
Happy Reading,,,
Mereka bergeming dengan pikiran masing-masing hingga lebih dari lima belas menit.
"Kamu bilang Ara tidak tahu seperti apa wajahku" Kata Tama setelah menurunkan kedua tangan dari wajahnya. "Tapi tadi dia tidak terkejut sama sekali, justru dia langsung mengenaliku sabagai daddynya"
"Dari mana dia tahu?" Nara merasa heran. "Aku benar-benar belum pernah memberitahunya. Aku hanya memberitahu wajah ayah dan bunda"
Tama menoleh ke arah kanan, menatap salah satu sisi wajah Nara dari samping.
"Kenapa kamu tidak memberitahu seperti apa daddynya?"
"Aku,,," Nara menggantung kalimatnya sebab Tama buru-buru memenggalnya.
"Mungkin filling seorang anak. Seperti Amara yang selalu bermimpi bertemu denganku, Amara juga sering datang ke dalam mimpiku" Tama kembali memusatkan perhatian lurus ke depan.
"Dia memang sering mimpi bertemu dengan daddy, ibu, dan juga ayah bunda. Tadinya aku tidak berniat kembali pada keluarga Nalendra, tapi karena Amara ingin bertemu daddy di akhir hidupnya, dan aku ingin memenuhi permintaan terakhirnya, jadi aku membawanya kembali ke Indonesia"
Tama tercenung mendengar ucapan Nara.
"Kamu tidak ingin kembali padaku Na?"
Tak ada respon dari Nara. Yang ia lakukan hanyalah diam dengan tatapan lurus sembari menunggu Tama kembali bersuara.
"Aku sangat menyesal kenapa tidak mencari kalian dari dulu, padahal aku masih mencintaimu bahkan sampai detik ini, tapi Amarah dan kecewa itu sudah menguasai diriku sampai aku menganggapmu mengkhianatiku dan pergi dengan dokter Emir, apalagi ketika bunda bercerita jika Emir adalah suamimu dan Amara memanggil Emir dengan sebutan papa"
Nara menggeleng seraya tersenyum kecut.
"Bukan hanya bang Emir, tapi mas Aksa, bang Azam, dan mas Setya juga papanya" Nara mengatakannya dengan pandangan tertunduk, menatap jemari tangan yang saling bertaut. "Dia memiliki banyak papa, tapi hanya punya satu daddy"
Tama mengangguk faham. "Sedekat itu hubunganmu dengan para sahabatmu?"
"Bahkan sangat dekat, orang tua mereka juga seperti orang tuaku, mereka adalah sesuatu yang selalu aku syukuri, selalu ada setiap kali aku membutuhkan mereka"
"Aku akan meminta maaf sudah berprasangka buruk pada mereka"
"Tidak perlu, aku tahu mas begitu karena dorongan dari seseorang"
"Dan orang itu adalah bunda" Potong Tama cepat. "Bunda selalu melarangku ketika akan mencarimu dan selalu mengatakan kamu sudah hamil dengan pria di video itu"
"Itu sebabnya mas mengurungkan niat mas untuk mencariku?"
Anggukan kepala Tama membuatnya merasakan nyeri. Bukan karena apapun, tapi karena Tama masih mempercayai video itu.
"Video itu bukan aku, memang itu di apartemen mas, tapi demi Amara aku bersumpah, aku benar-benar tak pernah melakukan hal menjijikan itu"
"Suatu saat aku pasti tahu siapa yang memfitnahmu Nara, aku akan mencari tahu siapa si pembuat video itu, aku janji akan membersihkan namamu di depan ayah dan bunda"
"Apa yang akan mas lakukan jika bundalah yang membuatnya?"
"Bunda?" Respon Tama sembari menoleh, pandangan merekapun kembali bertemu.
"Siapa lagi yang memiliki kunci apartemen selain kita, bunda dan Ayah?"
Tama tertegun dengan kalimat Nara. Tatapannya kian dalam berusaha mencari maksud atas ucapan lawan bicaranya.
'Benar sekali yang dikatakannya, jika bukan Nara, lantas siapa lagi kalau bukan bunda ataupun ayah?'
'Seperti ucapan Dika, hanya bunda yang tidak menyetujui hubunganku dengan Nara'
'Mungkinkah bunda?'
