
"Sori telat" kata Nara begitu sampai di ruang meeting.
Hanya ada Khansa duduk di ruangan itu dengan menatap layar laptop di depannya. Tak berapa lama, Nara ikut duduk.
"Santai aja kali"
"Anita belum datang?"
"Dia nggak datang, mau nyerah aja katanya" Ucap Khansa cuek.
"Nyerah gimana maksudnya?"
"Bang Emir udah nggak ijinin kerja, dia juga udah sibuk di perusahaan papi dan perusahaan orang tuanya, di tambah sebentar lagi melahirkan, dia memintamu untuk membeli sahamnya"
"Anita tahu aku nggak punya uang, aneh!" desisnya lengkap dengan gelengan kepala.
"Tenang aja si, dia nggak minta kamu langsung membayar lunas dan nggak hari ini juga"
"Kenapa nggak kamu aja yang beli?"
"Aku aja berniat menjualnya ke kamu"
"What!"
"Nggak usah melotot gitu bisa?" ucap Khansa saat Nara melebarkan mata lengkap dengan dahinya yang berkerut. "Aku sudah cukup sibuk di Dandelion dan Khansallium. Jadi biar nasib kita adil, aku serahkan jabatan CEO di Angkasa ke kamu"
"Are you sure?" untuk ke sekian kalinya Nara menggelengkan kepala. "Hufftt I not believe it!"
"Yakinlah, dan kenapa nggak percaya? Bukankah di dunia ini ada banyak kemungkinan?"
"Tapi nggak gitu juga Sa, yang benar saja aku harus membeli tujuh puluh persen saham kalian"
"Kan udah di bilangin nggak harus bayar sekarang, kamu bisa nyicil" Khansa menatap penuh lekat wajah Nara.
"Berapa tahun?" ledek Nara menaik turunkan kedua alis.
"Terserah kamu"
"Nggak lucu kali Sa" seloroh Nara tak percaya.
"Aku sudah kewalahan ngurus Dandelion, Anita juga sibuk di perusahaan papahnya. Dari pada aku sama Anita menjualnya ke orang lain, ya mending kamu aja yang bayarin"
"Mas Aksa ngga bantu kamu di Dandelion?"
"Keputusan dia nggak bisa di ganggu gugat?"
"Dia tetap mau di dunia medisnya, begitu?" selidik Nara dengan sorot serius menatap Khansa.
"Hemm"
"Kalian ini benar-benar keterlaluan, hutangku dan mas Tama saja belum lunas, sekarang memintaku untuk berhutang lagi. Kamu pengin sahabatmu pusing karena kebanyakan hutang?"
Khansa tersenyum merespon ucapan Nara. "Aku yakin kamu bisa kok"
"Tapi akunya tercekik Sa"
"Udah deh, nggak usah banyak protes, ini aku lagi bikin surat perjanjian jual beli"
Lagi-lagi Khansa membuat Nara terkejut bukan main.
"Kamu benar-benar serius Sa?"
"Memangnya aku lagi bercanda, gitu?"
"Bukankah di Dandelion masih ada mas Setya dan Fajar? terus Anya juga bantu kamu di restauran, kamu nggak begitu sibuk Sa"
"Tetap saja aku nggak fokus kalau harus ngurus Angkasa. Asal kamu tahu, Mita udah mulai rese, dia juga banyak kegiatan di sekolah, selain aku dan mas Aksa bekerja, kami juga harus membagi waktu untuk mengurus dan menemaninya, urusanku sudah sangat banyak"
"Kamu dan Anita nggak perlu terlalu banyak mikir di sini, sepenuhnya aku yang akan mengendalikannya, aku cuma butuh saran dan pengawasanmu. Aku pastikan akan berusaha semampuku buat ngembangin perusahaan kita ini, kamu nggak perlu menjualnya ke aku"
"Tapi bukan itu maksudku dan Anita Na"
"So What?" Nara mengernyit tajam.
