
"Astaghfirullah"
Tubuhku berjengit bersamaan dengan suara yang keluar dari mulutku.
Cukup lama bicara melalui telfon, ketika berbalik, tahu-tahu mas Tama ada di belakang punggungku.
"Kenapa? melamun?"
"E-nggak"
"Kalau enggak, nggak mungkin kaget kan, sampai-sampai detak jantungmu terdengar oleh telingaku"
"Ish, enggaklah"
Terlalu larut memikirkan masalah perusahaan ayah, aku tak menyadari keberadaan mas Tama yang sudah kembali entah sejak kapan.
"Telfon dari siapa?"
"Sasa" jawabku sambil duduk di tempat makan yang memang sudah di sediakan di ruang VIP kamar Amara.
"Amara belum bangun?"
"Belum"
"Ngomong apa di telfon tadi, kok melamun setelahnya?"
"Nggak ngomongin apa-apa" Aku menggigit chicken muffin setelah menyiapkan sarapan terlebih dulu untuk mas Tama. "Cuma nanyain kabar Amara"
"Nggak ada masalah apapun kan?"
"Harusnya pertanyaan itu dariku mas"
Mas Tama menghentikan gerakan di mulut setelah mendengar kalimatku, lalu menatapku seolah mengintimidasi.
"Maksud kamu?"
"Mas nggak ada masalah kan?"
"Nggak ada Na, Kenapa?"
"Angkasa group baik-baik saja kan?"
Untuk kali ini wajah mas Tama tampak lebih terkejut dari sebelumnya. "Apa temanmu sudah membaca berita di koran? kalau Angkasa group sedang kolep sekarang, dan dia memberitahukanmu?"
Aku mengangguk merespon ucapannya.
"Apa segawat itu masalahnya?"
Sebelum menjawab, mas Tama menarik napas panjang, lalu mengeluarkanya pelan-pelan. "Mas dan ayah pasti bisa mengatasinya" jawab mas Tama kemudian kembali menyuapkan nasi jamur ke mulutnya.
__ADS_1
"Kalau nggak bisa, mas bilang ke aku ya, nanti aku bantu"
Mas Tama menatapku dengan tatapan yang kurasa sangat aneh.
"Kenapa menatapku begitu?" tanyaku lembut reflek tanganku melingkupi tangan mas Tama di atas meja.
"Kamu bisa bantu, mas?"
"Bukan aku, tapi teman-temanku"
"Teman-temanmu?"
"Hmm, Mas Aksa dan mas Setya juga mau bantu"
Hening, mas Tama bergeming sambil menatapku lekat-lekat. Aku rasa dia nggak mau menerima bantuan dari teman-temanku, apalagi aku sempat menyebut nama mas Setya, sudah jelas mas Tama pasti menolak karena wajah mas Setya mengingatkannya pada video palsu itu.
"Mas, mau ya!"
"Sedekat apa kamu sama Setya Na, kenapa dia mau membantumu?"
Duh, mas Tama pasti salah paham, tapi jika aku nggak kasih tahu siapa saja yang akan membantu, nanti mas Tama tambah berpikiran buruk tentang aku dan mas Setya.
"Cuma teman mas, aku dekat karena dia kakak iparnya Sasa"
"Tapi video itu benar-benar bukan kamu dan Setya kan?" tanyanya penuh selidik.
"Tapi kenapa dia pengin bantu kamu?"
"Mungkin karena aku pernah bantu perusahaanya yang nyaris di kuasai oleh omnya, jadinya dia mau bantu kamu mas"
"Oh begitu"
"Mas mau ya, mereka cuma nanam saham saja kok, supaya perusahaan bisa bergerak dan bisa melakukan proses produksi, mas juga harus bayar gaji karyawan kan?"
"Mas diskusikan dulu dengan ayah dan Aldika ya, siapa tahu mereka punya cara lain selain terima tawaran dari teman-teman kamu"
"Ayolah mas, perusahan mereka perusahaan besar, apalagi milik orang tua Anita, Mas tahu kan Adiwijaya company, Bom & Food, sama Dandelion, yang pemiliknya Rudito Gallileo? Nanti jika mereka sudah menanam saham di Angkasa, mereka akan berusaha cari trik supaya para investor yang menarik sahamnya, kembali menanam saham di perusahaan ayah, cuma itu kok bantuan dari Sasa dan Anita, mas bisa bujuk ayah kan?"