"Apa yang akan mas lakukan jika itu bunda?" Nara mengulang pertanyaannya yang belum terjawab.
"Aku tidak akan menemuinya sampai aku benar-benar memaafkannya" Sahut Tama tanpa memutus kontak mata mereka.
"Dia ibu yang melahirkan mas, jangan terlalu lama marah padanya_"
Menghela napas, sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya. "Ini sudah waktunya makan malam, mas mau makan apa?"
Pria itu melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Makananku masih sama seperti yang dulu Na"
"Aku akan mencari makanan, mas tunggu di sini" wanita itu berdiri.
"Kita pergi sama-sama"
"Tapi Amara?"
"Ada suster yang menjaganya" Tama ikut berdiri lalu sama-sama menoleh ke arah kaca.
Tampak Amara masih membuka mata dan melihat kedua orang tuanya lalu menyunggingkan senyum.
"Daddy sama mommy mau makan dulu sayang" kata Tama dengan bahasa isyarat sambil menggerakan tangan seolah menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Iya daddy" Amara menjawab seraya mengangguk pelan.
"Dada" kali ini Tama sambil menggoyangkan tangannya seperti melambai kecil.
"Dada daddy mommy"
"Mmuachh" Pria itu melempar kissbye pada gadis kecilnya sebelum pergi.
Baru melangkah beberapa langkah, mereka berpapasan dengan seorang suster yang memang sengaja akan menemui mereka.
"Maaf, dengan orang tua Amara?"
"Iya suster" jawab Tama.
"Anda mau kemana?"
"Kami akan pergi makan malam sebentar"
"Oh baiklah, kami akan menunggu, setelah itu segera hubungi kami, karena kami akan melakukan pemeriksaan terhadap Gautama Nalendra selaku ayah Amara"
"Baik suster"
****
__ADS_1
Usai makan malam yang berlangsung dengan hening serta kecanggungan, Tama langsung melakukan pemeriksaan sesuai dengan arahan para suster dan dokter ahli di bidangnya. Sementara Nara menunggu di depan ruang ICU. Sambil terus melantunkan doa, agar semua urusan bisa berjalan lancar dan mendapatkan hasil pemeriksaan yang sesuai dengan harapan.
Pikiran Nara melayang pada nasehat sang ibu sewaktu masih hidup.
'Ingat Nana! teruslah berdoa karena tidak ada do'a yang tidak di kabulkan. Tetaplah berdoa meskipun kondisi hidup tidak sedang baik-baik saja'
"Aku harus yakin dengan do'aku"
Nara bangkit lalu kembali mengintip Amara yang sepertinya sudah terlelap.
Ketika ekor matanya melirik arloji di pergelangan tangan, jam sudah menunjuk hampir di angka sepuluh waktu Singapura.
Dengan cemas dia menunggu Tama yang sudah hampir satu jam melakukan pemeriksaan. Hingga beberapa menit berlalu, Tama kembali dengan raut yang sama sekali tidak bisa di artikan.
"M-mas, bagaimana?" tanya Nara gugup di sertai debaran jantung yang kian kencang.
"Hasilnya tidak akan langsung keluar Nara?" sahut Tama tenang. "Sampel sumsum tulang yang sudah diambil, selanjutnya akan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis. Dokter akan memberitahukan hasilnya dalam beberapa hari"
"Lantas berapa lama?"
"Sabar ya" ujarnya tersenyum berusaha menenangkan, dengan pandangan mereka yang saling beradu. "Kita berdoa saja semoga hasilnya cocok, dan anak kita sembuh"
"Pak, bu" panggilan dari suster membuat mereka memutuskan kontak mata.
"Sebentar lagi masa observasi berakhir, pasien akan kembali di pindahkan ke ruang perawatan. Ibu dan bapak bisa menunggu di bangsalnya"
"Baik suster, terimakasih" jawab Tama dengan bibir mengulas senyum.
Usai mengatakan itu, Tama mengajak Nara untuk pergi ke ruang VIP tempat Amara.
Sesampainya di kamar, kecanggungan kembali menghampiri mereka. Hampir tujuh tahun berpisah, membuatnya bak orang asing yang baru saja saling mengenal. Sepertinya, mereka telah melupakan statusnya sebagai suami istri.
