
Sudah satu minggu Tama dan Nara menginap di rumah Ramdan. malam ini, setelah makan malam, mereka berencana kembali ke rumah Nalendra. Selain demi Amara yang terus merengek meminta pulang dan ingin tinggal dengan Idris serta Rania, Nara pun sudah susah payah membujuk Tama agar mau kembali ke rumahnya. Memulai hidup baru dengan dirinya dan Amara tanpa ada dendam ataupun pertengkaran. Melupakan masa lalu, dan berbahagia dengan orang tua mereka.
Semua baju-baju yang sudah keluar dari koper pun sudah kembali masuk dan tertata rapi di dalam koper. Tama benar-benar sudah siap untuk kembali ke rumah Idris dan memaafkan semua perbuatan Rania pada anak serta istrinya.
"Nis, nanti kalau aku pulang ke rumah mas Tama, tolong jagain papa ya! langsung telfon aku kalau ada apa-apa"
"Iya bu, bu Nara tenang saja, saya akan selalu jagain pak Ramdan"
Nara tersenyum menanggapi ucapan ART yang bekerja di rumah Ramdan.
"Makasih ya" kata Nara sambil mencuci beras. "Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan bilang ke papa, atau ke aku"
"Iya bu"
Hening, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, Nara yang tengah memasak nasi, dan Nisa membantunya mencuci sayuran.
"Oh ya Nisa, usia kamu berapa? sudah nikah?"
Gadis berhijab itu tersenyum malu sebelum menjawab.
"Umur saya dua puluh satu tahun bu, saya belum menikah"
Nara mangangguk paham. "Aku seneng kamu kerja di sini Nisa, kalau ada masalah soal pekerjaan, di omongin ya, jangan di pendam sendiri"
"Pasti bu" sahutnya masih dengan ekspresi malu.
Annisa dengan pembawaan yang ramah, membuat Nara menyukainya meskipun pekerjaannya kurang maksimal. Mungkin karena usianya yang masih muda, jadi dalam hal memasak dia masih perlu di ajari. Selain itu, memasak juga memang bukan sebagian dari pekerjaannya.
Ramdan sendirilah yang akan turun tangan dalam hal mengolah makanan. Bakat memasak Ramdan yang dulu sering membantu almarhumah istrinya menjual bubur ayam, membuat rasa masakannya tak kalah lezat dengan buatan Nara. Sementara Annisa hanya membantu sebisanya. Namun, hampir satu tahun bekerja, sedikit banyak gadis itu mulai bisa memasak.
"Assalamu'alaikum mbak"
"Waalaikumsalam" Nara melihat Daffa sekilas, lalu kembali fokus pada ikan yang baru saja ia masukan ke dalam minyak panas. "Di situ saja om" Cegahnya ketika Daffa yang tengah menggendong Amara di balik punggungnya akan mendekat. "Nanti kena minyak panas"
Daffa yang baru saja pulang kuliah pun mengurungkan niatnya untuk mengecup punggung tangan Nara.
"Ya udah langsung ke kamar ya mbak"
"Hmm, okey"
Sembari berseru-seru bahagia, Daffa melangkah memasuki kamar. Mereka bergurau dan saling melempar candaan. Nara yang menyaksikan tingkah adik angkat dan putrinya, reflek menyunggingkan senyum tipis.
Begitu juga dengan Annisa yang juga tak bisa menahan diri untuk tak melengkungkan bibir ke atas.
Usai memasak, beberapa menupun sudah tersaji di meja makan, Nara keluar hendak memanggil anggota keluarganya yang lain.
Ketika keluar dari area dapur, ia berpapasan dengan Daffa yang hendak masuk ke ruang makan.
"Ara mana Daf?"
"Di teras mbak, sama bang Tama sama papa, lagi main tadi" jawabnya sambil berlalu ke arah kulkas.
"Kamu tunggu di ruang makan, mbak mau ke depan panggil mereka"
Pria itu hanya berdehem merespon perintah Nara, sebab dia sedang meneguk minuman dari dalam botol.
Begitu sampai di teras rumah, sepasang netra Nara menangkap dua pria duduk di kursi teras tengah tersenyum lebar. Entah topik apa yang membuat mereka terkekeh, yang jelas persekian detik kemudian terbit seulas senyum dari bibir tipis wanita berambut pirang.
"Pa, mas, ngomongin apa? kayaknya seru banget"
"Eh Nara" ucap Ramdan sambil sedikit mendongak.
"Ngomongin apa sampai terkekeh?" tanyanya ulang.
"Anakmu ini loh sudah buat omnya kalah telak"
__ADS_1
"Kenapa memangnya?" Nara mengernyit lalu mendaratkan satu tangan di sandaran kursi yang di duduki Tama.
"Tadi" ujar Amara menjawab pertanyaan mommynya. "Pas Kakek suruh buat nyebutin sepuluh binatang buas yang berbahaya dalam waktu sepuluh detik ke Ara sama om Daffa, Ara yang menang mom"
Nara semakin bingung dengan ucapan Amara. Alisnya seketika menukin tajam.
"Kalahnya dimana?" Tanya Nara dengan penuh penasaran.
"Ya om Daffa nggak bisa sebutin sepuluh binatang dalam waktu sepuluh detik mom"
"Emang Ara bisa?"
"Bisa dong"
"Apa saja coba sebutin dalam waktu sepuluh detik"
"Lima ekor harimau, sama lima ekor singa. Jadinya kan semua ada sepuluh, betul kan dad?" Amara yang duduk di atas pangkuan Tama setengah menengok ke belakang untuk menatapnya.
