Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
62


__ADS_3

Nara dan Khansa duduk di belakang Tama dan Idris. Mereka berada di sisi sebelah kiri sementara Shella serta keluarga korban berada di sisi kanan.


Suasana sangat hening sebelum di mulainya persidangan. Satu persatu mereka menempatkan diri di posisinya masing-masing.


"Sidang dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum" Kata hakim ketua mengawali proses sidang lalu mengetuk palu.


PU diperintahkan untuk menghadapkan terdakwa ke depan persidangan dalam keadaan bebas.


Sebagai terdakwa, Rania ditanya apakah dalam kondisi sehat dan bersedia untuk diperiksa di depan persidangan. Rania menjawab bahwa dirinya sehat dan sidang bisa di lanjutkan.


Sang hakimpun melanjutkan pembacaan surat dakwaan yang di layangkan oleh penggugat kepada tergugat.


Setelah melalui proses yang lumayan menyita waktu, dan ada sedikit perdebatan mengenai surat dakwaan, hakim meminta saksi untuk memberikan kesaksian terkait kecelakaan yang menewaskan satu orang anak.


"Kami akan lanjutkan ke tahap pemeriksaan saksi-saksi yang diajukan oleh PU. Silakan dimulai dari saksi korban untuk menempatkan diri di tempat yang sudah kami sediakan"


Seorang pria yang melihat kejadian itu langsung maju memberikan kesaksianya. Ia mengatakan jika mobil dengan kecepatan tinggi melaju oleng hingga akhirnya menabrak seorang bocah lalu membanting stir ke arah kiri.


Dia mengatakan jika anak itu sempat terpental setinggi tiga meter sebelum kemudian terkapar di tengah jalan. Sesaat setelahnya, alih-alih bertanggung jawab, mobil yang menabraknya justru kembali melaju dan salah satu di antara mereka menulis nomor plat kemudian melaporkan ke pihak yang berwajib.


Begitulah saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut.


Kini giliran Shella memberikan kesaksiannya, dan sebelum itu, dia telah di sumpah untuk berkata jujur dalam bersaksi. Meskipun sedikit gemetar, tapi ia berusaha menutupinya dengan sangat rapat.


"Kepada saksi berikutnya, silakan bisa di mulai"


Selang tiga detik, Shella mulai bersuara "Selamat pagi" Katanya berusaha menormalkan ekspresi. "Sebelumnya, saya meminta maaf kepada keluarga korban yang sudah saya tabrak" Dia menghela napas sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya. "Saat itu, saya dan ibu Rania berada di dalam satu mobil, saya sendirilah yang mengendarai mobil milik saya. Tapi ketika saya sedang mengemudi, bu Rania membuyarkan fokus saya sehingga saya hilang kendali"


"Apa yang nyonya Rania lakukan hingga membuat anda kehilangan konsentrasi anda dalam mengemudi?" Tanya Jaksa penuntut umum.


"Dia mengamuk pak" Dustanya dengan sorot serius, sementara Rania menyorot tak percaya.


"Dia menampar saya, menjambak rambut saya, dia berusaha memukul saya pak. Saya sudah berusaha menenangkannya, tapi tindakannya justru semakin liar. Saya juga sudah membujuknya agar tidak melakukan tindakan konyolnya, tapi dia malah menjawab, lebih baik kita mati bersama. Itu yang dia katakan pak"


"Lalu, apa yang memicu pertengkaran kalian di dalam mobil?"


"Dia meminta saya untuk membantu perusahaannya yang sedang kolap, namun saya menolak untuk membantunya, di situlah dia marah dan akhirnya mengamuk"


"Jadi itu yang membuat anda tidak bisa mengendalikan mobil dan akhirnya menabrak seorang anak, begitu?"


"Benar pak, selain itu, dia juga berusaha mengganggu tangan saya yang tengah menyetir" Tambahnya tanpa ragu. "Ketika saya memutar roda kemudi ke arah kanan, dia memutarnya ke arah kiri, dan ketika saya menyesuaikan ke arah kiri, dia malah mengacaukannya dengan memutar ke kanan, di situlah saya tidak bisa mengendalikan mobil saya dengan baik"


"Bohong pak hakim" Rania menangkis ucapan Shella lalu melempar tatapan tajam ke arahnya. "Yang dia katakan tidak sepenuhnya benar pak, memang saya meminta bantuan padanya untuk memulihkan perusahaan saya, tapi saya tidak pernah mengamuk di dalam mobilnya apa lagi memukulinya, kami hanya beradu mulut, dan itupun saya lakukan masih dalam pengendalian diri saya"


"Dia yang bohong pak" Shella tak mau kalah. "Jika dia tidak mengamuk di dalam mobil saya, tidak mungkin kecelakaan itu terjadi, saya pasti bisa mengendarai mobil saya dengan benar"


"Shella, kenapa kamu memfitnahku?"


