
Saat ini pria itu tengah duduk termangu di dalam ruang kerja sambil memainkan kotak rokok.
Entah dari mana awalnya, tiba-tiba saja sekelebat bayangan Nara dalam video itu menari-nari di sekeliling kamarnya. Sesosok wanita yang sangat agresif dalam permainan ranjang bersama Setya seolah berebut masuk memenuhi isi kepala dan tak terlepas barang sedetikpun.
Tama yang tengah asik mencumbu sang istri beberapa menit lalu, persekian detik kemudian menghentikan aktivitasnya seakan kehilangan gairah ketika mengingat kembali video syur itu.
Padahal berkali-kali Nara mengatakan jika wanita itu bukanlah dirinya. Berkali-kali pula Tama meyakinkan diri bahwa wanita itu bukanlah istrinya.
Pria itu hanya bisa menghembuskan napas pelan. Bukan hal baru lagi bagi Tama sebenarnya, tapi tetap saja sanggahannya benar-benar tak mampu membuatnya yakin sebab dia sendiri belum menemukan bukti jika video itu hanya manipulasi. Rasanya, masih ada rasa tak rela jika Nara membagikan tubuhnya dengan pria lain.
Hingga malam semakin larut, ia bahkan tak ingin masuk ke dalam kamar karena merasa bersalah pada sang istri.
Napasnya terembus pelan, perlahan Tama memejamkan mata. Ia tertidur di atas sofa sampai pukul tiga dini hari.
Terbangun, kemudian beranjak dari ruang kerja menuju kamar. Ia lebih dulu memasuki kamar sang putri hanya untuk mengeceknya lalu kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah dari kamar Amara.
Pelan, ia membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali.
Mengecup kening Nara, sebelum kemudian merebahkan diri di sampingnya.
***
Sepanjang malam, Nara tak bisa tidur nyenyak. Pikirannya di penuhi oleh sikap Tama yang mendadak aneh seakan tak berani menatap dirinya sesaat setelah cumbuannya tadi malam. Ia baru bisa memejamkan mata pada pukul dua lebih beberapa menit. Sampai keesokan paginya, Energinya seperti terkuras dan matanya terlihat sembab.
Ia menarik napas dalam-dalam, berniat membangunkan pria yang tahu-tahu tertidur pulas di sampingnya. Namun, kalimatnya seakan tertahan di ujung lidah begitu melihat Tama menggeliat, detik berikutnya membuka mata dengan sedikit menyipit.
Lampu kamar yang temaram membuat Tama tahu jika Nara sudah membuka matanya.
"Sudah bangun?" tanya Tama dengan suara khas bangun tidur.
"Sudah"
Mereka sama-sama tidur dengan posisi miring saling berhadapan.
"Semalam masuk kamar jam berapa?" tambah Nara setelah terdiam hampir setengah menit.
"Kurang tahu" Tama melipat salah satu tangan dan menjadikan bantalan untuk kepalanya.
"Aku terjaga hingga pukul dua, berarti mas masuk sekitar hampir pukul tiga?"
"Mungkin saja. Maaf semalam ketiduran di ruang kerja"
"Sudah beres urusannya?"
"Sudah" sahut Tama singkat.
"Bangunlah kita mandi terus sholat subuh"
Tanpa menjawabnya, Tama bangkit dari tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi, sementara Nara menuju ke arah lemari untuk menyiapkan baju ganti.
Usai mempersiapkan pakaian untuk suami beserta dirinya, Nara keluar dari kamar dan hendak menuju ke dapur.
Sudah ada bik Jum yang sepertinya tengah sibuk mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas.
"Mau masak apa bik?"
"Eh Non?" wanita setengah tua itu berjengit.
"Masak sayur asem non, oseng udang kecap asin, sambal terasi sama semur daging"
"Nanti udangnya biar aku yang masak ya bik" Kata Nara sambil meraih wadah untuk mencuci udang yang baru saja keluar dari dalam frizer.
"Selain makanan seafood, bunda suka makan apa bik?"
"Banyak si non yang nyonya sukai, yang paling di sukai paling ya itu, baby cumi"
"Ada baby cumi di kulkas?"
"Ada non"
"Keluarin sekalian bik, mau aku oseng pake cabe hijau"
"Baik non" jawabnya singkat lalu segera membuka kulkas dan mengeluarkan cumi yang diminta Nara.
Jam sudah menunjuk di angka lima, Nara buru-buru berpamitan pada bik Jum setelah menyelesaikan mengolah cumi dan udang, makanan favorit Tama dan Amara serta ibu mertuanya. Ia bergegas menuju ke kamar untuk mandi setelah itu sholat.
Saat sampai di kamar, dia tak menemukan Tama di dalam kamar. Pakaian yang sudah di siapkan di atas tempat tidurpun hanya tersisa pakaian miliknya. Itu artinya sang suami sudah memakainya dan Nara yakin jika saat ini Tama sedang berada di kamar Amara.
