
Idris sangat tahu jika kebangkrutan perusahaannya adalah akibat dari ulah sang istri. Andai saja Rania tak berhubungan dengan keluarga Shella, andai saja Rania tak memberikan celah pada Shella untuk mendekati putranya, dan andai saja dia menerima pernikahan putranya dengan gadis pilihannya sendiri, pasti perusahaannya akan baik-baik saja sampai detik ini. Mereka pasti akan menjadi keluarga yang paling bahagia bersama cucu perempuannya. Namun setiap sebab, pastilah ada akibat, setiap perbuatan pasti ada balasannya.
Mungkin kolepnya perusahaan dan kehidupannya yang berada di ambang kemiskinan adalah karma atas perbuatannya pada Nara dan keluarga tujuh tahun lalu.
Disaat kehidupan Ramdan serta Naraya mendekati titik sukses, kehidupan Idris yang dulunya penuh dengan harta berlimpah, justru sebaliknya.
Sepersekian detik, mereka bak bertukar kehidupan.
"Apa bunda masih belum menyadari bahwa semua yang terjadi pada kita, adalah akibat dari perbuatan yang sudah kita lakukan?"
Hening, Rani tak berani menyanggah perkataan sang suami.
"Bunda adalah wanita yang berpendidikan, bunda tahu jika fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan"
"Bunda hanya melakukan yang terbaik untuk putra bunda" sanggahnya cepat.
"Jangan lagi bicara yang terbaik untuk putra bunda, yang bunda lakukan justru membuat hidup putra kita hancur bun"
"Apa ayah menyalahkan bunda?" Tanya Rania menyorot tajam.
"Ayah tidak menyalahkan bunda, justru ayah mengingatkan bunda bahwa perbuatan bunda pada Nara dan keluarganya adalah kejahatan besar. Bunda tahu itu kan?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan perusahaan kita?"
"Tidak ada bun, Ayah terpaksa menjual Angkasa milik kita" Bank menuntut ayah untuk segera membayar hutang yang sudah menunggak, dan gaji karyawan yang belum terbayarkan"
"Tapi yah itu kita bangun dari nol, bahkan kita selalu begadang setiap malam demi Angkasa, kita sering meninggalkan Tama demi memajukan Angkasa"
"Mau bagaimana lagi bun, ayah terlalu malu jika harus menerima bantuan dari Nara dan teman-temannya, apalagi pada Setya yang sudah bunda fitnah, mau di taruh mana muka ayah jika video itu tersebar dan Setya mengetahui kalau itu perbuatan bunda?"
"Ya jangan sampai tersebar dong yah"
"Apapun yang kita sembunyikan, pasti akan terbongkar bun"
"Ya sudah kita jangan berhubungan lagi dengan Nara, ayah bujuk Tama supaya mau nikah sama Shella, gampang kan?"
"Apa lebih baik ayah saja yang menikahi wanita kaya raya bun, untuk menyelamatkan perusahaan kita?"
"Ayah mau nikah lagi?"
"Bagaimana perasaan Nara jika dia tahu kalau bundanya meminta Tama untuk menceraikannya lalu menikahi wanita lain?"
"Itu beda dong yah"
"Bedanya dimana? kalian sama-sama wanita memiliki perasaan"
"Stop stop, bunda tidak mau bahas Nara wanita pembawa sial itu"
"Bunda!" Nada Idris meninggi lengkap dengan kilat mata penuh emosi. "Jika bunda masih menjelekkan menantu ayah, lebih baik ayah pergi dari rumah ini"
"Oh, jadi sekarang lebih pilih kehilangan bunda dari pada Nara"
"Karena bunda sudah keterlaluan, kurang sabar apa Nara, bunda? kurang baik bagaimana menantu ayah? andai bunda sedikit saja mengalah, meminta maaf pada Nara, mengakui kesalahan bunda padanya, bunda tidak akan hidup miskin" kata Idris geram. "Ayah pasti akan menerima bantuan Nara dan teman-temannya, tapi sepertinya gengsi bunda mengalahkan segalanya, dan itu membuat ayah semakin mantap untuk menjual Angkasa group"
"Yah" tiba-tiba suara Tama menggema di telinganya.
__ADS_1
"T-tama"
"Boleh masuk yah?"
"Masuk saja Tama, ini kamar orang tuamu, kenapa minta ijin, masuk saja! ada apa?"