"Mas/Na"
Mereka sama-sama memanggil nyaris bersamaan dengan perasaan grogi.
"I-iya" Kata Nara gugup.
"Kamu mau ngomong apa?"
"Mmm, Mas silakan mandi terlebih dulu!"
"Kamu duluan saja Na"
"Oke, a-aku akan mandi dulu"
Nara dan Tama sama-sama menghampiri koper mereka masing-masing, Sesekali saling melirik, dan pandanganpun langsung bersirobok yang membuat mereka kian salah tingkah.
Pemandangan yang miris bagi Nara. Pria itu, menyiapkan pakaiannya sendiri, membuat Nara begitu ingin mendekat dan membantunya mempersiapkan baju ganti untuknya, namun rasa canggung seakan lebih menguasai dirinya.
"Mas, aku masuk dulu"
"Iya"
Wanita itu berjalan ke arah kamar mandi.
Entah berapa lama Nara menghabiskan waktu untuk mandi, yang pasti ketika selesai membersihkan diri dan ketika membuka pintu, sepasang netranya menangkap sosok Tama tengah duduk di kursi sembari mengusap kepala Amara yang tahu-tahu sudah berbaring di ranjang.
Perlahan Nara melangkah mendekat, mengikis jarak sebelum kemudian dengan ragu menyentuh pundak Tama.
"Mas"
"I-iya Na!"
"Mas bisa mandi sekarang, setelah itu istirahatlah, mas pasti capek"
Tama mengangguk dan sebelum melangkah, pria itu berkata. "Sudah malam, tidurlah di tempat tidur, aku akan tidur di sofa"
"Kenapa harus di sofa? biar aku yang di sofa, dan mas di kasur. Lagi pula aku sudah terbiasa tidur di sofa rumah sakit"
"Jangan membantah, tidurlah di kasur!" Tanpa menunggu jawaban Nara, Tama langsung berbalik, kemudian melangkah menuju kamar mandi.
****
Pagi hari setelah sarapan, Tama yang membawa serta laptopnya, sudah berkutat dengan pekerjaan kantor yang ia kerjakan melalui jaringan. Ada beberapa laporan masuk ke emailnya mengenai urusan pekerjaan.
Tepat ketika Nara sedang menyeduh teh mint kesukaannya, dia melihat Tama tengah menggerak-gerakkan kepala, sesekali tangannya memijit bagian tengkuk.
"Mas Tama pasti kesulitan tidur semalam"
"Tehnya mas" Nara meletakannya di atas meja.
"Iya" jawabnya tanpa melihat Nara, pandangannya lurus ke layar monitor.
"Mom!"
"Iya Nak?"
"Ara boleh duduk?"
"Boleh" Sahut Nara sambil melangkah ke arah ranjang. "Tapi nggak boleh duduk lama-lama ya?"
"Enggak, sebentar aja mommy"
"Ok mommy bantu duduk"
"Daddy sibuk banyak-banyak ya mom?"
"Iya sayang"
"Cari uang buat Ara?"
"Iya"
"Kalau gitu mommy nggak usah kerja, kan sudah ada daddy, jadinya mommy temani Ara aja yang lama-lama"
"Oke Ara sayang" Sahutnya dengan senyum terkembang.
"Lagi ngomongin apa?" tanya Tama yang tiba-tiba ikut nimbrung dalam pembicaraan Anak dan istrinya.
__ADS_1
"Lagi ngomong mommy supaya enggak kerja, kan sudah ada daddy yang kerja cari uang, iya kan mom?"
Nara tersenyum...
Duduk bersebelahan, membuat Nara kikuk dan sepersekian detik jantungnya berdetak liar.
"Mommy ke toilet dulu ya sayang"
"Iya mommy"
Tama langsung berpindah tempat duduk di kursi bekas Nara begitu dia bangkit.
"Kata mommy daddy sibuk tadi"
"Iya sayang, daddy lagi nunggu uncle Dika balas email"
"Kalau gitu daddy bisa DDMSA dulu dong"
"DDMSA?" Tama mengangkat satu alisnya. "Apa itu?"
"Duduk-duduk manis sama Ara"
Tama tergelak begitu mendengar jawaban Amara, begitu juga dengan Amara yang tertawa riang.
