
Biar aku selalu ingat siapa saja nama-nama anak mereka 😃😃😃
Gautama + Naraya \= Amara Stevani Nalendra
Aksara + Khansa \= Nadine Paramita Galileo
Emir + Anita \= Shanas & Sheina Dhaniswara.
"Lasetya + Anya \=Navita Aulia Firdaus & Abimana Firdaus.
Bacanya pelan-pelan biar langsung tahu ini pov siapa. Happy reading 😉
...***...
Aku dan mas Tama di buat salah tingkah oleh anak kami.
Meskipun kondisinya sangat lemah dan wajahnya juga terlihat pucat pasi, namun senyum di bibirnya kian lebar kala melihat mas Tama merangkul pinggangku.
Aku tahu apa yang dia rasakan saat ini. Seringnya melihat interaksi antara mas Aksa dan Sasa, bang Emir dan Anita, serta mas Setya dengan Anya, membuat dia paham betapa saling menyayangi orang tua dari Mita, si kembar Shanas Sheina, dan juga Vita serta Abimana.
Dan hari ini mungkin Amara merasakan apa yang anak-anak itu rasakan.
Karena keinginannya adalah tinggal bersama orang tua yang lengkap.
"Ara senang lihat daddy sama mommy bisa sama-sama. Kalau Ara pergi main-main sama nenek Uti, daddy selalu temani mommy ya!"
Mas Tama mengangguk meskipun aku menangkap ada gelagat bingung di raut wajahnya.
"Ara ngomong apa?" Tanyaku di iringi dengan getaran hebat di dalam sana. Bagaimana jantungku tidak seliar ini, Aku sangat yakin jika Ara pasti kembali bermimpi bertemu dengan ibu.
Aku juga merasa ucapan Ara terdengar ngelantur.
"Tadi pas Ara bobo, Ara mimpi ketemu nenek Uti. Nenek lagi duduk di taman kupu-kupu, terus ajak Ara main. Ara senang pas mommy ijinin Ara lari-lari, jadinya Ara main lari-larian sama nenek"
"Mommy ijinkan Ara main sama nenek?"
Ara mengerjap merespon pertanyaanku. Entahlah, aku sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa takut dan cemasku, rasanya aku ingin sekali pingsan.
"Nanti kalau daddy nggak temani mommy, mommy sendirian, kan kasian"
"Memangnya Ara mau kemana?"
"Ara kan main-main sama nenek mom, jadinya mommy sendirian. Tapi kalau ada daddy kan mommy nggak sendirian lagi. Ara bisa tenang main lama-lama sama nenek karena udah ada daddy yang temani mommy"
"Setelah main sama nenek Ara bisa pulang kan?"
"Tapi nenek nggak mau di tinggal. Nenek pengin Ara temani nenek terus biar nggak kesepian"
"Tapi mommy juga sendirian, kalau mommy kangen sama Ara gimana?"
"Kan udah ada daddy mommy, daddy akan temani mommy terus"
Aku menyerah, benar-benar menyerah, aku tidak tahu kenapa menjadi selemah dan secengeng ini.
"Mulai sekarang, daddy janji akan temani Ara dan mommy" Tiba-tiba mas Tama menyerukkan suaranya "Nanti setelah Ara sembuh, kita tinggal sama-sama di rumah daddy. Daddy udah bikin rumah besar buat Ara sama mommy"
Ara tampak senang mendengar ucapan mas Tama, benar-benar berlawanan dengan apa yang aku rasakan sekarang.
Aku juga tidak mengerti kenapa mas Tama bisa setegar itu, padahal saat ini jantungku tengah berpacu sangat kencang. Pikiranku kacau memikirkan hal buruk terjadi pada Amara.
Aku sibuk menenangkan diriku sendiri sementara mas Tama justru terlihat tenang.
"Mommy ke toilet dulu ya"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawabannya, aku berbalik dan langsung menuju ke kamar mandi. Aku ingin menangis di sana, menumpahkan semua embun yang mengganjal di kelopak mataku.
Ketika aku sempat menengok ke belakang, mas Tama tengah menatapku dengan tatapan sendu.
