
Tama's pov..
Pagi ini, rencananya aku tidak akan datang ke rumah sakit sebab semalam, saat aku berpamitan padanya, dia berpesan untuk tidak mengunjunginya dan kedua bayi kembar kami yang masih harus stay di rumah sakit untuk beberapa hari kedepan. Wanita yang selalu jadi nomor satu di hatiku itu memintaku agar pergi ke kantor saja dan menghandle perusahaan kami. Lagi pula, sudah ada bunda yang menemaninya. Sahabat-sahabat Nara juga datang silih berganti menjenguknya. Aku rasa ucapannya memang ada benarnya, dan aku bisa datang di malam hari saat pulang dari kantor untuk bergantian jaga dengan bunda.
Usai sholat subuh, aku selalu membaca Qur'an surah Al-Waqi'ah. Karena kata papa, surat dalam Alqur'an itu tepatnya di jus dua puluh tujuh bagian akhir, sangat ajaib untuk mengalirkan rezeki secara terus-menerus bahkan datangnya rezeki itu bersumber dari arah mana saja. Ketika aku terpuruk, hingga berada di titik terendah, papahlah yang selalu menguatkanku dengan hadis dan firman Allah yang tertulis di dalam Al-Quran.
Saat itu, aku mencoba mendekatkan diri, merayu-Nya dengan sholat dan rutin membaca Al-Quran agar Sang Khalik bersedia memberikan ampunan padaku serta menata hidupku kembali.
Qodarullah, Allah mengabulkan doaku meski banyak badai yang menerpa.
Tepat ketika aku melafadzkan ayat yang ke lima puluh satu, telingaku menangkap suara ponsel yang teronggok di atas nakas. Tidak biasanya sepagi ini ponselku berdering, aku langsung mengakhiri bacaanku lalu menutup mashafku.
Aku sempat tersenyum ketika membaca nama bidadari surgaku yang muncul pada layar ponsel yang berkedip. Namun, senyumku pudar sesaat setelah ku geser tombol berwarna hijau. Suara isak tangis dari Naraya menyerbu dan berebut masuk ke dalam indera pendengaranku.
"Mas, Pelita, mas"
Keningku seketika mengernyit, isi di dalam dada juga tak kalah gemuruh. Suaranya bagaikan kendang yang di tabuh berulang kali dengan sekuat tenaga.
"Ada apa dengan Pelita?" tanyaku.
Tidak biasanya Nara begini. Menangis hingga sesenggukkan sementara nafasnya tersengal.
Wanitaku yang terlihat selalu kuat dan tegar, yang selalu menguatkanku dalam kondisi terpuruk, sorot matanya yang teduh, serta desah suaranya yang mampu meningkatkan imunitasku di kala aku jatuh tersungkur. Tapi kali ini tangisannya menyiratkan kerapuhan yang begitu mendalam.
Aku sempat berfikir apakah anak perempuanku yang baru beberapa hari melihat dunia kini justru meninggalkan dunia? atau, apakah kondisi putriku saat ini kritis? tapi sebelumnya tak ada gejala apapun yang mengarah ke sana, dokter bahkan mengatakan jika kedua bayiku sangat sehat.
Berbagai prasangka benar-benar membuatku lemas dan cemas secara bersamaan.
"Pelita hilang mas"
__ADS_1
Suaranya putus-putus karena di barengi dengan isak tangis. Aku menghela napas berusaha menormalkan detak jantungku yang berdenyut tak tahu aturan. Denyutan yang kian bertalu-talu, memberikan efek nyeri di dalam dadaku bahkan terasa hingga kepala.
"Hilang gimana Na?" Tanyaku setenang mungkin. Berusaha mengusir degup jantung yang kian meliar.
"P-Pelita, d-dia_"
"Tarik napas dan tenang, katakan pelan-pelan, okey"
"P-pelita mas"
"Iya ada apa dengan Pelita?" Aku berusaha menenangkan belahan jiwaku yang suaranya kadang timbul, kadang tenggelam dalam sambungan jarak jauh itu.
"P-pelita tidak ada di box bayinya mas" kali ini suara itu terdengar lebih tenang, namun masih terasa getaran halus yang menyimpan sejuta kepanikan.