Detik berikutnya Tama kembali memijit tengkuknya yang terasa semakin pegal.
Tiba-tiba ada sentuhan tangan yang menurunkan krah kaosnya dari arah belakang. Nara terhenyak ketika mendapati ada tiga stempel koyo cabe.
"Loh mas! mas beli di mana ini koyo plaster?
"Na-Nara"
"Bawa dari Jakarta?"
"Beli di apotek tadi malam"
"Adakah koyo cabe di Singapura?"
"Ada"
"Aku buang ya, aku pijat?"
"Ngga usah Na!"
"Nggak apa-apa?" Respon Nara sambil melepas koyo kemudian mengoles balsam pada bagian tengkuk hingga pundak, sedetik kemudian Nara mulai memijatnya lembut.
"Daddy kenapa mom?"
"Leher daddy sakit nak, tadi malam bobonya di sofa"
"Leher daddy sakit?" Amara bertanya pada Tama dengan sorot serius.
"Sedikit"
"Daddy nggak boleh sakit"
Tama mengernyit.
"Daddy nggak sakit Nak, cuma pegal sedikit" timpal Nara sambil terus memberikan pijatan.
"Daddy di pijat sama mommy, biar cepat sembuh. Pijatan mommy enak kok dad, Ara juga suka di pijat-pijat kakinya sama mommy kalau mau bobo"
"Oh ya?" Sahut Tama. "Ara sering di pijat berarti ya?"
"Iya, daddy nggak boleh bandel ya, harus mau di pijat"
"Baik Nona manis" jawaban Tama di sambut senyuman terkembang dari bibir Amara dan Nara.
Pijatan yang kian nyaman, membuat Tama tahu-tahu memejamkan mata, sebab tadi malam memang tidak bisa tidur dengan pulas, selain merasa tak nyaman, juga karena hampir setiap jam memantau kondisi Amara. Sementara Amara saat ini sudah terlelap lebih dulu.
"Mas pindah ke kasur saja" ucap Nara pelan. "Tidurlah semalam pasti kekurangan jam tidur kan?"
Tama mengangguk lalu bangkit dan berjalan menaiki ranjang.
Di ruang VIP room, ada banyak fasilitas mewah seperti AC, satu Bed untuk pasien dan satu bed untuk penunggu.
Kamar mandi dengan air panas & dingin, ruang keluarga di lengkapi dengan sofa dan Smart TV.
Sofa bed dan kursi tunggu.
Ada Kulkas dan satu set meja makan, dispenser, Almari pakaian dan juga telfon.
Prudential suite yang sudah di pesan oleh Idris Nalendra khusus untuk kenyamanan sang cucu dalam menjalani perawatan medis.
Saat ini, Nara sedang duduk di kursi tunggu dengan tangan terlipat di dada. Menunggu dua kesayangannya yang kini sama-sama terlelap. Pandangannya berkali-kali teralih ke arah sang putri di sebelah kiri, lalu suami di sebelah kanan.
Menghela napas, wanita itu berharap akan ada pelangi setelah hujan. Sangat berharap kebahagiaan untuk sang putri bisa segera tergapai.
Bersambung.
Note :
مجرد غياب الزوج عن زوجته لا يحصل به الطلاق مهما طالت المدّة
Yang artinya: “Semata-mata berpisah antara suami dan istri, belum terjadi talak, meskipun waktunya lama.” (Fatawa Syabakah Islamiyah)
Maka untuk kasus perpisahan yang cukup lama, status pernikahan mereka masih sah apabila belum menjalani proses perceraian dan tak ada kata talak dari sang suami.
*****
Kemarahan seperti apa yang akan di ambil oleh Pak Idris untuk istrinya, Bagaimana Rania menjelaskan rahasianya kepada suaminya?
Next kita bikin babnya pak Idris dan Rania...
Sementara Amara, Tama dan Nara, biarlah mereka bertiga saling melepas rindu sembari menunggu hasil lab kecocokan Tama & Ara.
Kebersamaan Tama dan Nara, tentu saja masih di selimuti perasaan canggung, malu campur kikuk. 😇😇😇
Happy monday...
__ADS_1
Selamat bersekolah, yang masih sekolah...