"Mas akan pikirkan dulu ya"
"Mom" Panggilan Amara membuat kami langsung menoleh ke arahnya. Persekian detik kemudian, aku dan mas Tama bangkit lalu menghampirinya.
"Iya sayang, Ara sudah bangun?" tanyaku lembut.
Ara mengangguk sangat pelan.
"Ara pusing mom"
"Ara banyakin istirahat ya jangan banyak ngomong dulu"
__ADS_1
"Daddy sama mommy jangan pergi-pergi"
"Enggak kok sayang, daddy sama mommy disini terus temani Ara"
"Tapi kemarin enggak temani Ara, malam-malam Ara cuma sama suster aja, daddy sama mommy nggak ada" ujarnya seperti sebuah protes. Mendengar suara Amara yang parau dan lemah, membuat hatiku miris.
"Daddy sama mommy kan nggak di bolehin masuk ICU sayang" kata mas Tama tenang. "Ara kan harus bobo lama-lama, jadi nggak boleh di ganggu"
"Ya udah sekarang temani Ara terus. Daddy sebelah kiri, mommy sebelah kanan"
Aku dan mas Tama pun menuruti ucapan Amara. Sesuai permintaannya, mas Tama berjalan ke sisi ranjang sebelah kiri. Aku dan mas Tama duduk bersebrangan dengan di batasi ranjang Amara.
"Bobo lagi ya, jangan ngomong banyak-banyak. Besok daddy pulang ke Jakarta dulu boleh kan?"
"Na!" potong mas Tama cepat.
"Nggak apa-apa, Ara pasti ngerti kok mas, lebih baik di kasih tahu sekarang kan?"
Saat ku lirik Amara, dia tengah menatap mas Tama penuh lekat. "Ara ikut daddy ke Jakarta"
"Ara belum sembuh nak"
"Daddy ada kerjaan sayang" sambungku pelan. "Daddy mau cari uang banyak-banyak"
"Daddynya pulang lama-lama ya?"
"Nanti daddy usahakan cepat kesini lagi, Ara sama mommy dulu"
"Janji ya, cepat-cepat kesini"
"Iya daddy janji, tapi Ara juga harus janji, banyak istirahat, harus nurut sama mommy, semangat sembuh. Nanti kalau sudah sehat, main-main sama daddy, pergi senang-senang sama mommy, shoping, nyalon bareng mommy, jalan-jalan, boleh habisin uang daddy juga. Yang penting Ara sama mommy bahagia"
"Ara selalu ingat kata daddy tuh" Kataku melirik mas Tama yang tengah tersenyum tipis. "Daddy harus isi ATM mommy sering-sering, dan banyak-banyak, buat nongkrong sambil ngopi-ngopi cantik bareng Ara"
Ara dan mas Tama kompak tersenyum. Entah kapan hal itu akan terjadi, tapi semoga saja tidak lama lagi Amara akan sembuh dan bisa bersenang-senang. Melakukan apapun yang ingin dia lakukan.
"Oke-oke, kalau gitu mulai sekarang daddy harus kerja keras, supaya bisa isiin ATM mommy banyak-banyak"
Aku tersenyum mendengar mas Tama sudah mulai mengikuti cara bicara Amara yang mewarisi gaya bicara Vita.
"Ternyata daddy udah terkena virusnya Ara ya, suka ngomong di ulang-ulang"
"Iya mom, lucu"
Tawa kami pecah secara bersamaan. Aku berharap kami bertiga akan selalu tersenyum, tertawa seperti ini dan bahagia selalu. Sudah cukup air mata yang keluar bertahun-tahun hingga mata ini nyaris kering. Meskipun harus menangis, semoga tangisan itu adalah tangisan haru ataupun tangis kebahagiaan.
*****
Bersambung.
__ADS_1