__ADS_1
Karena masih dalam masa cuti nikah, Nara akan menghabiskan waktu bersama Amara. Sementara Tama sendiri bekerja sesuka hati sebab bisnisnya dalam beberapa minggu ke depan akan segera di resmikan. Mall berukuran Plaza akan di buka dan mulai beroperasi sesuai prosedur dalam peraturan departemen store. Tama yang menerima bantuan dana dari teman-teman Nara, di bantu oleh pak Ramdan serta Daffa yang juga ikut andil dalam pengelolaan pembangunan mall, hanya membutuhkan waktu tidak kurang dari enam bulan untuk menyelesaian sebuah usahanya.
Di dalam kamar Amara, tampak gadis kecil masih berbaring dengan sepasang mata fokus menatap layar ponsel milik sang ayah. Sedangkan Tama fokus dengan pekerjaan di laptopnya.
Amara memang suka sekali mendengar lantunan 99 nadhom Asma'ul Husna, bahkan dia sudah hafal setengahnya beserta artinya. Kadang Tama sendiri heran dengan sang putri yang justru lebih menyukai hal-hal yang berhubungan dengan agama di bandingkan melihat kartun atau lagu-lagu anak seusianya.
"Mommy!" cicit Amara tiba-tiba. Dia melihat Nara ketika membuka pintu kamar. Tama yang sedang berkutat dengan laptop, langsung mengalihkan pandangan ke arah Nara yang berjalan menuju ranjang, lalu kembali menatap layar di hadapannya.
"Mandi dulu yuk!" Nara menyentuh dahi Amara menggunakan punggung tangannya.
"Sebentar lagi mom" sahut Amara tanpa menatap Nara.
"Sebentar laginya kapan?"
"Lima menit lagi"
Mendengar jawaban sang putri, Nara memberikan kesempatan sesuai dengan permintaannya. Ia sibuk membuka tirai jendela lalu menyiapkan baju ganti untuknya.
Dia juga menyiapkan air hangat untuk Amara mandi.
"Sudah lima menit, mandi dulu yuk mommy mau bantu oma juga"
"Ok lets go" Dia menjawab sembari menekan tombol menu utama di ponsel.
"Mommy nggak kerja?"
"Enggak, mommy libur sampai hari rabu"
"Berarti kamisnya berangkat kerja?"
"Hmm" Nara membantu Amara melepaskan bajunya.
"Besok, besoknya lagi berarti mommy masuk kerja?"
"Iya"
"Terus kapan Ara ke sekolah"
"Masih lama-lama, Ara sekolahnya di rumah dulu sambil istirahat, sambil tunggu ajaran baru"
"Ajaran baru itu apa?"
Ara mengangguk patuh.
"Ajaran baru itu apa mom?" Tanya Ara ulang dengan suara teredam. Sebab dia sedang menggosok giginya.
"Ajaran baru itu pas bu guru buka pendaftaran buat sekolah"
"Kapan itu?" Ara lalu berkumur usai menggosok gigi. Setelah itu barulah Nara mengguyur tubuh Amara lalu menyabuninya.
"Dua bulan lagi"
"Masih lama-lama ya mom?"
"Iya, tadi kan mommy udah bilang masih lama"
Anak itu mengerucutkan bibir menyiratkan kekecewaan.
"Ara belajar banyak-banyak dulu di rumah, main lama-lama sama opa sama oma, nanti kalau bu guru udah buka pendaftaran, daddy mommy daftarin Ara sekolah"
"Eughh,,"
Selesai membantu putrinya mandi, Nara meminta Amara keluar terlebih dulu sementara dirinya membereskan peralatan mandi milik Amara.
Selang dua menit Nara menyusul Amara. Di sana bisa di lihat Tama masih duduk di bibir ranjang. Kali ini bukan laptop yang dia tatap melainkan ponsel dengan sesekali pria itu menanggapi ocehan sang putri yang banyak menanyakan suatu hal.
"Mommy, daddy masih di kamar Ara katanya tungguin Ara mandi"
"Iya kan daddynya sayang Ara banyak-banyak, jadi temani Ara terus" Nara meraih baju ganti yang sebelumnya sudah dia siapkan. "Sudah di lap-lap badannya"
"Sudah" Jawab Amara singkat.
Nara langsung memakaikan baju pada Amara, kemudian Tama membawa Amara keluar kamar setelah memakai pakaian lengkap.
"Tunggu mommy di meja makan ya"
"Yes mommy" Amara menjawab sembari berlalu.
__ADS_1
"Ada apa dengan mas Tama? kenapa mendadak cuek?"
Mengatupkan bibir dengan rahang terkatup rapat, wanita itu bergerak membereskan tempat tidur putrinya. Ia buru-buru keluar menyusul suami dan anaknya usai pekerjaannya selesai.
______
Jika ada yang aneh dengan kondisi rumah saat ini, bukan karena sikap Rania yang masih datar terhadap Nara dan Amara. Gadis kecil itu, selalu saja memiliki akal untuk merayu omanya agar tertawa. Dan usahanya memang membuahkan hasil. Rania tersenyum dengan tingkah sang cucu meskipun senyuman itu sangat tipis tersungging dari bibirnya.
Namun di sisi lain, justru sikap Tamalah yang membuat Nara berfikir keras menerka-nerka apa yang membuat suaminya menolak berhubungan badan.
