
"T-tapi mas Tama yah?"
"Tama sedang tidak di rumah, dia di Surabaya, nanti ayah hubungi dia dan menyuruhnya jenguk Amara" Dari wajahnya, pria itu terlihat menahan sesuatu, entah kecewa, marah, atau dilema. "Ayah ambil dopet dan ponsel dulu"
"Iya yah"
Sempat kecewa karena tak bisa bertemu dengan Tama, namun akhirnya Nara pasrah. Mau bagaimana lagi, Tama di Surabaya dan satu-satunya cara adalah menunggu keputusan ayah mertuanya, berharap dia segera menghubungi putranya, dan memintanya untuk segera pulang.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Nara menceritakan semua kejadian yang menimpanya dulu, mulai dari tiba-tiba Tama datang dan marah karena video yang tidak pernah Nara lakukan, sampai kepindahanya ke negri ginseng di tengah-tengah kehamilannya.
Mendengar cerita Nara, berkali-kali Idris beristighfar lengkap dengan gelengan kepala. Sama sekali tak menyangka jika sang istri sudah sangat kejam memperlakukan istri dari putranya sendiri.
"Aku tidak tahu yah siapa yang membuat video itu dan mencuri ponselku, disini aku tidak bisa menuduh bunda karena aku memang tidak memiliki bukti untuk menyanggahnya"
Naraya bercerita sembari meneteskan air mata berulang kali.
"Aku tidak meminta ayah untuk percaya semua ceritaku, tapi untuk Amara, aku mohon ayah mempercayainya"
"Maaf, selama ini ayah sudah berpikiran buruk tentangmu, ayah kira kamu benar-benar menghianati Tama dan pergi bersama pria lain, ayah mengira pesan yang kamu kirim itu memang darimu, karena ayah tidak tahu jika ponselmu hilang"
Bercerita panjang lebar, hingga tahu-tahu mobil sudah terparkir di halaman area rumah sakit. Kedua orang itu bergegas turun lalu melangkah masuk, menerobos lorong rumah sakit menuju kamar Amara.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikusalam" Di dalam ruangan itu, ada Diana, Anita serta Emir. Mereka menjawab salam Nara secara bersamaan lalu menyalami Idris satu persatu.
"Ini mertua Nana mih" ucap Nara pada Diana.
Setelah mengobrol beberapa menit, Diana, Anita dan Emir berpamitan, bermaksud memberi ruang untuk Idris agar leluasa melepas rindu dengan sang cucu.
Pria itu memandang penuh lekat wajah pucat Amara, hatinya teriris merasa sudah mengabaikannya selama hampir tujuh tahun. Tak tahu menahu tentang Nara dan Tama yang ternyata memiliki buah hati dari pernikahannya.
"Maafkan ayah" Tiba-tiba pria itu menyerukan suaranya dengan tatapan sepenuhnya ke wajah Amara. "Ayah benar-benar tidak tahu tentang kalian, selama ini ayah hanya mendengar pembenaran dari sisi bunda"
"Tidak apa-apa yah, ayah mempercayai dan mengakui Ara sebagai cucu itu sudah lebih dari cukup"
Idris melepas kacamata yang melingkupi netranya, lalu menghapus titik bening di sudut matanya.
"Ayah akan selesaikan kesalahpahaman ini"
"Tidak perlu yah, aku hanya meminta supaya mas Tama mau mengakui Amara dan menemuinya, karena dia ingin sekali melihat daddynya"
"Kalau itu pasti, Nara"
"Mommy" Suara Amara yang lemah dan parau menyela obrolan mereka. Kompak kedua orang yang terlibat pembicaraan menoleh ke arahnya.
"Ara sayang"
"Siapa kekek ini mom, kenapa mirip sama oppa yang ada di liontin Ara?"
"Sayang ini grandfa nak, oppa Ara"
"Oppa" Gadis itu berusaha bangkit dan duduk dari rebahnya.
"Amara mau apa?" tanya Idris lembut.
"Ara mau duduk oppa, Ara mau lihat banyak-banyak wajah oppa"
Setelah memperhatikan lekat-lekat, gadis itu tersenyum lebar. Bahagia itulah perasaan yang terlukis di wajahnya.
"Boleh Ara peluk oppa lama-lama?"
