
Suara riuh para karyawan terdengar memekakan telinga. Mereka saling berlarian untuk menolong atasannya yang sudah terbaring di lantai dalam kondisi pingsan lengkap dengan wajah yang pucat pasi.
Salah satu di antara mereka duduk bersimpuh lalu mengangkat kepala Nara dan memangkunya.
"Bu, bangun bu" ucapnya sambil menepuk lembut salah satu pipi Nara.
"Aku ambil minyak kayu putih dulu ya" kata yang lain.
"Iya cepatlah"
"Aku ambil air putih" ucap yang lain lagi.
Selang sekitar tiga menit, karyawan yang mengambil air bening sudah kembali, di susul oleh karyawan lainnya yang membawa botol minyak kayu putih.
Bersamaan dengan mereka yang berusaha mengembalikan kesadaran Nara, Aldika datang dari arah lift. Dia langsung menuju ke ruang GM begitu mendapat informasi salah satu karyawan yang mengatakan bahwa Nara tak sadarkan diri.
Pria yang masih single di usia tiga puluh lima tahun itu langsung berlari menghampirinya ketika mendapati Nara tergeletak di dekat ruangan GM.
"Nara kenapa ?" tanya Aldika pada bawahannya.
"Tadi saya lihat bu Nara tiba-tiba jatuh pak, sebelumnya sempat memegang kepalanya dan melambatkan langkahnya"
"Na, bangun Na" kata Aldika dengan sorot cemas.
"Nara" panggilnya lagi.
Tak kunjung sadar, Aldika lalu mengangkat tubuh Nara. Dia berniat membawanya ke rumah sakit.
"Bilang sopir kantor untuk menyiapkan mobil di depan pintu utama"
"Baik pak"
Perjalanan dari Angkasa menuju rumah sakit memakan waktu lima belas menit, Selagi paramedis mengambil tindakan di ruang IGD, Aldika menghubungi Tama untuk segera datang ke rumah sakit family care. Dimana pemiliknya adalah seorang wanita mafia judi di Macau. Entah benar atau tidak, setidaknya begitulah kabar dari media yang beredar hampir tujuh bulan ini.
Family Care berdiri di sela-sela surutnya rumah sakit terkemuka milik keluarga Shella. Baru saja beroperasi, Rumah sakit ini mampu menyaingi dan menggeser posisi IMC hospital sebagai rumah sakit terbaik di Jakarta.
Berita tentang Shella dengan image buruk yang sempat menjadi penghuni hotel prodeo, menjadi pemicu serta salah satu alasan rumah sakit itu perlahan sepi dan tidak di minati seperti sebelumnya.
"Dika!" ucap Tama dengan nafas tersendat sebab baru saja berlari.
"Tama" Aldika bangkit dari duduknya.
"Apa yang terjadi dengan Nara dik?"
"Aku juga kurang tahu Tam, tadi kebetulan aku lewat, dia sudah di kerumuni oleh banyak orang, pas aku lihat ternyata istrimu, ya sudah langsung ku bawa ke sini"
"Nara masih di dalam?"
"Iya, dokter masih memeriksanya"
Sempat panik karena dokter belum juga keluar dari ruang IGD, tiba-tiba pintu itu terbuka. Satu dokter dan satu suster keluar dengan wajah berbinar.
"Bagaimana istri saya dokter?" tanya Tama dengan dada berdetak semakin kencang.
"Selamat ya pak, istri bapak positif hamil?"
__ADS_1
"Hamil?" tanya Tama antara percaya dan tidak percaya.
"Iya pak, usia kandungannya saat ini sudah delapan minggu dan detakannya ada dua"
"Dua? maksudnya bagaimana dok?" Tama melirik Dika sesaat yang juga tampak tak paham.
"Bayi di dalam perut bu Nara ada dua, itu sebabnya kami menanganinya sedikit lama"
"Ada dua bayi?" Semakin tak percaya, Tama sampai bengong dan mengerjap beberapa kali.
"Iya pak, calon anak bapak kembar? dan saat ini istri bapak sedang istirahat, kami baru saja memberikan suntikan vitamin, beberapa menit lagi bu Nara akan sadar"
"Apa saya sudah bisa menemuinya dokter?"
"Sudah bisa pak" balas dokter sembari tersenyum. "Nanti setelah sadar, bu Nara bisa langsung pulang. Suster akan memberikan resep dokter dan bapak bisa menebusnya di apotek rumah sakit ini"
"Baik dokter, terimakasih"
"Sama-sama"
Setelah dokter itu pergi, reflek Tama dan Aldika saling berpelukan. Mereka seakan masih belum percaya jika Nara hamil anak kembar.
