
Hari-hari mereka berjalan dengan lancar, Rania yang berusaha keras agar kembali bisa berjalan di bantu oleh Idris, sudah bisa menunjukkan kemajuan meski hanya mampu berdiri saja. Nara dan Tama sibuk dengan kerja keras mereka dalam bisnisnya. Sementara Amara, sudah dua bulan telah mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Dua bulan pula Neneng yang tak lain adalah kerabat dekat bik Jum bekerja di keluarga Nalendra.
Selama seharian ini mereka menikmati hari minggu dengan berkumpul di rumah Ramdan. Membicarakan banyak hal, bermain dan bercanda bersama Amara, serta Daffa yang selalu kalah bermain melawan Amara. Bukan kalah sebenarnya, tapi pria itu hanya mengalah demi untuk membuat keponakannya tertawa lepas. Ada hal-hal lucu yang juga membuat mereka tergelak melengkapi hari libur.
Sepulang dari rumah papanya setelah makan malam,
Nara yang baru saja keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri, mendapati sang suami tengah duduk bersandar pada kepala ranjang sambil mengamati benda tipis di tangannya. Pria itu sudah mandi lebih dulu sebelum Nara.
"Mas ada guru lain buat gantiin guru lesnya Ara?" Tanya Nara tiba-tiba. Wanita itu duduk di kursi rias sambil membungkus rambutnya dengan handuk.
"Kenapa?" Tama melirik Nara sekilas lalu kembali memusatkan perhatian ke layar ponsel.
"Pengin ganti aja"
"Ya tapi kenapa? bukannya dia udah bagus, Ara juga nyaman dengannya?"
Nara langsung mengalihkan pandangan pada wajah Tama dengan mata memicing.
"Tapi aku yang nggak nyaman?"
"Loh kenapa?" Tama menatap Nara penasaran.
"Nggak suka aja kalau ibu guru cantiknya nanyain mas"
"Bukankah itu sudah biasa? dan kamu nggak pernah ambil pusing?"
"Tapi kali ini menurutku aneh, soalnya aku mendengarnya sendiri ketika bu gurunya nanyain mas ke Ara"
Bukan aneh, tapi memang wanita itu tengah merasa inscure dan sedikit sensitive.
"Kapan?"
"Kemarin pas aku pulang kerja"
"Loh biasanya kamu pulang kerja kan Ara sudah selesai privat"
"Kemarin aku pulang lebih awal"
"Tumben pulang lebih awal?"
"Berasa nggak enak badan pusing juga, jadi pulang dulu"
"Kamu sakit?" Tanya Tama kali ini tangannya bergerak meletakkan ponsel di atas nakas.
"Enggak, cuma sedikit pusing, tapi pas pulang istirahat sebentar udah biasa lagi, pusingnya udah hilang"
"Pasti kamu kelelahan"
Alih-alih merespon, Nara kembali membahas soal bu guru cantik.
"Secepatnya di ganti ya, yang udah punya suami misalnya"
"Kamu cemburu ya?" Tanya Tama mengintimidasi.
"Cemburu? Enggak" Nara mengelak lengkap dengan ekspresi gugup.
"Terus kenapa?"
__ADS_1
"Ya waspada aja"
"Waspada gimana?"
"Waspada aja sama bibit pelakor"
"Pelakor? apa itu?" Alis Tama menukik tajam.
"Perebut laki orang"
Mendengar ucapan Nara, Tama tergelak hingga matanya menyipit nyaris tertutup sempurna.
"Ada yang lucu?"
"Bilang aja cemburu"
Nara yang kini sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer, berusaha keras menampik tuduhan dari sang suami.
"Kan kata pepatah harus sedia payung sebelum hujan, jadi ya aku waspada biar nggak sampai kejadian"
"Kejadian apa?"
"Kejadian mas di rebut sama bu guru cantik" jawab Nara lalu mencabut sambungan kabel hairdryer pada saklar. "Kan kata orang-orang sebelum suaminya di rebut, istri sah jangan sampai kasih celah buat si pelakor"
"Cuma cemburu aja sampai muter-muter jelasinnya"
"Nggak cemburu mas, cuma waspada aja"
"Waspadanya tingkat dewa ya mom"
Nara yang sudah duduk di atas ranjang tepat di samping Tama duduk, reflek mencubit pinggangnya.
"Tapi aku nggak cemburu"
"Ngaku aja kenapa si, nggak usah gengsi"
"Di bilangin nggak cemburu juga" Nara mencebik sebal.
"Sama Neneng nggak cemburu?"
"Neneng?" Kali ini tatapan Nara tak biasa.
