Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
59


__ADS_3

Di temani Aldika, Idris menandatangani surat perjanjian jual beli yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak. Saat ini Angkasa group secara resmi bukan lagi milik keluarga Nalendra. Idris sudah menjualnya pada pengusaha yang berani membayar dengan harga fantastis. Bahkan ketika anak buah Shella menawarkan harga tinggi, si pembeli ini berani menawar lebih tinggi lagi.


Kepengurusan dan pengelolaan dari Angkasa Group sementara menggunakan tenaga kerja dari karyawan Idris. Termasuk Aldika yang di tunjuk sebagai kepala menejer. Dia bahkan terkejut ketika di minta untuk tidak meninggalkan perusahaan dan tetap bekerja membantu pemilik baru dalam mengelola Angkasa.


Tepat ketika mereka selesai menandatangani berkas-berkasnya, ponsel di saku celana Idris bergetar, namun karena situasi mereka yang masih membicarakan tentang prosedur proses produksi, visi dan misi perusahaan, dia mengabaikannya begitu saja.


Pemilik baru bahkan melarang dan meminta agar ruang kerja milik Tama di biarkan begitu saja. Berbeda dengan bekas ruang kerja Idris dan Rania yang justru akan di rubah sesuai dengan keinginan pemilik baru.


Hampir satu jam mereka melakukan meeting santai yang menyenangkan, si pembeli juga sudah berpamitan sejak lima menit yang lalu, Idris di bantu oleh Aldika membereskan dan mengemasi barang-barang pribadinya yang tersimpan di ruangan kerja.


Dering ponsel kembali bergetar, membuat Idris seketika teringat ponsel yang sedari tadi bergetar tanda panggilan masuk.


Dia merogoh sakunya dan meraih ponselnya.


"IMC Hospital " batinnya sambil bertanya-tanya kenapa rumah sakit Shella menelfonnya.


Tak kunjung mengangkat, Aldika yang menatap penasaran reflek dahinya mengerut.


"Yah, kenapa cuma di lihat saja?"


"Oh iya Di, ini telfon dari rumah sakitnya Shella, ada apa ya Di, tumben banget"


"Coba di angkat siapa tahu penting"


Idris segera menggeser panggilan telfonnya.


"Hallo"


"Selamat siang pak, dengan pak Idris?"


"Siang, iya saya sendiri"


"Kami dari rumah sakit IMC pak mengabarkan jika bu Rania mengalami kecelakaan"


"Apa? Kecelakaan?"


Aldika terkesiap dengan dada sepersekian detik berdetak sangat kencang.


"Iya pak, saat ini beliau berada di rumah sakit IMC dan sedang dalam penanganan medis, mohon segara datang ya pak"


"Baik suster, saya kesana sekarang"


"Ada apa yah?" tanya Aldika setelah Idris menutup telfon.


"Bunda Di, bunda kecelakaan dan sekarang berada di rumah sakit IMC" sahutnya panik.


"Apa? kenapa bisa yah?"


"Ayah tidak tahu Di, antar ayah ke rumah sakit sekarang"


"Iya yah"


Idris dan Aldika bergegas meninggalkan perusahaan dan langsung menuju ke rumah sakit.


Meski panik, Aldika tetap harus mengendalikan kemudinya agar bisa sampai tujuan dengan selamat.


"Tenang yah, kita berdoa semoga bunda tidak apa-apa"


"Tama kok nggak bisa di hubungi ya Di?"


"Mungkin sibuk yah, tadi dia bilang ada pembeli yang mau lihat-lihat rumahnya"

__ADS_1


"Ya harusnya ponsel tetap nyala dong Di"


"Nanti bisa di hubungi lagi yah" Sembari menyetir, Aldika terus menenangkan Idris hingga tahu-tahu mereka telah sampai di tujuan. Mereka bergegas turun dari mobil dan langsung menuju ke bagian informasi.


"Mba, pasien atas nama Rania ada di mana ya?" tanya Aldika menahan panik.


"Pasien masih belum sadar, beliau di ICU pak"


"Di mana ruang ICU mbak?"


"Bapak jalan lurus lewat lorong ini, nanti belok kiri, lurus lagi lalu ke kiri lagi di situ ada ICU, bu Rania ada di ruang ICU H"


"Lurus belok kiri, terus kiri lagi?"


"Betul"


"Terimakasih mbak"


"Sama-sama pak"


"Ayo yah" Dua pria beda generasi berjalan tergopoh dengan perasaan cemas campur takut.


Mereka berjalan sesuai dengan arahan dari petugas informasi, langkahnya terhenti tepat di depan ruang ICU berlambang huruf H.


"Ini yah"


"Pintunya tertutup Di?"


