
Kabar kehamilan Nara sudah tersebar ke seluruh keluarga dan para sahabatnya. Mereka turut senang dengan kabar bayi kembar yang akan lahir sekitar tujuh bulan ke depan.
Sikap Nara yang mendadak cemburu dengan putrinya, membuat Tama kewalahan sebab Amara merasa bahwa dirinya tak lagi di prioritaskan.
Namun meskipun begitu, Tama berusaha keras memberikan pengertian pada sang putri bahwa sikap mommynya hanya berlangsung sebentar. Gadis kecil itu pun paham dengan penjelasan daddynya. Bahkan dia bersikap lebih dewasa dan kerap sekali membantu sang mommy jika sedang kesulitan.
"Kamu nggak ke kantor hari ini kan?"
"Enggak" sahut Nara sembari mengancingkan kemeja Tama. "Aku akan istirahat selama sebulan kan?"
"Khansa mengijinkanmu cuti selama itu?"
"Iya"
"Aku saranin lebih baik kamu keluar dari kantor Sasa, kamu fokus pada kandunganmu"
Nara tersenyum, kali ini sambil memakaikan jas di badan sang suami.
Semua keperluan Tama memang Nara sendiri yang menyiapkan. Pria itu sama sekali tak mengijinkan orang lain menyiapkan segala keperluannya kecuali sang istri.
"Itu soal gampang mas"
"Jangan bilang gampang kalau kamu nggak melakukan sesuatu"
"Iya, nanti aku pikirkan"
"Ok kalau begitu, mas berangkat dulu"
"Iya, hati-hati"
Tama menarik tangan Nara, Ia duduk di kursi rias dan membiarkan Nara tetap berdiri.
"Daddy kerja dulu ya nak" ucap Tama dengan kedua tangan menyentuh sisi pinggang Nara sementara sepasang matanya tertuju pada perut Nara.
"Jadi anak baik di dalam sana ya, bantu daddy jaga mommy selagi daddy tidak bersama kalian"
Bibir Tama mengecup perut Nara yang masih rata. "Daddy sayang kalian" tambahnya lalu mengecup kembali perut Nara di tempat yang sama sebelum kemudian mendongak dan pandangan mereka bertemu.
"Kami juga sayang daddy, hati-hati kerjanya ya daddy, dan cepat pulang" sahut Nara yang di respon kedipan mata dan senyum lembut.
"Meskipun daddy akan jarang menghabiskan waktu dengan kalian" katanya sambil bangkit dari duduknya. "Tapi kalian selalu ada dalam pikiran daddy"
Usai Tama mengatakan itu, reflek Nara berjinjit lalu mengecup bibir Tama.
__ADS_1
Saat Nara hendak melepas bibirnya, Tama justru menahannya dengan langsung menangkup wajah Nara lalu menciumnya.
"I love you" bisiknya ketika tautan bibir mereka terlepas.
Nara tersenyum, merasakan deru hangat nafas Tama yang menyapu wajahnya.
"Apapun yang terjadi, sedikitpun rasa cinta mas nggak akan berkurang sedikitpun. Masa lalu itu, tidak akan pernah terulang kembali, dan aku, hanya akan mempercayaimu"
Mata Nara yang terpejam, perlahan terbuka dan langsung terkunci dengan serot lembut milik suaminya.
"Setiap hari rasa cintaku semakin besar, jadi kamu tidak perlu takut dengan wanita lain di luar sana yang berusaha menggoda mas. Karena di sini" Tama menyentuh bagian dada sebelah kirinya. "Ada kamu yang terus berdenyut di setip detik"
Mata Nara menghangat, sosok Tama perlahan memburam, ia begitu terharu dengan ucapan sang suami hingga tak sadar meneteskan air mata.
"Kenapa menangis?"
Nara menggeleng, lalu menelan ludahnya. "Aku tidak pernah menyangka jika di balik kepedihanku selama bertahun-tahun, akan mendapatkan ini semua. Bunda, kebahagiaan Amara, dan juga mas"
"Aku janji, tidak akan membuatmu menderita lagi"
"Mas yang terbaik yang ku punya"
"Dan aku, akan selamanya menjadi milikmu"
"Kalau sudah lebih baik, temani Ara main tapi jangan di paksakan kalau memang masih pusing"
Tak ada jawaban dari Nara kecuali tatapan yang kian lekat pada wajah pria di depannya.
"Pergilah, dan jangan pulang terlalu malam" kata Nara seraya memeluk tubuh Tama.
"Baik nyonya Gautama" Tama mengusap lembut belakang kepala Nara.
***
Dalam perjalanan menuju kantornya, Tama berniat pergi ke perusahaan Aksa terlebih dulu dan mengajukan cuti secara langsung untuk istrinya. Meskipun Nara bilang sudah mengajukan cuti via telfon, Tama berfikir akan lebih elok jika bertemu langsung dengan pimpinan Dandelion dan memohon secara langsung.
Setibanya di Dandelion, Tama langsung menuju ke meja resepsionis.
"Selamat pagi mbak?"
"Selamat pagi pak, ada yang bisa di bantu?"
"Saya ingin bertemu dengan Aksa atau Khansa"
__ADS_1
"Maaf pak, bu Khansa belum datang, mungkin sebentar lagi" kata petugas resepsionis. "Bapak bisa mengatakan keperluan bapak pada kami, nanti akan kami sampaikan pada bu Khansa"
Tama tampak berfikir antara menunggu Khansa, atau meninggalkan pesan pada resepsionis.
Setelah hampir sepuluh detik berfikir, akhirnya Tama memutuskan untuk meninggalkan pesan pada resepsionis agar menyampaikannya pada Khansa.
"Tolong sampaikan kalau Gautama Nalendra, suami Naraya datang ke sini mbak"
"Baik pak, nanti akan saya sampaikan"
"Kalau Khansa tanya tentang kedatangan saya, bilang saja ingin mengajukan cuti sementara untuk Naraya"
"Tapi maaf pak, cuti untuk bu Nara bagaimana ya pak?" tanyanya tak paham.
"Istri saya sering merasa pusing karena morning sickness, jadi saya ingin meminta Khansa untuk memberikan ijin cuti padanya"
"Loh pak, bu Naraya sudah tidak bekerja di sini"
"Tidak bekerja disini?" Tama tertegun mendengar ucapan wanita cantik di depannya.
"Maksudnya mbak?"
"Sudah sejak lama bu Nara tidak bekerja disini pak"
"Sejak kapan itu?" tanya Tama semakin bingung.
"Sejak bu Nara membeli saham Angkasa group bersama bu Khansa dan juga bu Anita?"
"Apa?"
"Iya pak, sejak saat itulah bu Nara keluar dari Dandelion, karena akan menghandle Angkasa group?"
Nara, Khansa dan Anita? jadi mereka yang sudah membeli Angkasa?
"Kalau begitu saya permisi mbak, dan mbak tidak perlu menyampaikan pesan saya ke Khansa karena saya akan menelfonnya dan meminta bertemu di luar"
"Baik"
"Terimakasih mbak"
"Sama-sama pak"
.........
__ADS_1