Menutup pintu kamar mandi, aku menatap bayanganku di balik cermin, wajahku pucat tanpa make up, mataku memerah dan sedikit sembab. Hanya raut sedih yang terlihat jelas di sana.
"Ibu, dimanapun ibu berada, tolong jangan hadir lagi di mimpi Ara, jangan ajak dia bersamamu bu"
"Ibu tahu aku sudah cukup menderita selama ini, ibu juga tahu aku sangat terluka ketika ibu meninggalkanku. Jangan lagi berikan luka itu padaku bu, tolong bu, aku tidak sanggup jika harus mendapatkan luka yang sama"
"Ku mohon ibu jangan redupkan pelitaku, aku tidak sanggup hidup dalam kegelapan"
"Aku tidak sanggup kehilangan Amara bu"
Aku terus bermonolog di dalam kamar mandi dengan deraian air mata yang mengalir sangat deras.
"Bukankah ibu ingin aku hidup dengan nyaman, bahagia bersama keluargaku, jadi tolong bu jangan hadir lagi di mimpi Ara kalau untuk mengajaknya pergi"
"Tanpa ada Amara di sisiku, bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku bu"
Tiba-tiba aku mendengar suara pintu di buka. Reflek kepalaku mendongak memusatkan pandangan ke arah cermin, ku temukan wajah mas Tama dari balik kaca sedang berdiri tepat di belakangku.
Perlahan, langkahnya mendekat dan semakin dekat. Aku hanya bisa menelan ludah sembari terus menatap wajah teduh yang masih sama seperti dulu.
"Kenapa menangis sendiri?"
Aku kembali menundukkan kepala sambil menghapus jejak basah di pipiku.
Pelan, mas Tama memutar tubuhku menghadapnya. Ku tatap dadanya yang bidang, detik kemudian dia merengkuhku ke dalam pelukannya.
"Menangislah, keluarkan apa saja yang membebanimu"
Aku menangis dalam pelukan mas Tama, bahkan air mataku membasahi kaosnya.
"Kamu sudah melihat wajahmu di cermin?" tanya mas Tama.
"Pucat kan?" Tanyanya lagi dan aku kembali mengangguk masih dalam tangisku
"Jangan tunjukan itu di depan Amara, selama ini kamu bisa menutupi kesedihanmu di depannya. Kenapa sekarang tidak bisa?"
"Aku selalu membayangkan tentang kematian Ara, aku takut kehilangan dia, dia hidupku mas, dia kekuatanku, aku tidak bisa hidup tanpa dia" Suaraku teredam, air mataku luruh sejadi-jadinya dalam pelukan mas Tama.
"Dia yang selama ini menemaniku, membuatku tersenyum dan selalu bisa mengalihkan ingatanku terhadap mas. Aku merasa mimpi Amara adalah sebuah pertanda, sebuah firasat kalau dia memang akan pergi"
"Pertanda apa?"
"Apa mas tidak bisa mendevinisikan perkataan Amara yang sangat sederhana tadi?"
"Bisa"
Mendengar jawaban mas Tama yang ku dengar santai, aku langsung mengurai pelukan lalu segera mendongak mempertemukan netra kami.
Dengan penuh percaya diri, pria yang jauh lebih tinggi dariku menyunggingkan senyum. Bisa-bisanya mas Tama tersenyum di atas kesedihanku.
"Tadi Ara melanjutkan ceritanya, dia bilang pas lagi main sama nenek Uti, katanya daddy memanggilnya. Daddynya bilang "Amara sini nak, ayo udahan mainnya, nanti mommy marah, kita harus cepat-cepat pulang, kalau tidak, mommy tidak akan membuatkan kita tempura udang. Terus Ara jawab "oke daddy" dan setelah itu, katanya dia bangun. Pas buka mata, dia melihat daddy sama mommynya lagi peluk-pelukan"
"Apa mas bilang seperti itu hanya untuk menghiburku?"
"Apa kamu tidak percaya pada suamimu?" sergah mas Tama.
