Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
83


__ADS_3

"Assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, mommy" Amara langsung berlari menghampiri Nara yang tengah berjalan menuju ruang tengah.


Anak itu meraih tangan Nara untuk di kecup. Nara membalasnya dengan kecupan di pipi dan kening Amara.


"Amara lagi apa?"


"Lagi belajar sama bu guru"


"Sudah selesai?"


"Belum, kata bu guru sebentar lagi"


"Okey" Ibu dan anak itu melangkah menghampiri Rania yang tetap duduk di kursi roda menemani sang guru.


"Assalamualaikum bun"


"Waalaikumsalam" Jawab Rania bersamaan dengan Nara yang mengecup punggung tangannya. "Biasanya pulang jam lima Na"


"Iya bun, soalnya kan mas Tama nggak di rumah, dia nyuruh aku pulang cepat biar bisa temani Ara"


"Oh gitu, ya sudah ganti baju dulu"


"Iya" sahutnya lalu mengalihkan pandangan pada guru privat Amara yang tengah menunduk. "Oh ya mbak Esti, ini tadi saya beli chesse cake dua kotak, nanti satu kotak mbak bawa pulang ya"


"Buat saya bu?"


"Iya mbak"


"Makasih bu"


"Sama-sama" Nara tersenyum lalu kembali menoleh ke wajah Rania. "Aku naik dulu bun"


Rania merespon dengan menganggukkan kepala.


"Mommy ganti baju dulu ya Ra"


"Iya mom"


Sebelum melangkah, Nara sempat mengusap puncak kepala Amara.


Sembari berjalan menuju kamar, Nara mengeluarkan gawainya lalu menghubungi Tama.


"Sudah pulang?" Tanya Tama setelah sebelumnya mengucapkan salam melalui sambungan telfon.


"Sudah mas, baru saja sampai"


"Pulang naik apa?"


"Di antar mas Aldi"


"Maksud kamu Aldika?"


"Iya siapa lagi" Satu tangan Nara membuka pintu kamar, sementara tangan lainnya masih memegangi ponsel yang menempel di telinga kanan.


"Kok sama dia?"


"Kenapa memangnya?"


"Kemana saja dia, nggak ada kabar"


"Dia sibuk mas, sangat sibuk"


"Kok kamu tahu"


"Y-ya mas Aldi yang crita tadi, katanya sibuk"


"Sibuk di angkasa group dengan pemilik baru?"


"Iya mungkin"

__ADS_1


Memang begitulah kabar yang sempat Tama dengar dari Idris jika Aldika di minta untuk tetap tinggal membantu menghandel Angkasa oleh pemilik barunya.


"Nanti pulang jam berapa?"


"Belum tahu Na"


Nara mengatupkan bibir setelah mendengar jawaban Tama. "Kalau bisa sebelum makan malam ya"


"Nanti di usahain ya"


"Hmm"


"Ngomong-ngomong putri kita lagi ngapain?"


"Lagi ada privat"


"Bu guru cantiknya gimana, ada nyariin mas?"


"Nanti aku tanyakan ke ibu gurunya"


Dari balik telfon, Tama terkekeh geli mendengar betapa ketusnya nada suara Nara.


"Apa mau sekalian nitip salam?"


"Salamnya buat mommynya Ara saja" Sahut Tama di sela-sela tawanya.


Setelah mengatakan itu, mereka sama-sama diam sampai ketika terdengar suara Amara memanggil. Reflek Nara menoleh ke belakang.


"Mommy" Anak itu setengah berlari ke arah meja rias dimana sang mommy tengah duduk di kursi rias. "Mommy belum ganti baju?"


"Belum, ini mommy lagi bicara sama daddy"


"Itu daddy? Ara mau bicara juga sama daddy"


Hening beberapa detik.


"Assalamualaikum, daddy"


"Waalaikumsalam, Ara"


"Ara mau kasih makan? enggak takut?"


"Kan di temani sama mommy, kata opa nggak sakit kalau burungnya gigit, jadi Ara nggak takut-takut. Burungnya juga lucu, kalau Ara ngomong, burungnya ikut-ikut ngomong"


Senyum Tama melebar mendengar suara antusias Amara. "Hati-hati ya jangan lari-larian biar nggak jatuh"


"Iya" sahut Amara patuh. "Daddy"


"Iya Nak?"


