
Sampai di pagi harinya, Aku menatap diri di hadapan cermin selepas mandi, aku sempat tersenyum sendiri saat teringat betapa jahilnya mas Tama semalam. Meskipun kami tak sampai melakukannya, tapi dengan caranya dia memperlakukan dan mengerjaiku benar-benar membuatku mati kutu. Manis dan penuh cinta.
Di depan cermin ini, aku memoles bibirku menggunakan lipstik merah pemberian Khansa saat dia datang menjenguk Amara.
Sasa bilang, aku harus membuat wajahku tetap segar dan terlihat mempesona. Selain agar wajahku tak terlihat pucat, disini juga ada mas Tama yang mungkin butuh pemandangan indah dari istrinya.
Ini pertama kalinya aku memakai lipstik dengan warna seberani ini. Meski sempat ragu, tapi tak ada salahnya jika aku mencoba. Sasa juga mengatakan jika warna ini sangat cocok untukku.
"Na, bisa tolong ambilkan handuk kecil untukku?"
Aku mendengar perintah mas Tama dari balik kamar mandi, dan aku langsung mengambilkan handuk itu untuknya.
Begitu aku memasuki kamar mandi, ku lihat mas Tama berdiri di depan wastafel. Pria itu tampak mencermati wajahnya melalui cermin sambil sesekali membersihkan alat cukur yang di penuhi krim. Sepertinya mas Tama baru saja selesai mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di area sekitar dagu dan kumisnya.
Pandangan kami bertemu melalui pantulan cermin, dia menatapku dengan tatapan miring yang membuatku reflek mengerutkan kening.
"Kamu habis minum darah?" tanyanya spontan, masih menatapku melalui kaca.
"Kenapa memangnya?" jawabku sembari menyerahkan handuk lalu meneliti bayangan wajahku pada cermin.
Tidak ada yang aneh, malah aku merasa bibirku sedikit seksi dengan lipmate berwarna merah menyala.
"Kamu mirip vampir" katanya setelah melihatku sekilas. Mas Tama kembali menunduk sambil menggerakkan tangan mematikan kran air. tangan lainnya mengeringkan wajah yang basah menggunakan handuk yang ku berikan.
"Lipstik baru?"
"Iya, ini baru, lipstik pemberian Khansa, bagus enggak?"
"Memangnya kamu mau pamer ke siapa? ke satpam rumah sakit, atau cleaning service?"
"Maksud mas Apa?"
"Kamu sudah punya suami, ngapain pake lipstik merah seperti itu, jelek tahu, nggak cocok di kamu, kamu lebih cocok memakai warna yang soft dan kalem"
Ku lirik pria di samping kananku dengan lirikan tajam. Bukannya takut, mas Tama justru membalas tatapanku tak kalah tajam, selain itu bibirnya tersungging, alisnya terangkat sebelah seolah tengah meledekku.
"Kalau enggak suka, kan bisa ngomong baik-baik" ucapku datar tanpa ekspresi, lalu meraih tangan kiri mas Tama dan mengusapkannya di bibirku. Jejak merah itu melekat jelas di punggung tangannya. Sementara mas Tama semakin heran dengan tingkahku. "Kalau warna ini nggak cocok di aku, setidaknya jangan mengejekku. Kalau tidak bisa memuji, seenggaknya jangan menghina"
Tatapannya semakin miring, dan itu benar-benar memancing emosiku. Tak ku pedulikan dia yang terus menatapku aneh campur bingung. Aku menyingkirkan tangan mas Tama yang masih menyentuh kran air, kemudian membuka krannya dan mencuci tanganku.
"Masih ada tuh?" katanya santai.
Aku kembali mencermati wajahku di depan cermin.
"Mana?"
"Sini biar mas bantu"
Tangan mas Tama terulur menyentuh salah satu sisi wajahku.
Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku membuatku sepersekian detik menahan napas. Dengan gesit mas Tama menempelkan bibirnya di bibirku, mel*matnya lembut, hingga lebih dari dua puluh detik, aku merasa napasku tercekat. Aku kehabisan oksigen dan seketika bibir kami terlepas.
"Sudah nggak ada" cicitnya dengan tatapan jatuh di bibirku.
"Mas ngerjain aku ya?"
"Jangan su'uzon, mas cuma membantumu"
"Tapi nggak gitu caranya kan?"
Senyum miring kembali terbit di bibir priaku, kemudian dia kembali menciumku.
Tinggi badan mas Tama yang jauh lebih tinggi dariku, membuatku mendongakkan kepala lengkap dengan kakiku yang berjinjit. Sedangkan mas Tama sedikit menunduk dan membungkukkan badan. Tanganku melingkar di lehernya, sementara tangan mas Tama melingkari pinggangku.
Ciuman yang semakin hangat, semakin dalam dan semakin memanas, sampai-sampai aku tak tahu bagaimana caranya mengembalikan akal sehatku yang acak-acakkan akibat sentuhan darinya yang begitu memabukkan.
