Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
80


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan stabil menuju rumah keluarga Nalendra dimana tersimpan banyak kenangan manis di masa kecil Tama.


Sembari mengemudi, pria itu terus mengingat masa-masa kecil saat bersama orang tua di rumah besarnya. Sekelebat bayangan manis tentang bundanya yang selalu perhatian di sela-sela kesibukannya, membuat Tama sedikit banyak menyesali sikap arogannya pada sang bunda beberapa waktu lalu.


Benar apa yang di katakan Ramdan, percuma saja dendam pada orang tua, apalagi mencoba menghindarinya. Karena sampai kapanpun hubungan antara anak dengan kedua orang tua tak akan pernah berakhir meskipun maut menghampiri.


"Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan doa anak yang sholeh."


"Apa salahnya memberikan maaf pada orang tua dan memberikan kesempatan untuk mereka merubah dirinya menjadi lebih baik"


Kalimat-kalimat Ramdan yang terus bersemayam dalam pikiran Tama, sama sekali tak bisa ia alihkan barang sejenak. Namun jika mengingat bagaimana perbuatan Rania pada Nara dan juga Amara, membuat emosionalnya kembali singgah. Rasa benci seketika muncul bersamaan dengan Amarah yang terus berapi-api di hatinya.


Maafkan bunda, lupakan keburukannya, dan ingatlah kebaikannya saja.


Begitulah nasehat Nara saat mereka mengemasi pakaiannya.


"Mikir apa?"


"Hah? Enggak kok"


"Jangan bilang enggak, kelihatan kok dari wajah mas yang lagi mikirin sesuatu"


Tama tersenyum kecut mendengar sanggahan dari istrinya. Tak sedikit orang memang yang menilai Nara adalah wanita yang pintar sekali membaca ekspresi wajah seseorang. Itu sebabnya percuma saja jika Tama mengelak.


"Ngomong-ngomong tuan Gautama, wajahmu terlihat sangat aneh, sangat tegang"


"Apaan si Na, biasa aja" elaknya sambil terus fokus pada roda kemudi.


"Mas mau bertemu dengan bunda, bukan dengan Shella"


"Kenapa harus menyebut monster wanita itu?"


"Ya, siapa tahu mas sedang berfikir ke arah sana, mungkin"


Pria itu berdecih. "Nggak penting"


"Beneran?" goda Nara seraya meliriknya dengan tatapan miring.


"Sekali lagi bahas wanita itu, ku makan kamu"


"Daddy mau makan mommy?" Tiba-tiba suara Amara dari arah belakang terdengar.


"Ku pikir dia sedang asik melihat ponsel" lirih Tama yang masih bisa di dengar oleh Nara.


"Boleh?" Tambah Tama bertanya pada putrinya.


"Enggak boleh, emangnya mommy daging sapi" celetuk Amara lalu kembali menatap ponsel ketika Tama sempat meliriknya melalui spion tengah.


"Kayaknya enak makan mommy, iya kan Ra?"


"Iya, Ara juga pengin nyoba makan bibir daddy kayak pas mommy makan bibirnya daddy"


Kalimat Amara, membuat Tama dan Nara seketika bungkam. Mereka tak menyangka jika putrinya sekritis ini. Benar-benar memiliki anak perempuan harus ekstra hati-hati dalam hal apapun.


"Ara boleh kan makan bibir juga kayak daddy?"


Nara menggelengkan kepala pelan. "Ara nggak ngantuk?" tanya Nara berusaha keluar dari topik pembicaraan antara suami dan anaknya. "Ini udah lewat jam sembilan loh"


"Ara belum ngantuk, Ara mau lihat wajah opa sama oma, udah lama nggak lihat, jadinya kangen banyak-banyak"


"Tapi kan sampainya masih lama-lama"


Memang perjalanan dari rumah Ramdan ke rumah Idris butuh waktu sekitar dua jam jika di tempuh dengan kecepatan stabil.


Seolah tak percaya, Amara memastikan dengan bertanya pada Tama.


"Benar ya dad masih lama-lama?"


