Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
76


__ADS_3

Kini mereka berempat sudah duduk di sofa ruang tengah. Idris berdampingan dengan Rania, sedangkan Tama duduk berdampingan dengan Nara.


Suasana sempat canggung hingga beberapa menit.


"Apa lagi perbuatan jahat bunda pada Nara?" Tanya Tama memecah keheningan. "Katakan semuanya jika masih ada yang bunda sembunyikan, aku tidak mau lagi dilain hari, mengetahui fakta lain mengenai kejahatan bunda pada istriku"


Lidah Rania seolah kelu untuk menjelaskan satu-persatu perbuatannya. Dia takut jika kejujurannya akan membuat Tama semakin marah. Dia juga malu pada Nara sudah mencuri ponselnya dan mengirimkan pesan pada putranya atas nama Nara. Hal yang sangat memalukan untuk di ceritakan, namun Rania tidak punya pilihan. Mau tak mau, dia harus menjelaskan semua kejahatan yang ia tujukan pada keluarga Nara. Mulai dari Ramdan yang harus berhenti bekerja, sampai dia mengusir Amara dari rumah sakit.


"Katakan saja bun, ayah yakin Tama akan memaafkan kalau bunda memberitahukan semuanya sekarang" Kata Idris mencoba mengurangi rasa takut dalam diri sang istri. "Ingat bun, tidak akan ada kesempatan kedua, jadi jangan takut, jangan kecewakan anak kita untuk kesekian kalinya"


Karena Rania masih bergeming dengan pandangan kosong, serta air mata yang terus meluncur bebas, Tama kembali bersuara.


"Apa bunda yang sudah mengganti kunci apartemenku?"


Cukup lama, akhirnya Rania mengangguk.


"Apa bunda pernah meminta Nara untuk menggugurkan kandungannya?"


Lagi-lagi Rania mengangguk membuat Tama kian sesak. "Ada lagi yang lain?"


"Banyak Tama" Lirihnya menunduk.


Tama membuang napasnya kasar.


"Katakan bun!"


Satu detik, dua detik, hingga berganti menjadi tiga detik.


"Apa saja bunda?" Bentak Tama membuat Rania tersentak.


"Mas" Lirih Nara sambil mengusap lengan Tama. "Istighfar, tenang. Jangan meninggikan suara mas di depan bunda" Tama melirik Nara dengan sendu.


"Dia sudah keterlaluan Na, apalagi Amara ikut menderita karena harus terpisah dariku"


"Tapi pelan-pelan ngomongnya"


Tama kembali menghirup napas panjang, lalu menghempaskannya sedikit kasar.


"Ayo bun katakan! Apa lagi kejahatan bunda?"


"Sebelum bunda mengatakannya, kamu mau kan memaafkan bunda?"


"Maaf itu mudah, tapi kepercayaan itu sulit di dapat"


"Jadi kamu tidak mau memaafkan bunda?"


"Memaafkan atau tidak, bunda tetap harus mengatakan dengan jelas, di depanku juga Nara. Atau mau di depan pak Ramdan sekalian?" imbuh Tama. Nadanya terkesan meledek.

__ADS_1


Mendengar kalimat terakhir Tama, nyali Rania seketika menciut. Terpaan penyesalan yang kian besar, membuat rasa takutnya kian naik.


"Yah bisa tolong ambilkan sertifikat dan ponsel Nara?"


"Bisa bun" Idrispun berdiri, lalu melangkahkan kaki ke kamar.


Tercenung, Nara mulai mendapat sedikit jawaban tentang misteri ponselnya yang menghilang, dia ingin sekali tahu bagaimana cara Rania mencuri ponselnya.


Tak butuh waktu lama, tahu-tahu Idris sudah kembali dengan membawa sesuatu di kedua tangannya.


Tama serta Nara mendongak secara bersamaan, manik hitamnya bergerak mengekor mengikuti tubuh Idris hingga pria itu duduk kembali di samping sang istri.


Sesekali pandangan Nara ia alihkan pada sebuah berkas yang di pegang ayah mertuanya.


"Ini ponsel dan sertifikat rumah kamu Nara, Ayah kembalikan" Pungkas Idris sambil meletakannya di atas meja.


Dahi Tama mengerut semakin tajam.


Tama segera meraih berkas itu lalu mengeluarkan sertifikat rumah beserta ponsel.


