Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
82


__ADS_3

"Na, mungkin besok mas ke lapangan cek situasi plaza"


"Jam berapa?"


"Rencana pukul delapan dari rumah" Tama menjawab masih dengan tatapan terarah ke layar laptop, sementara Nara sibuk memindahkan pakaian dari koper ke dalam lemari.


"Apa ada masalah?"


"Nggak ada, rencana mau meeting tentang tema untuk pembukaan plaza bulan depan, perekrutan karyawan, sekalian cek keseluruhan lampu-lampu, kamu mau ikut?"


"Aku sangat sibuk di kantor, maaf nggak bisa ikut"


"Memangnya Khansa kasih jabatan apa, kok sepertinya jabatan yang kamu pegang sangat penting?"


"Jelas penting, aku pemimpin di perusahaan itu"


"Pemimpin?" Fokus Tama kini beralih menatap Nara.


"Hah?"


"Kamu bilang tadi pemimpin"


"Aku bilang pemimpin?" Nara yang tadi hendak menggantung kemeja milik Tama ke lemari urung ia lakukan.


"Hmm" Pria itu menganggukan kepala dengan sorot sepenuhnya ke wajah Nara.


"Masa iya aku bilang begitu"


"Masa iya baru tadi lupa?"


Nara ambigu. Otaknya seperti bekerja keras menyanggah kalimatnya sendiri yang di rasa keceplosan.


"Maksudku, pemimpin di bagian staf menejer"


"Oh"


"Besok Amara sama ayah bunda?" tanya Nara.


"Memangnya kamu mengijinkan jika mas mengajaknya"


"Jelas tidak" Nara kembali melanjutkan aktifitasnya begitu pula dengan Tama.


"Pulangnya jam berapa?" Nara bertanya setelah sempat hening beberapa saat.


"Belum tahu"


"Apa ada kemungkinan sampai malam?"


"Belum bisa memprediksi, Kenapa?"


"Nggak apa-apa"


"Apa kamu nggak bisa pisah denganku sehari saja?"


Nara mendengkus lirih. "Kita berpisah tujuh tahun, mustahil kalau aku nggak bisa pisah sehari saja sama mas. Tiap hari aku pergi ke kantor, sudah terbiasa juga ngga ketemu kan"


"Tapi beda Na, biasanya kan kamu pulang kerja langsung lihat suamimu yang tampan ini"


Nara langsung memicingkan mata ketika Tama mengatakan itu. Tampak Tama tengah tersenyum meledek.


"Sementara besok, wajahku ini nggak menyambut kepulanganmu. Itu yang jadi masalah buat kamu, makannya kamu nanyain pulang jam berapalah, sampai malam atau enggaklah, iya kan?"


"Duh, kenapa senyum mas Tama manis banget. Sepertinya memang iya, terbiasa pulang kerja ada mas Tama, besok nggak ada dia"


"Na?"


Tama mengangkat satu alisnya.


"Naraya Stevani?"


"I-iya?" wanita itu tergagap.


"Benar kan kamu sanksi pas pulang kerja mas belum pulang?"


"Ish ish, terlalu percaya diri" gerutu Nara. sambil membuang muka.


Tama terkekeh geli melihat ekspresi Nara.


Tidak di pungkiri, ucapan Tama tadi bagaikan busur yang tepat mengenai sasaran. Namun dengan keras Nara menyanggahnya.


"Besok sekalian cari satpam buat jaga rumah jadi mungkin malam pulangnya"


"Kalau bisa jangan terlalu malam ya"


"Enggak"


Selesai menata kembali pakaiannya ke dalam lemari, Nara berniat turun untuk melihat Amara yang sedari tadi berada di kamar Idris dan Rania. Jam menunjukan hampir pukul sepuluh malam ketika Nara menuruni anak tangga.


"Belum selesai bik?" tanya Nara ketika melihat bik Jum masih berkutat di dapur.


"Sudah bu, ini mau ngrendem jamur kuping buat besok"


"Mau di masak apa jamurnya?"

__ADS_1


"Di oseng pake chiken wings bu"


Nara menyiapkan air dan gelas di atas nampan untuk di bawa ke kamarnya.


"Amara masih di kamar bunda ya bik?"


"Sepertinya masih bu"


"Kalau sudah selesai, bik Jum langsung istirahat, besok aku carikan teman buat bantu beres-beres rumah"


"Mau cari ART lagi bu?"


"Rencananya si iya, buat beres-beres rumah"


"Kalau ibu setuju dan kalau mau, saya ada kerabat bu, kebetulan lagi cari kerjaan"


"Boleh bik, tapi usianya berapa ya bik?"