"Satu jam lagi sayang"


Usai menjawab pertanyaan Amara, suasana langsung hening. Sayup-sayup, mata Amara mulai terpejam, Nara juga perlahan menutup mata meskipun kesadaran masih bisa ia kuasai, sementara Tama tetap berkonsentrasi mengendalikan mobilnya, menajamkan penglihatan sebab berkendara di malam hari dengan penerangan yang minim, dapat membatasi jarak pandang.


Tama mencoba mengalihkan rasa kantuk dengan mendengarkan sholawat Qodduqal mayyas (ya Umry). Musik itu ia putar dengan suara sangat lirih, sebab tak ingin mengganggu Amara serta Nara yang sepertinya sudah pulas. Bahkan Tama mereplaynya berulang kali karena dengan mendengarkan sholawat itu, hatinya sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Hingga mobil yang Tama kendarai telah sampai di halaman rumah mewahnya. Pelan Tama membangunkan Nara dengan lirih dan lembut.


"Sayang, bangun kita sudah sampai" ucapnya sambil mengusap pipi Nara. Tak butuh waktu lama Nara pun membuka matanya.


"Sudah sampai ya mas?"

__ADS_1


"Iya sayang"


Nara mengedarkan pandangan, kepulangan mereka memang tanpa sepengetahuan Idris dan juga Rania, itu sebabnya tak ada yang menyambut kedatangan mereka.


"Kamu turun" Perintah Tama sambil melepaskan seatbelt. "Mas tutup gerbang dulu setelah itu gendong Amara"


"Aku bawa koper ya"


"Nggak usah, koper biar di urus besok, kamu ketuk pintu saja"


Nara pun menurut apa kata Tama. Ia melangkah lebih dulu menuju pintu lalu mengetuknya sembari mengucapkan salam. Tak berapa lama, pintu terbuka bersamaan dengan langkah kaki Tama yang terhenti tepat di depan pintu.


"Waalaikumsalam" jawab bik Jum dengan sorot tak percaya.


"Pak Tama, bu Nara. Alhamdulillah bapak sama ibu pulang. Mari masuk pak, bu!"


"Makasih ya bik" jawab Nara.


Tama langsung menuju ke lantai atas untuk menidurkan Amara.


"Ayah sama bunda sudah tidur ya bik?"


"Sudah non, mereka sudah masuk kamar dari tadi"


Mendengar jawaban bik Jum, reflek mata Nara melirik jam yang menggantung di dinding menunjukan waktu pukul 22:40.


"Jangan beri tahu bunda dulu kalau kita sudah kembali ya bik"


"Kenapa bu?"


"Kejutan bik"


"Oh siap bu siap" jawabnya sambil tersenyum lebar. "Seru kayaknya ya bu, Nyonya Rania pasti bahagia banget dapat kejutan dari non Amui"


"Mereka baik-baik saja kan bi?" Nara menuang air ke dalam gelas saat langkahnya sudah sampai di ruang makan.


"Ya gitu bu, semenjak pak Tama dan bu Nara pergi, bu Rania seperti nggak nafsu makan, pak Idris juga sepertinya kekurangan jam tidur"


"Gitu ya bik?"


"Iya bu" Bik Jum mengangguk lesu. "Ibu sama bapak kok nggak bawa koper?"


"Kopernya masih di mobil bik"


"Tidak usah bik, besok saja biar mas Tama yang keluarin, bik Jum istirahat saja"


"Jangan pergi lagi ya bu" kata bik Jum memohon. "Saya sedih lihat bu Rania sama pak Idris, nggak ada semangat pisan"


"Iya bik, insya Allah enggak" Nara tersenyum lalu menghabiskan sisa air di dalam gelasnya.


"Aku naik dulu bik, bibik istirahat! besok kita bangun kita masak sama-sama, masak kesukaan bunda sama ayah"


"Iya bu, selamat malam"


"Selamat malam bik Jum"


****


Pagi harinya, Nara dan bik Jum sudah berkeringat karena aktifitasnya di dapur. Mereka sedang memasak sarapan kesukaan Idris dan Rania, serta Tama dan Amara yang sangat menyukai udang. Tepat pukul enam lebih tiga puluh menit, makanan sudah tersaji di meja makan.