"Saya tidak memfitnah, saya mengatakan yang sebenarnya bu Rania"


"Tenang semuanya, tenang" pungkas hakim dengan intonasi tinggi sembari mengetukkan palunya.


Menggelengkan kepala, Rania tidak habis fikir dengan sikap Shella, wanita yang selalu dia banggakan justru dengan sangat kejam memfitnah dirinya, bahkan menusuknya hingga beberapa kali tusukan. Di tengah-tengah lamunannya, ia juga teringat dengan fitnah yang dia layangkan untuk Nara.


"Semua karena dia pak" lanjut Shella menunjuk Rania dengan tangan serta tatapan sinis. "Dia yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi, dia yang sudah membuat anak itu meninggal"

__ADS_1


"Saya tidak melakukan itu pak" Rania masih berusahan membela dirinya dengan menyanggah semua omongan Shella. "Shella kamu sudah di sumpah untuk jujur dalam memberikan kesaksian, kenapa kamu justru mengatakan hal yang tidak benar"


"Semua yang saya katakan itu benar pak, dia sangat kesal karena saya menolak mentah-mentah permintaannya, bapak tahu sendiri kan dia adalah wanita yang jahat, arogan, dia bahkan tega mengusir cucunya sendiri dari rumah sakit, cucu yang sedang berjuang dari leukimia, bukankah itu tindakan kejahatan pak?"


Rania menunduk dengan rasa frustasi yang kian membelitnya. Dengan kebohongan Shella, dia tak yakin dirinya bisa terbebas dari segala tuduhan. Dia berfikir akan tinggal di penjara dalam waktu yang lama.


"Baiklah, apa ada saksi lainnya?" tanya JPU sebelum melanjutkan persidangan.


"Saya keberatan dengan semua kesaksian dari nona Shella pak" Nara mengatakannya seraya berdiri.


Mendengar suara dari seseorang, mereka kompak mengalihkan atensinya ke arah sumber suara, termasuk Rania, Shella, Idris dan juga Tama.


Secara bersamaan, Tama dan Idris menoleh kebelakang.


"Sayang?" gumam Tama lirih.


Nara sempat melirik suaminya sesaat, sebelum kemudian kembali memusatkan netranya lurus kedepan.


Khansa yang duduk di sampingnya pun merasa terkejut sekaligus bingung dengan aksi sahabatnya.


"Siapa anda?" tanya hakim ketua.


"Saya Naraya, Istri dari putra bu Rania?"


"Anda menantu ibu Rania?"


Sempat ragu, akhirnya Nara mengangguk meski sangat pelan.


"Ijinkan saya untuk menyerukan eksepsi saya pak hakim"


"Baiklah kami ijinkan" katanya setelah berselang hampir satu menit.


Dengan langkah santai nan elegan, Nara berjalan maju menuju tempat berdirinya saksi.


Selagi dia melangkah, orang yang menyaksikan sidang saling berbisik, mereka menerka-nerka apa yang akan di sampaikan Nara di hadapan semua orang.


Tak terkecuali Tama, Idris dan juga Khansa.


"Apa maksud Nara, Tama?"


"Aku juga tidak tahu yah, kita tunggu saja apa yang akan Nara katakan"


Tak puas dengan jawaban sang putra, Idris menoleh ke belakang hendak menanyakannya pada Khansa.


"Nak Khansa, apa ini rencana kalian?" tanya Idris menyelidik. Bukan tak ada alasan, Idris bertanya pada Khansa karena selama ini ketiga sahabat itu sering sekali melakukan hal-hal yang tak terduga.


"Bukan om, kami tidak merencanakan apapun, baik kemarin atau malam tadi, tak ada omongan dari Nara yang mengatakan akan menangkis tuduhan Shella pada bu Rania"


"Silakan nona Nara"


Nara mengangguk sebelum berkata, sementara Idris, Tama dan Khansa kembali fokus ke depan.


"Selamat pagi semuanya" ujarnya santai namun tetap tegas. "Saya ingin memberikan pendapat saya mengenai kasus yang menimpa bu Rania" ujarnya lagi dengan ketenangan yang luar biasa. "Pak hakim, kita sudah mendengar apa yang di katakan oleh nona Shella dan sanggahan-sanggahan dari bu Rania. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa kita tidak bisa mempercayai kedua belah pihak karena tidak ada saksi lain yang berada di dalam mobilnya"


Para majelis hakim merespon dengan anggukan kepala membenarkan ucapan Nara.

__ADS_1


"Kita tidak tahu siapa yang berkata jujur, dan siapa yang berdusta. Jika kita mempercayai salah satu di antara mereka, itu artinya satu dari mereka merasa di rugikan, karena yang kita percayai juga belum tentu benar. Tapi pak Hakim" Tambah Nara dengan raut serius. "Ada satu cara untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam mobil sebelum terjadinya kecelakaan itu"


Semua orang semakin di buat penasaran dengan kalimat-kalimat yang turucap dari mulut Nara.


