
Sudah hampir larut malam ketiga wanita karir masih berkutat di dalam ruangan meeting. Nara, Khansa serta Anita sedang membahas mengenai mesin perusahaan yang telah rusak dan butuh perawatan khusus.
Mereka tengah menimbang-nimbang apakah harus merepair atau membeli perlatan produksi perusahaan dengan yang baru.
Angkasa group yang sudah di beli oleh Nara CS dengan bantuan Meira dan Hilda yang menyamar sebagai pembeli, saat ini perlahan mulai menemukan investor baru.
Idris sendiri tidak tahu jika pembeli perusahaannya adalah menantu dan teman-temannya. Yang dia tahu, pemilik Angkasa group saat ini adalah dua wanita asing yang tak di kenalinya.
"Ara gimana?" Tanya Khansa tanpa melihat Nara. Pandangannya kini terfokuskan ke arah layar laptop yang menyala terang.
"Dia baik, tapi harus istirahat total. Nggak boleh terlalu lelah"
"Ya itu pasti, dia kan baru saja operasi"
"Hmm" sahut Nara singkat.
"Terus gimana sikap ibu mertuamu?"
Mata hazel Nara yang tadinya menatap buku, kini memindainya mencari netra Anita.
"Entahlah" Nara menutup buku yang sedang di bacanya. "Aku seperti serba salah"
Mendengar jawabannya, Anita dan Khansa kompak menatap Nara.
"Serba salah gimana?" Tanya Anita.
"Dia masih dingin, seolah masih belum bisa menerimaku, dia seperti nggak terima jika aku terlalu menelantarkan anak dan cucunya karena pekerjaanku. Dia juga marah ketika aku memanggilnya Bu, bukan bunda"
"Mungkin dia masih gengsi kali, secara tersirat, dia pengin di panggil bunda sama kamu"
Nara dan Anita melirik Khansa secara bersamaan. "Dia kalah telak sama kamu Na, dia ingin meminta maaf tapi gengsinya terlalu gede" sambung Khansa mantap.
Nara hanya mengangguk sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat
"Terus gimana rencana remeried kamu sama mas Tama?" Tanya Anita lagi.
"Mungkin minggu-minggu depan, toh cuma ijab saja kan, nggak ada yang harus di persiapkan"
"Semoga kali ini Rania merestui pernikahan kalian"
"Aamiin"
Mereka kembali fokus dengan deadlinenya masing-masing. Hingga lewat beberapa menit, Nara kembali bersuara.
"Ayah mertuaku belum tahu kan, kalau saat ini Angkasa sudah menjadi milik kita?"
"Jelas enggak Na, beliau tahunya Meira dan Hilda pemiliknya, beliau juga nggak tahu kalau mereka adikku dan adiknya Anita"
"Terus sampai kapan kamu sembunyikan ini dari mereka"
"Nanti kalau Angkasa sudah ganti nama. Sekarang kita fokus saja untuk mengembangkan perusahaan ini" Nara menjawab pertanyaan Anita.
"Assalamualaikum"
Tiba-tiba terdengar suara salam dari seorang pria memotong pembicaraan mereka.
"Waalaikumsalam" jawab ketiganya sembari mengulas senyum.
"Wah, Anita udah di jemput, artinya sudah malam" celetuk Nara meledek.
"Abang nggak cuma jemput Tata, tapi juga jemput kalian"
Emir mengatakannya seraya berjalan ke arah Anita, menarik kursi lalu duduk.
"Ini sudah malam, memangnya nggak ada hari esok?"
"Lagi tanggung bang" jawab Khansa cuek. "Abang aja yang jemputnya kesorean"
"Setengah sepuluh kamu bilang masih sore?, kalian nggak ingat anak di rumah?"
"Mereka sama daddynya bang"
"Nggak usah banyak protes, sekarang kemasi barang-barang kalian, kita pulang"
__ADS_1
"Udah deh ngalah aja, kalau udah menyangkut anak, aku ngga bisa protes" Sahut Nara sembari merapikan kertas-kertas di atas meja.
Usai mengemasi barang-barangnya, mereka kompak melangkah menuju area parkir.
****
Emir lebih dulu mengantar Nara ke rumah mertuanya. Begitu sampai, dia langsung membuka pintu mobil lalu keluar setelah berpamitan pada kedua temannya.
"Makasih bang" ucap Nara sedikit membungkukan badan.
"Ok. Langsung pulang Na, salam buat Tama sama Ara"
"Ok. Hati-hati"
Sebelum memutar roda kemudi untuk putar balik, Emir membunyikan klakson sementara Nara mengangguk meresponnya. Mobil itu perlahan menjauh hingga mengecil dari pandangan Nara yang masih berdiri di depan pintu gerbang. Ia bergegas masuk setelah mobil itu benar-benar menghilang tak terlihat.____
Belum sempat mengetuk pintu utama, Bik jum sudah lebih dulu membukanya. Sepertinya dia tahu bahwa Naralah yang pulang ketika mendengar suara deru mobil dari arah depan rumah.
"Assalamu'alaikum bik"
"Waalaikumsalam"
"Sudah pada tidur ya bik?"
"Sepertinya sudah non, mereka sudah di kamar masing-masing"
"Kamar mas Tama yang mana bik?"
"Ada di atas non" Sahutnya sambil mengangkat tangan menunjuk tangga.
