Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
57


__ADS_3

Sudah dua hari ini Tama berada di Jakarta, Ia sangat sibuk dengan urusan kantor sebab perusahaannya saat ini berada di ujung kebangkrutan. Belum lagi masalah karyawan yang sebagian dari mereka belum mendapatkan gaji pada bulan lalu. Ada Amara yang juga membutuhkan biaya besar untuk pemulihannya selama menjalani perawatan di rumah sakit Singapura.


Sebuah ketukan pintu mengalihkan fokusnya yang tengah menatap layar monitor.


"Masuk!" Tama menoleh ke arah pintu sesaat, kemudian kembali fokus menatap komputer.


Pelan, pintu itu terbuka. Seseorang memasuki ruangannya dengan senyum sinis yang menghiasi wajahnya. Wanita berpenampilan seksi itu tampak santai dan penuh percaya diri dengan pakaian minim yang ia kenakan.


Pandangan Tama jatuh pada Tangan mulus yang tahu-tahu mendarat di tepian meja, membuat dia menghentikan jarinya di atas keyboard lalu mendongak mempertemukan netranya.


Sama sekali tak ada raut tulus di wajah wanita di depannya.


"Selamat siang tuan Gautama" sapanya lalu menarik kursi dan mendudukan dirinya.


"Selamat siang, ada perlu apa kamu kemari?"


"Tama Tama, kenapa si, selalu dingin di depanku?" Tanya Shella seraya menyilangkan kaki kanan di atas kaki kirinya.


"Lebih baik katakan tujuanmu menemuiku"


"Baiklah" sahutnya santai. "Aku ingin memberikan penawaran padamu. Aku akan bantu perusahaanmu, tapi dengan satu syarat"


"Apapun syaratmu, aku tidak akan pernah menerimanya"


"Perusahaanmu di ujung tanduk Tama, turunkan egomu untuk memulihkannya. Aku bisa membantumu"


Tama berdecak geram "Kamu sendiri yang membuat perusahaanku bangkrut, kenapa sekarang ingin membantuku?"


"Kamu memang keras kepala ya"


"Kalau tidak ada yang di bicarakan lagi, silakan keluar dari ruanganku"


"Sombong sekali kamu, sebentar lagi semua ini juga akan menjadi milikku"


"Apa maksudmu?"


"Apakah ada cara lain selain menjual perusahaanmu untuk menutup hutang-hutang dan membayar karyawanmu?"


"Aku bisa mengatasinya tanpa menjual perusahaanku Shella"


"Apa yang akan kamu lakukan sementara ayahmu sudah menyerah dan mencari pengusaha untuk membeli aset-aset dari Angkasa Group termasuk gedung megah ini!"


"Tapi aku tidak akan menjualnya, kalaupun terpaksa, aku tidak akan pernah menjual


padamu"


"Memangnya siapa yang mau membeli perusahaan ini dengan harga tinggi? Tidak ada Tama, kecuali aku"


Tama berdiri, lalu menempelkan kedua telapak tangan di atas meja. Tubuhnya yang tinggi, sedikit merunduk dan condong ke depan sementara matanya berkilat merah.


"Sekali lagi aku katakan padamu" ujar Tama dengan fokus sepenuhnya menyoroti netra Shella. "Aku bisa mengatasinya dan aku tidak akan meminta bantuan kamu apalagi menjual aset-asetku padamu. Sudah paham kan?" tambahnya datar. "Aku tidak akan pernah tertarik dengan bantuanmu, jadi silakan keluar dari ruanganku" Salah satu tangan Tama terangkat menunjuk pintu.


"Kita lihat saja Tama, sampai di mana kamu bisa bertahan"


"Aku sudah muak denganmu Shella, keluarlah dari ruanganku dan jangan pernah kembali menampakkan dirimu di hadapanku"


Wanita itu berdiri dengan wajah memerah.


Sebelum keluar dari ruangan Tama, dia sempat meliriknya dengan tatapan penuh benci.


"Awas kamu Tama!" Ancamnya kesal menahan amarah. "Aku akan membalas semua penghinaanmu"


Shella keluar, meninggalkan Tama yang bergeming sembari duduk kembali.

__ADS_1


Mendengkus pelan, ia memijit pelipisnya berharap rasa pusing sedikit berkurang.


Tidak lama setelah itu, datang Aldika tanpa mengetuk pintu seperti biasa.


"Shella kesini?"


"Hmm" jawab Tama tanpa melihatnya.


"Mau apa dia?"


"Menawarkan bantuan"


"Apa syaratnya?" Aldika sudah bisa menduga jika Shella tidak mungkin memberikan bantuan secara cuma-cuma.


"Paling memintaku menikah dengannya"


Mendengar jawaban Tama, reflek Aldika menggelengkan kepala.


"Tidak ada cara lain Tam, sepertinya kita memang butuh bantuan Nara"


"Ayah belum setuju Di, entah kenapa dia seperti tidak ada muka di depan teman-teman Naraya"


"Kenapa memangnya?"


"Kamu tahu kan, kalau wajah Setya yang ada di video itu?"


"Tapi kenapa ayah merasa tidak enak, itu perbuatan orang lain, bukan ayah yang mengedit video itu"


"Entahlah" Sahut Tama frustasi.


***


Sampai pada malam harinya,


Tama dan Idris langsung memusatkan pperhatian untuk menatapnya. "Bunda tahu kan kalau dia yang sudah mengacaukan perusahaan kita?" kata Idris mengingatkan.


