
"Tehnya mas" Hati-hati Nara meletakkan secangkir teh di samping notebook.
"Thankyou sayang" sahutnya tanpa menatap Nara.
Melihat bagaimana reaksi pria yang nampak serius dengan pekerjaannya, Nara menimbang-nimbang apakah harus mengatakan keinginannya yang datang secara tiba-tiba.
Napas Nara terhembus pelan ketika menyadari tak ada reaksi apapun atas keberadaannya yang berdiri tepat di samping Tama dengan gestur resah.
Pria itu benar-benar tengah fokus di meja kerja mengoperasikan notebooknya dengan kacamata bertenger di atas hidung.
"Mas"
"Hmm" Masih dengan fokus sepenuhnya mengarah ke layar notebook.
"Lapar"
Hening, sepertinya Tama terlalu fokus sehingga suara Nara tak begitu jelas tertangkap oleh telinganya.
"Pengin makan" ucap Nara lagi.
"Ya makan dong"
"Tapi mager mau bikin makanan"
"Ya udah pesen aja"
Tama menoleh, ia mempertemukan netranya sesaat lalu kembali mengarahkan penglihatan ke layar dan menekan ikon shutdown setelah menyimpan hasil pekerjaannya.
"Pengin makan apa hm?" tanyanya seraya menggiring Nara ke arah ranjang.
"Apa saja, yang penting jangan seblak, ayam geprek, atau mie ayam" Nara menjeda kalimatnya. Sementara Tama masih lekat menatapnya.
"Bakso aja deh sayang, eh bukan-bukan, sate buntel aja yang khas solo"
"Oke mas pesen sate buntel kalau gitu"
Keduanya duduk di tepian ranjang.
"Tunggu-tunggu" cegah Nara cepat sambil memegang lengan sang suami.
Kening Tama mengerut. Jemarinya yang tadi hendak mengetikkan sesuatu di atas layar ponsel langsung berhenti.
"Kayaknya kwetiaw lebih enak deh, tapi_" Nara menggantung kalimatnya.
Hening,Tama dengan sabar menunggu sang istri yang sedang berfikir.
"Jadinya mau makan apa nyonya?" tanyanya setelah tidak bersuara selama hampir satu menit.
"Menurut mas makan apa?"
"Mas nggak pengin makan"
"Maksudnya kasih saran"
"Ya kamu penginnya makan apa, nanti mas saranin makan mie ayam kamunya nolak"
"Ya jangan mie ayam dong, tadi kan udah di bilang jangan mie ayam"
"Itukan umpanya Na"
"Ya udah bantu mikir, aku pengin makan apa"
Tama menghembuskan napas panjang. Di suruh bantu mikir sang istri yang entah ingin makan apa, jelas itu sesuatu yang aneh baginya.
Alih-alih berfikir, pria itu justru termenung sambil menahan rasa kantuk.
"Mas"
"Ya?" Tama tersentak.
"Sudah ada ide kira-kira aku pengin makan apa?"
Tama menggeleng.
"Ayo dong berfikir"
"Ya kamu yang pengin makan, masa mas yang mikir, mas mana tahu kamu pengin makan apa"
Mata Nara memicing, dan itu membuat Tama sedikit takut.
"M-makan soto madura saja mau?" tanya Tama.
"Nggak mau"
Nara menggeleng dengan bibir terkatup rapat.
__ADS_1
"Laksa betawi?" lanjut Tama asal, biar seperti tampak berfikir.
"Ah apa lagi itu, makanan bersantan, enggak-enggak" tolak Nara.
"Banyak banget makannan Na, kenapa musti bingung ... Ada nasi padang, burger, pizza, macam-macam rice bowl, cap cay, nasi li_"
"Mas" potong Nara sambil menepuk paha Tama.
Persekian detik Tama menoleh ke samping kiri.
"Lontong balap yang khas Surabaya"
"Lontong balap?" ulang Tama mengernyit.
"Iya, waktu itu ada investor mas yang dari Surabaya kan, yang istrinya namanya Zara?"
"Pak Kennan?"
"Nggak tahu juga, intinya istrinya namanya Zara. Waktu itu aku sempat di ajak mampir ke rumah bibiknya namanya Yuni, terus mbak Zara ini bikin lontong balap, nah aku di suruh nyicip, enak deh. Pengin lagi"
"Emang ada di Jakarta?"
