Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
52


__ADS_3

Sudah satu jam operasi berlangsung, dan selama satu jam pula jantungku seakan kehilangan ritmenya. Berulang kali mas Tama menenangkanku dengan berbagai cara untuk mengurangi kecemasanku, namun tetap saja rasa cemas itu tak berkurang barang sejentik.


Entah apa yang mereka lakukan di dalam ruang operasi, yang ku tahu saat searching di laman google, sel punca milik mas Tama yang telah di ambil beberapa waktu lalu di bekukan, pada hari ini sel itu kembali di cairkan dan dokter akan memasukkan sel tersebut melalui keteter di pembuluh darah vena yang telah di pasang.


Selama proses transplantasi berlangsung, Amara akan tetap sadar dan tidak merasakan sakit.


Sel punca baru yang masuk ke tubuh Amara akan langsung menuju ke sumsum tulang belakang dan akan berkembang biak menjadi sel darah yang sehat.


Setidaknya itulah pemahamanku tentang jalannya proses transplantasi sumsum tulang.


"Na, berapa usia Amara?" tanya ayah yang tahu-tahu duduk di sebelahku, menggantikan mas Tama yang baru saja pamit hendak menuju toilet.


"Enam tahun setengah yah"


"Sudah sekolah?"


"Sudah, tapi sekolahnya tak begitu fokus"


"Insya Allah, setelah Ara sembuh, kita akan berikan yang terbaik untuknya termasuk pendidikannya. Ayah ingin cucu ayah bahagia"


"Terimakasih yah"


Sebenarnya aku tak enak hati pada mereka, sebab tak pernah mengabarinya, tapi begitu datang malah meminta pengakuan dari mas Tama dan juga ayah. Tapi mau bagaimana lagi, itu hak Ara untuk tahu siapa ayah dan opa omanya. Karena Ara merupakan keturunan mas Tama satu-satunya.


"Apa yang Ara suka dan tidak di sukai Na?"


"Ara suka melukis yah, melukis gaun terutama, suka traveling juga. Kalau makan harus ada udangnya"


"Apa cita-citanya menjadi perancang busana?" tanya ayah yang justru memantik bibirku untuk menyunggingkan senyum. "Persis sama Tama ya, suka makan udang"


"Iya yah"

__ADS_1


Aku rasa ayah menyadari gelagat tak nyaman dari gestur tubuhku, itu sebabnya beliau berusaha menangkis ketidaknyamanan yang aku rasakan, dengan cara mengajakku mengobrol.


Sementara bunda, aku sama sekali tak menyapanya sebab ketika aku meraih tangannya untuk ku kecup, dia malah menunjukan ekspresi cueknya.


"Ada apa yah, sepertinya tadi sempat menyebut namaku" Mas Tama yang baru saja kembali dari toilet, langsung ikut nimbrung di sela-sela obrolan kami.


"Enggak Tama, tadi Nara bilang, katanya Amui, putrimu suka makan udang, sama kayak kamu"


"Amara kali yah"


"Itu panggilan baru dari ayah untuk cucu kesayangan ayah"


"Dari mana ayah dapat kata Amui?" mas Tama mendudukkan dirinya di samping ayah.


"Dari kata Amara, jadi Amui. Bagus kan?"


"Bagus yah, tapi di ijinin nggak sama mommynya"


"Iya pasti yah, lagipula, Amui atau Amei, dalam bahasa china itu artinya adik perempuan, jadi boleh-boleh aja yah?"


"Lah, artinya bagus juga ya?"


Aku serta mas Tama tersenyum tipis meresponnya. Ku lirik bunda sekilas yang sepertinya melempar tatapan iri padaku.


"Nanti, kalau Ara sudah pulih, sudah di ijinkan pulang, rencananya mau tinggal di mana Tama, Nara?"


"Aku mau ajak tinggal di rumahku yah"


"Tapi kalau menurut ayah, lebih baik tinggal di rumah ayah saja, biar nanti rumah ayah jadi ramai, nggak sepi"


"Ara pengin juga si yah tinggal sama opa omanya"

__ADS_1


"Nah kan Tama, itu bagus lebih baik tinggal saja di rumah ayah"


"Harus ijin dulu sama bunda kan yah" tanya Mas Tama yang membuatku seketika memindai pandangan ke arah bunda.


"Tidak perlu, itu rumah ayah, pasti bunda juga ngijinin kok"


"Terserah Amara saja nanti yah"


"Betul Na, biarkan Amui yang tentukan dia mau tinggal di mana. Di rumah ayah boleh, di rumah Tama boleh, di rumah kakek Ramdan pun boleh, senyamannya Ara" itu kata Ayah, yang sikap bijaksananya sangatlah luar biasa.


Lagi-lagi aku tersenyum.


"Ayah temani bunda dulu ya" lanjut Ayah seraya berdiri. "Kasihan bunda, dari tadi diam nggak ada yang ngajak ngobrol"


Setelah mengiyakan perkataan ayah, mas Tama menggeser duduknya di tempat bekas ayah tadi, kemudian menyatukan salah satu jemari kami.


"Tangan kamu basah sayang"


"Aku gugup, takut, panik, campur aduk jadi satu mas"


"Rileks saja, sepertinya sebentar lagi selesai"


"Dokter bilang berapa jam proses pencangkokan itu mas?"


"Dokter bilang satu setengah jam"


"Ini sudah satu jam lebih mas"


"Kita tunggu sebentar lagi Na"


TBC

__ADS_1


Lagi bad mood... hikkss part ini dikit banget 😇😇


__ADS_2