Mendengar ucapannya, mulutku seketika terkunci dengan kondisi lidah yang terasa kelu. Dalam kondisi seperti ini, aku lebih mengedepankan logika agar bisa berfikir secara rasional. Aku tak mau gegabah menanggapi aduan dari bidadari surgaku yang justru akan membuatku ikut tenggelam ke dalam lautan kesedihan.
"Tadi suster mengabariku, kalau Pelita tidak ada di box bayinya, mereka sudah mengeceknya di box lain, tapi tetap tidak ada"
Sungguh sebelumnya, dia tak pernah sesedih ini, bahkan ketika di sakiti oleh bundaku dan menemani Amara ketika masih sakit, dia benar-benar berhasil menutupi kesedihan itu dariku.
Sebagai seorang ayah, aku juga merasakan nyeri yang semakin menyesakkan, bahkan paru-paruku tak mampu menampung oksigen yang masuk melalui rongga hidung.
Sesak sangat sesak, seperti menahan beban berton-ton yang menghimpit di area dadaku.
Detik itu juga, bongkahan air mata meluncur begitu saja dari pelupuk mata. Ku coba menahan gejolak rasa yang memenuhi isi kepala dan hatiku. Aku tidak boleh lemah di depan wanitaku, aku harus kuat agar kesayanganku juga kuat.
"Mas" panggilnya dengan suara kelam.
"Kamu tenang ya, kita harus kuat ini cobaan dari-Nya. Allah sangat menyayangi kita sayang, itu sebabnya Dia menguji kita" ucapku reflek.
__ADS_1
"Tapi mas_"
"Anak kita akan baik-baik saja Na" potongku cepat. "Kita berdoa semoga Pelita segera di temukan. Family care adalah rumah sakit ternama saat ini, mereka pasti bisa menemukan Pelita dalam waktu satu kali dua puluh empat jam"
Aku berusaha menenangkannya saat raga tak mampu untuk merengkuh tercintaku.
"Sudah lapor polisi?" tanyaku kemudian.
"Sudah mas, para suster sedang menggeledah semua ruangan. Aparat juga sudah bertindak. Pencarian sudah di mulai dari satu jam yang lalu"
Komunikasi di antara kami, mungkin membuat Nara lebih tenang.
"Mas bisa kesini sekarang?" tambahnya ketika ada jeda sekitar lima detik.
"Mas kesana sekarang"
Menutup panggilan, aku segera menyambar kunci mobil dan dompetku, setelah sebelumnya berganti pakaian dengan yang lebih sopan.
Aku bergegas meluncur ke rumah sakit meninggalkan putriku tanpa pesan pada ART kami.
Aku ingin sekali merengkuh belahan jiwaku, memberinya kekuatan seperti yang selalu ia lakukan padaku saat aku terpuruk. Aku tidak akan membiarkan istriku melalui ini sendiri.
Setibanya di rumah sakit, aku terus berlari menyusuri koridor yang entah kenapa terasa sangat jauh hanya untuk menuju ke kamar istri tercintaku. Jarak tempuh yang biasa aku lalui hanya dalam hitungan menit, tapi kali ini bahkan langkah lebarku serasa memakan waktu berpuluh-puluh menit.
Ku buka pintu bangsal miliknya ketika langkahku sampai di depan kamar. Netraku menatap nanar pada wajah kuyu dan mata sembab dari bedadari surgaku. Terlihat jelas gurat kesedihan di wajah ayunya. Buliran bening itu melincur deras dan bahkan semakin deras ketika sepasang matanya menangkap tubuhku berdiri di ambang pintu.
Melangkah beberapa langkah, Ku rengkuh tubuhnya, ku kecup pucuk kepalanya, memberikan sedikit kekuatan untuk bisa menghadapi hari esok. Tangisnya kian pecah teredam di balik dekapanku. Menguar ke seluruh ruangan ketika pelukanku mengerat. Mendengar tangisannya itu, aku tak mampu lagi menahan air mata yang membendung. Alih-alih memberikan kekuatan padanya, justru akulah yang berusaha mencari kekuatan itu lewat hangat dekapan tubuhnya.
Aku yakin dia tidak bisa merelakan buah hati kami yang menghilang tanpa kisah dan cerita.
__ADS_1
"Cepat kembali ya nak, daddy, mommy menunggumu"
...😙😙😙😙🌷🌷🌷🌷...