Tanpa ragu, Idris langsung memeluk Amara dengan perasaan haru, dan entah kenapa jantungnya justru berdetak sangat liar, perasaan nyaman memeluk sang cucu perlahan semakin tajam. Reflek tangannya mengusap bagian belakang kepala Amara lalu mengecup pucuk kepalanya lama, bahkan selama dalam pelukan mulutnya terus menempel di pucuk kepala gadis itu"
"Ara kangennya banyak-banyak sama omma sama oppa, sama daddy" Suara Amara teredam sebab masih dalam pelukannya. "Ara mau tinggal sama daddy, oppa"
Pelukan itu terurai, Idris kembali mengecup kening Amara dalam dan lama.
Nara yang menyaksikannya, berkali-kali mengucap syukur dalam hati. Setidaknya dia sudah mendapat kepercayaan dari ayah mertuanya, tidak peduli seberapa besar upaya Rania menghalangi dirinya dalam mempertemukan Amara dan Tama, yang jelas dia akan melakukan apapun demi sang putri.
*****
Sementara Rania, dia merasa gusar dan ada sedikit penyesalan dengan sikapnya yang sudah mengusir Amara dari rumah sakit.
Baru beberapa jam setelah pengusiran itu, sudah ada tiga dokter yang mengundurkan diri dari sana. Ada pula protes dari beberapa direksi dengan sikapnya yang tidak berperikemanusiaan.
Namun tetap saja Tamalah prioritas utamanya saat ini. Ia berusaha memutar otak supaya Tama terhindar dari Amara dan Naraya.
"Bunda" pekik Shella agak keras. Kehadiran Shella yang tiba-tiba, membuat Rania terlonjak. "Apa yang bunda lakukan?"
__ADS_1
"S-Shella"
"Apa benar bunda mengusir salah satu pasien di sini?"
"Shella, bunda bisa jelasin sayang"
"Apa yang mau bunda jelasin? tentang tiga dokter yang mengundurkan diri? atau perlakuan bunda yang tidak bermoral terhadap orang sakit?"
"Shella, pasien itu adalah anak kandung Tama"
"A-apa?" Shella menjawab dengan ekspresi terkejut. "Anak kandung Tama?"
"Iya sayang"
"Itu artinya, Naraya juga di sini bun?"
"Iya, dan kamu tahu, kenapa dr Emir dan dr Aksa langsung mundur dari sini?"
"Kenapa memangnya?"
"Entah hubungan apa, yang jelas kedua dokter itu sangat akrab dengan Nara, bahkan Amara memanggil mereka papa. Dan yang lebih mengejutkan, ternyata mereka adalah para petinggi perusahaan besar"
"Oh ya?" Reflek Alis Shella menukik tajam. "Tapi seharusnya bunda ngomong ke aku dari kemarin-kemarin"
"Maaf sayang, bunda nggak kepikiran ke sana, yang bunda pikirkan cuma Tama, bunda harus memastikan kalau Tama tidak bertemu dengan mereka"
"Bukankah sekarang Tama ada di surabaya bun?"
"Iya Shell"
"Kalau begitu, aku mau pernikahanku dan Tama segera di laksanakan"
"Apa maksudmu?"
"Tama belum tahu tentang Amara kan bun?"
"Dia sudah tahu Shella, tapi masih meragukan Amara sebagai anak kandungnya, Tama masih belum yakin seratus persen"
"Kalau begitu jangan biarkan Tama mengetahui DNA anak itu"
"Ini yang bunda pikirkan dari kemarin"
"Kamu yakin Shell? mau nikah siri?"
"Terus, apa bunda punya solusi lain?" ketus Shella dengan suara lantang. "Aku sudah korban waktu demi Tama bun, usiaku sudah kepala tiga lebih, harusnya aku sudah punya anak kan? Aku tidak mau ya penantianku sia-sia"
"Baiklah Shell, kita ke Surabaya, kita persiapkan semua dalam tiga hari, kita akan larang Tama pulang ke Jakarta"
"Malam ini juga kita berangkat bun, soal rumah sakit, kita serahkan dulu pada wakil kepala, paling nanti berita itu juga reda sendiri, yang penting sekarang, aku harus menjadi istri Tama"
****
Sore harinya, sesaat setelah kepulangan Idris dari rumah sakit menjenguk Amara, ada sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Mobil milik Rania yang baru saja pulang bekerja.
"Ayah sudah pulang yah?"
"Sudah bun" Sedikit ketus dan terkesan cuek.
"Yah bunda mau bicara" Wanita itu duduk di samping sang suami.