"Kita bisa cek CCTV yang ada di dalam mobil nona Shella pak"


"Oh my God, aku melupakan CCTV di mobilku, bagaimana ini" Batin Shella sembari menelan salivanya dengan setengah mati. "Kurang ajar kamu Nara, bisa-bisanya kamu berfikir sampai ke sana"


"Saya yakin pak hakim, jika di CCTV itu pasti terekam semua aktivitas di dalam mobil milik nona Shella"


Persekian detik ucapan Nara membuat Shella mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajahnya memanas, dadanya bergemuruh hebat menahan gelegak emosi dan rasa gugup yang singgah secara bersamaan.


"Termasuk pertengkaran Nona Shella dan juga bu Rania" imbuh Nara seraya melempar tatapan miring ke arah Shella.


"Tidak bisa" Sergahnya cepat. "Rekaman itu adalah privasi saya, saya tidak akan mengijinkan siapapun memeriksanya"


"Oh, anda tidak perlu khawatir nona Shella, kami hanya memeriksa rekaman pada tanggal, hari, dan menit menjelang kecelakaan itu terjadi. Kami ingin memastikan semua kesaksian anda nona, tidak lebih. Lagi pula kami tidak tertarik dengan privasi anda"


"Maaf, tapi saya keberatan" pungkas Shella.


"Pak Jaksa, itu adalah privasi dari klien saya, tolong hargai_"


"Ini untuk kepentingan penyelidikkan pak pengacara" Potong Nara cepat. "Siapa saja yang menghambat penyelidikan, itu termasuk tindak kejahatan, bukan begitu pak jaksa?"


Semua di buat bungkam olehnya. Dia memang tahu kejadian yang menimpa Rania sebab Tama sudah menceritakan semua padanya tanpa melewatkan sedikitpun.


"Jadi lebih baik pak, kita periksa rekaman CCTV itu supaya kita semua tahu ada kejadian apa di dalam mobil menjelang kecelakaan, kita akan tahu apakah ada yang mengamuk dan menjambak rambutnya atau tidak"


"Apa-apaan kamu Nara?" sinisnya dengan mata berkilat.


"Jika semua yang anda katakan itu benar, tidak ada yang di tambah-tambahkan atau kurangi, seharusnya anda tidak perlu takut nona"


Shella terdiam, tak mampu lagi mengelak.


"Baiklah, apa yang nona Nara katakan itu benar. Jika memang ada CCTV di dalam mobil itu, kita memang harus memeriksanya" Kata majelis hakim. "Kepada para petugas, di mohon untuk memeriksa rekaman CCTV. Dan kepada nona Shella, kami minta untuk di bukakan pintu mobil"


Mari kita lihat Rania, setelah pembelaanku hari ini, apakah kamu masih membenciku, atau apakah kamu masih belum mau menerima Amara?


Setelah kebangkrutanmu, apakah kamu masih menilaiku mencintai putramu karena harta?


Kalau saja bukan karena cintaku yang begitu besar pada putramu, aku tidak sudi membelamu, kalau bukan kebaikan dari suamimu, aku pasti sudah tertawa puas dengan penderitaanmu. Dan kalau bukan karena Amara, aku tidak mau berhubungan lagi denganmu.


Asal kamu tahu Rania, di mata Amara, kamu adalah sosok omma yang tanpa cela, begitu bangganya dia padamu, cucu yang ingin kamu bunuh saat masih berada di dalam kandungan.


Aku berharap dari kejadian ini, kamu akan sadar bahwa segalanya tidak harus soal materi, semoga kamu mau menyadari kesalahan kamu dan mengakui semua fitnah yang kamu tuduhkan padaku di depan mas Tama dan ayah.


Aku memaafkanmu karena aku ingin mendapatkan kasih sayang darimu, seperti Anita yang begitu di sayang oleh ibu mertuanya.


Entah kapan kamu bisa menyayangiku layaknya anak kandung. Tapi aku tidak akan menghentikan usahaku untuk mengambil hatimu, aku tidak akan memutus kesabaranku demi menggapai kasih sayangmu. Seperti Amara yang berusaha keras menggapai rindu daddynya. Aku juga akan melakukan hal itu padamu Rania.


Larut dalam pikirannya sendiri, tahu-tahu pihak yang memeriksa rekaman sudah kembali ke ruang sidang dan langsung menyadarkan Nara dari aksi melamunnya.


Bersambung.


maaf kalau ada salah kata ataupun typo... ini gugup banget jadi nggak sempat cek ulang.

__ADS_1


nanti kalau ada waktu di revisi.


__ADS_2