"Ayah yakin tidak mau menerima bantuan Nara?"
Sebelum menjawab, Idris menghela napas sembari melirik Rania yang duduk di tepi ranjang. "Ayah akan menjualnya Tama, jadi maaf bukannya ayah menolak bantuan istrimu"
"Lalu setelah perusahaan itu terjual, apa rencana ayah?"
"Ayah akan menjual rumah ini, dan membawa bunda tinggal di surabaya. Kami akan hidup bersama nenekmu di sana" Rania membelalakkan mata begitu mendengar ucapan sang suami. "Nanti hasil penjualan akan ayah gunakan untuk membuka usaha kecil-kecilan di sana"
"Ayah mau buka usaha apa di Surabaya? tanya Tama sedikit cemas. "Lebih baik ayah istirahat saja, ayah sudah terlalu letih mengurus perusahaan selama ini. Nanti soal uang, aku akan menstransfer ayah dan bunda setiap bulannya. Kalau bisa, rumah ini jangan di jual yah"
"Bagaimana ayah membayar listrik rumah sebesar ini Tama, sementara ayah sudah tidak punya penghasilan"
"Itu urusanku yah. Aku dan Nara akan memikirkannya nanti"
Rania hanya diam sembari mendengarkan baik-baik ucapan suami dan anaknya, sesekali ia menelan ludahnya sendiri.
"Biar aku yang jual rumah dan apartemenku yah, ayah jangan. Rumah ini terlalu banyak kenangan, terutama untuk ayah dan bunda, sayang kalau di jual"
"Lalu rencanamu sendiri apa, setelah rumah dan apartemenmu terjual?"
"Hasil penjualannya nanti, akan ku gunakan untuk biaya rumah sakit Ara, dan sisanya untuk membuka usaha baru"
"Kamu mau usaha apa?" tanya Idris lirih.
"Maafkan ayah dan bunda ya Tama" Idris mengatakannya sembari menunduk malu, sementara Tama memusatkan pandangan pada Rania yang tengah menyorot nanar.
"Untuk apa ayah dan bunda minta maaf? meskipun bunda membenci istriku, tapi aku tidak pernah marah pada bunda, apalagi pada ayah, jadi tidak perlu minta maaf"
Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu bundalah yang sudah membuat video itu Tama?
"Terimakasih Nak" kata Idris sendu. "Ingat selalu pesan ayah, jangan hanya memanjakan istrimu, tapi bina juga dia supaya menjadi istri yang tetap menghargai orang lain. Jangan seperti ayah, hanya memberikan kasih sayang dan memanjakan bundamu tanpa membinanya"
Tidak hanya tersindir, Rania bahkan menyadari ucapan suaminya benar-benar di layangkan untuk dirinya.
"Kejadian yang menimpa kita, mari jadikan pelajaran bahwa apa yang kita miliki, akan dengan mudahnya di ambil oleh pemiliknya. Satu pesan lagi dari ayah" Tambahnya dengan raut serius. "Jadilah pria kuat dan sabar Tama, didik dengan baik anak dan istrimu"
"Iya yah"
***
Di tempat lain, Shella bisa dengan mudahnya mengembalikan nama baik rumah sakit akibat ulah Rania. Di mata public, Rania adalah sosok kepala rumah sakit yang sangat kejam, bahkan dengan teganya mengusir cucunya sendiri yang tengah menjalani perawatan di rumah sakit tersebut. Sikap Shella yang selama beberapa minggu pasca di batalkannya pernikahan siri itu, dan statement serta narasinya sangat mampu menggiring opini negatif tentang keluarga Nalendra yang tidak sebaik covernya.
Kesempatan itulah yang Shella gunakan untuk menjatuhkan nama baik Angkasa Group sehingga dengan mudahnya para insvestor menarik sahamnya dari perusahaan itu.
Semua merupakan hasil dari perbuatan Rania Namun sampai detik ini, dia bahkan masih saja menyalahkan Nara yang sudah dengan tidak tahu malu hadir dan masuk ke dalam keluarganya. Jika Idris bisa berandai-andai, maka begitu juga dengan Rania.
Andai Nara tak hadir di kehidupan Tama, mungkin saja Tama sudah menikah dengan Shella, wanita pilihannya dan akan hidup sebagai pasangan suami istri yang sempurna. Pasangan yang rupawan, harta melimpah, dan kekuasaan berada di tangannya. Akan tetapi semua itu, faktanya hanya ada dalam angan-angannya.
