Menggapai Rindu (Daddy)

Menggapai Rindu (Daddy)
46


__ADS_3

Maafkan kalau konfliknya berat 😇😇 tetap tenang membacanya ya, saya tidak akan banyak berkelit dalam membuat cerita kok.


Semua sudah di bikin sesuai plot. awal-konflik-penyelesaian masalah-*******>>>bahagia, ending.


Jadi tidak akan ada tragedi salah paham lagi dalam bab penyelesaian konflik, DNA ketuker ataupun kecelakaan yang membuat cerita ini menjadi berbelit-belit.


Dan please jangan minta crazy up, saya tidak enak hati karena tidak bisa memenuhinya.


Saya sangat sibuk, satu bab per hari juga benar-benar saya paksakan. Kalau bukan karena like, komen atupun hadiah dan vote dari kalian, entahlah, mungkin upnya lama-lama. Biasanya satu minggu baru up lagi sampe-sampe jumlah fave setiap harinya berkurang. 😃😃


jadi makasih banyak-banyak buat yang udah ninggalin Like, comen, kasih hadiah dan vote... imun buat saya.


Happy reading


Regard


ANE


...🌷🌷🌷...


Setelah kembali dari kediaman keluarga Shella, dimana pertemuan mereka tadi berlangsung sedikit dramatis karena tingkah Shella yang tak bisa menerima pembatalan pernikahannya, dengan langkah lebar Idris menuju kamar tempat dimana Rania berada.


Untung saja Ilyas selaku ayah dari Shella menentang keras sikap Shella yang memaksa untuk melanjutkan pernikahan. Selama ini kedua orang tua Shella bahkan tak tahu jika Shella menunggu pria yang sudah beristri.


Baik Rania maupun Shella, ternyata sudah merahasiakan status Tama dari Ilyas dan juga Divia yang sudah menikah dan menjadi seorang ayah.


Decitan sebuah pintu membuat Rania berjengit, Ia merasa heran pada sikap suaminya yang berubah bak singa yang hendak menerkam mangsanya. Raut amarah dari wajah sang suami seakan membuat Rania bertanya-tanya apa yang membuatnya marah seperti saat ini.


"Siapkan barang-barangmu kita akan ke Jakarta sekarang!" Pungkas Idris tanpa melihat Rania, nadanya datar tanpa Ekspresi.


"Ayah dari mana? apa dari rumah Divia?"


"Kalau sudah tahu kenapa bertanya?"


"Apa yang ayah katakan pada mereka?"


"Pembatalan pernikahan dan kebenaran tentang Tama yang sudah menikah dan memiliki anak, tetapi di sembunyikan oleh bunda dan juga Shella,"


Menelan ludah, di luar pemikiran Rania kalau Idris benar-benar nekad dan mempercayai Nara yang mengatakan bahwa Amara adalah anak kandung Tama.


"Ayah percaya dengan omong kosong Nara?"


"Memang faktanya seperti itu Rania, Amara adalah darah daging Tama, cucu kita"


"Ayah tidak lupa kan, jika Nara sudah mengkhianati Tama dengan pria lain?"


"Cukup Rania cukup" Bantahnya dengan mata berkilat merah. "Cepat kemasi apapun yang ingin kamu bawa pulang ke Jakarta, ada banyak hal yang harus kita bicarakan"


"Apa yang harus kita bicarakan?" tanya Rania tak kalah lantang. "Apa soal Naraya dan anaknya?"


"Jika kamu sudah tahu, maka cepatlah berkemas, jangan membuatku hilang kesabaran"


"Aku tidak percaya ini, bagaimana bisa ayah percaya pada wanita yang menghilang selama tujuh tahun, kemudian kembali dengan membawa anak dan mengatakan jika itu adalah anak Tama. Aku tidak bisa terima itu"


Mendengar kalimat Rania, kemarahan Idris kian memuncak, ia lalu meraih secarik kertas yang tersimpan di tas kantor, kemudian melempar kertas itu ke arah istrinya yang kini tengah menata pakaian ke dalam koper.


"Jika kamu bisa berkata seperti itu, kamu juga harus bisa menjelaskan tentang apa yang tertulis di kertas yang kamu titipkan pada bik Jum"


Rania tergagap dengan sorot tak percaya, wanita itu meraih kertas hasil DNA yang terjatuh di lantai.

__ADS_1


"D-dari mana ayah dapat ini?"


"Sudah ku bilang tadi, kertas itu kamu titipkan pada bik Jum, jadi seharusnya kamu tahu dari mana aku mendapatkannya"


"Bik Jum" lirihnya sedikit geram.


"Kamu jangan menyalahkan dia, dia sudah menyimpannya dengan baik, tapi kamunya saja yang kurang cerdik menitipkan itu padanya" katanya dengan sorot sepenuhnya menatap Rania. "Aku memergokimu saat kamu menyerahkan dokumen rahasiamu pada bik Jum"


"Jadi ayah s-sudah tahu semuanya?"


"Apa maksudmu semuanya? apa ada rahasia lain yang kamu sembunyikan dari anak dan suamimu?"


"Tidak" Sahutnya berbohong dengan hati berdegup kencang.


Tersenyum miring, manik hitam milik Idris terus tertuju pada manik hitam istrinya yang tampak bergerak gelisah.


"Baiklah, kalau sudah siap segera keluar! kita akan pulang membawa mobil Tama" Ujarnya lalu melangkah melewati pintu kamar setelah menyambar tas kantor.


'Apa mas Idris sudah tahu semua isi tas yang ku titipkan pada bik Jum?'


'Bagaimana bisa aku seceroboh itu?'