Ia sudah mencoba agar tidak berprasangka buruk pada sang suami, sayangnya pikiran itu tetap saja singgah. Alasan yang dia buat sendiri bahwa Tama lelah karena kesibukannya, supaya dirinya berhenti berburuk sangka pada akhirnya ia sanggah mentah-mentah.
Idris memangku Amara, dan mengajaknya bercanda ketika Nara datang membawakan teh untuk di nikmati oleh suami dan mertuanya.
"Ara mau sama mommy" Seru Amara saat Nara menata minuman di atas meja. Seringnya bersama opa oma serta daddynya, membuatnya ingin bergelayut manja pada sang mommy.
"Mommy mau cuci piring bekas sarapan tadi sama cuci pakaian daddy nak"
Amara langsung bersungut mendengarnya. Sementara Tama hanya diam saja menatap putrinya yang ada di pangkuan Idris.
"Kan ada opa, oma sama daddy" kata Nara sambil berlutut di samping Idris agar Amara tak perlu mendongak menatapnya.
"Dari tadi kan belum sama mommy" protesnya merajuk sembari mengulurkan kedua tangan lalu mengalungkan ke leher Nara. Mau tak mau, Nara akhirnya mengambil alih Amara dari pangkuan opanya sambil berdiri.
"Biar bik Jum yang cuci piring dan cuci bajunya Tama?"
"Kasihan bik Jum yah kalau semuanya di limpahkan padanya"
"Kan pakai mesin cuci" Sergah idris yang membuat Nara seketika bungkam.
"Ara sama daddy sini" Sela Tama membuat Amara mengalihkan perhatian kepadanya.
Alih-alih menerima ulurang tangan Tama agar berpindah ke dalam gendongannya, Amara justru mengeratkan pelukan di leher Nara.
Dua hari ini memang Amara sedikit demam, dan tingkah manjanya itu mungkin saja di picu oleh suhu badannya yang tinggi, dan saat ini sudah menurun meski belum sepenuhnya normal.
Melihat putrinya kian merajuk, Nara memutuskan mengalah kemudian duduk memangku Amara.
"Cuci bajunya bisa nanti Na"
"Tadi aku belum menambahkan sabun untuk rendaman cucian baju mas yang ngga boleh di cuci pakai mesin"
"Bisa nanti kan?" ulang Tama dengan suara pelan, tetapi tegas.
Nara tak bisa menolaknya. Detik kemudian Tama mendaratkan tangan di belakang pinggang Nara dan menariknya agar duduk merapat padanya.
Rania sempat melirik ke arah mereka dengan sorot berbeda. Nara sendiri sangat tahu ada rasa tak suka dari tatapannya, tapi ia sendiri tak tahu harus memberikan reaksi seperti apa kecuali duduk dengan canggung di samping Tama sambil memangku Amara yang terus menempel layaknya koala.
"Makasih ya Na, tetap mendampingi Tama di saat kondisi keuangannya menurun" Ucap Idris tiba-tiba. "Ternyata prasangka bunda selama ini, yang mengatakan kalau kamu mencintai Tama karena hartanya itu salah besar" Lanjutnya yang memberi efek kejut dalam diri Rania.
"Bunda harus meminta maaf karena sudah suudzon sama Nara" Pria itu kembali berkata dan kali ini seraya melirik sang istri yang duduk di sampingnya.
Rania menghela napas pelan lalu menelan saliva. Dari sorot matanya sangat jelas jika dia merasa tak enak hati pada Nara. Apalagi ketika sang suami menyuruhnya minta maaf.
"Iya bunda minta maaf" ketusnya dingin.
"Minta maafnya yang benar bun"
"Kalian kan tahu kalau bunda memang orangnya seperti ini" Sergah Rania menimpali candaan Tama.
Idris hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Meskipun sikap Rania masih dingin dan kaku, tapi dia yakin jika sang istrinya sudah menerima Nara sebagai menantunya. Terbukti saat bik Jum berkata kalau oseng baby cumi tadi adalah buatan Nara, Rania justru dengan senang hati melahapnya hampir setengahnya. Tidak hanya itu, dia bahkan memergoki Rania menyunggingkan senyum sesaat setelah Tama mengucap ijab qobul ulang kemarin.
Cukup lama mereka berbincang di ruang keluarga, membicarakan soal plaza yang Tama bangun, dan pekerjaan kantor Nara yang sangat padat, tak terasa jarum pendek pada jam sudah mengarah ke angka sepuluh dan jarum panjang berada di angka dua.
Amara yang sebelumnya meminum obat setelah sarapan, kini tahu-tahu kondisi matanya terpejam di pangkuan Nara.
.......
Sombong enggak si, sebagai penulis nggak pernah minta dukungan?
Padahal saya suka rela aja, yang mau dukung ya silakan, yang enggak ya monggo.
Sebab saya sendiri merasa apa yang saya tulis masih banyak cacatnya.
Mau nambah part lagi malam ini??
Kalau banyak yang mau, nanti ku usahain up 😉😉
__ADS_1
kalau enggak, ya sudah.
Sekian & Terimakasih 😁