Nara memang belum tahu dimana letak kamar Tama, sebab ini pertama kali dia akan memasuki kamarnya.
"Kamar deretan nomor dua dari tangga non"
Nara mengangguk lengkap dengan bibir tersungging.
"Nona sudah makan malam?"
"Sudah. Saya langsung naik ya bik"
Menghirup napas pelan, ia melangkah menaiki anak tangga hingga tiba di depan pintu kamar.
"Assalamualaikum" ucap Nara ketika membuka pintu yang tak terkunci.
Hening, tak ada jawaban dari Tama. Nara mengedarkan pandangan keseluruh sudut kamar, namun tak ada Tama di sana. Hanya ada Amara yang sudah tertidur dengan pulasnya.
Pelan, ia menutup pintunya kembali lalu menoleh ke samping kiri. Sosok pria tengah berdiri sembari memainkan asap rokok di sebuah balkon tertangkap oleh netranya.
"Mas Tama" lirih Nara lalu berjalan beberapa langkah sebelum kemudian menggeser pintu kaca yang menghubungkan ruang kamar dengan balkon.
Mendengar suara pintu, Tama langsung menoleh ke belakang, detik berikutnya mematikan rokok yang masih agak panjang dengan menekan ujung bara pada teralis besi.
"Sudah pulang?" tanynya lalu mengeluarkan tangan dari saku celana dan menerima uluran tangan Nara.
"Sudah"
"Pulang sendiri?"
"Di antar bang Emir sama Anita, Khansa"
"Sudah makan?"
"Sudah" Jawab Nara. "Mas sudah makan?"
"Sudah"
"Sudah mandi?"
Tama menggeleng. "Kamu mandi dulu"
"Apa Ara nakal?" Alih-alih mengiyakan perintah sang suami, Nara justru menanyakan perihal Amara.
"Enggak"
__ADS_1
"Dia merepotkan mas?"
"Apa sebagai orang tua merasa di repotkan oleh anaknya sendiri?" Tama balik bertanya. Tangannya mengusap belakang kepala Nara. "Mandilah setelah itu istirahat"
Baru saja Nara melangkah sekitar tiga langkah, Tama memanggilanya.
"Iya?" Nara menoleh.
"Aku sudah menyiapkan semuanya, dua hari lagi kita menikah"
Nara bergeming sambil menatap Tama penuh lekat.
"Kok diam? kamu ngga mau menikah lagi denganku?"
"Bunda gimana?"
"Dia merestui kita Na"
Menelan ludah, Nara mengeratkan rahangnya.
"Papa sudah tahu?"
"Jelas sudah, beliau yang akan menjadi walimu, bahkan beliaulah yang pertama ku mintai ijin"
"Okey" sahut Nara singkat.
Mereka tersenyum dalam diam dan saling bertukar pandang. Hingga lewat bermenit-menit, tiba-tiba tangan Tama terulur lalu meraih tangan Nara dan menariknya hingga menempel ke tubuhnya. Tangan Tama melingkar di pinggang sang istri.
Dengan jarak sedekat ini, aroma rokok tercium kuat di penciuaman Nara membuatnya mengerutkan hidung.
"Kenapa?" tanya Tama saat menyadari Nara dengan raut berbeda.
"Jangan dekati Ara saat mas bau rokok seperti ini"
Tama langsung menempelkan hidung pada lengan kaos setelah Nara mengatakan itu, lalu membaui tubuhnya.
"Aku baru saja merokok tadi"
"Tapi asapnya sudah menempel di kaos mas"
"Ok aku minta maaf"
"Sekarang lepaskan aku"
"Beri satu kecupan, setelah itu aku akan melepaskanmu"
Sempat ragu, akhirnya Narapun melakukannya. Ia mengecup bibir Tama.
Ketika hendak mengurai, Tama justru menahannya lalu menggingitnya lembut. Reflek Nara membuka mulutnya dan detik itu juga pria itu menelusupkan lidahnya. Ciuman yang sudah lama tidak mereka lakukan, membuatnya seketika hanyut dan melupakan segalanya.
"Jangan pikirkan apapun, mengerti?" kata Tama setelah melepas tautan bibir mereka. "Kita akan mulai dari awal, tidak peduli bunda setuju atau tidak, yang jelas saat aku meminta ijinnya untuk menikahimu lagi, dia menganggukkan kepala"
"Mas benar-benar masih mencintaiku?"
Tama merespon dengan bahasa tubuh. Anggukan kepalanya cukup membuat Nara paham dengan jawabannya.
"Kamu sendiri?" tanya Tama balik.
"Masih, bahkan semakin besar"
Tama tersenyum sebelum kemudian kembali mencium bibir Nara usai mendengar jawabannya, memberikan lum*atan lembut dan luwes hingga lewat bermenit-menit.
"Daddy sama mommy ngapain?"
Persekian detik, bibir mereka terlepas. Tama dan Nara sama-sama menjauhkan diri tepat ketika mendengar suara parau dari sang putri.
"Bibir makan bibir? gimana rasanya mom?"
Pertanyaan Amara bagaikan tamparan keras untuk Nara. Dia membatu sembari mencerna kembali pertanyaan putrinya. Berusaha keras memikirkan jawaban yang pas agar bisa di mengerti oleh anak yang belum genap berusia tujuh tahun.
****
Apa kabar???
__ADS_1
Gimana kabar?? empat hari break, eh kesenengan. penginnya break terus dan berhenti up. 😀😀