'Bagaimana jika Tama tahu? Ah tidak, Tama tidak boleh tahu, jika dia sampai tahu, anak itu pasti akan sangat marah padaku'


'Hufft apa yang harus ku katakan pada mas Idris kalau semua itu adalah ulahku'


Ketukan pintu membuat Rania tersadar dari lamunan. Ia menoleh ke arah suara yang ternyata adalah Nia. ART yang mengurus mansionnya di Surabaya.


"Tuan besar sudah menunggu nyonya"


"Bilang padanya sebentar lagi saya akan siap"


"Baik nyonya"


Belum lagi soal Shella yang pastinya tidak akan tinggal diam.


'Ah, Shella tidak terlalu penting, yang penting sekarang adalah mas Idris'


Sebelum keluar kamar, Rania mengambil ponsel di tas jinjingnya lalu menekan nomor telfon rumah utamanya di Jakarta.


"Iya halo!" Sapa seseorang dari balik telfon.


"Bik Jum ini saya"


"Ny-nyonya?"


"Iya" Sahut Rania sadis. "Apa bik Jum menyimpan titipan saya dengan baik?"


"A-anu nyonya, i-ini"


"Apa? katakan yang jelas!"


"T-tuan"


"Tuan apa?"


"Begini nyonya, Tuan meminta map yang nyonya t-titipkan"


"Apa?"

__ADS_1


"M-maaf nyonya, saya benar-benar minta maaf, karena jika saya tidak menyerahkan dokumen nyonya, tuan besar akan memenjarakan saya" ujarnya takut-takut. "Saya tidak punya pilihan nyonya"


Usai mendengar ucapan bik Jum, Rania segera mematikan sambungannya. Raut wajahnya cemas, secemas hatinya yang di selimuti rasa takut.


"Jadi mas Idris sudah tahu semuanya?"


"Duh bagaimana ini, semoga saja dia tidak tahu dan tidak sempat membuka flashdisk itu"


"Tamatlah riwayatmu Rania, benar kata suamimu, kamu ceroboh, kurang cerdik, andai saja kamu lenyapkan dokumen rahasiamu dari dulu, pasti tidak akan seperti ini, kamu pasti akan aman Rania"


"Sekarang" Rania masih berperang melawan hati dan pikirannya. "Kamu hanya bisa berdoa semoga suamimu benar-benar belum tahu kebenaran yang lain"


Berjalan keluar kamar dengan tangan menarik koper, langkahnya tertuju pada pintu utama sembari memanggil ARTnya.


"Nia, saya pulang ke Jakarta, tolong jaga rumah ini baik-baik"


Nia yang berada di ruang tengah, berjalan tergopoh mengikuti langkah majikannya.


"baik nyonya"


"Jangan lupa untuk selalu membersihkan setiap ruangan!"


"Iya nyonya"


****


Dalam perjalanan, baik Idris dan Rania tak mengeluarkan sepatah katapun.


Idris terus memusatkan perhatian pada layar laptop, sementara Rania hanyut dengan pikirannya mengenai rahasia yang ia simpan, sedang berada di ujung tanduk.


"Aku pasti akan sangat malu jika mas Idris sudah membuka flashdisk itu"


Ekor mata Rania memindai tubuh Idris yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


'Melihat sikap mas Idris yang biasa saja, sepertinya dia belum tahu isi dari flashdisk itu '


'Kalau soal sertifikat dan ponsel Nara, aku masih bisa menjelaskan dan sedikit berkelit, tapi untuk soal video buatanku, apa yang harus aku jelaskan' Rania membatin sambil terus memperhatikan sang suami yang terlihat begitu tenang dalam konsentrasinya.


'Aku harus apa untuk menyangkal video itu'


'Ahh Rania, kamu benar-benar bodoh. Hanya untuk berjaga-jaga agar kamu bisa menjadikan video itu sebagai senjata untuk membuka aib Nara jika wanita itu kembali dan menuntut hak Amara pada Tama, kamu tidak menghapusnya dari dulu. Lihat sekarang, rahasiamu justru terbongkar'


Menghela napas panjang, ia mengeluarkannya dengan berat.


'*Nara, kamu benar-benar membuatku murk*a, kamu terus saja mengusik ketenanganku, kenapa kamu harus hamil secepat itu? padahal pernikahan kalian hanya berjalan kurang lebih satu bulan'


'Andai kamu tidak hamil, pasti tidak ada yang bisa memperkuat ikatan tali pernikahan kalian'


'Atau apa jangan-jangan Nara hamil di luar nikah?'


'Apa mereka melakukannya sebelum pernikahan dan akhirnya Nara hamil agar Tama segera menikahinya?'


'Wanita miskin akan melakukan apapun demi bisa di nikahi oleh pria kaya, apalagi pria mapan dan tampan seperti Tama, mereka pasti akan merayu bahkan rela kehilangan keperawanan demi ambisinya menjadi nyonya'


'Kalau iya Nara hamil di luar nikah, itu artinya anak itu tidak bernasab, dan Tama tidak bisa menjadi walinya meskipun Amara adalah darah daging Tama'


'Betulkan pendapatku?'


Bersambung...

__ADS_1


Di sini alasan kenapa Rania masih menyimpan rahasianya itu karena agar jika Nara kembali, Rania bisa terus mengompor-ngomporin Tama dan Idris dengan video itu ya. Jadi di mata Tama dan Idris, Nara adalah wanita yang buruk. Tapi sepandai-pandainya menyimpan, pasti akan ketahuan kan?


Next nya besok pagi lagi ya..😘


__ADS_2