"Sudah siap semua kan bik?"


"Sepertinya sudah bu"


"Aku ke atas dulu bi, mau mandi soalnya hari ini saya harus ke kantor"


"Iya bu"


Di kamar, Idris bersiap untuk sarapan usai membantu sang istri membersihkan diri. Dia mendorong kursi roda menuju meja makan.


"Bik Jum, kenapa banyak gini masaknya?" tanya Rania heran saat sudah sampai di ruang makan.


"Iya bik Jum" Idris ikut menimpali dengan sorot bingung.


"Ini spesial buat tuan dan nyonya" jawab bik Jum santai.


"Tapi kita nggak makan sebanyak ini bik"


"Sekali-kali makan besar tuan"

__ADS_1


Tiba-tiba, teriakan Amara di ujung tangga menggema dengan sangat kencang. Sepersekian detik, Idris dan Rania menoleh ke arahnya.


"A-mui" Celetuk Idris.


"Mui-mui" Lirih Rania dengan raut sendu.


"Opa, oma" Gadis itu langsung berlari menghampirinya.


"Opa oma" Racaunya lagi saat sudah di hadapan Idris dan Rania.


Rania menangkup wajah Amara, lalu mengecupi pipi, kening, dan hidung Amara bertubi-tubi.


"Oma kangen Amui"


"Amui juga kangen sama opa oma, kangennya banyak-banyak, nggak bisa di hitung pakai jari"


"Daddy sama mommy mana?" tanya Rania.


"Mommy lagi mandi, kalau daddy masih bobok"


"Jadi bik Jum masak banyak karena Amui sudah pulang?" tanya Idris menyelidik.


"Maaf tuan, bu Nara yang meminta saya untuk jangan beri tahu tuan sama nyonya, biar kejutan katanya"


"Nara memang ada-ada saja" Balas Idris menggelengkan kepala lengkap dengan bibir tersungging. "Oma, gantian opa dong, opa juga pengin cium-cium cucu opa"


Idris langsung mengecup pucuk kepala Amara. "Duduk yuk, tunggu mommy sama daddy turun"


"Iya opa"


Saat mereka asik bercanda, Terdengar bunyi sepatu menapak lantai.


Rania dan Idris mengalihkan perhatian ke arah tangga lalu mendongak.


Nara yang sudah siap dengan pakaian kantornya, membuat Rania berdecak kagum dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat pagi yah, bun?"


"Selamat pagi nak" jawab Idris dan Rania kompak.


Nara mencium punggung tangan mereka bergantian.


"Tadi Ara sudah sun tangan opa oma?" tanya Nara sambil menarik kursi kemudian duduk.


"Belum mom"


"Di biasain dong nak, jangan tunggu di perintah sama mommy"


"Lupa mom"


"Besok-besok di ingat-ingat ya!"


Idris dan Rania tampak tersenyum.


"Iya mom"


"Sekarang sun dulu tangan opa oma"


"Eughh" Amara langsung mengecup tangan Opa omanya bergantian.


"Tama masih tidur nak?" Tanya Rania.


"Iya bun, tadi malam mas Tama tidur sangat larut"


"Ya sudah biarkan dia istirahat"


"Hari ini aku ke kantor yah, bun" kata Nara sambil menyuapkan suapan pertama ke mulutnya. "Jadi maaf belum bisa ngobrol banyak"


"Nggak apa-apa, nanti kami akan bicara dengan Tama"


Nara mengangguk tanpa ragu.


"Makasih ya Na, sudah bawa Tama kembali"


Mendengar perkataan Rania, Nara memindai wajahnya.


"Sama-sama bun"


Tbc...

__ADS_1


*mau di usahain up cepet-cepet biar cepet end, sebelum sibuk banyak-banyak.


Happy reading 😘😘😘😘*


__ADS_2