"Ya coba dulu cari"
Tamapun mulai mencari di aplikasi grabfood. Sepertinya tidak ada restauran yang menjual lontong balap apalagi di malam hari seperti ini. Setelah mencari melalui aplikasi termasuk di restauran tempat plazanya, dan tak menemukan makanan bernama lontong balap, dari pada pusing Tama mengirimkan pesan chat untuk Kennan.
"*Assalamualaiku*m?"
Kenan Metrogroup :"Waalaikumsalam" (21:45 wib)
"Lontong balap itu makanan apa pak bos?" (21:46 wib).
Karena Kennan memang sedang dalam kondisi online, tak menunggu lama Tama langsung mendapat balasan.
Kenan Metrogroup : "Oh itu makanan khas Surabaya bos, rasanya sangat enak" (21:46 wib).
Kenan Metrogroup : "Kenapa?" (21:47 wib)
"Istriku ngidam lontong balap, karena sempat di bikinin sama bu Zara saat mereka bertemu di Jakarta"
Kenan Mereogroup : "Beliin saja bos, kayaknya anaknya bik Yun jualan. Coba saja cari nama gerainya doa ibu"
Kennan mengirimkan alamat gerai.
"Thanks bos, informasinya"
Tama membalas dengan stiker menangkupkan tangan, setelah itu mengalihkan fokusnya menatap Nara.
"Jadinya mau apa?" tanya Tama.
"Ya itu lontong balap"
"Nggak ganti lagi?"
"Enggak, mau itu pokoknya" Nara menjawab tanpa menatap Tama. Ia sudah berbaring sambil memainkan gawainya sejak beberapa menit lalu.
Mendengar jawaban sang istri, Tama bangkit lalu memakai jaket.
"Mau kemana?"
"Cari lontong balap"
"Mau cari kemana? ini sudah malam"
"Nggak apa-apa demi istri sama anak kembarku"
"Nggak bisa online gitu?"
"Nggak bisa"
"Kalau gitu aku ikut"
"Nggak usah" kata Tama lalu menyambar kunci mobil, dompet serta ponsel. "Tunggu saja di rumah"
"Pokoknya mau ikut"
"Apaan si Na, ini udara malam loh, nggak bagus buat ibu hamil"
"Ikut"
Mendengkus pelan, mau tidak mau akhirnya Tama mengijinkan Nara ikut dengannya.
Pria itu berjalan ke arah lemari dan mengambilkan baju hangat untuk istrinya.
"Pakai ini" Tama membantu Nara mengenakan jaket.
__ADS_1
Selang sepuluh menit, mereka sudah berada di halaman depan rumah. Tama membuka pintu mobil untuk Nara lalu menutupnya kembali. Mereka bersiap menuju alamat gerai milik anak dari saudara rekan bisnisnya.
"Mas mau cari kemana?" tanya Nara sambil mengedarkan pandangan ke arah jalan.
Ke gerai yang jual lontong balap"
"Iya di mana"
"Jakarta pusat"____
Hampir satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di tujuan. Tama yang sebelumnya sudah memesan by phone, langsung di persilahkan duduk dan hanya menunggu lima menit, dua porsi lontong balap sudah tersaji di meja lengkap dengan lemon tea hangat.
Tama dan Nara menikmati lontong balap khas Surabaya asli. Semua berkat Kennan yang sudah memberikan informasi tentang gerai yang menjual makanan itu.
"Mau makan apa lagi?" tanya Tama setelah selesai menyantap habis lontong balap.
"Enggak, udah kenyang"
"Kita pulang?"
"Hmm" sahut Nara sambil menyesap lemon tea menggunakan sedotan.
******
Sampai dua minggu berlalu, malam ini Tama beserta keluarga yang lain akan menghadiri undangangan ajang penghargaan entrepreneur awards yang memang sudah rutin di adakan setiap tahun.
Penghargaan ini meliputi, Menpreneur, Womenpreneur, inovatifpreneur, dan lain sebagainya.
"Selamat malam pak Tama"
"Selamat malam, pak Kennan"
Tama dan Kenan saling berjabat tangan.
"Apa kabar?" tanya Tama ramah.