Shella dan Rania, baru saja bertemu di sebuah cafe untuk membicarakan masalah Angkasa Group. Rania sangat berharap bantuan dari Shella agar dia bersedia menyelamatkan perusahaannya, tapi wanita itu sepertinya tidak akan membantu tanpa mendapatkan imbalan. Dan imbalan yang dia minta adalah Tama.
__ADS_1
Pertemuan mereka yang tidak membuahkan hasil, serta persyaratan yang tidak bisa Rania penuhi membuat Shella kesal.
"Ayolah Shella, bantu perusahaan bunda, nanti bunda akan usaha lagi bujuk Tama supaya mau menikah denganmu"
"Apa yang bunda usahakan selama tujuh tahun bun?" Mata Shella melirik ke arah spion. Mereka kini berada di dalam mobil dan sedang dalam perjalanan pulang. "Tidak ada loh, yang ada aku sudah membuang waktuku hanya untuk menunggu putra bunda yang sok itu"
"Tolong lah Shell, beri bunda waktu lagi"
"Maaf ya bunda aku tidak bisa, lagi pula salah bunda sendiri kan perusahaan bunda jadi hancur"
"Tapi kan semua karena narasi-narasi yang kamu bikin"
"Masih tidak mau ngaku? dasar wanita rubah"
Mendengar umpatan Shella yang menyebutkan dirinya sebagai wanita rubah, Rania naik darah, emosinya memuncak lengkap dengan mata berkilat merah.
"Apa kamu bilang?"
"Loh, memang benar kan, bunda itu monster wanita?" Sahutnya dengan senyum miring.
"Oh, jadi begitu ya sifat asli kamu, pantas saja Tama kekeh dengan pendiriannya, tidak mau menikah denganmu, ternyata kamu memang tidak punya sopan santun pada orang tua"
"Nggak usah bilang nggak punya sopan santun padaku deh bun, bunda ngaca saja sendiri bagimana bunda, tanyakan pada hati bunda orang baik atau orang jahat?"
"Kamu benar-benar ya Shella_"
"Benar-benar apa bun? benar-benar sama jahatnya dengan bunda?" potong Shella kilat.
"Benar-benar kurang ajar kamu Shella!"
"Kalau aku kurang ajar, lalu kamu apa? wanita laknat? atau wanita jahanam?"
"Shella!" Amarahnya memuncak.
"Apa? enggak terima?" Shella membalas tatapan Rania, hingga ia lupa jika saat ini sedang mengendalikan roda kemudi.
Mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, mendadak mengerem. Shella berusaha menghindari anak itu dengan membanting stir ke arah kiri, Namun kecelakaan itu tetap tak bisa di hindari, mobilnya menabrak seorang bocah yang sedang menyebrang jalan. Rania yang duduk di samping kemudi, otomatis kepalanya membentur pintu mobil di sisi kiri sementara kakinya terhentak tak kalah keras.
"Anak ini terluka parah" Cerocos seorang pria muda. "Kita harus bawa ke rumah sakit secepatnya"
Shella yang mendengar, seketika takut. Apalagi ketika beberapa orang mengerumuni mobilnya, saking takutnya, ia bahkan mengabaikan luka di bagian kepala. Darahnya merembes dari pelipis sebab tadi kepalanya menghantam roda kemudi.
"Hey, keluar!, kamu harus tanggung jawab!" ucap lelaki paruh baya. Ia menempelkan kepala pada kaca mobil yang gelap, seraya mengetuk kaca itu berharap si pengemudi keluar dari mobilnya. "Keluar atuh neng,,! ucap pria lainnya.
Di dalam mobil, Shella menoleh ke arah kiri di mana Rania sudah tidak sadarkan diri. Takutnya kian menjadi ketika mendapati wajah Rania berlumur darah, serta desakan dari para warga yang memintanya segera keluar.
Takut di amuk warga, sementara bocah itu sudah di bopong dan di bawa ke rumah sakit, Shella kembali melajukan mobilnya.
"Hey jangan kabur kamu!"
"Aku akan tanggung jawab, tapi tidak sekarang" gumam Shella di sela-sela menyetirnya.
Ia membawa mobilnya menuju ke rumah sakit miliknya untuk mendapat penanganan medis.
Bersambung
__ADS_1