Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
53


__ADS_3

Bermenit-menit sudah berlalu, tapi dokter belum juga membuka pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Pintu yang memisahkanku dengan putriku selama berpuluh-puluh menit. Andai saja bisa, aku ingin sekali menerobos pintu itu lalu menemaninya merasakan sakit yang dia alami.


"Minum dulu" kata mas Tama seraya menyodorkan sebotol air mineral, mungkin dia membelinya setelah dari toilet.


Aku menerima sodorannya, meneguk isinya. Sementara mas Tama tak melepas pandangannya dariku selagi aku meminumnya.


"Kenapa lihatin aku?" tanyaku sambil menutup botol lalu menyerahkan kembali pada mas Tama.


Bukannya menjawab, pria di sampingku justru ikut menenggak air itu. Setelahnya, barulah dia bersuara.


"Kamu mukanya sangat tegang, sudah ku bilang Amara akan baik-baik saja"


"Aku tidak bisa sesantai mas"


Tak ada respon dari mas Tama. Saat aku menoleh, ku lihat dia sedang duduk bersedakap sambil menatapku. Menghembuskan napas pelan, aku memutus kontak mata lalu menunduk menatap jemariku yang saling bertaut.


"Kamu pikir aku sesantai itu? tak ada rasa khawatir pada Amara?"


"Karena menurutku tak ada raut cemas sedikitpun di wajah mas"


"Dan kamu menganggapku seorang daddy yang tak memperdulikan anaknya, begitu?"


"Bukan begitu" Sanggahku lalu diam, tak tahu harus ngomong apa lagi.


"Secara tersirat, kamu menuduhku begitu"


"Tidak, maksudku bukan seperti itu mas," Selaku cepat. Sadar bahwa ada bibit kesalahpahaman yang bisa membesar kalau aku terlambat atau keliru menjelaskan.

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Mas nggak_"


Kalimatku terputus karena tiba-tiba terdengar helaan kasar napas mas Tama, membuatku terkejut sekaligus takut secara bersamaan.


Saat aku akan kembali menjelaskan, suaraku seperti tertahan di ujung lidah sebab tatapan mas Tama menajam.


Caranya menatapku kali ini benar-benar membuatku kian beringsut dan tak berani menyuarakan penjelasanku.


"Kalau kamu berfikir aku tak mencemaskan Amara" ucapnya tepat di dekat telingaku, "Kamu salah" tambahnya. "Apa harus ku tunjukkan perasaan takutku seperti kamu yang tak bisa menyembunyikan kecemasanmu?"


Tangannya yang tadi masih memegang botol air mineral, kini tahu-tahu sudah menggenggam tanganku erat.


"Bukankan aku selalu bangun setiap jam di malam hari untuk mengecek kondisi Amara, apa kamu sama sekali nggak tahu apa artinya itu?"


"Apa selama disini aku mengabaikan Amara?" tanyanya ketika akhirnya kami melakukan kontak mata. "Atau apa aku sibuk sendiri dengan urusanku?"


Aku menggelengkan kepala. Faktanya, mas Tama memang tak pernah melakukan dua hal yang di tanyakannya.


"Kalau aku tidak mengkhawatirkannya, sudah dari kemarin-kemarin ku tinggal pulang ke Jakarta" ujarnya yang membuatku mengerutkan kening.


"Tapi dia anaku, darah dagingku" lanjutnya seraya mengeratkan genggaman kami. "Lagi pula,,," bisiknya kali ini di telinga kananku. "Di sini ada mommynya yang wajahnya ingin selalu ku tatap"


Usai mengatakan itu, ku lirik mas Tama mengedarkan pandangan, ketika tak ada yang melihat ke arah kami, termasuk ayah dan bunda, dengan cepat dia mengecup telingaku dan membuatku menggeliat karena kegelian.


Pria itu tersenyum miring seperti mengejek, aku hanya diam sembari melebarkan kedua netraku.

__ADS_1


"Apa masih menganggapku sesantai itu menunggu putriku yang tengah berjuang di meja operasi?" tanyanya usai menggodaku.


"Maaf" ucapku reflek.


Selang dua detik setelah aku mengucapkan maafku, pintu berbahan kaca tebal itu terbuka dan muncul seorang dokter dari balik pintu.


Mas Tama langsung berdiri, sementara aku masih duduk mematung dengan pikiran bercabang kemana-mana. Tak hanya pria yang masih menjadi suamiku, tapi ayah dan bunda juga bergegas menghampiri dokter itu.


"Bagaimana dok?" tanya mas Tama, aku diam masih dengan posisi duduk di tempat semula sambil menunggu jawaban dari sang dokter. Rasanya, aku tidak mampu berdiri. Takut jika jawaban pria berseragam hijau itu mengatakan sesuatu yang akan membuatku seketika tumbang.


"Proses transplantasi berjalan lancar, dan kondisi Amara juga stabil seperti sebelum melakukan operasi"


Tidak hanya aku, mas Tama dan ayah pun merasa lega dengan jawaban dokter onkologi yang menangani kasus Amara.


"Alhamdulillah yaa Rabb" lirih ayah yang masih bisa ku dengar.


Dalam hati, aku pun mengatakan hal yang sama, ucapan syukur itu aku bisikkan berkali-kali dalam hatiku.


"Untuk sementara hanya itu yang bisa saya sampaikan, nanti tolong datang ke ruangan saya untuk membicarakan tahap selanjutnya"


"Baik dokter"


Mas Tama bergegas menghampiriku, menangkup wajahku lalu sedikit membungkukkan badan untuk mengecup pucuk kepalaku.


"Kamu dengar kan Na?" katanya sembari merengkuh kepalaku. Reflek tanganku melingkar di pinggang mas Tama. Dengan posisiku duduk dan mas Tama berdiri, tangan mas Tama berulang kali mengusap bagian belakang kepalaku.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Lanjutan bab tadi yang sempat terputus 😇😇😇


__ADS_2