"Anita sudah resmi jadi CEO gantiin papahnya di perusahaan keluarganya, sementara aku, gantiin posisi CEO mas Aksa, aku dan Anita pengin kamu jadi pemimpin di perusahaan ini"
"Tapi ini konyol Sa"
__ADS_1
"Apanya yang konyol? kamu tinggal nurut aja, setiap bulan omset dari perusahaan ini bisa kamu pakai untuk mencicilku dan Anita"
"Tapi aku dan mas Tama masih punya hutang padamu"
"Itu hutang mas Tama bukan hutangmu, mas Tama yang akan membayarnya, bukan kamu. Lagi pula" Tambah Khansa mantap. "Papa Ramdan juga bantu melunasi hutang suamimu dari hasil penjualan mini marketnya"
"Tapi tetap saja kamu dan Anita sudah membuatku terlilit hutang"
Lagi-lagi Khansa tersenyum. "Semangat bayar hutang ya calon CEO! ledeknya tersenyum jahil.
"Sialan kalian"
Alih-alih takut dengan delikan mata Nara, Khansa justru semakin terkekeh.
****
Di rumah...
Tama, Rania dan Idris tengah membicarakan sesuatu. Sang bunda dengan wajah sendu, berulang kali meminta maaf atas semua kesalahannya. Ia berjanji tidak akan lagi meremehkan orang lain dari segi apapun. Kesalahannya di masa lalu cukup di jadikan pelajaran berharga dalam hidupnya.
"Tolong selalu ingatkan bunda jika bunda mengulangi kesalahan bunda. Bunda hanya punya kamu Tama"
"Apa konsekuensi yang harus bunda terima jika bunda mengulang kejahatan bunda?" Wajah Tama datar tanpa ekspresi.
"Apapun konsekuensinya bunda terima Tama"
"Lalu bagaimana dengan Lasetya yang sudah bunda fitnah? bunda harus meminta maaf padanya, bukan?"
"T-Tama, b-bunda mau minta maaf, tapi bunda malu kalau harus mengakui perbuatan bunda di depan Setya"
"Katanya bunda mau menerima apapun konsekuensinya, termasuk malu juga bunda harus terima"
"Tapi Tama, itu menyangkut nama baik istrimu juga" potong Idris gusar.
"Aku nggak akan bisa tenang kalau menyimpan kesalahan bun"
"Tapi Setya sama sekali nggak tahu masalah ini nak" Rania mencoba membela diri. "Video itu hanya keluarga kita yang tahu. Bunda hanya memperlihatkan padamu, pada ayah dan Nara"
"Tama, ayah saranin lebih baik ini tetap menjadi rahasia kita, ayah yakin Nara akan setuju. Toh nama baik Setya tidak kita coreng di muka public, iya kan"
"Tapi tetap saja kita harus minta maaf yah"
Terkujut, Tama tak menyangka dengan sikap bundanya yang tiba-tiba bersimpuh di hadapannya.
"Bunda apa-apaan si"
"Bunda memohon padamu Tama"
"Mas" Panggil Nara dari ambang pintu.
Ketiga orang itu langsung memusatkan perhatian pada wajah Nara.
"Ada apa ini?" Nara berjalan menghampiri mereka.
"Begini nak" Kata Idris ragu-ragu, sementara Nara berniat membantu Rania bangkit.
"Ayo bun, berdiri"
Rania menolak lengkap dengan gelengan kepala lalu menunduk.
"Jangan seperti ini bun, nggak pantas"
"Bunda hanya ingin memohon pada Tama Na"
"Ini ada apa lagi si mas?" Nara menatap penuh lekat wajah sang suami.
"Ayo bun, berdiri dulu, biar aku yang memohon pada mas Tama"
Setelah membantu Rania bangkit dan mendudukannya di samping Tama, Nara pun turut duduk di samping Tama.
Kini Tama berada di tengah-tengah antara Rania dan Nara.
"Ada apa mas?" tanya Nara lembut sambil menggamit lengan suaminya.
"Aku cuma meminta bunda untuk meminta maaf pada Setya terkait video itu"
"Apa video itu sudah mas hapus?"
__ADS_1
"Sudah, flasdisknya juga sudah ku bakar"
Usai mendengar jawaban Tama, Nara beralih menatap Rania.
"Siapa lagi yang pegang file video itu bun?"
"Tidak ada Nara"
"Bunda yakin?"