"Dua puluh tahun bu?"


"Masih muda ya?"


"Iya bu"


"Ya sudah, besok saja bik di bahasnya, sekarang sudah malam. Bibik istirahat"


"Iya bu"


Wanita itu melangkahkan kaki menuju kamar Rania.


"Bun" Nara mengetuk pintu kamar. Tak berapa lama muncul Idris tepat di ambang pintu.


"Iya Na"


"Yah, Amara sudah tidur?"


"Sudah, biarkan amui tidur sama ayah sama bunda"


"Iya yah, tapi boleh aku lihat Ara sebentar"


"Boleh, masuk saja sayang" Kata Idris seraya melebarkan pintu.


"Makasih yah"


"Iya, sama-sama Nara" Idris tersenyum, lalu mengekor di belakang Nara.


"Dia sudah tidur Na?" ucap Rania dengan tangan bergerak mengusap punggung Amara. Rania dan Amara, sama-sama berbaring dengan posisi miring saling berhadapan.


"Maaf ya bun, pasti ngrepotin bunda seharian"


"Makasih banyak-banyak bun?"


"Nggak usah makasih kamu, bunda nggak suka, kesannya kayak sama orang lain saja"


Nara tersenyum tipis lalu mencondongkan badan mendekatkan mulut di telinga Amara.


"Selamat tidur ya nak" kata Nara yang cukup jelas bisa di dengar oleh Idris serta Rania. "Maaf, mommy jarang temani Amui kalau siang"


Tanpa sadar, Idris tersenyum mendengar bagaimana Nara memanggil putrinya seperti cara Idris memanggilnya.


"Mommy sayang sama Amui, daddy juga. Kangen pengin main sama Amui banyak-banyak. Tapi daddy sama mommy harus kerja, biar nanti bisa dapat uang buat sekolah Amui"


Setelah itu jeda sejenak, Nara menatap lekat-lekat wajah Amara yang terlihat sangat pulas.


"Bobo yang nyenyak ya, kalau ketemu nenek, sampaikan kalau mommy kangen dan sayang sama nenek"


Mendengar kalimat terakhir Nara, hati Rania mendadak mencelos. Ia merasa bersalah pada Fitri yang sudah meninggal akibat ulahnya.


Bunda tahu Na, bagaimana merindukan seseorang yang tak mungkin lagi bisa kita lihat, apalagi memeluk untuk menuntaskan rasa rindu itu. Sebab bunda pun merasakannya untuk almarhumah mamah bunda. Betapa mirisnya ketika kita mengingat tak bisa lagi bertatap muka dengan mereka, ngobrol dan bercanda bersama.


Bunda paham, betapa sakitnya menahan rindu yang seoalah tak ada habisnya, bahkan terasa menyiksa saat benar-benar sedang sendiri dan pikiran kita mengingat kenangan manis yang terukir bersama mereka.


Maafkan bunda Na, sekarang bunda tahu kenapa kamu kembali dan mencari kami, itu semua kamu lakukan demi Amara, putrimu yang begitu merindukan daddynya.


Rania membatin dengan sekelumit rasa bersalah yang seakan tak ada ujungnya.


"Good night anak mommy" Nara mencium kepala Amara hangat dan lembut.


"Sudahan ngomongnya?" tanya Rania saat Nara bergeming sambil menatap Amara.


"Sudah bun"


"Kalau gitu, sekarang istirahat, kamu pasti lelah seharian bekerja, sampai rumah langsung memasak"


"Iya bun"


"Aku ke kamar bun, ayah. Selamat malam"


"Selamat malam" jawab Idris dan Rania bersamaan.


Baru saja Nara hendak berbalik, Rania buru-buru memanggilnya.


"Iya bun?"

__ADS_1


Alih-alih menjawab, Rania malah bangun dari tidurnya, lalu menyuruh Nara mencondongkan badan.


Rania menangkup wajah Nara setelah mengikis jarak. Detik berikutnya dia mengecup kening Nara sedikit lebih lama.


"Maafkan bunda Na" ucapnya setelah melepas kecupannya. "Tidur yang nyenyak ya"


Tertegun, Nara merasa ini adalah pertama kalinya dirinya mendapat kecupan dari ibu mertua yang terasa begitu tulus.


"Selamat malam" imbuh Rania.


"Selamat malam bun"


*****


"Amara mana?" tanya Tama ketika melihat Nara memasuki kamar tanpa Amara.