"Baik. Bagaimana dengan lontong balap tempo hari"
"Ya, saya harus mengucapkan banyak terimakasih untuk itu, saya menemukannya dan istri saya sangat puas"
"Syukurlah, beruntung malam itu pak Tama menghubungi saya, kalau tidak, saya tidak tahu apa yang terjadi ketika bapak tak memenuhi ngidamnya ibu hamil"
Sementara Tama dan Kenan saling mengobrol, Nara dan Zara pun tak kalah seru dengan topik obrolan mereka. Hingga suara dari host menginterupsi perbincangan mereka.
"Ladies and gentlemen attention please!" Seorang laki-laki bertubuh tinggi berteriak di atas panggung. Suaranya yang menggelegar mengalihkan perhatian para tamu yang sebelumnya asik bercengkerama. Pria itu memerintahkan agar para hadirin segera menempatkan dirinya di meja masing-masing sesuai dengan nomor meja yang tertera di undangan mereka.
Acara pun dimulai dan sudah melewati berbagai macam sesi.
Khansa yang di nobatkan sebagia CEO wanita termuda, mendapatkan ucapan selamat dari rekan-rekan bisnis tak terkecuali Nara, mereka turut bahagia atas penghargaan yang Khansa raih. Dan Kennan yang juga meraih CEO pria termuda mewakili Metrogroup pun turut mendapatkan ucapan dari para bisnisman.
Kini, dua host kembali membacakan nominasi. Ada lima wanita yang di nobatkan dalam nominasi ini, satu di antara mereka akan di nobatkan sebagai pebisnis wanita terinovatif.
"Dan penghargaan itu di berikan kepada_" Para host menggantung kalimatnya.
Satu detik, dua detik hingga berganti menjadi tiga detik, kedua pria yang menjadi host saling pandang sebelum kemudian kembali bersuara. "Naraya Stevani Gautama, sebagai pebisnis wanita paling innovatif dari Global Angkasa group" Suara riuh tepuk tangan pun bergemuruh. Salah satu host itu meminta Nara untuk naik ke atas panggung.
Dengan perasaan gugup sekaligus senang, Nara berjalan menaiki panggung.
Dia menerima sebuah plakat akrilik yang terbuat dari lapisan emas lengkap dengan tulisan jenis penghargaan.
"Silahkan barangkali ada sesuatu yang ingin di sampaikan" kata Host berambut pirang.
Nara sudah lebih dulu menempatkan dirinya berdiri di balik podium yang sudah tersedia.
"Duh saya harus ngomong apa ya" kata Nara sambil terus memperhatikan piala akrilik di tangan kanannya.
"Terserah, yang penting jangan membuat kami menunggu lama, kasihan mereka" Celetuk host yang merupakan dari kalangan artis.
Tawa dari para hadirinpun memenuhi seluruh ruangan. Mereka paham jika host ini pintar sekali mencairkan suasana.
Nara tersenyum, sedetik kemudian mengembuskan nafas dalam.
"Terimakasih kepada Entrepreneur awards yang sudah memberikan penghargaan ini untuk saya, terimakasih juga untuk taman, keluarga serta para karyawan saya yang sudah mensuport saya hingga sampai berada di titik ini. Penghargaan ini saya persembahkan untuk papa, dan juga ayah dan bunda mertua saya"
Tepuk tangan kembali bergemuruh.
"Tidak di berikan untuk suami juga nona Nara?" tanya host menyela.
"Tidak, suami sudah sering mendapatkan penghargaan bahkan setiap hari. Jadi ini khusus untuk papa dan mertua"
"Woaw pak suami, berasa memiliki istri tiri ye" selorohnya lagi yang mengundang gelak tawa. "Tidak masalah pak suami, yang penting kecup setelah bangun tidur selalu di berikan, iya kan nona Nara"
Tanpa sadar Nara mengangguk lengkap dengan seulas senyum. Para host mempersilahkan Nara untuk duduk kembali.
"Pasangan yang seperti ini nih yang saya suka" tambah Host. "Istri bercandain suaminya, begitu juga suami, rumah tangganya pasti seru. Siap-siap saya intip rumah tangganya ya nona Nara dan suami"
__ADS_1
....
Satu part lagi END ya, setelah itu break dulu ngurus kerjaan di dunia nyata. 😀😀😀