"Hmm" sahut Tama sambil mengangguk lengkap dengan senyum terulas.
"Emang om Daffa jawabnya apa aja"
"Banyak mom" kata Amara sambil mendongak. "ada ular, ada gorila, buaya, ikan hiu. Terus pas belum genap sepuluh, kakek bilang waktunya udah abis. Terus pas giliran Ara yang jawab cuma empat detik, jadinya Ara yang menang"
"Waahh pintar kamu ya" ucap Nara yang di respon gelak tawa oleh Tama dan juga Ramdan.
"Terus om Daffa harus sit up karena udah kalah" sambung Amara "Ara tadi duduk di kaki om, bantuin om Daffa sit up"
"Oh, pantas saja tadi om Daffa masuk langsung buka kulkas minum air satu botol besar"
"Iya soalnya kan om Daffa habis sit up, jadinya haus banyak-banyak"
"Ya udah, sekarang makan dulu yuk" ajak Nara yang langsung di iyakan oleh Tama, Ramdan serta Amara.
Mereka berempat bersama-sama menuju ke ruang makan.
"Om Daffa" panggil Amara lalu duduk di kursi yang barusan Nara tarik.
"Ada apa?" jawab Daffa datar. Fokusnya masih terus menatap layar ponsel.
"Om masih kesal ya, gara-gara om kalah?"
"Enggak"
"Kalah ya kalah aja jangan kesal-kesal"
"Ya Ara curang"
"Curangnya dimana?"
Nara yang tengah melayani Ramdan, Tama dan Daffa bergantian, untuk kesekian kalinya tersenyum dengan ucapan Amara.
"Ya kan kakek suruh sebutin sepuluh binatang, masa Ara sebutinnya lima harimau sama lima singa" protes Daffa lalu mengerucutkan bibirnya lucu.
"Ya tapi kan lima tambah lima itu sepuluh om, jadi benar dong ada sepuluh binatang buas"
"Ya tapi kan,_"
"Sudah makan dulu" Ramdan memotong kalimat Daffa.
"Oke deh, karena Amara udah berhasil mengalahkan om" kata Daffa seraya menerima uluran piring berisi Nasi dari tangan Nara. "Besok om beliin boneka beruang yang besar buat Ara"
"Serius om"
"Serius dong, untuk keponakan om yang cantik dan pintar, nggak mungkin om Daffa bohong"
__ADS_1
"Tapi kan Ara mau pulang ke rumah opa"
"Ya om Daffa akan ke rumah opanya Ara dong buat nganterin bonekanya, sekalian om Daffa mau main lama-lama sama Ara soalnya kan om masih kangen banyak-banyak sama Ara"
"Jadi om Daffa besok datang ke rumah opa"
Daffa mengangguk dengan mulut terisi makannan.
"Sudah, makan dulu ngomongnya nanti lagi" perintah Nara lembut.
Mereka pun menikmati makan malam dengan penuh ceria. Apalagi celoteh Amara yang sedikit keinggrisan terdengar menggemaskan membuat mereka terkekeh geli.
Selesai makan, Nara dan Tama berpamitan pada Ramdan. Dafa dan Nisa membantu membawa koper untuk di taruh di dalam mobil.
Tadi saat duduk di teras rumah sambil menunggu makan malam siap, Ramdan banyak memberikan wejangan untuk Tama. Salah satunya agar memaafkan sang bunda serta supaya tetap berbakti pada Rania yang sudah melahirkannya. Tidak lupa agar sebisa mungkin melupakan masa lalu, memulai hidup baru dan fokus pada keluarga serta bisnisnya.
"Jangan pernah tinggalkan sholat" nasehat Ramdan untuk Tama dan Nara usai mereka mengecup punggung tangannya. "Selesaikan masalah rumah tangga kalian dengan bijak dan kepala dingin"
"Iya pah" jawab Tama patuh.
"Nara, kamu jangan pernah meninggikan nada bicaramu di hadapan suami serta mertua kamu"
"Iya pa"
"Patuhi suamimu, jangan pernah membangkang"
"Enggak kok pah"
"Dia tuh bukannya pembangkang pa" Sela Tama melirik sang istri. "Justru kalau lagi jengkel dia diem-diem dan nggak mau ngomong. Kadang aku bingung sendiri"
"Mas" Nara mendelik menatap Tama yang tengah tersenyum meledek.
"Jangan diam Nara, alangkah baiknya utarakan, lalu cari solusinya"
"Kadang suka bingung pa, mau mulai dari mana ngomongnya, masa iya marah harus bilang"
"Ya jangan bingung-bingung, kalau bingung ya langsung ke intinya"
"Iya pah"
"Nurut ya sama suami" Kata Ramdan lalu mengusap puncak kepala Nara.
"Iya pah"
"Kami permisi pah" pamit Tama. "Daf, pulang dulu"
"Iya bang, hati-hati" balas Daffa lalu mengecup tangan Tama.
"Nis, aku pulang dulu ya, titip papa aku"
"Iya bu"
"Nanti setiap malam minggu aku akan menginap di sini"
"Iya"
Kemudian, Nara beralih ke Daffa yang langsung mengulurkan tangan.
"Jagain papa ya Daff" ucap Nara berasamaan dengan Daffa yang mengecup punggung tangannya.
"Pasti mbak"
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
__ADS_1
Ramdan dan Daffa masih berdiri di depan rumah. Tangannya melambai sementara netranya menatap mobil yang perlahan kian mengecil dari pandangan.
TBC.