"Bagaimana bisa Tam?"
"Entahlah, ini seperti mimpi"
"Apapun itu, selamat buatmu, pasti Ara sangat senang akan memiliki adik dua sekaligus" kata Aldika setelah mengurai pelukannya.
"Thankyou Dik" sahut Tama senang "Cepatlah menikah, dunia sangat indah memiliki istri dan juga anak"
"Ayo masuk"
"Tidak Tama, aku masih banyak kerjaan. Salam saja buat Nara"
"Bagaimana Angkasa?"
Aldika menyadari perubahan raut wajah Tama. Mungkin dia masih sedikit belum rela bahwa dalam waktu sekejap, Angkasa sudah bukan lagi miliknya "Baik, pemilik baru sangat disiplin, detail dan juga inovatif"
Tama mengangguk merespon ucapan Aldika.
"Sempatin jenguk bunda sama ayah kalau ada waktu"
"Siap, nanti aku cari waktu kosong"
"Ok hati-hati" kata Tama sembari melakukan high five.
"Jangan lupa salam buat Nara"
"Iya pasti aku sampaikan, makasih sudah bawa dia ke sini"
"Okey, aku pergi"
Aldika berbalik lalu melangkahkan kakinya, sementara Tama langsung menemui Nara yang masih terbaring lemah di ruang IGD.
Para suster memang tidak memindahkan Nara ke ruang rawat inap, sebab dokter sudah mengijinkannya pulang.
__ADS_1
Membuka dan menutup pintu IGD, sepasang netra Tama langsung jatuh pada wajah Nara begitu memasuki ruangan itu. Tampak wajah istrinya yang terlihat pucat, namun tak membuat Tama merasa sedih sebab kondisinya saat ini bukan di sebabkan oleh penyakit, melainkan kabar bahagia atas kehamilannya.
Pria itu langsung duduk di kursi samping brankar. Pelan, ia meraih tangan Nara lalu mengecupnya lembut dan sedikit agak lama.
"Apa tingkahmu yang kekanak-kanakan ini karena sedang hamil? Kenapa kamu tidak menyadarinya?"
Tama tersenyum dengan Mata terus tertuju pada wajah Nara.
"Mungkin bukan kamu yang cemburu pada Amui, tapi bayi kembar kita" genggamannya kian mengerat, membuat Nara akhirnya membuka mata.
"Mas" lirihnya.
Tama mengulas senyum, salah satu tangannya terulur mengusap lembut kepala Nara.
"Ada apa?"
"Dimana aku?" tanya Nara sambil mengedarkan pandangan.
"Di rumah sakit sayang"
Mendengar ucapan Tama, seketika ingatannya memutar ulang kejadian saat dia baru saja keluar dari ruangannya dan hendak menuju ruang GM.
"Aku pingsan ya mas?"
"Iya"
"Kenapa bisa pingsang?"
"Kenapa bisa tidak sadar kalau kamu sedang hamil?"
"Aku hamil?" tanya Nara terkejut.
Tama menjawab dengan anggukan kepala. "Kamu hamil" ucapnya. "Hamil anak kembar" tambahnya mantap.
"Anak kembar?" Nara mengernyit.
"Iya sayang"
"Mas serius? bukannya di keluarga kita tidak ada genetik kembar?"
"Nggak tentu sayang" ujar Tama dengan raut serius. "Mas sering ngobrol dengan Aksa, dia sering sekali memberikan edukasi bagaimana cara mendapatkan bayi kembar. Merasa ingin membuktikan ucapan Aksa, jadi selama ini mas mempraktekannya, dan ucapan si dokter itu benar-benar terbukti"
Nara mencebik tak percaya.
"Permisi?" sela suster tiba-tiba.
"Bu Nara sudah bisa pulang, tapi harus istirahat di rumah ya bu, jangan angkat beban terlalu berat, dan jangan terlalu lelah, karena bayinya tidak hanya satu, tapi kembar dua"
Tadi saat Tama mengatakan jika bayinya kembar, wanita itu masih setengah percaya, tapi ketika suster langsung yang memberitahukan, bahkan dia tidak bisa berkata-kata. Bahagia, mungkin itulah gambaran hati Nara saat ini.
"Bapak bisa menebus obat terlebih dulu, saya akan menemani bu Nara selagi bapak ke apotek"
"Baik suster, saya titip istri saya"
"Iya pak" sahutnya ramah.
__ADS_1
Bersambung