"Iya" sahut Tama sembari mengangkat kedua alisnya. "Dia bahkan lebih muda dari bu guru cantik"
"Mas" seru Nara galak. Wanita itu kembali mencubit suaminya lalu menggelitikinya.
Amara yang tiba-tiba membuka pintu kamar, sama sekali tak di sadari oleh Nara sementara Tama sibuk menghindar dari serangan istrinya.
Melihat orang tuanya tengah bercanda, Amara berseru sambil berlari.
"Mommy lagi apa?" tanyanya membuat mereka terhenti.
"Ara" gumam Tama lirih sambil bangkit dan berdiri.
"Daddy nakal sayang" kata Nara.
"Mommy cemburu sayang" Pria itu membelakangi Nara dengan bahu terguncang.
"Mas tertawa?" tanya Nara sambil berdiri menghampiri Tama.
__ADS_1
Tama tak menyahut sebab dia memang sedang menahan tawa.
"Tertawa kan?"
"Enggak, mommy" sahutnya dengan tubuh melengkung ke arah kanan ketika Nara kembali mencubit pinggang sebelah kiri.
Tawanya meledak ketika Nara tak berhenti mencubitnya dengan cubitan bertubi-tubi hingga pria itu terbaring di atas ranjang. Sementara Amara turut menyerang daddynya dengan gelitikan kecil.
"Ampuuuun! Tama tak mampu lagi menghindari serangan dari dua wanita sekaligus.
Tawa mereka menggema memenuhi kamar. Gelak tawa dari ketiganya serta ekspresi bahagia dari wajah mereka terekam jelas di ingatan mereka masing-masing.
Guru cantik yang berusia dua puluh tiga tahun itu memang mengagumi Tama secara fisik, tapi wanita itu sama sekali tidak berniat menggoda Tama apalagi menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Namun, jika Tama menyadari kekagumannya, dan membalas lirikan matanya, sudah pasti kesempatan itu akan dia ambil mengingat Tama adalah pria mapan dan tampan. Tapi tidak, Nara justru lebih dulu mencurigai gelagatnya dan segera memberhentikan dia mengajar privat ke putrinya.
****
Pagi harinya, Keluarga Nalendra tengah bersiap-siap untuk meresmikan Plaza milik Tama.
Ketika Nara membantu memasangkan dasi di krah kemeja sang suami, tiba-tiba pandangannya sedikit mengabur. Memejamkan mata sejenak, Nara kembali membukanya lalu menggerakkan tangan di dada Tama.
"Kamu masih ngantuk?" Tanya Tama saat menyadari sorot kuyu dari pancaran mata Nara. "semalam mas nggak mengganggumu harusnya kamu cukup tidur"
"Enggak tahu kenapa sering pusing akhir-akhir ini, tapi cuma sebentar nanti sembuh sendiri"
Reflek tangan Tama menyentuh dahi istrinya.
"Nggak demam"
"Sudah" kata Nara selesai mengaitkan dasi. "Tunggu di bawah, aku ganti baju dulu"
"Kamu nggak apa-apa kan?" Tama justru melingkarkan tangan di pinggang Nara.
"Enggak" sanggahnya cepat. Nara membalas memeluk Tama. Salah satu sisi wajah Nara menempel di dada Tama sambil menghirup dalam-dalam aroma manis di tubuhnya.
"Apa pusing karena mikir ibu guru yang cantik?"
"Ish enggak lah"
"Nanti mas hubungi pacarnya Aldika, kebetulan dia guru di SMA, semoga saja bisa gantiin bu Esti"
"Aku juga berniat menghubunginya" balas Nara mengeratkan pelukan.
"Kalau begitu, nanti setelah acara grand opening, mas antar ke dokter"
"Nggak usah, paling nanti juga sudah sembuh"
"Jangan terlalu lelah" kali ini Tama bergerak menangkup wajah Nara.
Melihat Nara termangu menatapnya, Tama langsung mengecup bibirnya dan sedikit memberikan lum*@tan lembut.
Skinship yang menenangkan hati sekaligus membuat rasa cinta di hati keduanya kian besar.
"Kesetiaanku sudah teruji selama tujuh tahun, jadi kamu ngga usah insecure" ucap Tama sesaat setelah mengurai tautan bibirnya.
"Insecure dikit-dikit boleh kan? jaga-jaga aja"
Tama Tersenyum sebelum kemudian kembali menempelkan bibirnya di bibir Nara. Hangat dan luwes, semakin dalam dan semakin panas.
***
__ADS_1
Semoga nanti malam bisa up lagi ya... 😀😀😀 Seneng lihat bumil sensitive, tapi sayang belum nyadar.