
"Kita akan tinggal bersama Na, kalau kamu merasa nggak nyaman dengan bunda, nanti kita bisa cari kontrakan dulu"
"Bukan soal nyaman atau nggak nyaman, tapi aku mau kita nikah ulang, dengan restu bunda"
"Kita masih suami istri, kita juga akan nikah ulang, nggak apa-apa kalau tinggal satu rumah, lagi pula" Tambah Tama melirik Amara yang tengah mengerjap sembari mendengarkan kedua orang tuanya bicara. "Meskipun selama ini kita tinggal satu atap, aku masih bisa menahannya kan?"
"Tujuh tahun kita nggak sama-sama, rasanya aneh" kata Nara lalu mengatupkan bibir sejenak, sebelum kemudian kembali bersuara. "Aku mau bunda menerima pernikahan kita kali ini"
"Daddy bisa nahan apa?" tanya Amara polos. Membuat Tama dan Nara persekian detik menoleh ke arahnya.
"Daddy?" Cicit Tama gugup menatap putrinya.
Sementara Nara mengalihkan pandangan lalu mendelikan mata tajam ke wajah Tama yang tampak menelan saliva.
"Iya daddy bisa nahan apa?"
"Na-nahan napas" ucap Nara spontan.
"Nahan napas?" ulang Amara lalu melirik kedua orang tuanya bergantian.
"Iya nahan napas sayang" Tama terbata saat mengatakan itu"Ara sudah siap naik pesawat?" Tambahnya ia mencoba mengalihkan topik.
"Sudah dong, malah udah nggak sabar pengin cepat-cepat sampai dan ketemu omma, terus kasih semangat buat oma biar cepat bisa jalan"
"Anak pintar" Tama mengusap kepala Amara lengkap dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Ganti baju dulu ya"
"Iya mom"
Sembari membantu Amara mengenakan baju, pikiran Nara seolah di penuhi oleh sikap Rania saat dulu. Dia sendiri sebenarnya belum siap jika harus tinggal satu rumah dengan sang mertua. Ketakutan akan kebencian Rania padanya masih belum hilang sampai sekarang. Mengingat saat dirinya berpamitan sehari sebelum kembali ke Singapura dua minggu lalu, sikap Rania masih datar dan dingin tak tersentuh. Memang ia sudah mau menerima uluran tangan Nara ketika hendak mencium punggung tangannya, namun dari raut wajahnya yang masam, Nara berfikir jika wanita paruh baya itu masih setengah hati menerima kembali kehadiran Nara ke dalam keluarga Nalendra.
Bahkan, dia sama sekali tak mengucapkan terimakasih pada Nara ketika menyelamatkannya dari jeratan hukum karena fitnah Shella. Meski Idris dan Tama berulang kali mengucapkan itu, namun Nara sangat berharap jika Rania sendirilah yang mengucapkan kata terimakasih.
Sampai ketika mereka keluar dari rumah sakit setelah membayar biaya rumah sakit yang cukup fantastis, Tama menggendong Amara menuju tempat pemberhentian taxi berniat menuju bandara. Nara yang berada di belakangnya menarik koper berisi perlengkapan mereka selama tinggal di Singapura.
"Dari tadi kamu diam-diam terus, kenapa?" Tanya Tama ketika sudah berada di dalam taxi.
"Nggak ada apa-apa mas"
"Kamu nggak bisa bohong sama aku Na, jadi jangan sekali-kali kamu membohongiku"
"Hmm" Tama menunduk menatap Amara yang tahu-tahu memejamkan mata di atas pangkuannya.
"Apa bunda terganggu dengan kehadiranku dan Ara?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?"
Mengatupkan bibir, Nara tak bisa menjawab pertanyaan suaminya.
"Nggak ada alasan buat bunda merasa terganggu, jika memang iya, aku yang akan keluar dari rumah dan akan cari kontrakan untuk kita tinggal bertiga"
__ADS_1
"Ngapain cari kontrakan, rumah papa juga cukup besar untuk menampung kita?"
"Kamu mau mempermalukan suamimu di depan papa?"
Pandangan Nara yang tadinya mengarah ke luar jendela di sebelah kiri, kini beralih ke kanan untuk mencari netra milik Tama.
"Mempermalukan gimana maksudnya?"
"Dengan tinggal di rumah papa, aku merasa malu dan nggak enak. Sebagai suami harusnya cari rumah buat istri serta anaknya kan?"
"Rumah itu juga rumahku, kenapa merasa nggak enak? justru kalau bisa papa pengin kita tinggal dengannya"
"Kita pikirkan nanti ya, yang pasti, setelah kita nikah lagi, aku akan bawa kamu dan Ara tinggal di rumah ayah, kita jalani dulu di sana, nanti kalau kamu merasa nggak nyaman sama bunda, kita coba pindah"
"Aku ngikut mas saja"
"Makasih ya, dan maaf kalau bunda sudah jahat sama kamu"
Nara mengangguk meski dalam hatinya ia menghitung satu persatu sikap Rania yang menyakiti hatinya.
Tak terhitung
Nara menggeleng tanpa sepengetahuan Tama.
Setibanya di bandara, Tama, Nara dan Amara langsung menuju gate keberangkatan. Setelah menunggu hampir satu jam, mereka harus melalui satu proses pemeriksaan lagi sebelum menaiki pesawat. Petugas cabin crew yang berdiri di bagian lorong pintu masuk pesawat, memeriksa tiketnya masing-masing.
__ADS_1
Mereka akan melakukan perjalanan udara selama kurang lebih dua jam dari Changi airport Spore menuju ke International airport di Jakarta.
____