***
Sampai ketika kami hanyut dalam ciuman, tiba-tiba terdengar suara pintu yang membuat kami harus memutus tautan bibir kami.
Dua orang suster tampak mendorong brankar berisi Amara yang terbaring di atasnya.
Wajahku gugup, begitu juga dengan mas Tama. Aku menyuruhnya untuk keluar lebih dulu.
"Pagi ini kami sudah memberi pasien sarapan dan juga obat, biarkan dia istirahat, karena baru saja kami menyuntikkan vitamin melalui selang infus" Kata salah satu suster yang masih bisa tertangkap oleh telingaku.
Sesaat kemudian aku keluar dari toilet lalu melangkah menghampiri Amara yang sedang di pindahkan ke ranjangnya.
"Bagaimana kondisinya suster?" tanyaku ketika berhadapan langsung dengan mereka.
"Sejauh ini baik bu, daya tahan tubuh Amara sangat kuat, detak jantung dan tekanan darahpun stabil, itu yang menyebabkan kondisinya semakin membaik"
__ADS_1
"Kapan dia bangun sust?"
"Mungkin setengah hingga satu jam lagi bu, kami baru saja memberikan asupan gizi serta obat. Dia langsung tertidur karena efek dari obat yang dia konsumsi"
"Terimakasih suster"
"Sama-sama pak, bu, segera hubungi kami jika terjadi sesuatu"
"Baik sus, terimakasih"____sahut mas Tama.
Seperginya dua suster itu, reflek aku dan mas Tama saling bertukar pandangan sebelum kemudian saling berbalas senyum hingga terkekeh. Mungkin saja kami sama-sama teringat ciuman kami ketika di kamar mandi tadi. Detik berikutnya, mas Tama kembali menggodaku dengan mengerlingkan salah satu matanya dengan genit.
"Mas cari sarapan dulu ya" kata mas Tama usai senyumnya reda. "Kamu mau makan apa?"
"Mas mau beli dimana?"
"McD mau?"
"Boleh"
"Mau apa? burger ayam atau sapi?"
"Samain sama mas saja"
"Ok, mas pergi dulu"
"Hmm, hati-hati"
Aku menatap punggung pria yang masih ku cintai hingga menghilang di telan pintu. Andai saja kami tak terpisah, mas Tama tidak harus kehilangan masa-masa mengurus Amara saat bayi, ia juga akan merasakan bagaimana Amara belajar berjalan, merasakan betapa senangnya ketika pertama kali putrinya belajar mengucapkan banyak hal, dan kata mommylah yang Amara ucapkan ketika pertama kali bisa bicara.
Semua karena bundanya yang sudah sangat kejam dan tega memisahkan kami bertiga.
Tapi entah takdir atau nasib, kami kembali di pertemukan dan kini bisa berkumpul. Bahkan, kami memastikan takan ada lagi perpisahan di antara Aku, mas Tama, dan putri kami Amara.
Sepertinya, mas Tama juga sudah tak percaya jika ada sesuatu yang bisa merusak hubungan kami.
Dia mengatakan hanya akan mempercayaiku dan hubungan kami untuk kedepannya.
Sebuah ponsel bergetar membuatku berjengit dan langsung memusatkan atensiku ke arah ponsel yang tergeletak di atas meja.
Sasa Calling,,,
"Waalaikumsalam, gimana kabarmu Na?"
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri gimana? Mita, Mami Diana, papi Anjar, papa, Anita, mas Aksa, semuanya apa kabar?"
"Kami baik" balas Sasa dari balik telfon. "Dari nada suaramu, sepertinya ada kabar baik dengan Amara, aku udah nggak sabar mendengar hasil operasinya"
"Berkat doa kalian, semua berjalan lancar Sa, operasinya berhasil"
"Alhamdulillah kalau gitu, ini harus di rayain Na, kalau papa dengar, pasti dia langsung otw ke panti asuhan deh"
"Tapi kami masih harus menunggu hasil selanjutnya, sampai sel yang sehat mampu menunjang kebutuhan darah Amara"
"Ya kita harus terus berdoa dan optimis Na, mas Aksa bilang, jika operasi berhasil, tingkat kesembuhannya hampir delapan puluh persen, Apalagi jika daya tahan tubuh Amara kuat, pasti seratus persen akan sembuh total"
"Iya mas Aksa benar, dokter di sini juga mengatakan demikian, minta doanya ya Sa."
"Selalu kami doain. Dan jangan lupa kamu harus selalu bahagia di depan Amara" Katanya menasehatiku. "Kamu juga harus memastikan hati Ara selalu goodmood, jangan biarkan peri kecilku sedih banyak-banyak, faham ya?"
"Makasih Sa, akan ku pastikan kebahagiaan untuknya"
"Bagus deh"
Hening, kami terdiam.
Hanya terdengar helaan nafas dari Sasa yang membuatku bertanya-tanya ada apakah gerangan. Karena persahabatan kami yang begitu erat, begitu dekat, kami bahkan bisa merasakan kesedihan yang menimpa kami.
