Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
66


__ADS_3

Nara, tidak mampu lagi menahan bendungan air mata yang kini telah memenuhi pelupuk mata. Demi Allah, pemandangan ini sungguh membahagiakan dirinya ketika semua alat medis yang melekat di tubuh Amara terlepas satu persatu.


Jum'at. Pada hari inilah Allah benar-benar menunjukkan kekuasaan-Nya pada Amara. Dia menyembuhkan seorang anak dari sakitnya. Dia memberikan hikmah pada Nara yang tidak pernah putus berdoa demi kesembuhan putrinya.


Dua bulan lebih Amara menjalani perawatan pencangkokan sumsum tulang, kini dokter sudah mengijinkannya pulang. Dengan catatan, Dia masih belum di perbolehkan terlalu lelah ataupun terlalu banyak aktifitas. Termasuk urusan makanan, Nara harus berhati-hati dalam memberikan gizi pada putrinya.


Isak lirih lolos dari bibir Nara. Tama yang berada di sampingnya, memeluk erat tubuhnya dari samping. Kesembuhan Amara, adalah suatu anugerah terindah di sepanjang hidup Nara.


Sementara Amara, tersenyum sembari memperhatikan lekat-lekat tangan para suster yang bergerak melepas infus di tangan kirinya.


Ada banyak hal yang ingin Amara lakukan terutama bermain dengan sang daddy, oma dan opanya.


"Suster sama dokter pinternya banyak-banyak, bisa sembuhin Ara" ucapnya polos.


Suster itu tersenyum tipis "Ara juga mau jadi dokter biar bisa sembuhin orang sakit supaya yang sakit jadi sembuh terus bisa main banyak-banyak"


"Kalau begitu, Amara harus rajin belajar, harus nurut apa kata daddy mommy"


"Ara janji suster, Ara mau patuh sama mommy sama daddy"


"Pintar" sahut suster masih dengan bibir tersungging. "Kalau janji harus di tepati ya"


"Eughh" jawab Amara seraya mengangguk mantap.


Hampir empat bulan tinggal di rumah sakit, para suster sangat mengenal dirinya. Itu sebabnya mereka sangat akrab.

__ADS_1


"Ok, Sudah selesai. Ara boleh pulang sekarang"


"Hoyeee,, Ara pulang"


Tama dan Nara tersenyum.


"Ara dandan dulu yuk, mommy bantu cuci muka sama ganti baju ya"


"Iya, Ara udah bosen pakai kostum orang sakit"


"Pak, bu, kami permisi. Nanti akan ada suster lain yang datang untuk memberikan tagihan rumah sakit beserta obat"


"Baik suster terimakasih"


"Sama-sama pak" Suster itu kembali menatap Amara. "Sampai jumpa lagi Amara, Sehat selalu ya, jangan kesini lagi"


Setelah kepergian dua suster tadi, Tama dan Nara mengecupi pipi Amara hingga dia merasa kegelian.


Hanya raut bahagia yang tampak di wajah mereka.


"Ara sama daddy dulu ya, mommy siapin air hangat dulu buat lap-lap tubuh Ara"


"Oke mommy" Tama merespon ucapan Nara. "Buruan mommy badan Ara udah bau" Mereka tergelak, sekian detik kemudian Nara beranjak dan melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi.


"Sebentar lagi Ara pulang ke Indonesia. Ara pengin main banyak-banyak sama daddy, Ara juga pengin belajar naik sepeda kayak kakak Ita"

__ADS_1


"Nanti daddy ajarin naik sepeda deh, kalau Ara udah jago, daddy ajak sepedaan di taman kota"


"Mau dad"


"Tapi Ara harus tepatin dulu apa kata dokter"


"Iya daddy, Ara harus istirahat banyak-banyak, bangun pagi buat olah raga sebentar, terus nggak boleh capek banyak-banyak"


"Good" kata Tama sambil menoel hidung Amara lembut.


"Lagi ngomongin apa?" Nara Datang dengan membawa wadah berisi air hangat dan washlap.


"Nanti kita tinggal sama daddy kan mom?"


"Ara mau tinggal sama daddy?"


"Mau"


"Ya udah, nanti Ara tinggal di rumah opa, mommy tinggal di rumah kakek?"


"Loh Na, kok gitu" Alis Tama menukik tajam.


"Iya kok nggak tinggal sama-sama. Ara kan penginnya tinggal sama daddy sama mommy. Kayak Mita, tinggal sama papa Aksa dan mama Sasa, terus sama opa Dito dan oma Nimas"


TBC.

__ADS_1


Maaf ya, hambar banget dan dikit episodenya. Lagi males banget, penginnya rebahan.


__ADS_2