"Aku tanya dulu yah, ayah tunggu di sini"


Idris mengangguk sementara Aldika pergi hendak menanyakan tentang tantenya pada suster yang berjaga di luar ruang ICU.


"Iya selamat siang"


"Pasien atas nama Rania, bagaimana kondisinya saat ini sus, apa kami bisa menemuinya?"


"Anda keluarganya?"


"Iya sust, saya keponakannya"


"Bu Rania ada di ruang ICU H" ujarnya ramah. "bapak bisa menemuinya, mari saya antar"_____


"Bagaimana Di?" tanya Idris ketika Aldika sudah berada di hadapannya.


"Ayah masuk sama suster, aku tunggu di luar karena hanya satu orang saja yang boleh menemuinya"


"Iya, tolong kamu hubungi Tama"


"Iya yah, aku akan coba telfon Tama"


***


"Masih sangat bagus pak, sepertinya ini bangunan belum lama?"


"Sekitar tujuh tahun lalu pak, rumah ini juga jarang sekali saya tinggali, hanya ada Satpam, tukang kebun, dan satu ART yang menjaga rumah ini"


"Oke, saya sepakat dengan harga yang bapak tawarkan"


"Bapak tidak menawar?"


"Tidak, rumah ini cukup bagus, istri dan anak-anak saya sepertinya sangat suka" Pria itu mengatakannya sembari melirik ke arah istri dan anaknya yang tengah tersenyum takjub dengan rumah Tama.

__ADS_1


"Baiklah, akan saya siapkan berkas-berkas itu secepatnya, saya yang akan mengurus surat balik nama rumah ini, bapak terima beres"


"Terimakasih, terimakasih"


"Saya yang berterimakasih pak" sahut Tama.


Mereka tergelak.


"Kalau begitu, akan saya tuliskan ceknya sekarang" Calon pembeli itu membuka tas hendak mengeluarkan cek beserta bolpoint.


"Tidak perlu pak?" sambar Tama cepat.


Dia mengernyit. "Loh kenapa pak?"


"Saya belum sempat membuat surat perjanjian jual beli"


"Tidak masalah pak Tama, saya yakin anda orang baik, akan saya bayar cash saat ini juga"


"Kalau begitu terimakasih pak, saya akan serahkan sertifikat rumah dalam tiga hari dan sudah atas nama bapak. Bapak juga bisa menempati rumah ini sekarang"


"Nah ini cek dari saya"


"Terimakasih pak" Pungkas Tama menerima cek berisi dua puluh lima milyar "Dan ini" tambahnya lalu memberikan kunci-kunci rumahnya. "Kunci rumah ini pak"


"Iya, terimakasih banyak pak Tama, kuncinya saya terima"


"Sama-sama pak, bapak bisa melihat lebih dalam lagi, dan mohon maaf, saya harus permisi pak"


"Oh ya, silahkan, terimakasih sekali lagi"


Setelah saling berjabat tangan, Tama keluar dari bekas rumahnya sambil menyalakan ponsel.


Sudah beberapa menit berada di dalam mobil, namun Tama belum juga melajukan mobilnya. Ia menatap lekat-lekat rumah yang di bangun tiga bulan sebelum pernikahanya dengan Nara dulu. Ia berharap hidupnya akan berjalan sesuai dengan rencana, tapi nyatanya rencana itu sama sekali tak tergapai. Bahkan Nara dan sang anak belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di rumah yang Tama bangun khusus untuk mereka.


"Padahal daddy sudah berjanji akan membawa Ara ke rumah daddy, tapi malah menjualnya. Maafkan daddy Nak"


"Daddy janji, suatu saat akan bikin rumah yang lebih bagus lagi dari ini khusus buat Ara. Insya Allah ya nak"


Di tengah-tengah lamunannya, ponsel yang baru saja ia aktifkan tiba-tiba berdering membuat Tama berjengit dan langsung mengangkatnya ketika tahu nama Aldika yang muncul di layar ponsel.


"Iya Di"


"Kamu kemana saja, kenapa mematikan ponselmu?"


"Maaf, tadi sibuk"


"Cepat ke IMC Hospital, bunda kecelakaan"


"Kecelakaan?" Tama menegakkan posisi duduknya. "Kecelakaan gimana maksud kamu?"


"Jangan banyak tanya, sekarang cepat kemari, nanti aku ceritakan"


"Oke-oke, aku kesana sekarang"


Tanpa berpikir panjang, usai memutus panggilan melalui telfon Tama bergegas melajukan mobil ke arah rumah sakit milik Shella. Rencana ke Singapura setelah selesai mengurus berkas-berkas rumah yang dia jual, mungkin akan tertunda.


Sekali lagi, manusia memang bebas berencana, tapi Tuhanlah penentu segala sesuatu.


Bersambung


Next eps kira-kira mau bikin part apa ya 😇

__ADS_1


__ADS_2