"Bunda mau bicara apa?"
"Shella dan Tama berencana akan menikah di Surabaya"
Ucapan Rania, membuat Idris langsung mempertemukan netranya.
"Dan malam ini, bunda dan Shella serta orang tua Shella akan ke Surabaya, ayah juga ikut ya yah"
"Apa yang bunda lakukan?"
"Maksud ayah apa? bunda tidak melakukan apapun"
"Kenapa rencana pernikahan mereka mendadak? tanpa membicarakan pada ayah jauh-jauh hari sebelumnya?"
"Iya yah, ini permintaan Tama kok yah, Tama sendiri yang telfon Shella untuk menyusulnya ke Surabaya, dia sudah mempersiapkannya di sana"
Jadi Tama sudah mempersiapkan pernikahannya? apa-apaan anak itu? Idris membatin cukup heran dengan keputusan Tama.
"Yah"
__ADS_1
"I-ya bun, ayah ikut ke Surabaya ya!"
"Tidak bisa bun, ayah banyak kerjaan di kantor"
"Kan ada Dika yah"
"Bagaimana bisa Dika menghandle sendirian"
"Bunda ke sana dulu, besok sore ayah menyusul"
"Benar ya yah"
"Ya bun"
"Okey, kalau gitu, bunda bersih-bersih dulu"
"Hmmm"
Rania bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju kamar. Sementara Idris menatap punggung Rania memastikan sang istri benar-benar memasuki kamarnya.
Detik berikutnya, Idris meraih ponsel di atas meja lalu menelpon pihak rumah sakit tempat dirinya melakukan tes DNA.
"Mbak, apa hasil DNA atas nama Amara dan Gautama sudah keluar?"
"Belum pak, kemungkinan dua hari lagi"
"Terimakasih suster"
Begitu panggilan di tutup, Idris berniat menelpon putranya. Suara salam terdengar dari balik telfon genggam milik Idris sesaat setelah panggilan tersambung.
"Assalamualaikum yah!"
"Waalaikumsalam"
"Ada apa yah, Semua baik-baik saja kan?"
"Iya semuanya baik" sahut Idris datar. "Apa kamu sudah yakin akan menikahi Shella Tam?"
"Sudah Tama bilang kan yah? Tama tidak mau membahas soal pernikahan"
Mendengar respon Tama, Idris sudah bisa menduga jika ini rencana Rania, sang istri.
"Bunda dan Shella akan menyusulmu ke Surabaya, mereka akan menggelar pernikahan kalian secara siri"
"Apa?"
"Iya Tam, bunda bilang ini permintaanmu"
"Tama sama sekali tidak meminta itu yah"
"Tama, ayah saranin kamu diam dan jangan menolak rencana bunda, Nanti ayah yang akan menggagalkan pernikahan kalian"
"Tapi yah"
"Nurut sama ayah"
Idris mematikan panggilan begitu saja. Kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju kamar.
Di tengah-tengah langkahnya menuju kamar, entah kenapa hatinya merasa yakin jika Amara adalah cucunya, mengingat Nara yang selalu jujur dalam bekerja saat di perusahaannya, Ia yakin jika Nara tak berani membohonginya, apalagi bohong tentang status anak, sudah pasti ada pidana dalam kebohongannya. Selain itu, baru saja dirinya berpisah dari Amara, rasanya dia sudah ingin lagi bertemu dengannya.
Cucuku membutuhkan daddynya.
Ketika membuka pintu, Rania yang tengah mengamankan benda-benda rahasianya sembari terus bergumam, membuat Idris penasaran, telinganya seperti menangkap gumaman itu.
Idris mempertajam pendengaran.
Aku melupakan ini, seharusnya ku lenyapkan saja dari dulu.
Saking sibuknya mengurus perusahaan, Rania justru lupa dengan barang bukti kejahatannya yang ia simpan rapi di dalam kamar. Bahkan selama itu pula dia tak pernah menyentuhnya.
Aku akan bawa ini dan saat di tengah jalan akan ku bakar semuanya. Aku tidak tenang jika harus meninggalkan ini di rumah selama tiga hari. Takut nanti mas idris tidak sengaja menemukannya.
Itulah yang Idris dengar. Tak ingin di ketahui oleh Rania, alih-alih masuk, ia justru berbalik dan kembali menuju ruang tengah.
"Benda apa yang hendak Rania lenyapkan?"
Idris bertanya-tanya dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1