"Apa maksud semua ini bunda?" tanya Tama menyelidik.


"Bunda minta maaf atas kekhilafan bunda yang sudah mencuri semua milikmu Nara" Rania mengulangi permintaan maafnya. "Termasuk mencuri suamimu sampai kalian berpisah"


"Sepertinya bukan hanya Nara yang menerima permintaan maaf bunda, tapi pak Ramdan juga pantas mendapatkan permohonan maaf" ucapnya setelah membuka sertifikat dengan sampul berwarna biru muda yang sedikit usang.


Dengusan singkat keluar dari mulut Tama. Wanita itu terlihat seperti kotak misteri bagi Tama, menyimpan begitu banyak rahasia yang belum semuanya di ketahui olehnya.


Tapi di menit berikutnya, kotak misteri itu terbuka dengan sendirinya. Rania menceritakan semua perbuatannya di masa lalu, bagaimana dia melakukan itu, dan di bantu oleh siapa dia menjalankan rencananya.


Tama menggeleng.


"Aku tak percaya ada sosok ibu yang begitu jahat, begitu kejam terhadap anak, menantu dan cucunya, darah dagingnya sendiri"


"Untuk yang kesekian kalinya bunda minta maaf Tama, Nara" Rania menatap Tama dan Nara bergantian.


Alih-alih merespon, Tama justru bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Nara. Rasanya, dia sudah tidak mau mendengar apapun lagi dari bundanya.


"Kita pergi dari sini"


"M-mas" kata Nara bingung.


"T-Tama" Ucap Rania dan Idris nyaris bersamaan.


"Mungkin aku dan Nara bisa memaafkan bunda, tapi untuk tinggal dalam satu atap dengan seorang penjahat, rasanya mustahil bun?"


"Tama" bentah Idris seolah kehabisan kesabaran. "Jangan lupa kalau dia bundamu Tama, wanita yang telah melahirkanmu"

__ADS_1


"Aku tahu yah, tapi wanita yang melahirkan anak, tidak akan pernah tega menyakit anak yang telah dia lahirkan"


"Jaga bicaramu Tama" Mata Idris tampak memerah menahan gelegak emosi yang membuncah.


"Aku memaafkan semua perbuatannya yah, tapi aku akan tetap menjauhkan istri dan anakku dari bahaya"


Setelah mengatakan itu, Tama melepas tangan Nara lalu melangkah hendak mengusung koper-kopernya ke mobil.


"Ayah, bunda, maafkan sikap mas Tama, dia sedang tersulut Emosi yah, bun" Nara berlutut di depan Rania dan Idris. "Aku janji setelah tenang, aku akan bicara dengannya"


"Nara, bunda minta maaf Nak" Rania meraih tangan Nara lalu menggenggamnya erat-erat.


"Aku memaafkan bunda, tapi beri kami waktu untuk menenangkan diri bun, aku pasti akan membawa mas Tama kembali ke rumah ini"


"Bunda percaya sama kamu nak"


"Terimakasih atas kerendahan hatimu nak" sela Idris membelai kepala Nara. "Maafkan kami sudah membuat hidup kalian menderita"


"Tolong jangan katakan lagi yah, sesalah apapun, orang tua tetaplah benar, setidaknya itu menurutku"


"Tolong bawa Tama kembali, bunda tidak mau kehilangan dia Nara"


"Iya bunda, Nara juga tidak mau memiliki suami yang durhaka pada ibunya"


Ketiga orang itu saling berpelukan, saling mengusap punggungnya lembut selama beberapa menit. Hingga pelukan mereka di interupsi oleh suara bas milik Tama, persekian detik kemudian, mereka mengurai pelukannya.


"Ayo Nara" Terlihat Tama sudah menggendong Amara yang tampak menyorot bingung.


"Kita mau kemana yah?" Cicit Amara dengan suara khas bangun tidur.


"Kita ke rumah kakek Dandan"


Amara kembali membenamkan kepalanya di ceruk leher Tama. Kesadaran Amara seperti belum terkumpul sepenuhnya.


"Yah, bun, kami pamit dulu"


Rania mengangguk.


"Iya Nak" sahut Idris.


Sebelum bangkit, Nara mengecup punggung tangan Idris dan Rania.


"Assalamualaikum bun"


"Waalaikumsalam"


.........

__ADS_1


Bentar lagi tamat yeee


__ADS_2