"Wajarlah dia dendam yah, pernikahannya gagal gara-gara kalian"


"Bunda" pekik Idris. Belum sempat Idris melanjutkan kalimatnya, Rania lebih dulu bersuara.


"Coba bayangkan, dia sudah menunggu tujuh tahun, berharap bisa menikah dengan Tama, tapi apa yang Tama lakukan, dia mencampakkannya yah"


"Itu karena bunda yang sudah memberikan harapan padanya, jika bunda mengabaikan Shella, dia pasti akan berhenti menunggu Tama"


"Yah, rumah ini tidak di pakai untuk jaminan bank kan?" tanya Tama memotong perdebatan kedua orang tuanya.


"Tidak Tama, ayah hanya menjaminkan perusahaan"


"Termasuk cabang Surabaya yah?"


Idris mengangguk.


"Apa kita terima bantuan Nara yah?"


Idris mempertemukan pandangannya dengan Rania begitu mendengar pertanyaan Tama.


"Teman-teman Nara hanya menanam saham sampai perusahaan kita pulih kembali, sayang kan yah jika proses produksi di hentikan, sementara permintaan membludak. Tanpa modal, kita tidak bisa memproduksi barang-barang kita yah"


"Tapi ayah tidak enak dengan Setya Tama?"


"Tapi hanya perusahaan mereka yang mau menanamkan sahamnya. Ayah tahu kan Adiwijaya Company, perusahaan besar milik orang tua Anita? dengan senyum dan tanpa syarat mereka menanamkan sahamnya, bahkan menawarkan pinjaman uang tanpa bunga, Dandelion group milik Rudito dan anak cucunya, Bom and food, ada lagi tambahan dana dari restauran Khansa dan minimarket pak Ramdan. Jika mereka bersatu, maka cukup bagi kita untuk memulihkan financial Angkasa group" ujar Tama mantap. "Lagi pula, kenapa ayah merasa tidak enak dengan Setya? video itu bukan ayah yang memanipulasi, itu murni ulah tangan nakal yang ingin mencemarkan nama baik Nara dan Setya"


Reflek mata Idris beralih menatap Rania yang wajahnya mendadak tegang.

__ADS_1


"Kecuali kalau ayahlah yang sudah memfitnah Setya dan Nara"


"Bunda setujunya kalau kita menerima bantuan Shella"


"Dia memberikan bantuan dengan syarat bun, aku tidak bisa"


"Syaratnya mudah Tama, kamu hanya menikahinya, dan semua akan kembali normal"


"Bunda tahu kan Tama masih suami Nara, mereka punya anak bun" Sambar Idris dengan intonasi tegas.


"Ya udah cerai saja, kalau Amara mau daddynya, bawa saja Amara tinggal dengan kita dan Shella"


"Bunda" Hilang kendali, Tama berteriak pada Rania, matanya berkilat menahan amarah yang kian meletup-letup. "Jangan menyuruhku menceraikan Nara, jika bunda tidak sudi memiliki menantu seperti dia, aku bersedia keluar dari rumah ini"


Usai mengatakan itu, Tama bangkit lalu beranjak dari ruang TV. Langkahnya tertuju ke arah kamar. Setibanya di sana, Tama meraih ponselnya, lalu melakukan V-Call dengan Naraya.


"Assalamu'alaikum mas"


"Waalaikumsalam"


"Gimana hari ini?"


"Gimana apanya?, perusahaan semakin tak terkendali"


"Apa maksud mas?"


Bukannya menjawab, Tama malah menanyakan kabar Amara.


"Amara bagaimana?"


"Baik, malah semakin membaik kata dokter"


"Syukurlah" desisnya nyaris tanpa suara.


"Apa aku pulang dulu mas, bantu mas di perusahaan?"


"Tidak perlu, mas akan membiarkan Angkasa hancur, biar saja bunda merasakan bagaimana hidup miskin"


"Mas menghukum bunda, tapi mas juga menghukum ayah yang tidak bersalah"


"Ucapan bunda sudah keterlaluan Na"


"Jangan pikirkan ucapan bunda, pikirkan jerih payah ayah mas, beliau berusaha keras membangun Angkasa, dan mas akan membiarkaannya hancur begitu saja? padahal solusi ada di depan mata"


"Tapi ayah tidak setuju, mas tidak bisa maju sendiri"


"Kalau begitu, aku akan pulang dan kita maju sama-sama, tanganku yang akan menerima bantuan teman-temanku. Dari tanganku nanti, akan ku serahkan pada mas, dengan begitu mas tidak harus merasa tidak enak karena bantuan itu dariku"


"Tidak usah Na, lebih baik kita cari usaha lain, kita mulai dari nol tanpa campur tangan bunda"


"Tapi mas_"


"Perusahaan itu bukan hanya ayah yang membangun, tapi bunda juga ikut andil, jika bunda masih belum menerimamu, aku tidak mau urusanku di campuri olehnya"


"Percuma mas jalan tanpa restu bunda, tidak akan pernah berhasil" Nara menatap dalam-dalam wajah suaminya di layar ponselnya.


Wajah yang menunjukkan raut frustasi, membuat Nara semakin iba.


"Sudahlah, mas sudah bulat untuk keluar dari rumah bunda, setelah mas menjual Apartemen dan rumah, mas akan menyusulmu, hasil penjualan properti nanti kita gunakan untuk biaya Amara, sisanya kita pakai untuk bangun usaha kecil-kecilan"


"Mas yakin? nggak kasihan pada ayah?"


Hening, mereka bungkam dan hanya saling menatap dalam diam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2