"Tidur di kamar bunda"


"Wah asik dong kita bisa lembur bikin dedek bayi" Tama memang pria yang jahil, selalu saja bisa menggoda Nara.


"Ish bures"


"Bures gimana, sama istri sendiri juga" katanya menyergah ucapan Nara. "Asal kamu tahu, suami istri bebas membicarakan apa saja termasuk_"


Kalimat Tama tak sempurna sebab tiba-tiba ekor matanya menelisik tubuh Nara dari bawah sampai atas.


"Nah kan mesum"


"Nggak ada yang mesum kalau sama pasangan Na"


Nara mengambil posisi rebah di sampingnya.


"Mas tahu tadi bunda ngapain?" kata Nara sambil bergerak menyamankan posisi duduknya.


"Dia bikin ulah?"


"Enggak"


"Terus?" tanya Tama seraya menegakkan duduknya lalu bersandar pada headboard.


"Tadi bunda mencium keningku"


"Oh ya?" Satu alis Tama terangkat. Sementara Nara mengangguk lengkap dengan seulas senyum.


"Kamu nggak benci sama bunda, padahal bunda sudah banyak menyakitimu?"


"Aku mencintai putranya, jadi aku tidak bisa membenci wanita yang sudah melahirkan pria yang ku cintai. Lagi pula, kalau hati kita sudah di selimuti kebencian, kita akan butuh waktu lama dan akan lebih sulit untuk menyembuhkannya"


"Aku tidak ingin anak-anakku nanti melihat ibunya hidup dengan di penuhi kebencian yang mengakar dalam daging. Jika anak-anak kita nanti berseteru dengan orang lain, mereka pasti akan medapat pembenaran tentang kebencian karena telah melihat ibunya sebagai contoh" lanjut Nara panjang lebar.


Tama bergeming sekaligus takjub dengan ucapan sang istri.


"Aku benar-benar beruntung memiliki istri sepertimu" Pria itu bergerak mengunci tubuh Nara di bawah kungkungannya. "Mas harus pintar-pintar mengalihkan pikiran mas, sebab hanya dengan membayangkan wajahmu saja, mas harus bisa menahan diri dan berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan ingatan mas tentang betapa indahnya kamu ketika kita bercinta"


Ada semburat merah yang terlukis di wajah Nara saat mendengar kalimat Tama.


"Mas" panggil Nara ketika tahu-tahu Tama menyusuri garis lehernya dengan bibir.


"Mas" panggilnya lagi saat Tama menggigit lembut pangkal lehernya lalu menyesapnya kuat-kuat.


Tak bisa lagi menghindar, Nara pun pasrah dengan sentuhan yang kian intens di setiap jengkal tubuhnya.


_______


"Mas belum ngantuk?" Tanya Nara sambil mengusap lengan Tama yang melingkar di perutnya.


"Entahlah" sahutnya lalu mengecupi ceruk leher Nara berkali-kali. "Mas belum ingin tidur"


"Ini sudah malam loh mas"


"Apa kamu sudah mengantuk?"


Pertanyaan yang aneh, oleh karena itu Nara tak meresponnya. Sebab tanpa di pertanyakan, seharusnya Tama tahu jika saat ini jam sudah hampir di pertengahan malam, sudah jelas wanita itu sudah mengantuk. Apalagi beberapa saat lalu, mereka baru saja melepaskan dahaga sebagai pasangan suami-istri. Selain rasa kantuk, pasti juga menahan rasa lelah karena aktivitasnya yang cukup menguras keringat.


"Kamu ngantuk Na?" ulang Tama, satu tangannya bermain-main di area dada istrinya.


"Hmm"


"Tidurlah" Tama mengecup punggung Nara.


Saat ini, pria itu memang tengah memeluk Nara dari arah belakang usai percintaan mereka.


"Mas" panggil Nara sedikit kewalahan karena bibir Tama justru bergerak liar di area tengkuk, dan punggung.


Nara memang menjadi sangat lemah ketika Tama menyentuhnya. Di bagian manapun pria itu melakukannya, hasratnya sontak naik berlipat ganda.


Wanita itu membalikan badan. Dengan sedikit tengadah, Nara mempertemukan netranya. Belum sempat mengeluarkan kata-kata, Tama lebih dulu bersuara.


"Sekali lagi ya" pinta Tama penuh harap.


Tak butuh waktu lama, Nara mengangguk dan Tama langsung meraup bibirnya. Pria itu kembali menyentuh istrinya dengan sangat lembut.


TBC...

__ADS_1


Sudah tamat si.. tinggal satu kejutan dari Nara untuk keluarga Nalendra... 😀😀


__ADS_2