"Mungkin kalau video pemeran aslinya mereka punya, tapi setelah video itu di edit dengan wajahmu dan Setya, hanya bunda yang memilikinya"
"Mereka siapa bun?"
"Suruhan bunda Nara"
Nara berusaha menormalkan ekspresinya, lalu menghela napas berat.
"Mas, selama ini aku ngga menceritakan tentang video itu pada teman-temanku termasuk mas Setya. Karena aku nggak mau mereka tahu, meskipun itu bukan aku, tapi tetap saja aku cukup malu"
"Kamu nggak cerita sama Khansa atau Anita Na?"
"Aku crita soal video syur itu, tapi aku nggak bilang kalau prianya mas Setya"
"Jadi mereka sama sekali nggak tahu dan nggak lihat?"
"Enggak mas, aku malu"
"Tama, Setya tidak tahu menahu soal video itu, selama tujuh tahun ini juga tidak tersebar" sela bunda cepat.
"Menurutmu gimana Na?" tanya Tama.
"Kalau memang hanya bunda yang pegang filenya, dan cuma kita yang tahu, aku si penginnya ini tetap menjadi rahasia"
"Tapi kalau suatu saat video itu tersebar bagaimana Na?"
"Video asli atau yang sudah di edit mas?"
"Yang sudah di edit"
"Ya aku tinggal bilang kalau itu bukan aku, memang faktanya itu bukan aku. Nanti yang kena kasus justru yang menyebarkan, iya kan?" Nara berusaha menyuarakan pendapatnya. "Kalau video aslinya yang tersebar, jelas itu bukan urusanku, benar kan apa yang ku katakan?"
"Sekali lagi bun, cuma bunda yang punya salinan video palsu itu kan bun?" Tama memastikan.
"Bunda yakin Tama, sebab waktu itu bunda memang mengancam untuk tidak menyebarkan video itu, sempat juga anak buah bunda menyebarkannya, tapi hanya beberapa menit langsung di hapus sama mereka, dan langsung hilang dari medsos"
"Terserah kalian, yang jelas aku ingin bunda minta maaf pada papa Ramdan dan juga Setya"
"Nanti bunda ku ajak bertemu mas Setya untuk meminta maaf"
"Tapi bunda tidak mungkin mengakui perbuatan bunda di depan Setya kan Na" ujar Rania takut-takut.
"Enggak bun, bunda nggak perlu bahas soal video, bunda bilang aja minta maaf karena sempat mengira bahwa aku sama mas Setya ada hubungan"
"Nggak cuma Setya Nara, bunda juga sudah menuduh dokter Aksa dan dokter Emir memiliki hubungan denganmu"
"Ya sudah nanti ku adain pertemuan dan bunda bisa meminta maaf langsung pada mereka"
"Bunda setuju Na"
"Berarti masalah semua selesai kan, soalnya aku udah nggak mau bahas yang dulu-dulu, aku mau kita hidup damai saling mengasihi dan menyayangi"
"Ayah sangat setuju nak, kita saling memaafkan, saling melindungi, dan saling menyayangi dalam satu keluarga" kata Idris menimpali ucapan Nara.
"Kita fokus pada Amara ya mas" pinta Nara memelas.
"Kamu yang tersakiti Na, kalau kamu ridho, sudah ikhlas memaafkan bunda, aku yang makasih banyak-banyak sama kamu"
"Dia bundaku juga, aku ikhlas"
"Kalau tiba-tiba bunda menyakitimu lagi gimana?" tanya Tama.
"Aku akan kembali memaafkan bunda, tapi untuk berurusan kembali, tidak bisa. Nggak ada kesempatan kedua untuk bunda"
Usai Nara mengatakan itu, Tama menoleh ke samping kanan di mana ada Rania.
"Bunda dengar kan, jadi aku minta bunda benar-benar taubat. Karena sama halnya Nara, aku juga tidak mau lagi berurusan dengan bunda jika bunda mengulang kesalahan bunda, aku juga tidak akan memberikan bunda kesempatan kedua"
__ADS_1
"Bunda janji nak, bunda akan menyayangi istri dan anakmu sepenuh hati bunda"
tbc