Tanpa ragu aku langsung menanyakannya.
"Kamu nggak apa-apa kan Sa?"
"Kenapa kamu tanya seperti itu?"
"Aku dengar helaan napas kamu yang enggak biasa"
Cukup lama Sasa tak merespon kalimatku, membuatku semakin di selimuti rasa penasaran. "Na, sepertinya aku harus membicarakannya denganmu"
"Ada apa Sa, jangan membuatku deg-degan begini"
"Rileks aja si Na, ini bukan tentang apapun kok"
__ADS_1
"Lalu soal apa?"
Aku kembali mendengar helaan napas panjang dari Sasa sebelum kemudian dia bersuara. "Perusahaan Angkasa Group sepertinya sedang ada masalah Na, itu karena ulah Shella pemilik rumah sakit tempat mas Aksa bekerja dulu"
"Shella?"
"Iya, yang katanya pernah mau nikah sama mas Tama tapi gagal. Dia mempengaruhi para investor untuk mencabut saham mereka di Angkasa"
"Mau nikah?"
"Kamu mungkin nggak tahu Na, tapi gosip itu beredar di kalangan para pebisnis, mas Tama sama Shella katanya nyaris menikah tapi pak Idris berhasil mencegahnya, selain itu mas Tama sendiri juga menolaknya"
"Masa si?"
"He'em, dan rencananya, aku sama Anita mau bantu Angkasa Group tapi kami meminta ijinmu dulu, karena Angkasa sendiri merupakan milik ayah mertuamu"
"Bantu yang gimana Sa?" tanyaku seraya bangkit dari dudukku untuk menjauh dari Amara, takut suaraku tak terkontrol, dan malah akan membangunkannya.
"Boom & Food, Dandelion, dan Adiwijawa Company berniat menanam saham besar-besaran di Angkasa Group untuk menarik perhatian investor yang sudah menarik diri, agar kembali menanamkan sahamnya di Angkasa. Selain membantu teman, aku dan Anita juga ingin sekali membungkam mulut Rania supaya dia menyadari bahwa Naraya bukan orang yang seharusnya di tindas"
"Itu rumit Sa, posisiku sedang tidak bersama kalian, pasti akan merepotkanmu dan Anita nanti"
"Nggak Na, kami justru sangat antusias membantu kamu dan suamimu"
"Tapi aku nggak enak Sa"
"Kamu jangan merasa nggak enak. Aku, mas Aksa, mas Setya dan bang Azam sudah sepakat tentang ini. Saat kami konfirmasi dengan Aldika asisten mas Tama, dia belum bisa menentukan sebelum mendapat perintah dari mas Tama dan pak Idris. Dia janji akan membicarakannya dengan suami dan ayah mertuamu terlebih dulu Na"
Aku bingung, tapi jika aku menolak bantuan mereka, ayah dan mas Tama pasti akan kesulitan. Bunda mungkin akan menyalahkanku sebab semua terjadi karena aku dan Amara.
"Na"
"I-ya Sa?"
"Aku pengin kamu bicara pada suamimu dan membujuknya supaya mau menerima bantuan dari kami. Semua keputusan ada di kamu Na, jika kamu ok, kami akan gerak cepat, dan kata Aldika, mas Tama juga akan pulang ke Jakarta untuk mengurus masalah ini"
"Iya Sa baru tadi malam mas Tama meminta ijinku untuk pulang dulu ke Jakarta, aku nggak banyak tanya karena ku pikir hanya masalah sepele"
"Mommy" Teriakan Mita yang sempat ku dengar memotong pembicaraan kami, membuatku menyunggingkan senyum tipis.
"Mommy lagi ngomong sama mama Nana Nak, diam dulu sebentar ya" Itu kata Sasa pada putrinya.
"Mita mau ngomong sama Ara dong mom"
"Ara lagi istirahat, lain kali saja ngomongnya okey!"
Aku tak tahu seperti apa ekspresi Mita ketika keinginannya tidak di kabulkan, tapi sepertinya dia mengerucutkan bibir sesuai dengan gaya khas miliknya.
"Na"
"Ya"
"Mau ya terima bantuan kami"
"Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi Sa, kalian sudah banyak membantuku"
"Memangnya kamu mau ngomong apa?"
"Makasih saja rasanya nggak cukup"
"Nggak perlu makasih"
"Aku harap setiap doaku selepas sholat, akan di kabulkan Sa, keluarga kamu, keluarga Anita, semoga selalu mendapat ridho dari-Nya"
"Aamiin. Ya sudah Na, Mita udah rese nih, nanti sambung lagi ya"
"Iya, makasih sekali lagi ya"
"Jangan lupa bujukin suamimu"
"Iya nanti aku coba"
"Oke Na, jaga diri dan jaga kesehatan"
"Kamu juga Sa"
"Okey, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Bersambung
__ADS_1