"Ara kangen sama daddy, mau main-main lagi kayak kemarin-kemarin sama daddy"


Rasanya hati Tama menghangat mendengar ucapan Amara barusan. Padahal baru hari ini pasca Amara keluar dari rumah sakit Tama tidak menemaninya, tapi anak itu sudah merindukan bermain dengannya. Sesuatu yang selama ini mereka lakukan bersama saat di rumah. Bagi Tama di balik dia tidak lagi mengurus Angkasa, membuat dirinya memliki banyak waktu luang bersama putri kandungnya untuk bermain apa saja termasuk menemaninya les.


"Nanti kalau daddy pulang, Ara tunjukin burungnya ke daddy ya" Kata Tama setelah hening beberapa saat.


"Iya dad"


"Pamit sama daddy nak, kita turun temani opa sama oma" ucap Nara pada Amara yang masih bisa terdengar oleh Tama.


"Daddy, Ara mau temani opa sama oma dulu ya, mau kasih makan burung"


"Iya" sahut Tama mengulas senyum, meski Amara tak bisa melihat senyumnya. "Have fun selalu ya Nak" sambung Tama.


"Iya, Assalamualaikum daddy"


"Waalaikumsalam"


"Sudah dulu ya mas" sambung Nara setelah mengambil alih kembali ponselnya. "mas Hati-hati"


****

__ADS_1


"Bang, kayaknya untuk grand opening kemungkinan di undur" Kata Daffa di ruang meeting. Plaza dengan ukuran luas dan berlantai empat, menggunankan lantai teratas untuk kantor Tama dan beberapa karyawannya nanti.


"Tidak apa-apa Daf kalau opening kita bisa menarik perhatian mereka, kita undur saja, kita persiapkan semaksimal mungkin agar mereka penasaran dan akhirnya antusias untuk berkunjung kemari"


"Iya bang kita bisa pakai lantai dasar tepat di pintu masuk untuk di hias sesuai dengan tema yang sudah kita pilih"


"Kamu urus semuanya"


"Siap bang"


"Oh ya Daffa" potong Tama cepat. "Kuliahmu tidak terganggu kan?"


"Tidak bang, aku sudah selesai kuliah, skripsi juga sudah kelar, tinggal nunggu waktu sidang terus wisuda"


"Okey, semoga sidangmu nanti lancar, dan bisa lulus dengan predikat cumlaude"


"Aamin, makasih bang"


Tama mengangguk. "Tetap bantu abang mengelola plaza"


"Itu pasti bang"


kedua pria itu sama-sama tersenyum.


Di rumah,


Nara tengah membuat kudapan untuk Mertua dan anaknya yang kini sedang berada di taman samping rumah.


Di tengah-tengah aktivitasnya, Nara kembali membahas soal kerabat bik Jum yang akan bekerja di rumahnya. Karena kondisi keuangan mereka sudah mulai stabil, Tama serta Nara berniat mencari satu orang satpam dan satu ART untuk membantu bik Jum menghandel pekerjaan rumah.


Untuk ART Tama memang menyerahkannya ke sang istri sementara dirinya yang mencari satpam.


"Strowberry and mango yoghurt trifle sudah siap" ucap Nara setelah kembali bergabung dengan membawa nampan berisi empat gelas kudapan yang dia buat.


"Woow" respon Idris dan juga Amara dengan mata membola.


"Ini buat opa" Nara menyerahkan satu cup ke tangan Idris. "Ini buat oma" kali ini ke Rania. "Dan ini, untuk little princes di rumah opa"


"Makasih mommy"


"Sama-sama sayang, dan yang terakhir untuk mommy"


"Asam manis Na, seger" kata Idris setelah mencoba satu suap.


"Bener yah, ini enak cocok sama cuacanya yang lagi panas" tambah Rania.


Nara tersenyum merespon pujian sang mertua.


"Ara suka strowberry"


"Di habisin ya Nak" kata Nara sambil mengusap belakang kepalanya.


Beberapa menit berlalu, Idris dan Rania pergi hendak ke toilet.


"Ra, tadi bu gurunya gimana pas ngajarin Ara baca?"


"Nggak gimana-gimana mom. Kita belajar sambil main-main, bercanda juga. Tadi bu guru juga nanyain daddy"


"Nanyain daddy?"


Amara mengerjap lengkap dengan anggukan kepala sambil menikmati kudapan.


"Nanyanya gimana?"


"Daddy kemana kok nggak temani Ara, gitu mom"


"Terus Ara jawab apa?"


"Ara jawabnya daddy lagi kerja"


"Ada nanya lain-lain lagi?" tanya Nara menyelidik. Diam-diam wanita itu tengah mengobservasi sang putri.

__ADS_1


"Nggak nanyain apa-apa lagi mom"


Bersambung...


__ADS_2