Mendengar mas Tama mengatakan kata suami, jantungku mendadak berdesir. Sebagian dari diriku merasa tidak percaya jika mas Tama masih sah sebagai suamiku. Padahal kami terpisah cukup lama.
Ketika aku tetap bungkam dengan fokus terus menatapnya, dia malah memainkan kedua alisnya masih dengan bibir tersungging.
__ADS_1
"Apa ada yang lucu?" tanyaku sebal.
"Cuci mukamu sekarang, tadi suster bawakan buah naga buat Amara, dia memintamu menyuapinya"
Menghela napas, aku menuruti ucapan mas Tama. Dia keluar selagi aku membasuh muka.
****
"Oh iya Ara, mommy mau tanya dari kemarin-kemarin tapi lupa terus, mumpung mommy lagi ingat, sekarang mommy mau tanya"
Dua pasang mata sekaligus langsung menatapku penuh selidik usai aku mengatakan itu.
Ayah dan anak ini seperti tidak sabar menunggu pertanyaan dariku.
"Kenapa kalian lihat mommy kayak gitu?" tanyaku melirik mereka berdua secara bergantian. Tanganku bergerak menyuapi buah ke mulut Amara.
"Mommy mau tanya apa?" tanya mas Tama sementara Amara diam dengan mulut terisi buah naga.
"Mommy mau tanya ke Ara"
"Iya tanya apa?" Mas Tama seperti tidak sabar.
"Kok Ara bisa langsung ngenalin daddy pas pertama kali daddy datang, padahal kan mommy nggak pernah lihatin foto daddy ke Ara"
"Ara tahu dari mimpi Ara, terus pas Ara nemu album photo di laci, ada foto mommy lagi menikah sama daddy, ya udah Ara yakin poto itu pasti daddynya Ara, soalnya mirip sama yang di mimpi"
"Album poto?" Tanyaku mengernyit.
"Hu'um, Ara lihat banyak-banyak poto daddy sama mommy di sana, ada poto nenek Uti juga sama kekek dandan"
Ara memang memanggil ibuku dengan nenek uti yang maksudnya nenek Fitri, dan kakek Dandan yang maksudnya papa Ramdan.
Pengucapannya yang masih cedal dulu, kebawa sampai dia besar.
"Jadinya Ara tahu, wajah daddy ternyata ganteng kayak Ha-neul artis Korea yang pernah ngasih Ara boneka babi lengkap dengan tanda tangannya mom"
Mas Tama tergelak mendengar pujian dari putrinya. Sementara aku mencebik sambil meliriknya dengan sorot geli.
"Mana ada mirip sama Kang Haneul Ara, beda jauh lah"
"Bukan wajahnya yang mirip mommy, tapi Gantengnya aja, nggak kalah ganteng sama artis favorite Ara itu"
"Ara benar, daddy memang tampan, tapi mommy nggak pernah bilang daddy tampan"
"Paling mommy malu dad" Timpal Ara, mereka terang-terangan berghibah, padahal aku ada di dekat mereka, tapi seolah bukan aku yang mereka bicarakan. "Kalau daddy nggak tampan, mommy mana mau menikah sama daddy" lanjut Amara yang membuatku kian kikuk.
"Ara memang pintar kayak mommy" sahut mas Tama setelah melirikku sekilas dengan tatapan genit.
"Tapi walau nggak pernah bilang daddy ganteng, tapi mommy sayang sama daddy banyak-banyak, buktinya pas masih tinggal di Korea mommy pernah nangis. Pas Ara tanya, katanya nangis karena kangen daddy"
Aahh rasanya aku ingin sekali masuk ke kolong tempat tidur setelah anak dan ayah ini mengulitiku habis-habisan.
Dengan santainya mereka tertawa lepas.
"Assalamu'alaikum?"
Gelak tawa mereka di putus oleh suara salam dari seseorang yang tiba-tiba langsung memasuki kamar Amara.
"Waalaikumsalam"
Aku dan mas Tama menjawab salamnya nyaris bersamaan.
Seketika kami berdiri sembari menatap dua sosok yang tengah berjalan menghampiri kami.
__ADS_1
Bersambung...
Masih ingat nggak pencetus kata dobel-dobel? 😃😃