanita lain apalagi detik itu juga perkataan Amara tentang guru lesnya tiba-tiba terngiang di telinga.


"Ada apa?" Tangan Nara mendarat di sisi pinggang Tama, menunggu jawaban yang kemungkinan besar akan membuatnya merasa tercubit.


"Soal video itu, entah kenapa tiba-tiba saja selalu terlintas di pikiran mas"


"Mas masih belum percaya bahwa wanita itu bukanlah aku?"


"Bukan begitu" sergah Tama cepat. "Bukannya tidak percaya, hanya saja mas belum bisa lupa dengan video itu"


Pandangan mereka masih beradu saling mengunci.


"Pelan-pelan lupakan itu, aku bersumpah demi mas demi Amara, wanita itu bukan aku"


Tama membuka kancing baju Nara satu persatu, selain membantu melepas pakaian karena akan segera mandi, dia juga ingin memastikan sekali lagi bahwa tak ada tahi lalat di sekitar dada istrinya.


Menimbang-nimbang sesuatu yang mengusik hatinya beberapa hari ini, Nara memutuskan untuk menyuarakan apa yang mengganjal di hati.


"Tapi kenapa mas seperti menjaga jarak dariku?"

__ADS_1


Pertanyaan Nara barusan, membuat gurat sesalnya kian terlihat jelas di wajahnya.


"Karena mas merasa bersalah" jawabnya lalu melepaskan pakaian yang melekat di badan Nara "Mas seperti nggak sanggup melihat wajah kecewamu, itu sebabnya mas nggak berani menatapmu lama-lama. Setelah sekian lama belum bisa membahagiakanmu, mas malah menambah kekecewaanmu, Mas_"


Nara memotong kalimatnya dengan menempelkan jari telunjuk di bibir Tama. Sekian detik kemudian ia memeluknya dan menyembunyikan wajah di dadanya yang bidang.


"Please, jangan ingat lagi video itu, ibu saja sampai meninggal gara-gara fitnah keji itu"


"Mas selalu berusaha keras untuk melupakannya"


"Pelan-pelan saja" sahut Nara sambil mempertemukan kembali sepasang mata mereka.


"By the way, apa kabar guru lesnya Amara?"


Tama mengangkat satu alisnya. "Kenapa memangnya?"


"Mas benar-benar nggak tahu, kalau guru itu suka lirik-lirik mas"


"Tahu" jawab Tama santai. "Tapi mas mengabaikannya"


"Masa si?" ledek Nara. "Tapi kok Amara bilang mas nggak tahu di lirikin sama bu guru cantiknya Amara?"


"Memang mas pura-pura nggak tahu, takutnya nanti salah paham, jadi ya cuek aja?"


"Gitu ya?"


"Kamu beneran nggak marah kan soal mas yang masih belum bisa lupa sama videonya?"


"Enggak, mas mau menolakku sampai dua kali pilkada juga nggak apa-apa"


Bersamaan dengan kalimatnya, sepasang netra Nara melirik ke arah pintu di mana putrinya entah sejak kapan berdiri di sana. Detik itu juga Nara berusaha melepas lingkaran tangan Tama di pinggangnya.


"Kenapa si, katanya nggak marah, kenapa nggak mau di peluk-peluk?" Seloroh Tama keheranan.


"Mas tahu tugas BMKG itu apa?"


"Mendeteksi terjadinya gempa, memprediksi terjadinya tsunami dan musibah alam lainnya, kenapa?"


"Tepat sekali, tapi sayangnya mereka nggak bisa memprediksi kehadiran Amara"


"Amara?" Tama mengerutkan kening.


"Dia ada di ambang pintu"


Persekian detik Tama menoleh ke belakang masih dengan tangan menempel di sisi pinggang Nara.


"S-sayang?"


"Ara senang lihat daddy peluk-peluk mommy. Mita sering bilang kalau papa Aksa dan mama Sasa juga suka peluk-pelukan. Kata kak Ita tandanya sayang. Soalnya kak ita juga sering lihat papa Setya peluk mama Anya"


Tama terpaku mendengar ucapan Amara, sementara Nara pergi begitu saja memasuki kamar mandi.


*****


Bongkar besok yukk rahasia Rania dan Idris. 😀😀

__ADS_1


Selamat malam... 😉


__ADS_2